
Zea mendorong tubuh Zico dengan lembut, lalu bangkit dari posisinya. Rambutnya yang tadinya teratur sekarang sudah sedikit berantakan.
"Kak, sebaiknya kita tidak seharusnya seperti ini," cegah Zea dengan suara rendah. Awalnya, Zico terbawa oleh dorongan nafsunya, tetapi ketika dia melihat getaran dalam kedua mata Zea, dia langsung terkesan dan merasa bersalah atas tindakannya yang tak pantas.
"Zea, aku minta maaf," ucap Zico dengan suara tulus. Zea menundukkan kepala, mengisyaratkan bahwa dia menerima permintaan maaf tersebut dengan lapang hati.
Zea memutuskan untuk keluar dari kamar Zico sambil merapihkan kembali peralatannya ke dalam tasnya. Zico turut bangkit dari duduknya saat itu, tetapi Zea dengan penuh kekhawatiran segera mencegahnya.
"Kakak, sebaiknya Kakak istirahat supaya segera sembuh," kata Zea dengan raut wajah yang penuh perhatian. Zico tersenyum, lalu menggelengkan kepala.
"Aku masih ingin ditemani olehmu, Zea," rayu Zico dengan lembut. Zea kembali tertunduk, merasa malu.
Namun, Zea memberi saran, "Tapi tidak di sini." Zea melangkah menuju pintu kamar, dan Zico berjalan di belakangnya, menuju ruang tamu.
Mereka kini berada di ruang tamu, tempat Marni kembali menghampiri mereka dengan sopan untuk menawarkan minuman.
"Mau dibuatkan apa?" tanya Marni dengan ramah kepada Zico dan tamu istimewanya, Zea.
Zea mencoba menolak dengan lembut, "Ehm... tidak perlu repot-repot, Bik." Namun, Zico ikut berbicara.
"Teh Marni, bawakan kami es jeruk dan juga cemilan!" titahnya kepada wanita berusia 33 tahun tersebut.
Marni mengangguk dengan penuh keramahan. "Baik, Tuan," ucapnya, lalu ia segera berlalu untuk mempersiapkan minuman dan makanan ringan.
Dalam keheningan yang relatif lebih nyaman, Zico mencoba untuk memulai percakapan dengan Zea, mencari topik yang mereka berdua bisa nikmati.
"Zea, kamu suka film apa?" tanya Zico, masih memandangi Zea yang tampak agak gugup. Terkadang, Zea sibuk dengan ponselnya, namun dia dengan cepat mengalihkan perhatiannya kepada Zico.
"Ehm... aku suka film action, Kak," jawab Zea dengan senyum malu. Zico mengangguk dan mulai merekomendasikan beberapa judul film aksi yang seru kepada Zea.
"Film tentang Mafia, bagaimana?" tawar Zico, mencari tahu preferensi Zea. Zea setuju dengan senyum kecilnya.
Hingga akhirnya, Zico menyalakan televisi di depannya, lalu mencari dan memutar film Mafia Hongkong yang bertemakan Triad. Kedua mata Zea terpaku pada layar besar di depannya, siap untuk menyaksikan kisah seru yang akan terungkap.
Sementara itu, Marni kembali dengan nampan yang berisi berbagai macam camilan dan dua gelas es jeruk segar. Marni dengan hati-hati menaruh nampan di atas meja, meletakkan makanan dan minuman dengan perlahan.
"Silahkan," kata Marni sambil membungkuk sopan di hadapan Zico dan Zea.
"Terima kasih, Bik," ucap Zea dengan sopan, merasa bersyukur atas keramahan Marni.
Zea tampak sangat serius, mata terpaku pada layar di depannya yang menampilkan adegan-adegan menegangkan dalam film. Sementara itu, Zico diam-diam memandangnya dengan perasaan yang tak terungkapkan.
Sebenarnya, Zico bukanlah penggemar film action; ia lebih cenderung menyukai drama Korea dengan kisah romantis yang mengharukan. Namun, dia mengikuti preferensi Zea agar mereka bisa menikmati waktu bersama.
Pada kesempatan tertentu, Zea tiba-tiba menoleh ke arah Zico, membuatnya spontan berpura-pura serius menikmati film yang ditayangkan.
"Wah, Lin Chun Song jadi 'glow up'," komentar Zea tentang pemeran utama dalam film tersebut, membuat Zico terkejut, tapi dia mencoba untuk menjawab dengan serius.
__ADS_1
"I... i... iya, jadi ganteng dia, kan asalnya gembrot," kata Zico dengan sedikit gugup, mencoba mengikuti percakapan tentang film, meskipun sebenarnya matanya lebih fokus pada wajah Zea yang duduk di sampingnya.
Mereka berdua saling tersenyum, menikmati momen kecil ini yang membuat mereka merasa lebih dekat satu sama lain.
Zico mengangkat gelas es jeruk dengan perlahan, lalu hendak memberikannya kepada Zea dengan penuh perhatian.
"Zea, ayo diminum," kata Zico dengan nada lembut, dan Zea menoleh padanya, menerima gelas dengan senyuman.
"Terimakasih, Kak," ucapnya dengan tulus, dan Zico mengangguk sebagai respon.
Lalu, Zico menyodorkan camilan kepadanya. "Ini, silahkan dimakan juga," tawar Zico, meletakkan sepiring camilan di dekat Zea. Zea mengangguk sopan setelah meletakkan kembali gelas di atas meja.
"Iya, Kak, terimakasih. Tapi, boleh ditaruh dulu, filmnya masih seru," kata Zea dengan lembut, menolak tawaran camilan sambil terus memperhatikan film.
Namun, Zico tampaknya memiliki ide lain. Dia membuka toples camilan, lalu hendak menyuapi Zea.
"Zea..." serunya dengan penuh kehangatan, memecah konsentrasi Zea yang sedang asyik menonton.
"Ya, Kak?" Zea menoleh perlahan, penuh penasaran.
"Buka mulutmu," titah Zico dengan lembut, sambil memegang sepotong camilan di genggamannya.
Zea merasa terkejut dan malu, tapi dia dengan ragu membuka mulutnya, menuruti permintaan Zico.
Di tengah keseruan mereka, suara bel tiba-tiba memecahkan suasana yang sedang tercipta. Marni berusaha membuka pintu, namun Zico bangkit lebih dulu.
"Untuk apa lagi kamu datang kemari?!" tanya Zico dengan tensi yang semakin naik.
Tiara mencoba memeluk Zico dengan tatapan penuh penyesalan dan berusaha menyuarakan permintaan maafnya. Namun, dengan cepat Zico menghempaskan tubuh Tiara.
"Ngapain sih? Sana pergi! Aku sudah tidak sudi lihat muka kamu itu!" bentak Zico dengan penuh kemarahan, luka hatinya belum sembuh akibat pengkhianatan yang dilakikan Tiara terhadapnya.
"Zico, tolong, kali ini maafkan aku," Tiara merengek dengan suara terisak di hadapan Zico. "Aku berjanji, aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Tolong, jangan batalkan rencana pernikahan kita, apa kata orang-orang nantinya?" Tiara merengek sambil menggenggam lengan Zico dengan erat, mencoba merayu dan menghapuskan dosanya.
Sementara itu, Zico diam mematung, dengan tatapan dingin berusaha untuk tidak menunjukkan kelembutan.
"Aku tidak sudi memaafkanmu, Tiara!" Zico mendengus dengan kebencian mendalam terhadap Tiara. "Sebaiknya kau kejar selingkuhanmu itu!" kata Zico dengan tegas, menunjukkan bahwa dia tidak lagi ingin melanjutkan hubungan mereka.
Tiara berlutut dengan ketidakberdayaan. "Tapi, Zico, harus kau ketahui, a... aku... hamil," ungkap Tiara dengan suara yang gemetar. Zico mendongak dan menatap wajah Tiara yang berurai air mata.
"Apa? Kamu hamil?" tanya Zico, seolah-olah menganggap ucapan Tiara sebagai lelucon, namun ketika ia melihat alat tes kehamilan yang ditunjukkan oleh Tiara, dia menyadari bahwa ini adalah kenyataan.
Zico mengangguk dengan perasaan campur aduk. "Memangnya itu benar anakku?" tanya Zico, tetapi ia masih meragukan kejujuran Tiara karena ia juga memergoki Tiara bersama pria lain sebelumnya.
Tiara bangkit dari berlututnya dengan penuh keyakinan. "Iya, Zico, ini adalah anakmu!" ungkapnya dengan mantap, berusaha meyakinkan Zico bahwa ini adalah kenyataan.
Sulit bagi Zico untuk mempercayai ucapan Tiara yang sudah kehilangan kepercayaannya, namun Tiara terus berusaha meyakinkan dirinya dengan keras, sampai akhirnya terjadilah keributan yang cukup mencolok, memancing rasa penasaran Zea dan Marni.
__ADS_1
"Ada apa sih, ribut-ribut?" tanya Zea, menoleh ke arah Marni. Marni menggelengkan kepala dengan cepat, menandakan bahwa dia juga tak tahu apa yang terjadi.
Keduanya beranjak dari tempat duduk mereka dan melangkah mendekati sumber keributan.
Zea terperangah saat melihat keributan yang tengah berlangsung antara Zico dan seorang wanita yang berdiri di depannya dengan isakan dan perdebatan yang keras.
"Zico, pokoknya kita harus menikah! Ini anakmu!" Tiara bersikeras meminta dan meyakinkan Zico dengan keras. Namun, Zico tetap enggan menerima permintaan itu.
Namun, fokus Tiara tiba-tiba tertuju pada perempuan yang hadir di belakang Zico. "Siapa dia?" tanya Tiara dengan nada yang penuh kecemburuan. Zico menoleh ke belakang.
"Siapapun dia, gak ada urusannya denganmu!" jawab Zico dengan tegas, menunjukkan bahwa dia ingin menghindari konfrontasi dengan Tiara.
Tiara merasa semakin emosi dan cemburu dengan kehadiran wanita lain dalam hidup Zico. Tanpa kontrol, ia menerobos masuk ke dalam ruangan, lalu dengan kasar menjambak rambut Zea.
"Aaww..." Zea menjerit, mendapat serangan tiba-tiba dari Tiara yang penuh kemarahan.
Tidak sampai di situ, Tiara dengan berani menampar pipi Zea yang sama sekali tak bersalah dalam situasi yang tidak diinginkannya. Kejadian ini membuat Zea merasa terpukul.
Zico dan Marni berusaha mengamankan Tiara yang semakin mengamuk, tak terkendali, dan penuh dengan ancaman terhadap Zea.
Zea menangis sambil mengusap rambut dan pipinya yang terasa terbakar akibat tamparan tadi.
Zico memanggil seseorang yang ada di sekitarnya. "Aris...!" serunya kepada Aris, yang merupakan sopir pribadi sekaligus petugas keamanan di rumahnya.
Aris dengan sigap menghampiri Zico dan bertanya, "Iya Tuan, ada apa?"
Zico menyerahkan Tiara kepada Aris dengan tegas. "Usir dia dari sini!" perintahnya. Aris mengangguk patuh dan dengan tegas menuntun Tiara yang masih dipenuhi oleh amarah dan emosi yang tidak terkendali keluar dari rumah.
Zico segera mendekati Zea yang masih menangis. "Zea," serunya dengan penuh perasaan, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Maafkan dia," lanjut Zico, mencoba meredakan perasaan Zea yang pasti sangat terguncang. Zea yang masih merasa tidak nyaman dengan situasi ini memutuskan untuk pulang, sambil sesegukan atas peristiwa yang tidak diinginkan yang baru saja terjadi.
"Kamu mau pulang?" tanya Zico dengan penuh perhatian. Zea mengangguk lemah sambil menggendong tas ranselnya.
"Iya," jawab Zea, mengusap sisa air matanya di hadapan Zico.
"Biar aku antar," kata Zico sambil meraih kunci mobil. Awalnya, Zea menolak, namun Zico terus memaksa hingga akhirnya Zea setuju untuk diantarkan oleh Zico.
Di perjalanan pulang, terjadi keheningan, Zea masih terguncang oleh peristiwa tadi. Dengan perlahan, Zico meraih lengan Zea dan mengusapnya, sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. Zico sesekali menoleh untuk memastikan bahwa Zea baik-baik saja.
"Zea, maafkan atas peristiwa tadi ya," ungkap Zico dengan lembut. Zea mengangguk, dan wajahnya terlihat polos.
Tak dapat dipungkiri, Zico merasa nyaman berada di dekat Zea.
...
Bersambung...
__ADS_1