
Napas memburu terdengar dari jarak 20 meter. Menderu-deru, meraung memecah keheningan malam.
Makhluk itu melenggak-lenggok.
Mengendus udara.
Mencium bau mangsa.
Menyeringai menunjukkan taring berlumur darah.
Seorang lelaki bersembunyi di balik pintu. Wajahnya pucat pasi. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya yang gemetar ketakutan. Detak jantungnya terpompa keras. Kencang bak hendak meledak.
Rasa panik kian merasuk di kala makhluk itu mulai mengendap pelan dan berdiri di balik pintu depan.
Terdengar desisan di balik pintu. Di beberapa tempat lain, rupa-rupa suara saling bersahutan membuat bulu kuduk si lelaki makin meremang.
Ya Tuhan makhluk apa itu?
Si lelaki resah memandang ke segala arah. Menyadari dirinya berada dalam gudang tua. Tak ada jalan keluar selain saluran pembuangan yang berada tepat di samping bawah ruangan tersebut.
Ruangan itu kelabu tapi dia dapat melihat dengan cukup jelas. Ada banyak peti kayu di situ dan tergantung sederet pakaian aneh bermasker serta tabung-tabung oksigen.
Dengan gontai si lelaki melangkah menuju sudut ruangan sebab melihat sesuatu yang berkilauan.
Sebuah linggis tergeletak di situ.
Di bawah linggis tersebut terdapat sebongkah beton yang dapat diangkat. Itulah satu-satunya celah masuk ke dalam saluran pembuangan.
Saat dia meraih linggis tersebut, ponselnya sekonyong-konyong berdering. Dirinya melompat kaget dan teramat panik sewaktu sang makhluk mendobrak pintu dan berdiri di hadapannya.
Monster mengerikan itu mengeluarkan suara rengekan tangis bayi, kicauan anak monyet, auman singa, cegikan **** hutan, suara tawa jahat seorang pria.
Si lelaki masih bergeming mematung diri, tak sanggup menggerakkan kaki untuk berlari sebab dirinya tahu itu bisa membikinnya mati. Tapi ponselnya tak juga berhenti bersuara, tak ingin bekerja sama.
Si lelaki memegang erat-erat linggis itu dan berusaha mematikan ponselnya tapi sang monster keburu menerjang hendak menerkam. Dengan reflek dia menghantamkan linggisnya ke arah cungur makhluk tersebut hingga darahnya mengucur.
Monster terkutuk itu terpental ke sudut ruangan dan dia berusaha menahan rasa sakit tangan kirinya akibat hantaman tadi.
Monster yang tampak mirip mutan hasil eksperimen itu kembali berdiri. Wajah-wajah yang memenuhi kepalanya menyeringai. Hendak menyerang ulang.
Lelaki itu berusaha mengangkat balok beton yang menghalangi lubang.
Sang monster keburu mendekat hendak menyergap di tempat.
Si lelaki menepis serangan. Berbalik menggencar sekuat tenaga.
Makhluk itu mencengking berusaha menjaga jarak. Wajah buruknya yang berlumur darah memandang si lelaki dengan waspada dan mencari kesempatan untuk mencengam.
Lelaki itu terpojokkan dan kian lemah. Dia tak bisa mengangkat bongkahan beton itu sembari menggenggam linggis. Tapi dia tak bisa melepaskan linggisnya. Hanya itu satu-satunya senjata yang bisa membuatnya selamat.
__ADS_1
Dia masih menghela napas, mengatur langkah, mencari celah agar dirinya tak kalah. Hal serupa dilakukan makhluk itu yang mondar-mandir ke segala arah.
Ponsel si lelaki berhenti berdering. Ketegangan makin menjadi kala detak jantung makin memburu menghiasi kesunyian di tengah ruangan kematian.
Makhluk itu kembali menerjang.
Si lelaki berhasil menggelek. Dia menancapkan linggisnya ke arah kepala monyet yang menempel di leher sang monster hingga bocor. Lalu mencecar moncong tengkorak karnivora itu. Dengan sekuat tenaga mendorongnya ke sisi ruangan.
Si lelaki bergegas berlari. Sekali lagi, berusaha mengangkat balok beton dengan kedua tangannya yang mulai soak.
Dia lemparkan bongkahan beton itu ke arah sang monster yang kembali merayap mendekat. Lengkingan mengumandang, begitu memekakan telinga di saat balok beton mendarat di wajah manusia yang menempel di atas kepala makhluk terkutuk itu.
Dengan segera, si lelaki merayap turun ke dalam saluran pembuangan yang cukup sempit. Dirinya berhasil masuk tepat sebelum moncong merah itu memenggal kepalanya.
Dia merunduk jongkok menyusuri lorong yang entah akan menuju ke mana.
Sudah cukup lama si lelaki menyusuri saluran air itu dan dia tak mendengar derap langkah sang makhluk mengejarnya di permukaan.
Dirinya bersandar di dinding gorong.
Melepas lelah di hati yang gelisah.
Dia tak tahu sudah berapa lama tersesat di gang itu. Rasanya seperti sudah berhari-hari. Lalu dia mencekuh ponselnya dari saku. Satu kotak suara diterimanya dari Sam. Dia membuka pesan dan mendengarkan.
"Rehan, kita harus keluar dari sini! Di sini berbahaya. Virus dan gas beracun masih aktif dan menyebar di seluruh gang Avycon. Panggil bantuan! Kita bisa mati jika kita tidak keluar dari tempat ini—" suara itu mendadak putus disertai jeritan .
Dia mencoba menelepon balik.
Tak aktif.
Dia pula mencoba menelepon rumah dan ponsel istrinya.
Tak juga tersambung.
Lalu dia mengetik sepenggal pesan ke ponsel istrinya dan berharap pesan itu sampai.
***
Sayang, tolong aku. Di sini berbahaya. Aku tersesat di gang Avycon. Aku tak bisa keluar.
Pesan itu melekat terus di pikirannya. Sedari tadi Alley bimbang dengan apa yang harus dilakukannya sekarang.
Sudah seminggu dia menyuruh Raku untuk mencari suaminya di kota itu. Tapi sampai detik ini pria itu tak juga datang melapor padanya. Membuat cemas di hati wanita beranak satu itu kian mendera.
Langit tampak temaram kala Alley duduk di kursi goyang depan balkon rumah mertuanya.
Wanita itu memandang tepat jauh ke arah cakrawala senja di balik Grand Cliff—tebing batu yang menjulang bak benteng—dan di baliknya terdapat kota yang tersembunyi. Kota yang terakhir kali dituju oleh suaminya.
Suaminya, Rehan Raufall, adalah seorang wartawan. Dia bersama Sam—seorang kameramen—pergi ke Lurid City sebulan lalu. Mereka hendak mendokumentasikan kota mati yang coba pemerintah hidupkan kembali.
__ADS_1
Setelah tidak ada kabar lebih dari 3 minggu akhirnya wanita itu mendapat sebuah pesan dari Rehan. Pesan yang membuatnya gelisah dan akhirnya seminggu kemudian dia menyuruh Raku untuk mencari mereka di kota itu. Tapi, pria yang dia suruh hingga saat ini belum juga menampakkan batang hidungnya lagi. Bak ditelan bumi, pria itu pun hilang tanpa jejak yang pasti.
Kerap kali, Alley menelepon ponsel mereka. Baik Rehan, Sam, maupun Raku. Tapi semua ponsel mereka bernada sambung aneh. Terdengar semacam geraman saat dia mencoba menghubungi mereka.
Alley beranjak dari tempat duduknya. Mendekati anaknya yang sedang bermain lego di ruang keluarga.
"Ibu, di mana Ayah? Kapan Ayah pulang?" tanya Rafael saat Alley memperhatikannya.
"Ibu juga tidak tahu sayang," jawabnya setengah lemas.
Kecemasan makin menjadi hari demi hari. Tak ada lagi kabar dari Rehan semenjak sms terakhir kali.
"Bagaimana kalau kita cari Ayah!" ajak Rafael polos.
Alley hanya bisa diam. Tak bisa menjelaskan yang sebenarnya.
Anaknya kembali menyusun balok-balok lego itu tanpa bertanya lagi sesuatu yang membuat pikiran wanita itu gundah gulana.
Dia mulai semakin galau dengan ini semua.
Haruskah aku yang mencari sendiri keberadaan Rehan?
Alley beranjak ke dapur dan meneguk segelas air, mencoba membuat dirinya tenang.
Dia berdiri di depan bak cuci piring dan memandang ke luar jendela kecil yang ada di atasnya. Jendela yang tepat menghadap ke arah Grand Cliff yang mulai gelap gulita dimakan senja.
Nyonya Refal mendekati Alley, menaruh gelas-gelas kotor dalam bak cuci. "Belum ada kabar lagi darinya?"
"Tidak. Belum ada, Bu," jawab Alley pelan.
Dia terdiam.
Tampak berpikir untuk mengatakan sesuatu.
Tapi, sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Bu, aku akan pergi ke kota itu," ucapnya akhirnya.
"Sebaiknya kita tunggu kabar dari Raku, dia pasti bakalan menghubungi kita jika dia dapat kabar."
"Tapi sampai kapan kita harus menunggu? Ini sudah sebulan? Mungkin terjadi sesuatu dengan Rehan. Aku takut. Sebaiknya aku sendiri yang menyelidikinya ke kota itu."
"All, kau yakin mau pergi ke sana?" Nyonya Refal memastikan.
"Aku harus mencari tahu. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di mana suamiku? Apa yang terjadi padanya? Dan kenapa Raku, yang kita suruh untuk mencarinya tak kunjung kembali? Aku sendiri yang harus mencari tahu, Bu."
"All, Ibu tahu bagaimana perasaanmu," ucapnya. "Ibu bahkan lebih tahu. Dia itu anak Ibu," imbuhnya menegaskan. "Tapi Ibu tidak ingin kau ke sana. Kita tunggu saja kabar dari Raku minimal seminggu lagi."
Alley hanya bisa diam tanpa kata. Sejujurnya dia pun tak sanggup untuk pergi ke kota mati yang baru dibuka 3 tahun lalu itu. Pasti di sana masihlah sepi dan bahkan dia pun tidak tahu betul mengenai kota tersebut.
__ADS_1