Gadis Nakal Milik CEO Tampan

Gadis Nakal Milik CEO Tampan
Kang Gosip


__ADS_3

Joe terus memperhatikan Jane yang tengah fokus dengan ponselnya, dan sesekali ia melihat Jane tersenyum sambil menatap layar perangkat tersebut. Joe terdiam, berusaha mencari cara agar Jane tidak jatuh cinta pada Irsan.


Setelah sejenak berpikir, Joe akhirnya memutuskan untuk bersuara, "Ehemmm..." Suara Joe membuat Jane menoleh padanya, dan Joe dengan sopan merapatkan kedua telapak tangannya sambil mengucapkan, "Sorry ya, bukan bermaksud mau ikut campur masalah pribadi kamu, sorry banget."


Jane sedikit bingung, "Hah? Kenapa memangnya?" Tapi Jane masih fokus pada ponselnya, jadi dia hanya mengangkat sebelah alisnya sambil tetap menggerakkan jempol untuk mengetik pesan chat.


Joe melanjutkan dengan pertanyaan, "Kamu sedang dekat dengan Irsan, kan?" Dia mencoba menyelidiki situasi, dan Jane hanya mengangguk pelan sambil tetap menatap layar ponselnya.


"He'em."


Joe kemudian memberikan nasehat dengan nada serius, "Gini ya, aku cuma mau kasih tahu... Irsan itu dikenal sebagai seorang playboy. Dia pernah dekat dengan beberapa perempuan, tapi setelah hampir jadian, dia suka menghilang begitu saja."


Jane mendengar ucapannya dengan ekspresi serius, tetapi ia tidak begitu percaya pada apa yang Joe katakan. Ia merasa bahwa Irsan adalah pria yang baik, tidak seperti yang digambarkan oleh Joe.


"Ah, masa sih?" Jane menggelengkan kepala dengan ekspresi jengah, mencoba untuk meremehkan pernyataan Joe. Namun, Joe tetap berusaha meyakinkannya, "Iya, lho..."


Joe sesaat meneguk air minumnya, lalu mengambil sebatang rokok, kemudian menyalakan dan menghisapnya, setelah itu ia kembali menambahkan, "Irsan memiliki reputasi yang buruk di kalangan perempuan." Ia berharap bahwa Jane akan mempercayai peringatannya.


Jane mendelikkan mata secara sinis pada Joe dan dalam hatinya, dia berkata, "Dia pikir aku akan percaya, hmm..."


Joe mencoba meyakinkannya, "Kamu harus percaya!" Seakan-akan ia bisa membaca keraguan di dalam hati Jane.


Jane, sambil terus memandang Joe dengan tatapannya yang tajam, bertanya, "Terus terus?" Dia mencoba menarik lebih banyak informasi dari Joe, sambil mengaduk minumannya menggunakan sedotan, tetapi matanya tak pernah berhenti memandangi wajah Joe yang akan melanjutkan pembicaraan.


Joe terus berusaha untuk mempengaruhinya dengan berbagai bualan agar Jane merasa skeptis terhadap Irsan, bahkan berharap bahwa Jane akan balik membencinya. Namun, Jane hanya mendengarkan tanpa benar-benar memasukkan ucapan Joe ke dalam hatinya.


"Lalu?" tanya Jane, ingin tahu lebih banyak. Joe dengan senang hati melanjutkan gosip palsunya di hadapan Jane, mencoba untuk menjatuhkan citra Irsan.


"Kamu tahu si Ety, kan?" tanya Joe, dan Jane mengangguk. "Tahu, bagian desain yang badannya agak berisi itu, kan?" Jane mengangguk sambil tersenyum, mengingat sosok Ety.


"Ya, dia adalah salah satu korban ghosting oleh Irsan..." jelas Joe dengan wajah serius, berharap Jane akan percaya. "Sekitar dua bulan yang lalu, dia diajak menikah!" Joe melanjutkan dengan serius, namun Jane hanya bisa terkekeh mendengarnya, seolah-olah mendengar lelucon yang tak masuk akal.


Jane terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Joe. "Hah? Masa iya Irsan suka sama Ety," batin Jane, yang tak bisa menahan tawa saat membayangkan sosok Ety yang berbadan gempal dan doyan makan di tengah jam kerja.


Namun, Joe terus saja berceloteh panjang lebar, mencoba menjatuhkan citra Irsan di mata Jane. Jane akhirnya bertanya, "Udah ngomongnya?"


Joe merespon, "Ehm... Barangkali kamu butuh informasi lebih lanjut tentang Irsan. Aku siap memberikan semua yang aku tahu tentang dia." Jane mulai merasa jengkel, dan dengan tegas ia beranjak sambil menyandang tas di bahunya.


"Sudah cukup! Ucapanmu tak penting!" tukas Jane, dan ia berusaha untuk pergi. Namun, Joe mencoba menahannya sejenak.


"Jane, jangan pergi dulu, kita belum selesai berbicara!" cegah Joe, ia berdiri tepat di depan Jane, menghalangi langkahnya.

__ADS_1


"Ck! Apaan sih?!" Jane mendelikkan matanya dan melipat tangan di atas dadanya. "Pembicaraanmu tidak masuk akal!" ujar Jane dengan tegas.


"Apa jangan-jangan kamu habis mabuk kecubung?" Jane bergurau, tetapi Joe tidak mengerti.


"Maksudmu?" Joe bingung, merasa bahwa rencananya untuk menjauhkan Jane dari Irsan telah gagal. Alih-alih mempercayainya, Jane justru semakin tidak menyukai Joe.


"Ah, sudahlah, aku pikir kita akan membahas masalah pekerjaan yang serius, tapi nyatanya kamu malah bergosip yang tidak-tidak soal Irsan! Sorry ya, gak ngaruh buat aku!" Jane mendorong bahu Joe dengan kedua tangannya, lalu melangkah pergi.


"Jane...!" Joe berteriak memanggil, tetapi Jane enggan menoleh. Dalam hati, Jane menggerutu, "Dasar cowo aneh, sakit jiwa!" Jane menuju ke parkiran untuk mengendarai mobilnya.


Sementara itu, Joe diam-diam mengikuti langkah Jane dari belakang, berharap untuk mengetahui tempat tinggalnya. Ia berhati-hati, tak ingin Jane mengetahui bahwa dia sedang mengikutinya.


Ketika kendaraan Jane melaju menuju apartemen, mobil Joe tetap mengikuti di belakangnya. Akhirnya, Jane tiba di basement apartemen, sementara Joe memarkirkan mobilnya di bahu jalan.


"Bang..." panggil Joe kepada Udin, seorang tukang parkir liar yang sering nongkrong di jalanan, saat itu Udin sedang menikmati segelas kopi dalam wadah plastik bening.


"Ada apa, Pak?" tanya Udin dengan hormat, mengetahui bahwa Joe memiliki wibawa yang tinggi.


"Saya titip mobil sebentar," kata Joe, merogoh saku celananya, lalu mengambil dompet. Ia menyodorkan uang sebesar 200 ribu rupiah kepada Udin.


"Nih," kata Joe. Udin dengan mata sumringah segera menerima uang tersebut. "Makasih, Pak," ucap Udin sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat, dan Joe mengangguk. "Jaga mobil saya, ya, cuma parkir sebentar kok," lanjut Joe.


Setelah itu, Joe berjalan menuju lobi apartemen dan mendekati resepsionis. "Bu, saya mau tanya," kata Joe saat berdiri di meja resepsionis.


"Jenifer Jane kira-kira tinggal di unit berapa ya?" Joe berusaha memasang wajah serius. Awalnya, Verlyn ragu, karena data penghuni unit apartemen adalah privasi.


"Ehm, Bapak siapanya Bu Jenifer? Apakah sudah ada janji dengannya?" tanyanya.


Dengan berbagai upaya, Joe berusaha merayu Verlyn dengan memberikan uang tips sebagai imbalan agar dia memberi tahu nomor unit yang dihuni oleh Jane. Setelah beberapa usaha, Joe akhirnya berhasil mendapatkan nomor unit tersebut dan pergi dari sana.


Joe kembali ke Mansion, di mana kedatangannya disambut oleh Zico, sahabatnya yang datang ke Jakarta untuk berkumpul dan berbagi canda tawa.


"Udah lama? Kok kamu datang tidak bilang-bilang sih?" Joe agak heran, karena biasanya Zico selalu memberi kabar jika dia akan datang.


"Ya, itung-itung kejutan," jawab Zico. Keduanya telah melepas perban di dahi dan lengan mereka akibat kecelakaan beberapa waktu lalu.


Mereka berdua duduk di ruang utama dan mulai berbincang. Sementara itu, Fendy, asisten Joe, menyediakan minuman untuk Joe dan tamunya, Zico.


"Eh, gimana, kamu sudah sembuh?" Joe memperhatikan bekas luka di beberapa titik pada tubuh Zico.


"Ya, sudah lah, kan aku punya perawat pribadi," ungkap Zico sambil tersenyum dan terkekeh, membayangkan sosok Zea.

__ADS_1


"Cie, sudah jadian kan kalian?" Joe bertanya dan Zico mengangguk. Kemudian, ekspresi wajah Zico berubah, membuat Joe penasaran tentang apa yang sedang terjadi.


"Bro, kenapa?" tanya Joe. Zico segera mengungkap permasalahannya mengenai Tiara, yang sedang hamil. Namun, Zico merasa ragu apakah anak yang dikandung Tiara adalah benihnya atau benih orang lain, mengingat dia juga telah resmi berpacaran dengan Zea.


Zico berada dalam dilema besar antara Zea dan Tiara. "Jadi aku harus bagaimana?" tanya Zico dengan ekspresi khawatir.


Joe menghela napas, lalu memberikan nasihatnya. "Zico, Tiara sudah berselingkuh, jadi wajar kalau kamu meragukan anak yang dikandungnya. Jangan mudah terhasut oleh kata-katanya. Kamu harus tegas! Bilang saja: 'Tidak'."


Setelah berbagai upaya meyakinkan Zico, akhirnya Zico setuju dengan kata-kata Joe, dan suasana di antara mereka kembali hangat. Zico memutuskan untuk melupakan Tiara bersama pengkhianatan yang sangat menyakitkan hati dan perasaan, serta telah merusak kepercayaannya.


Kini topik obrolan berubah, dan giliran Joe yang curhat kepada Zico. "Kamu masih ingat perempuan yang waktu pertama kali bertemu di klub malam?" tanya Joe sambil tersenyum, membayangkan sosok Jane yang begitu menggoda.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Zico, dan Joe segera menceritakan semuanya, termasuk bahwa Jane kini menjadi sekretaris pribadi Joe.


Zico tertawa lepas, mengingat ucapannya yang benar. "Nah, kan..." kata Zico dengan senyum lebar. "Itu artinya kalian berjodoh, dia jodohmu, man!" lanjutnya lagi, membuat Joe semakin yakin bahwa apa yang dikatakan Zico mungkin benar.


"Tapi-tapi, dia itu jutek banget! Dan sekarang dia lagi dekat dengan karyawanku! Ah, benar-benar menyebalkan!" ucap Joe dengan nada emosi saat mengingat sosok Irsan.


"Ya, pepet terus lah!" Zico menepuk kasar bahu Joe sebagai upaya penyemangat.


"Ya, wajib!" balas Joe dengan senyuman lebar, seolah-olah tidak akan pernah merelakan Jane jatuh ke tangan Irsan begitu saja.


"Kalau perlu pelet! Aku tahu alamat dukun yang sakti mandraguna!" kata Zico dengan gurauan sambil tertawa terpingkal.


"Ahelah, gak butuh dukun-dukun segala, orang aku ganteng gini kok. Cewe-cewe ngantri, kecuali 'dia'..." Joe kembali membayangkan sosok Jane yang hatinya tak mampu dijangkau.


Joe berpikir untuk mencari cara agar Irsan menjauh dari Jane. Pembahasan antara kedua lelaki tampan itu kemudian beralih ke topik pekerjaan dan pengembangan produk.


"Kita harus merekrut beberapa model perempuan untuk peragaan busana," ujar Zico memberikan masukan. "Lalu, kita akan memuatnya dalam katalog resmi," lanjutnya. Joe mengangguk setuju.


"Dan nanti, rencana selanjutnya, aku akan melakukan survei ke pabrik pusat yang ada di Shenzen Tiongkok untuk melihat proses produksi kita bersama Mr. Huang," tambah Joe. "Kemudian, kita perlu merencanakan strategi pemasaran yang tepat untuk produk-produk kita agar lebih dikenal di pasar Asia."


Mereka berdua semakin serius membahas rencana bisnis bersama-sama, berusaha meningkatkan produk dan memasarkannya dengan lebih baik.


Zico mendengarkan sambil menuangkan soju ke dalam gelas, lalu meneguknya dengan perasaan bingung.


"Kamu nanti pergi ke sana bersama siapa?" tanya Zico, terlihat sedikit ragu karena ia enggan untuk menemani Joe pergi ke China. Ia memiliki berbagai urusan yang harus diurus di Jakarta dan Bandung, termasuk tak bisa meninggalkan Zea lama-lama.


"Entah," jawab Joe, dan ia kembali melempar seringai lebar. "Aku ajak Jane saja... Kalau dia menolak, aku bisa mengancamnya, kan dia sudah menandatangani kontrak kerja."


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya, kalau ceritanya gak seru...


__ADS_2