Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Egosentris


__ADS_3

Perlahan, Alley membuka mata.


Silau.


Cahaya itu begitu menusuk matanya.


Dia belum bisa melihat dengan sempurna.


Di hadapannya tampak dinding kaca yang menghadap tepat ke seberang gedung apartemen. Dan jalan raya berada di bawahnya.


Dia berada di sebuah ruangan.


Belum.


Belum sepenuhnya keluar.


Alley menoleh pada suara itu. Tampak seorang pria setengah abad, bertubuh gendut, dan sedikit botak dengan kumis tebal. Pakaiannya lusuh. Kemeja birunya pudar penuh dengan bercak darah kering dan lumpur.


"Siapa kau?" heran Alley.


Wajahnya kelelahan memperhatikan pria itu dengan saksama.


"Sama sepertimu. Orang yang selamat melewati gang Kana," jawabnya dengan senyum yang tampak dipaksakan.


Pria itu lalu mengambil kursi di tengah ruangan.


"Duduklah."


Alley duduk.


Pria itu mengambil kursi lain dan duduk dihadapannya.


"Di mana aku?"


Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan. Ruangan aneh ini berlantai parquet. Di tengah ruangan, kursi, meja, rak-rak beserta buku usang bertebaran tertutup debu. Di sudut-sudut ruangan tanaman-tanaman hijau tumbuh subur terawat. Sementara di berbagai dinding di sisi lain ruangan banyak sekali pintu. 11 pintu yang terbuat dari baja dan kayu. Banyak coretan X di pintunya. Ada jendela kecil di situ, di dekat pintu besi tempat Alley keluar tadi. Dan di sudut jauh ruangan, banyak beragam benda yang tak dikenalnya. Menumpuk seperti sampah.


"Lantai 10. Gedung hotel Kanavi," jawab pria itu.


"Lantai 10?" heran Alley.


Dia kembali memandang layar kaca. Benar, jalan raya tampak jauh di bawah. Banyak sekali mobil lewat seperti semut. Dan tepat di hadapannya adalah apartemen Kie Light.


"Iya, Nona," ucapnya. "Kenalkan namaku Albert, aku adalah wali kota pertama saat kota ini coba kami hidupkan."


"Aku Alley. Aku baru tinggal di kota ini seminggu lalu," balasnya. "Tapi, Bukankah wali kota pertama kota ini Rendown?" herannya mendengar pernyataan pria itu.


"Tidak. Dia wakilku."


"Tetapi kenapa dia tidak menceritakan tentang Anda pada saya maupun buku kota?"


"Tidak?" heran Albert tidak percaya.


"Iya," Alley meyakinkan. "Temanku, wali kota, ataupun buku kota yang ditulis dan dibagikan ke penduduk sedikit pun tidak pernah menyinggung tentang Anda."


"Kurang ajar!" gerutunya pelan.


"Sebenarnya ada apa, Pak? Dan apa Anda tahu mengenai semua hal-hal aneh yang terjadi di kota ini. Sejarah kota ini dan hal-hal yang aku alami hari ini hingga aku sampai di ruangan ini?"


"Dulu sekitar tahun 2001, aku, dan Rendown ditugaskan mengelola kota ini. Kami berlima mencoba memasuki gang Kana. Aku, Rendown, dan tiga petugas dari pemerintah ingin memastikan kebenaran tentang cerita gang tersebut. Cerita yang tercatat dalam buku harian kota tentang banyak orang hilang saat menelusuri gang Kana beberapa tahun sebelum akhirnya kota diisolasi oleh pemerintah," ujar pria itu.


"Bagaimana dengan aturan-aturan mengenai gang Kana? Apa sudah ada sejak lama? Siapa yang menciptakannya?"


"Iya. Seorang wanita. Beberapa info mengatakan kalau dia adalah wali kota pertama saat kota ini dibangun. Beberapa lainnya menyebutkan bahwa wanita itu penyihir. Entah dia penyelamat yang menciptakan aturan itu atau justru dia yang menciptakan kegelapan dalam gang tersebut. Yang jelas tidak ada satu orang pun dari kami mampu untuk tidak melanggar aturan-aturan itu. Tiga petugas bahkan melanggar semua aturan. Mereka tidak pernah sampai di ruangan ini. Mereka terperangkap di gang itu."


"Lalu, berapa aturan yang Anda langgar? Kenapa Anda masih di sini? Kenapa Anda tidak keluar bersama Rendown?"


Albert tertawa sinis sembari menyunggingkan senyum kecut.


Matanya tertuju pada satu titik kosong di ruangan tersebut.


"Gara-gara dia aku terperangkap di sini!" geramnya. "Dari 10 aturan itu hanya 2 yang tidak kami langgar. Aturan pertama dan aturan terakhir. Kurang dari dua jam, akhirnya kami tiba di ruangan ini lewat pintu besi itu," jelasnya sembari menunjuk ke pintu besi merah marun di tengah.


Alley sekilas mengalihkan pandangan ke pintu itu, kemudian ke dinding kaca. Melihat apartemennya dan jalan raya di bawahnya.


Begitu tak masuk akal.


Karena penasaran dia akhirnya berjalan menuju pintu besi.


Albert mengikuti.


Alley meraba pintu besi di dinding kayu. Di samping pintu itu ada jendela kecil. Alley melihatnya. Tidak percaya rasanya. Di luar jendela itu—beberapa meter di bawahnya—adalah sebuah gang.


Gang Kana.


Dan tepat tidak jauh di hadapannya adalah pintu masuk ke dalamnya.


"Aku melihatmu masuk ke dalam gang lewat jendela ini," kata Albert.


Sulit dipercaya jika jendela itu mengarah pada gang beberapa meter di bawah. Sedangkan tepat di seberang ruangan ini, dinding kaca mengarah pada bangunan dan jalan puluhan meter di bawahnya. Hal ini memang tidak masuk akal tapi mereka kira tak ada lagi yang masuk akal mengenai semua kejadian ini.


"Setelah kalian sampai di ruangan ini apa yang kalian lakukan? Bagaimana caranya keluar dari sini? Bagaimana Rendown keluar sedangkan Anda tidak?"


Alley kembali ingin menyimak cerita Albert.


"Sudah ada orang lain saat kami tiba di sini. Seorang perempuan bernama Kaledonia. Dia bilang, dia tinggal di kota ini saat pertama kali dibangun. Dia terperangkap di sini hampir seratus tahun."


"Apa?! Lalu bagaimana dia bisa hidup di ruangan ini selama itu?"


"Mereka menyebut ruangan ini Egosentris Room. Di sini, kita seperti mati. Tak perlu makan dan tidur. Ruangan ini tidak seperti dalam gang Kana. Waktu berjalan cepat di gang itu sedangkan di sini tidak.

__ADS_1


"Berapa lama waktu yang kau habiskan di gang itu untuk dapat sampai kemari?" tanya Albert.


"Lima jam."


"Lima jam di gang itu sama dengan lima tahun di dunia luar sana."


"Apa?!"


"Iya. Kau sudah menghilang selama itu dari dunia luar tapi itu jauh lebih baik ketimbang aku. Waktu di ruangan ini sama dengan dunia luar. Artinya aku tak akan bisa mati, tetapi juga tak merasakan hidup. Sudah delapan tahun aku tinggal di ruangan ini. Sendirian. Tak bisa keluar. Hanya bisa berharap ada orang masuk ke gang Kana dan tiba di sini agar aku bisa keluar."


Alley termenung, memikirkan segala hal.


Dia menghilang selama 5 tahun, apa yang terjadi di luar sana?


Bagaimana keadaan anaknya?


Eren?


Segala hal?


Masihkah anaknya hidup?


Masihkah Eren tinggal di apartemen itu?


"Lalu, apa yang terjadi setelah Anda dan Rendown tiba di ruangan ini?"


"Perempuan itu memohon pada kami untuk mengeluarkannya terlebih dahulu sebelum kami."


Albert berjalan ke tengah ruangan menghadap ke pintu-pintu itu.


"Lewat pintu-pintu inilah kita bisa keluar. Kecuali pintu yang di tengah. Pintu di saat kau masuk tadi. Ini Pintu menuju gang Kana. Masuk ke dalam pintu ini sama saja artinya kau melanggar aturan kesepuluh. Tahu apa akibatnya? Bukan hanya tidak bisa keluar dari gang tersebut, tetapi kau bisa saja mati jika berbalik arah dari ruangan ini."


Aturan no. 10. Jangan berbalik arah.


"Kenapa ada sebelas pintu?"


"Mewakili kesepuluh aturan dan satu pintu masuk ke gang," jawabnya pasti.


"Semakin banyak aturan yang kau langgar, semakin tipis kesempatanmu untuk keluar dari sini. Apa ini maksudnya?" Alley memastikan.


"Iya," Albert mengangguk. "Waktu itu, Aku dan Rendown, memiliki dua kesempatan. Memiliki masing-masing dua pintu. Dua jalan keluar dengan dua aturan yang berhasil tak kami langgar pula. Itu menjadi keuntungan dan kerugian bagi diriku sendiri. Kau ingat aturan pertama?"


"Jangan berjalan sendirian."


"Itu adalah aturan yang sangat penting. Karena aturan itu bukan dimaksudkan untuk tidak melanggar dan masuk ke dalam gang. Tapi untuk ini. Untuk ruangan ini. Aturan itu penting di sini."


"Tapi aku membaca buku kota. Dijelaskan bahwa aturan itu hanya aturan biasa. Bukan aturan sakral atau penting yang termasuk ke dalam tiga aturan sakral lainnya," tutur Alley.


"Benarkah?"


Albert tampak berpikir sesaat kemudian tersenyum sinis. "Rupanya dia benar-benar ingin mengurungku selamanya di tempat ini."


"Maksud Anda?"


Alley memperhatikan satu per satu pintu sembari merabanya.


"Bagaimana Anda sampai terjebak di sini? Dan bagaimana aku bisa keluar?"


"Perempuan itu sepakat kami bantu keluarkan lebih dulu. Aku dan perempuan itu, menarik tuas yang ada di sisi kiri dan kanan ruangan ini bersama-sama agar pintu terbuka. Hal ini tak akan pernah bisa dilakukan jika tidak oleh dua orang. Dua dari sepuluh pintu terbuka. Dua aturan yang tidak aku langgar. Maka, dua pintu pun terbuka. Dan entah kenapa tak ada satu pun pintu yang terbuka olehnya.


"Dua pintu terbuka yang hanya bisa dilewati sekali. Harusnya aku bisa keluar saat itu juga bersamanya. Tapi aku berpikir jika aku keluar bersamanya, Rendown pasti akan terjebak di ruangan ini. Lagi pula aku tahu dia juga mempunyai dua pintu. Maka, aku lepaskan pintuku. Perempuan itu keluar lewat pintuku yang satu dan pintuku yang satu lagi menutup sedetik setelah pintu yang dilewatinya tertutup dan dia berhasil keluar.


"Aku dan Rendown menarik kembali tuas tersebut dan dua pintu berhasil terbuka. Tapi dua pintu itu terbuka di pintu yang berbeda dari sebelumnya. Kedua pintu itu terbuka di hadapan Rendown. Dan saat itu, aku tak percaya dia keluar meninggalkanku begitu saja hingga aku terjebak di ruangan ini!"


Alley bimbang.


Dia berjalan dari satu pintu ke pintu lainnya. Dia berdiri di hadapan pintu kayu. Kemudian dia mencoba mencongkel pintu kayu itu dengan tongkat besi yang tak pernah lepas dari tangannya.


"Apa yang kau lakukan, Nona?!" sergah Albert kaget dengan tingkahnya.


"Aku ingin cepat keluar dari sini!"


"Ada cara untuk keluar dari sini dan bukan begitu caranya. Apa kau tadi tidak mendengarkan ceritaku?!"


Albert menaut alis.


"Aku tidak yakin kita berdua bisa keluar."


Alley sangsi.


Raut muka Albert langsung menajam.


"Berapa aturan yang tidak kau langgar?"


"Hanya satu dan aku ingin keluar dari sini! Aku ingin bertemu dengan anakku!"


"Tidak bisa! Kau tidak boleh egois seperti itu. Aku sudah menunggu lama di ruangan ini. Berharap aku bisa keluar. Aku akan keluar dan kau harus tetap tinggal di sini!" bentak Albert.


"Itu tidak adil! Aku yang memiliki kesempatan untuk keluar. Dengar, Pak, aku punya anak di luar sana dan aku ingin bertemu anakku. Dia pasti merindukan ibunya."


"Aku tahu betul perasaanmu. Apa kau tahu di luar sana aku pun punya keluarga? Aku juga punya anak. Aku sama sepertimu, ingin bertemu dengan keluargaku," timpal Albert. "Lagi pula aku punya urusan yang harus aku selesaikan dengan Rendown. Dan aku berjanji, setelah aku keluar, aku akan membawa beberapa orang masuk ke gang Kana untuk menyelamatkanmu."


Alley resah dan gelisah.


"Tanpa bantuanku kau tetap tidak akan bisa keluar. Percayalah padaku, setelah aku keluar, aku akan mengeluarkanmu dari sini."


Albert berusaha meyakinkan.


Entah kenapa Alley tidak bisa memercayainya. Saat ini hanya satu yang dia pikirkan—anaknya. Dia harus bertemu dengan anaknya.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Tidak! Aku tidak mau. Aku harus keluar. Aku akan mencari cara!"


"Silakan saja jika kau bisa melakukannya sendirian," tantang Albert seraya duduk di kursi.


Alley berjalan ke ujung kanan ruangan dan menarik tuas ke bawah yang terpatri di dinding beton. Setelah itu dia berlari ke ujung ruangan satunya lagi dan menarik tuas ke bawah yang terpatri di dinding kayu. Tapi ketika dia menarik tuas itu, tuas sebelumnya yang dia tarik, terangkat ke posisi semula.


"Sudah kubilang kau tak akan bisa tanpa bantuanku," cibir Albert.


Alley tak menyerah.


Dia punya akal.


Dia tarik sebuah kursi dan tumpukan barang-barang berat kemudian menggantungkannya di tuas tersebut hingga tertarik ke bawah lalu dia berlari untuk menarik tuas yang satunya. Tapi, tetap saja tuas yang sebelumnya terangkat kembali.


"Mustahil!" kejut Alley.


Albert tersenyum meledek. "Sudah kubilang, tanpa bantuan dariku kau tak akan bisa keluar."


"Arghhh! Sialan!!!" cerca Alley kesal dan histeris.


Dia terduduk lemas di lantai.


"Percayalah padaku. Aku adalah wali kota. Beri aku kesempatan untuk keluar. Aku janji setelah keluar dan bertemu keluargaku sekali saja, aku akan segera kembali untuk menyelamatkanmu."


"Meskipun aku percaya, aku harus menunggu lama kedatanganmu. Dua tahun seperti katamu."


"Tidak. Aku bisa datang lebih cepat. Aku sudah memahami trik melewati gang Kana. Aku bisa mencapai ruangan ini dalam lima menit yang artinya lima bulan. Menurutku menunggu beberapa bulan lebih baik ketimbang menunggu bertahun-tahun seperti yang aku alami."


Alley menangis.


Begitu bimbang.


Teramat bingung.


Di satu sisi dia memikirkan keadaan anaknya. Di sisi lain dia pun memikirkan perkataan Albert. Jika dia tidak membiarkan Albert keluar lebih dulu, dia tak akan bisa keluar.


Dalam kegalauan, Alley mengeluarkan ponselnya. Dia melihat daftar panggilan tak terjawab. Satu panggilan tak terjawab dari apartemen rumahnya. Dia mencoba menelepon balik tapi tak ada orang yang mengangkatnya. Hanya sebuah mesin penjawab yang berada di ujung teleponnya. Jelas itu adalah rekaman suara Eren yang belum sempat dia ubah saat dia pindah ke kota ini.


"Maaf, sekarang saya tidak ada di rumah silakan tinggalkan pesan."


"Eren, ini aku, Alley. Jika kau bertanya, saat ini aku masih hidup. Aku terjebak di gang Kana dan ceritanya sungguh panjang. Aku harap saat ini anakku masih hidup dan bersamamu sekarang. Maaf, mungkin beberapa bulan lagi aku baru bisa keluar dari gang ini. Tunggu aku ...."


Alley menutup teleponnya.


Dia memandang Albert dengan tajam.


"Jadi, bagaimana sekarang?" tanyanya.


"Aku akan tinggal di sini," kata Alley menerima tawaran itu meski ada keraguan.


"Baiklah. Terima kasih. Aku senang mendengarnya. Percayalah, aku akan menjemputmu secepatnya," janjinya.


Alley hanya mengangguk pelan.


Mereka berdua berjalan menuju tuas yang berada di kedua sudut ruangan.


"Kita tarik tuasnya secara bersama-sama," sahut Albert.


Mereka berdua menariknya.


Sebuah pintu akhirnya terbuka.


Pintu keempat dari arah Alley.


Pintunya terbuka lebar dan di baliknya hanya ada latar putih yang menyilaukan.


Albert mulai melangkah menuju pintu itu dengan senyuman kebahagiaan.


Tiba-tiba ponsel Alley berdering dan dia mengangkatnya.


"Halo?"


"Alley! Apa kau gila! Ke mana saja kau?! Apa kau tidak tahu anakmu sudah meninggal!" sergah Eren.


Ucapannya membuat Alley membatu.


Tubuhnya mematung kaku bak dihunjam halilintar di siang bolong.


Seluruh apa yang Alley lihat tampak kabur dan berbayang.


Semuanya menjadi lambat.


Waktu berhenti berdetak.


Ponsel yang digenggamnya terlepas jatuh membentur lantai hingga hancur berkeping-keping.


Sosok Albert yang semakin mendekati pintu keluar tampak mengabur dan melambat. Membuat Alley seperti ingin pingsan tapi itu tak terjadi.


Dalam situasi ini, Alley mengambil keputusan kritis.


Dia menjerit dalam hati.


Dia tidak ingin tinggal di ruangan ini!


Dia ingin keluar dan dia akan lakukan itu!


Dengan menggenggam erat tongkat besi di tangannya, dia berlari dengan sigap menuju pintu yang hendak dimasuki Albert. Kemudian dengan cepat, tanpa berbasa-basi, dia menancapkan besi runcing itu ke paha Albert. Pria tua itu memekik dan tersungkur di lantai. Tanpa menengok ke belakang, Alley langsung memasuki pintu itu dan menutupnya rapat.

__ADS_1


Butuh beberapa detik sebelum akhirnya latar putih itu memudar dan menghilang tergantikan jalan raya yang dilalui mobil-mobil dan gedung apartemen di hadapannya.


"Terima kasih, Tuhan ...."


__ADS_2