
Sementara di tempat lain...
Waktu istirahat sudah tiba, dan Jane memutuskan untuk menonaktifkan layar monitor komputernya sejenak. Dia berbagi ruangan dengan Joe, bosnya, karena sebagai seorang sekretaris, Joe seringkali membutuhkan kehadiran Jane di dekatnya.
"Pak," seru Jane saat dia berdiri dari kursinya.
Joe yang masih terfokus pada layar komputernya hanya menjawab dengan singkat, "Hem?"
"Aku boleh makan siang dulu, kan?" tanya Jane yang sudah cukup lapar.
"Ya sudah, silakan. Aku memberikan waktu setengah jam," kata Joe. Jane mengangguk dengan rasa lapar yang sudah tak tertahankan, lalu meninggalkan ruangannya menuju kantin.
Ketika dia tiba di kantin, dia melihat Irsan duduk sendirian, menunggu pesanan makannya. Jane semakin terpesona olehnya dan berpikir, "Sepertinya dia orang yang ramah." Tanpa ragu, Jane mendekati meja Irsan dan menarik kursi di depannya, membuat Irsan terkejut oleh kedatangan tiba-tiba Jane.
"Eh, hai," sapanya dengan senyum tulus.
"Hai juga," balas Jane. "Tidak apa-apa kan kalau aku duduk di sini?" tanyanya, dan Irsan mengangguk dengan senyuman.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Irsan. "Oya, kamu Sekretaris baru, bukan?" tanyanya, dan Jane mengangguk, lalu mengulurkan tangannya.
"Ya, kenalin, namaku Jane." Irsan membalas sambutan dan memperkenalkan diri kepada Jane. "Irsan Maulana," katanya sambil menunjuk name tag yang dipakainya. Jane melihat jabatan Irsan sebagai bagian dari tim Jonathan, namun dia tidak mempermasalahkannya, meski Jabatan Irsan hanya karyawan biasa.
Hidangan yang dipesan oleh Irsan sudah diletakkan di meja mereka. Irsan mulai mengaduk mi di hadapan Jane, sementara Jane diam saja, hanya memperhatikan dengan senyuman hangat di wajahnya, yang membuat Irsan merasa canggung saat hendak menyantap makanannya.
"Kamu tidak pesan makanan?" tanyanya dengan rasa ingin memberikan perhatian kepada Jane. "Ehm...atau mau aku pesankan untukmu?" tawarnya dengan penuh keramahan, meskipun Jane belum benar-benar mengiyakan.
"Eh, Mas, gak usah, aku bisa pesan sendiri kalau aku mau," kata Jane, mencoba menolak tawaran Irsan, meskipun sebenarnya dia merasa tersentuh dengan perhatian Irsan.
"Gak apa-apa, Jane," balas Irsan dengan senyuman yang hangat. Irsan tidak keberatan untuk memberikan perhatian kepada teman barunya ini, dan suasana di antara mereka semakin akrab.
Irsan memesan makanan yang sama untuk Jane, sehingga mereka menunggu bersama-sama sampai pesanan Jane datang sebelum mulai menyantap mi mereka.
"Duluan saja, nanti mi nya keburu bengkak loh!" kata Jane, mencoba membiarkan Irsan makan terlebih dahulu, tapi dengan rasa canggung karena tak ingin menunggu terlalu lama.
__ADS_1
Irsan tertawa kecil mendengar ucapan Jane. "Haha, ada ada saja kamu, Jane, masa mi bengkak sih." Tidak lama kemudian, pesanan Jane tiba di atas meja, dan mereka mulai menyantap mi sambil mengobrol.
Mereka mulai berbicara tentang latar belakang mereka masing-masing, dengan Irsan memperkenalkan dirinya tanpa ragu. Meskipun mereka memiliki keyakinan dan latar belakang yang berbeda, tampaknya itu tidak menjadi halangan untuk mereka berdua saling mengenal dengan baik. Mereka menyadari bahwa suku dan keyakinan bukanlah halangan untuk menjalin hubungan yang baik.
Setelah makan siang, Irsan melihat jam tangannya dan memutuskan untuk pergi ke mushola. "Jane, maaf, aku harus ke mushola dulu," ucapnya sambil meminta izin pada Jane.
Jane mengangguk mengiyakan. "Oh, ya sudah, silakan, Mas."
Irsan menghabiskan sisa minumannya sebelum beranjak. "Kamu mau masuk duluan ke kantor?" tawarnya kepada Jane, yang tampaknya belum memiliki teman di perusahaan itu.
"Ehmmm... Mas Irsan, boleh kan aku ikut ke mushola? Hmm...aku tunggu di luar maksudnya," pinta Jane, karena dia ingin menghindari kebosanan sendirian.
"Boleh sih," jawab Irsan sambil mengangguk, meskipun agak ragu dan canggung.
Irsan dan Jane berjalan bersama menuju mushola kantor, dan dari kejauhan, Joe melihat kebersamaan mereka sambil berkaca pinggang.
Ia menyaksikan keduanya tampak asyik sambil tertawa ceria menuju mushola kantor.
Setelah sampai di depan mushola, Irsan masuk bersama yang lainnya. Sementara, Jane menunggu diluar dan duduk di bangku yang tersedia. Saat ia tengah fokus menatap ponselnya, ia di kagetkan dengan kehadiran seseorang yang secara tiba-tiba mendaratkan bokong tepat di sebelahnya. "Ehem..." Suara tersebut membuyarkan konsentrasi Jane, lalu ia menoleh. "Eh Pak Ijo!" Ledek Jane kepada Joe. "Ish!!!" Joe mendengus sambil membelalak kearah Jane. "Ngapain kamu disini?" tanya Joe dengan sentakan, membuat Jane mengerucutkan sudut bibirnya dan Joe semakin gemas padanya.
"Apa urusannya sama situ?" Jane balik bertanya membuat Joe sedikit jengkel dengan tingkah dan jawaban Jane. "Nungguin Irsan?" celetuk Joe, dan Jane menoleh kearahnya sambil tersenyum mendengar nama Irsan. "He, em." Jane mengangguk. Namun, Joe seakan tak ikhlas dengan kedekatan Jane dengan Irsan, lantas ia langsung menarik lengan Jane dan beranjak dari duduknya. "Joe! Apaan sih?" Jane mendengus kesal, padahal waktu istirahat belum usai. "Cepat masuk!" titah Joe dengan sentakan.
Joe terus menarik lengan Jane dengan kasar, melewati beberapa orang di kantor.
"Pak Ijo, lepasin tangan aku!!!" rintih Jane berusaha melepaskan genggaman tangan Joe yang mencengkramnya dengan kasar, tetapi Joe tetap terus menuntunnya menuju ruangannya.
"Waktu istirahat hampir selesai!" bentak Joe.
Sampai pada akhirnya, mereka berdua tiba di ruangannya, dan Joe segera menutup pintunya.
Jane merasa kesal terhadap Joe, dan ia mengambil ponselnya untuk memberitahu Irsan agar Irsan tak mencari-cari.
"Jane!!!" seru Joe dengan nada tinggi, membuat Jane menoleh dan menatap wajah Joe.
__ADS_1
"Apaan sih?" tanya Jane dengan nada sedikit nyolot.
"Taruh ponselnya!" bentak Joe kembali.
"Iya!" Jane segera menurunkan ponselnya dengan perasaan marah yang berkobar di hatinya atas perintah keras Joe.
Joe menyerahkan beberapa file dokumen kepada Jane yang tengah menggerutu sambil menatap layar monitornya.
"Tuh, tugas buat kamu!" kata Joe dengan nada tegas, Jane melirik dokumen yang menumpuk itu sambil menghembuskan napas beratnya.
"Kamu itu, baru juga sehari sudah bertingkah!" Joe berdiri di sebelahnya sambil berkaca pinggang dan memasang wajah garang kepada Jane.
"Lagian, apaan sih? Perasaan, aku gak banyak tingkah deh! Kamu aja yang lebay!" Balas Jane dengan nada tegas.
"Heh, kamu lupa, kalau kamu sedang berhadapan dengan siapa?" Joe mengintimidasi Jane dengan nada tegas.
"Tadi aku lihat, kamu berdua-duaan dengan Irsan!" Joe kembali berbicara dengan nada keras saat menyebut nama Irsan di depan Jane.
Jane tak terima, ia kembali berdiri. "Lah, memangnya kenapa? Itu hak aku dong! Lagian, kan, itu diluar pekerjaan! Gak usah norak deh jadi orang!" balas Jane, tensi darah Joe semakin naik.
"Ingin rasanya aku lahap dia bulat-bulat!" batin Joe saat menatap Jane, Jane balas mendelik kearahnya.
"Sombong amat sih, mentang-mentang jadi Bos!" batin Jane, lalu ia memperhatikan wajah Joe dengan seksama. "Hmm...ganteng sih ganteng tapi sayang gak menarik dimataku!" Lanjutnya dengan tatapan sinis.
"Apa kamu lihat-lihat?!" Joe membelalak sambil menggebrak meja.
"Yeh, Ge'eR amat sih, siapa juga yang lihatin situ!" tutur Jane dengan sinis, membuat Joe terkekeh dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iya tahu aku memang ganteng, banyak yang bilang, kok," cetusnya, membuat Jane kembali memutar kedua matanya malas.
...
Bersambung...
__ADS_1