Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Kesetrum


__ADS_3

Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Keduanya hanya terlibat dengan obrolan yang berkaitan dengan tugas dan pekerjaan saja.


Tiba-tiba, Jane butuh segelas kopi karena matanya sudah mulai lelah.


Ia bergeming dari tempat duduknya, meraih kopi sachet dari dalam tas, dan melangkah ke arah dispenser dengan gerakan malas.


Diam-diam, Joe memperhatikan setiap langkahnya dari belakang, menyelipkan pandangan nafsu ke arah keindahan bentuk tubuh Jane. "ingin rasanya aku memeluk tubuhmu dari belakang," batin Joe.


Dan saat Jane menoleh, dengan cepat Joe berpura-pura sibuk menatap layar monitor di depannya.


Raut kecewa terpancar di wajah Jane ketika dia menyadari bahwa dispenser tersebut tidak menyala.


"Huh, aku kira dispensernya nyala!" gumam Jane dengan kesal. Namun, ia seakan malas untuk pergi ke pantry atau sekedar meminta bantuan kepada OB atau OG yang bertugas karena agak gengsi, terutama ia masih anak baru di perusahaan.


Tanpa banyak bicara dan memperpanjang masalah, Jane meraih kabel stop kontak dispenser dan mencoba menyalakannya sendiri.


Namun, saat mencoba menyalakan kabel tersebut, tiba-tiba dia mendapatkan kejutan aliran listrik yang membuatnya berteriak kaget.


"Aaw..." teriak Jane dengan mata terbelalak, sangat terkejut oleh kejadian tersebut. Tanpa sadar, dia berlari ke arah Joe dan melompat tepat di pangkuannya.


Mereka saling menatap satu sama lain dengan heran, dan satu lengan Jane melingkar di bahu Joe, sehingga kedekatan mereka membuat momen yang penuh dengan ketegangan.


Joe melihat ini sebagai kesempatan tak terduga, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Joe menikmati wajah cantik Jane dari dekat, degup jantungnya semakin tak menentu. Sementara gerak tubuh Jane seakan terkunci ketika mengalami kejutan tadi.


Tanpa sengaja, barang milik Joe berdiri dari balik celana karena terhimpit bokong Jane yang begitu menggoda.


"Aish! Apa nih?" Jane menyadari ada sesuatu keras yang sedang ia duduki, lantas ia langsung turun dari lahunan Joe, dan reflek menampar wajahnya kanan dan kiri secara bergantian.


"Tidak usah cari-cari kesempatan!" bentaknya penuh peringatan, terpancar emosi tinggi di wajahnya saat itu.


Joe mengusap kedua pipinya yang perih akibat tamparan yang di layangkan oleh Jane barusan, ia tak bisa marah kepadanya.


"Ya wajar lah, aku ini normal. Lagian, salah siapa kamu loncat ke lahunan ku?" Joe berusaha membela diri, dan Jane merenungi bahwa ucapan Joe memang benar, Joe tidak salah dalam hal ini.


Jane terdiam, wajahnya masih pucat dan rasa bersalah membayangi pikirannya setelah insiden terkena aliran listrik. Jantungnya masih berdegup kencang, mencerminkan ketegangan yang masih ada.


"Ehm... Iya, Pak Joe, saya yang salah, jadi, saya minta maaf. Habisnya tadi saya kesetrum," ungkap Jane dengan penuh penyesalan, tetapi Joe terus mengawasinya, membuatnya semakin tak nyaman.


"Kamu mau bikin kopi?" tanya Joe, dan Jane mengangguk. "Iya, Pak," jawabnya, sedikit gugup karena situasi.


"Kenapa gak minta OB?" Joe bingung dengan pilihan Jane yang membuat segalanya lebih rumit.


"Ehm..." Jane tak mampu memberikan alasan yang jelas. Joe akhirnya mengambil inisiatif dan memerintahkan OB untuk membuat kopi lewat panggilan interkom, hal itu membuat Jane semakin malu.


Jane kembali ke mejanya dengan hati yang masih berdebar.


Tak butuh waktu lama, terdengar suara ketukan pintu. Joe mengizinkan untuk masuk.

__ADS_1


"Ini kopinya, Pak." Emon, sang Office Boy, membawa sebuah nampan dengan dua cangkir kopi yang sudah dipesan Joe. Ia meletakkan nampan di atas meja, lalu meletakkan cangkir kopi di depan masing-masing mereka.


"Silakan, Pak, Bu..." Emon membungkuk sopan sebelum beranjak.


Jane diam-diam melihat name tag Emon dan mengetahui namanya. Ia harus bersusah payah menahan gelak tawa yang hampir meledak.


Emon melihat Jane yang terlihat tertawa dengan diam-diam. "Maaf, Bu, apa ada yang salah dengan saya?" tanya Emon dengan hormat.


Jane menggeleng, mencoba menahan tawa yang ingin meledak. "Enggak, ehm..." Jane bingung bagaimana menyampaikannya tanpa menyinggung perasaan Emon.


"Ada apa, Jane? Katakan saja jika ada yang aneh dengan Emon," Joe meminta klarifikasi, wajahnya terlihat serius.


Jane akhirnya menegakkan posisinya dan mulai berbicara. "Emon, Dora-nya di mana?" tanya Jane sambil tersenyum genit.


Sontak, Joe langsung tertawa dengan keras, begitu juga dengan Emon yang tampak kikuk.


"Eh, anu, Dora-nya ada di Garut, Bu," jawab Emon dengan malu-malu. Ia juga tak bisa menahan tawanya.


Joe tertawa terpingkal. "Itu dodol, Emon..." timpal Joe, ia terus tertawa, sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tak tahan, dan semuanya berakhir dengan suasana yang lebih ceria.


Tiba-tiba, Alvin masuk ke ruangan dengan beberapa dokumen berkas. "Pak Joe..." sapanya, hal itu berhasil menciptakan lebih banyak tawa yang keluar dari bibir Joe.


Joe terus tertawa sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada Alvin, yang dikenal karena bibirnya terlihat agak maju.


"Nah, ini Suneo-nya baru datang..." Joe tertawa semakin keras. Padahal, Jane sudah berhenti tertawa, dan Emon merasa enggan untuk tertawa terlalu keras karena takut mengganggu suasana, jadi ia hanya menunduk sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Ada apa ya?" tanya Alvin bingung sambil meletakkan berkas di atas meja milik Joe.


Jane dengan serius mencoba menjelaskan kepada Alvin. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya.


"Pak Joe, tega banget memanggil saya Suneo," ujar Alvin dengan wajah yang tampak tersinggung.


Joe menggigit lidahnya untuk berhenti tertawa atas Alvin dan Emon.


"Maaf ya, Vin," kata Joe, seakan merasa puas, tanpa rasa bersalah atas kejadian itu.


"Kenapa Bapak memanggil saya Suneo? Apa karena bibir saya agak maju, begitu? Itu namanya'Body Swimming!'" kata Alvin, dan Emon melirik padanya lalu berbisik, "Salah Pak, yang benar 'Body Slimming.'"


Pendengaran tajam Jane segera menyadari kesalahan tersebut dan menambahkan, "Masih salah, yang benar 'Body Shaming,' Bapak-bapak." Jane membetulkan ucapan Alvin dan Emon.


Emon dan Alvin saling lirik satu sama lain, hingga akhirnya mereka tertawa bersama-sama.


Jane baru menyadari bahwa Emon memiliki gigi ompong yang terletak di tengah tengah, membuat wajahnya semakin jenaka.


Karena itu, Jane harus menahan gelak tawanya lagi, sehingga wajahnya terlihat memerah.


Joe menggeleng dan berusaha mengatasi perutnya yang sakit karena tertawa terus-menerus. Ia akhirnya mengusir Alvin dan Emon. "Sudahlah, mendingan kalian keluar dari sini!"


Alvin dan Emon mengangguk, lalu mereka pergi dengan tawa yang tertahan di wajah keduanya.


Akhirnya, Jane mengambil napas panjang dan mencoba melupakan peristiwa lucu yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Sampai akhirnya suasana kembali serius, hingga tiba waktunya pulang.


Jane beranjak dari kursinya, dan dengan cepat Joe memerintahkan, "Jane, karena tadi kamu datang terlambat, sekarang kamu harus tinggal selama 1 jam lagi!"


Jane mendesis kesal, lalu duduk kembali dengan malas.


"Baik, baik. Lalu, apa yang harus saya lakukan?" tanya Jane, ia merasa semua tugasnya sudah selesai sehingga tidak ada yang harus ia kerjakan lagi.


Sementara, Joe tampak bingung untuk memberikan tugas tambahan kepadanya.


"Kemari!" Joe melambaikan tangan, memerintahkan Jane untuk mendekat.


Jane bangkit lagi dengan ekspresi cemberut. "Saya harus mengerjakan apa?"


"Tolong carikan uban di rambut saya!" perintah Joe tegas. Jane langsung membelalakkan mata dalam ketidakpercayaan.


"What? Anda ingin saya mencari uban? Yang benar saja!"


"Iya! Perintah adalah tugas!" jawab Joe tegas, membuat Jane tidak punya pilihan lain.


Dengan rasa bingung, Jane mulai melaksanakan tugas aneh ini.


"Dasar Bos gemblung!" batin Jane dengan kejenuhan yang mulai menguasai.


Beberapa menit berlalu ketika ia mencari-cari helai rambut putih di atas kepala Joe, tetapi hasilnya nihil.


"Ada gak?" tanya Joe yang tampak santai ketika jemari Jane menjelajahi tiap helai rambutnya.


"Maaf, saya tidak menemukan satupun uban di kepala Bapak," jawab Jane dengan rasa jengah dan berdecak kesal.


"Pak, saya rasa sudah cukup, karena saya benar-benar tidak menemukannya," lanjut Jane dengan nada lelah dan frustasi yang mulai menyelinap.


Joe dengan senyum menggoda membalas, "Jane, belum selesai loh, sayang."


Jane mulai kesal dan ingin segera menyelesaikan tugas aneh ini.


Ia menggerutu dan mengumpat tanpa bersuara, sambil mengempalkan lima jemarinya, seolah-olah ingin melemparkan bogem tepat di kepala Joe.


Jane, yang penuh dengan rasa kesal yang tak terbendung, secara refleks menjambak rambut Joe dengan tarikan yang kuat, menyebabkan Joe berteriak, "Aww... Sakit, Jane!"


Tapi sesudahnya, Jane langsung tertawa puas. "Maaf, Pak, saya gak sengaja," katanya, sambil mengelus rambut Joe dengan lembut.


Joe kemudian menarik lengan Jane dan membalikkan tubuhnya sehingga keduanya berhadapan.


Joe mencoba memberikan balasan kepada Jane atas tindakannya yang kasar tadi. Punggung Jane menempel di pinggir meja, dan wajah mereka menjadi semakin dekat tanpa cela.


Suasana berubah menjadi agak bergairah, dan keduanya terlibat dalam momen yang lebih intens.


Joe mendekat dan berhasil menautkan bibirnya dengan bibir Jane lalu memberikan sedikit gigitan lembut yang membangkitkan nafsu.


Gerak tubuh Jane seakan terkunci saat Joe melingkarkan kedua lengan di pinggang rampingnya sambil mengelus punggung Jane dengan penuh cinta.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2