
Jane memacu mobilnya dengan cepat setelah menerima tugas untuk pindah ke Jakarta.
Saat itu sekitar pukul 9 pagi, dan jalanan Bandung tampak lebih lancar dari pada jam-jam sibuk sebelumnya.
Saat tiba di rumah, dia langsung disambut oleh Oma Widya dengan antusias. "Jane, bagaimana wawancara kerjamu?" tanya sang Oma dengan senyuman hangat, tampak perhatian terhadap cucunya.
Namun, Jane dikejutkan dengan kehadiran Elisa, adik sepupunya, yang juga berada di sana. Kehadiran Elisa membuat suasana menjadi tegang, karena hubungan antara Jane dan Elisa tidak selalu harmonis.
Tampaknya Elisa juga enggan untuk memulai percakapan dengan Jane, dan Jane merasa sedikit jengah. Mereka berdua memiliki sejarah perselisihan yang cukup lama.
Saat Oma Widya menanyakan hasil wawancara, Jane menjawab dengan penuh semangat, "Sudah, Oma, aku diterima dan sekarang harus berangkat ke Jakarta karena aku ditugaskan di sana."
Oma Widya merasa berat hati dengan berita ini. Ia tidak suka harus berjauhan dengan cucunya yang paling dekat dengannya.
Namun, Elisa dengan nada acuh mengeluarkan komentar, "Lah, biarkan saja, Oma. Supaya dia tidak terlalu manja!"
Jane merasa kesal terhadap Elisa. Namun, ia tak mampu membalas ucapannya, hanya akan memperkeruh suasana, pikirnya.
Ia tak ingin membuat perasaan Oma terluka karena perselisihan yang terjadi diantara dirinya dan Elisa.
Elisa mencoba untuk mengambil hati sang Oma dengan memberikan tawaran untuk memijat kakinya. "Oma, duduklah! Aku akan memijit kaki Oma," kata Elisa dengan suara manis, dan Oma dengan senang hati mengikuti perintahnya.
Oma duduk di atas sofa, dan Elisa mulai memijat kaki Oma dengan lembut. Saat melakukan pijatan, sesekali pandangan Elisa terarah dengan sinis pada Jane, menciptakan ketegangan yang tidak terucap.
Jane memanfaatkan kesempatan ini untuk pergi ke kamar dan mempersiapkan barang-barangnya. Setengah jam berlalu dengan cepat saat dia memilih pakaian dan peralatan lainnya yang akan ia bawa. Koper yang telah diisi dengan barang-barangnya siap untuk dibawa ke Jakarta.
Ketika Jane kembali ke ruang tamu dengan gagang koper di tangannya, dia memberi tahu Oma tentang keberangkatannya. "Oma, aku pergi dulu ya," ucapnya dengan rasa hormat.
Oma Widya segera merangkul Jane, merasa sedih dan bingung akan kepergian cucunya. Ia bahkan menangis saat harus melepaskannya pergi, membuat Elisa merasa tidak nyaman.
"Jane, berapa lama kamu akan tinggal di Jakarta?" tanya sang Oma dengan rasa cemas.
Jane menjawab, "Entahlah, Oma, aku juga belum tahu."
__ADS_1
Elisa yang tampaknya tak sabar untuk menjaga kesan baik pada sang Oma, mencelah dengan komentar sinis, "Gak usah terlalu di pedulikan, Oma! Jane kan sudah besar!"
Jane menatap Elisa sejenak, merasakan ketidaksetujuan di antara mereka berdua. Ia berpesan pada adik sepupunya, "Lisa, aku titip Oma." Namun, Elisa merespons dengan sinis, "Ya!"
Elisa tampaknya tidak memiliki minat untuk bersikap ramah dan mendukung perjalanan Jane. "Sudah, sana pergi, tunggu apa lagi?" ujarnya dengan nada kasar, mengusir Jane dengan sikapnya yang kurang sopan.
Oma Widya mulai merasa tidak nyaman dengan ketegangan yang terjadi di antara mereka. "Lisa, kau jangan berperilaku seperti itu pada Kakak sepupumu!" Oma Widya mengingatkan dengan nada tegas, mengungkapkan kekecewaannya terhadap perilaku Elisa.
Elisa, di sisi lain, merasa Oma Widya terlalu membela Jane dan merasa diabaikan. Ada ketegangan yang nyata saat Jane mencoba untuk menjaga ketenangan.
"Sudah, Oma, tidak apa-apa," ujar Jane dengan kepala tertunduk. "Aku berangkat ya." Ia memberikan Oma Widya ciuman singkat di punggung tangan sebagai tanda pamit.
Oma Widya memberikan peringatan terakhir saat Jane akan berangkat, "Hati-hati, Jane. Jangan kebut-kebutan bawa mobilnya!"
Jane tersenyum dan menjawab dengan penuh hormat, "Ya, Oma." Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan memulai perjalanan ke Jakarta, dengan kebahagiaan atas peluang baru dan juga perasaan sedih meninggalkan Oma yang dicintainya.
Jane memacu mobilnya dengan hati-hati saat meninggalkan area komplek. Lalu, saat dia memasuki jalan raya, dia segera mengarahkan kendaraannya ke pintu tol untuk mempermudah akses perjalanannya yang panjang. Perjalanan ini diperkirakan akan memakan waktu sekitar 4 jam.
Setelah perjalanan panjang, Jane akhirnya tiba di kota Jakarta, yang terkenal dengan kemacetan lalu lintas dan tingkat polusi udaranya. Setelah mengecek alamat perusahaan yang diberikan, ia memulai pencarian lokasi tersebut.
Setelah beberapa waktu berputar di jalanan yang penuh sesak, akhirnya ia menemukan tempat yang sesuai dengan alamat yang dicari.
Ia menghampiri pintu masuk gedung besar itu, lalu meminta izin kepada Bapak Security yang berjaga. Setelah mendapatkan izin, Jane melanjutkan perjalanannya ke dalam gedung perusahaan.
Di dalam, ia mencari parkiran terdekat dan menemukannya di dalam basement. Jane melaju dengan hati-hati ke tempat parkir yang telah ia pilih, lalu memarkir mobilnya.
Jane memasuki lobi perusahaan dengan rasa gugup yang mendalam. Dia langsung menghampiri resepsionis bernama Erna dan memberitahukan tujuannya. "Bu, saya atas nama Jenifer Jane, saya diundang ke sini sebagai Sekretaris Pak Jonathan," ujarnya dengan penuh hormat.
Erna mengangguk dan segera menghubungi Joe untuk memberi tahu tentang kehadiran Jane. Jane menunggu dengan perasaan cemas saat Erna berbicara melalui telepon.
Setelah percakapan selesai, Erna menatap Jane dengan senyum ramah. "Bu Jenifer, silakan naik ke lantai 5 dan temui Bapak Jonathan di sana," katanya sambil memberikan arahan.
Jane merasa lega mendengar petunjuk Erna dan mengucapkan terima kasih, "Baiklah, terima kasih, Bu." Dia menundukkan kepala dengan hormat sebelum bergerak menuju pintu lift yang diperuntukkan khusus karyawan.
__ADS_1
Saat pintu lift terbuka, Jane masuk dengan hati yang masih berdebar kencang. Ia menekan tombol lantai 5 dengan jemari yang gemetar hebat.
Sesampainya di lantai 5, Jane memutuskan untuk bertanya kepada petugas kebersihan yang ada di dekatnya. "Maaf, Mbak, ruangan Pak Jonathan ada di sebelah mana ya?"
Petugas kebersihan dengan ramah memberikan petunjuk, "Ikuti saja koridor ini, nanti sampai di ujung sana akan ada pintu."
Jane mengikuti petunjuk dengan teliti dan hati-hati, berharap bahwa pertemuan pertamanya dengan Jonathan akan berjalan lancar. Ia mengikuti koridor dan segera mencari pintu yang membawanya ke ruangan bos perusahaan tersebut.
Jane mengucapkan terima kasih kepada petugas kebersihan dengan ramah sebelum melanjutkan langkahnya yang hati-hati menuju ruangan Jonathan.
Ketika ia tiba di depan pintu ruangan Jonathan, Jane mulai mengetuk pintu secara perlahan. "Permisi," sapanya dengan hormat. Jonathan sudah menunggunya dan mengizinkannya masuk.
Jane meraih gagang pintu yang terasa dingin, dan dalam sekejap, ia memejamkan kedua matanya sebelum membukanya. Namun, ketika ia membuka pintu, pandangannya langsung membelalak tajam. Di dalam ruangan itu, ia melihat pria yang duduk dengan gagah di kursi kebesarannya, dan kejutan besar menyergapnya.
"Kamu?" Jane mengucapkan dengan nada terkejut, sedangkan Jonathan juga terkejut oleh kehadiran Jane.
Terdapat gejolak emosi di dalam diri Jane, terbersit keinginan untuk mengurungkan niat dan menjauh, tetapi ia tahu ia harus menghadapi Joe, yang akan menjadi atasannya.
Joe masih terlihat keren dan tampan meski kain kasa menghiasi pipi dan keningnya akibat insiden kecelakaan saat di Ciwidey kemarin. Jane tertegun saat menatapnya, sementara kedua mata Joe masih membelalak tajam seperti hendak menikamnya. "Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Jane mencoba memecah ketegangan. Joe berdiri sambil melempar seringai seakan inilah saatnya untuk membalas perbuatan Jane, karena takdir mempertemukannya kembali dengan gadis ini. "Oh, ternyata Sekretaris barunya kamu!" Joe berkaca pinggang dengan penuh wibawa.
Jane kali ini berani mengangkat wajahnya dan berani menjawab tegas.
"Ya!" kata Jane. "mana Pak Jonathan?" tanya Jane ketus, Joe langsung tertawa.
"Kamu masih belum menyadari ini?" Joe menunjuk name tag yang dia kenakan, lengkap dengan foto wajah dan juga jabatannya. Jane tercengang dan bahkan tak percaya melihatnya.
"Jadi, kamu yang akan menjadi atasanku?" tanya Jane dengan nada heran, seolah-olah itu adalah sebuah mimpi.
Joe menjawabnya dengan melempar senyuman smirk ke arah Jane, hal itu menyiratkan upaya pembalasan yang akan ia lakukan terhadapnya.
....
Bersambung...
__ADS_1