Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Gang Avycon


__ADS_3

Alley mematung. Masih memandang senyum Kaledonia dengan tatapan syok. Banyak pertanyaan bergemelut dan dia tidak mengerti arti dari senyuman penyihir tersebut.


Dia melirik Gabriel di sebelahnya. Tak percaya dengan apa yang dia lakukan di sana bersama penyihir itu.


Kaledonia melirik Gabriel dan menyuruhnya menyerang Alley dengan bahasa isyarat. Dengan raut wajah kerasukan, Gabriel melompat menerjang Alley.


"Berhenti!" teriak Alley.


Gabriel tak mendengar, dia melayangkan tinjunya.


Alley berhasil bermanuver dan menodongkan pistolnya di belakang kepala Gabriel.


Gabriel tak bergeming, dia langsung berbalik dan menggenggam erat Magnum tersebut.


Alley yang reflek langsung mencetuskan peluru hingga membuat dada Gabriel hancur berlubang. Dia begitu terkejut, pria itu tak tumbang.


"Apa kau tidak tahu? Dia sudah mati!" kata Kaledonia.


"Apa?!"


Alley mendadak teringat dengan kandang besi yang terdapat di belakang rumah Gabriel.


Apakah benar dia korban Martyr Project? Tapi, bagaimana selama ini dia bisa menguasai Hell Time dan apakah selama ini Gabriel sadar bahwa dirinya sudah mati?


"Menyedihkan," Kaledonia mendecak, "bertahun-tahun dia menganggap ibunya telah mati dan menduga wali kota melakukan konspirasi. Padahal selama ini ibunya berada di dekatnya dan masih hidup. Justru dia sendirilah yang telah mati. Ibunya—Samael—yang memintaku menghidupkannya kembali disertai permintaan yang melebihi batas. Dia meminta agar anaknya itu bisa hidup berbaur dengan warga kota yang lain setelah dihidupkan. Tentunya itu bukanlah harga yang murah. Iblis yang membantu menghidupkannya meminta tumbal anak kecil. Dia memilih anakmu. Maka dari itu, Samael membunuh anakmu. Menabraknya di depan gerbang Avycon, memberikan nyawa anakmu pada iblis yang kelaparan. Dengan begitu, Gabriel bisa hidup berbaur dengan warga kota meski ingatan aslinya akan segala hal harus lenyap dan diganti dengan ingatan baru. Ingatan apa pun yang pernah dia diceritakan padamu bukanlah miliknya, melainkan milik orang lain," tutur Kaledonia.


"Kenapa? Kenapa kau tega melakukan itu?!" sahut Alley lirih.


Dadaya terasa sakit mendengar kenyataan itu.


"Itu bukan salahku. Semua ini sudah ditakdirkan. Kau sudah masuk ke dalam lingkaran takdir yang sudah kau pilih sendiri, Alley. Itu terbukti saat Samael membawa jasad anakmu kemari dan ucapan Gabriel hanya semakin membawamu ke dalam kegelapan. Semakin membuatmu melanggar aturan. Masuk ke dalam jebakan yang telah aku persiapkan untuk mencari orang-orang terpilih. Dan kau adalah salah satu orang yang terpilih. Itulah sebabnya kau berada di sini. Takdirmu di sini dan kau tak akan bisa keluar lagi," timpalnya datar tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.


"Jadi, maksudmu, Gabriel tidak menyadari apa yang dia alami?"


"Saat Hell Time tiba, di sini, para Martir akan keluar dari kandang mereka dan kembali dengan sendirinya. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Gabriel. Buah hasil dari tumbal anakmu membuatnya melakukan hal sebaliknya. Saat Hell Time tiba, dia akan masuk secara naluriah ke dalam jeruji besi yang ada di rumahnya. Dia berontak sendirian di dalam sana lalu keluar saat Hell Time-nya berakhir dan dia tak menyadari semua itu," kata penyihir itu mengelus wajah bayi di bawah rahang Bambola hingga bayi itu tertawa begitu riang. "Sayang, keingintahuannya akan sosok ibu terlalu berlebihan. Hingga masuk ke sini di saat waktu yang tidak tepat dan terpaksa harus aku manfaatkan sejenak untuk melenyapkanmu di sini. Agar ... pesan dari mendiang ayahku segera terwujud."


Kaledonia menatap tajam Gabriel. Gerakan bola matanya seakan memberi pesan untuk melakukan sesuatu.


Gabriel yang sebelumnya bergeming, kembali menyerang. Dan Alley reflek melawan dengan menembakinya bertubi-tubi. Mau tak mau mereka akhirnya bertarung di dekat birai void.


"Gabriel! Sadar! Sadarlah!"


Gabriel terus menyerangnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi kemarahan sesosok iblis yang bersemayam di tubuhnya.


Alley mundur di saat peluru dalam pistolnya tandas. Di saat Gabriel mencoba mencekik, Alley langsung meraih golok yang tersampir di pinggang dan menebaskannya ke kedua lengan pria itu sebelum cengkeraman di lehernya semakin kuat. Darah hitam yang begitu hangat menyembur dari sayatan di lengannya yang menganga. Tak cukup dengan itu, Alley empaskan pula goloknya ke urat lehernya yang berdenyut-denyut. Darah lainnya langsung muncrat bagai air mancur sebelum memelan dan mengalir deras bagai sungai.


"Alley?" Mendadak Gabriel tersadar. Dia melepaskan cengkeramannya. "Alley, apa yang terjadi?" tanya Gabriel linglung memperhatikan kedua lenganya yang terbelah dan meraba daging lehernya yang terbuka.


"Kau sudah mati, Gabriel."


"Apa?" heran Gabriel tak percaya.


Dia terduduk di lantai memandangi sekitar dengan wajah kebingungan. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dan berusaha mengingat apa yang terjadi. Selama ini dirinya benar-benar tak menyadari segalanya.


Alley menjauh dari Gabriel. Dia menoleh ke arah Kaledonia yang tampak menelengkan kepala. Sepertinya kekuatan sihirnya berkurang, dia tidak bisa menguasai tubuh Gabriel lagi di luar Hell Time.


Kaledonia melotot tajam ke arah Alley. Satu lirikan bola matanya langsung membuat sang monster di sampingnya melompat ke depan, bersiap-siap melumat habis wanita itu.


Alley yang cukup waras untuk tidak memaksakan diri melawan langsung mengambil langkah seribu. Dengan terhuyung-huyung, dia langsung melompat masuk ke dalam lift yang sedikit terbuka sebelum makhluk itu mencabik tubuhnya.


Alley bangkit.


Menutup pintu.


Menekan tombol menuju lantai terbawah.


Dia mulai berpikir kritis.


Berencana masuk ke dalam pintu West Ring Gate di lantai B27.


Berharap pintu itu kini tak terkunci agar dirinya dapat keluar dari Ozzone dengan aman.


Di dalam lift, Alley mencoba mengisi Magnumnya dengan peluru yang tersisa di rompi. Tangannya gemetar dan peluru itu berjatuhan di lantai.


"Sialan!"


Alley memungut satu per satu peluru itu dengan air mata yang kembali mengalir.


"Sialan kau, Thomas! Sialan ayahmu!" racaunya.


Dia tak habis pikir bahwa Thomas meninggalkannya di saat dia mulai percaya dan membutuhkan bantuannya.


Lift terbuka di lantai B27. Tak ada waktu untuk menangisi apa yang telah terjadi. Alley usap kedua matanya dan berjalan waspada dengan posisi tangan membidik.


Dia ingat di mana pintu menuju Ring Gate barat itu berada. Lalu dia pun berlari ke koridor kiri. Sebuah ruangan berneon putih di depan membuatnya terhenti dan penasaran untuk melihat ke dalamnya. Rak-rak berisi ribuan berkas berderet di ruangan tersebut.


Alley mendapati lembaran berwarna coklat di lantai.


Dia memungutnya.


Sebuah lembaran kulit hewan yang bertuliskan sesuatu.


Sesuatu yang membuatnya gemetaran hebat.


Sesuatu yang membuat matanya basah dan airnya kembali tumpah.


Sesuatu yang akhirnya membuatnya mengerti kenapa Thomas meninggalkannya.


Sesuatu yang membuat Suri, Rendown, Samael, Thomas, dan—mungkin—dirinya sendiri bakalan melakukan hal yang sama jika saat ini dirinya berada di posisi mereka.


"Tidak! Tidak! Kalian ingin aku mati?! Butuh usaha keras bagi kalian agar aku bisa mati!" sergah Alley mejatuhkan lembaran itu dan menginjaknya dengan sepatunya yang berlumur darah hitam. Menolak tegas kenyataan yang mungkin akan menjadi takdirnya.


Alley kembali berlari menggapai pintu EXIT tak jauh dari koridor tersebut. Dia berhasil mencelos ke dalam sebelum cakar monster jahanam—yang muncul mendadak dari sebuah ruangan—itu merobek lehernya.


Alley berada dalam sebuah gang. Pintu itu tak membawanya ke bagian Ring Gate barat, tetapi membawanya langsung pada sebuah gang yang berada di barat luar Ozzone.


Ya, gang Avycon.


***


Gedung-gedung apartemen berderet berkubus-kubus seolah dijahit menjadi satu.


Uap-uap aneh menyeruak dari sela-sela pipa yang retak cukup jauh darinya.


Di atasnya, tampak jalan dan jembatan besi yang berkarat, menghubungkan apartemen satu dan lainnya. Sebagian ambruk ke bawah gang. Gang yang dipenuhi berbagai pipa besi di kiri dan kanannya. Hanya menyisakan jarak setapak sempit baginya untuk berjalan.


Alley melihat asap kemerahan membubung ke langit, tersinari lampu jalan yang remang. Dia tahu betul apa itu. Jika dia menghirupnya, tentunya bakalan membuatnya tewas dengan cepat. Gas beracun itu mendadak lenyap, tapi 3 detik kemudian muncul kembali. Terus bereaksi seperti itu dengan pola konstan.


Alley bergerak lebih cepat. Hatinya semakin resah saat dia mendengar geraman monster itu di belakang. Saat gas itu menghilang, dia langsung lari ke seberang. Tapi, gas-gas beracun lainnya bermunculan dari celah-celah pipa lain. Gas itu tak menyebar, hanya menyembur keluar kemudian terbang seolah terisap langit dan lenyap di atas sana.


Alley menahan napas dan menutup hidungnya. Berusaha mengurangi risiko masuknya gas beracun itu ke dalam tubuh yang dapat melelehkan paru-parunya.


Alley tak tahu harus ke mana dia pergi. Gang itu bercabang-cabang dan gas tampak menyembur dari setiap pipa yang ada di tepian jalan. Bersamaan dengan itu, auman predator itu masih mengancamnya.


Alley tak bisa melihat keadaan sekitar dengan jelas.


Malam masih belum hingkam dari angkasa.


Lelah. Sungguh lelah rasanya. Ketakutan ini perlahan membunuhnya dan semua ini hanya soal waktu sebelum ajal menjemput sepenuhnya.


Alley melangkah kaki, berlari ke depan saat monster itu mengejarnya dari jembatan di atas gang. Makhluk itu kemudian terjun ke dalam lubang dan mengejarnya dari belakang.


Sembari menutup hidung dan menahan napas, Alley berlari melewati gas beracun yang menyembur. Dia menaiki anak tangga, terus berlari menghindari sergapan makhluk tersebut. Sesekali dia tembakkan Magnumnya tapi tak berhasil mengenainya. Dia pula berusaha menembak pipa-pipa itu. Gas beracun menyembur ke moncong sang monster tapi tak berhasil melumpuhkannya.


Di langit, fajar akhirnya menyingsing. Meski belum seutuhnya, tapi secercah cahaya perlahan mulai mengintip dari timur. Alley terkejut saat gang itu mendadak buntu dan dirinya terjerembab ke dalam kolam hitam pekat dengan bau yang sangat menyengat.


Air itu mencemari tubuhnya. Seluruh tubuhnya mendadak gatal dan perih seperti terkontaminasi oleh virus dan bakteri berbahaya. Dia harus keluar sebelum dirinya mati di sana.


Ada hal yang mengejutkan di hadapannya. Tampak gunungan tengkorak manusia di tengah-tengah kolam. Tulang belulang berwarna kecoklatan itu menggunung seperti sengaja di taruh di sana sebagai tempat pembuangan.


Alley yakin ada sesuatu yang berenang di dalam kolam. Maka, dia bergegas mencapai sisi seberang sebelum sesuatu itu membunuhnya. Monster Bambola yang mengejar tak juga menyerah, dia terjun ke kolam tanpa segan untuk memburunya.

__ADS_1


Dari dalam air muncul sesuatu. Alley tidak tahu dan tak mau tahu. Makhluk itu mirip Anaconda tapi sepertinya terkontaminasi virus hingga tampak seperti mutan hasil eksperimen. Untung saja makhluk itu tak menyerangnya. Makhluk mirip Anaconda itu menyembul dari air tepat saat Alley menaiki tangga besi dan keluar dari kolam secepatnya.


Anaconda mutan itu menerkam salah satu kaki anjing Bambola. Membuatnya meraung-raung. Taring Bambola berusaha merobek perut ular itu, tapi makhluk itu tak tinggal diam. Dengan perutnya yang sebesar tiang listrik dan panjangnya 10 meter, ular itu mulai melilit tubuh sang monster.


Lengkingan Bambola memecah suasana. Tangisan bayi, cegikan **** hutan, auman singa, kicauan monyet, lolongan anjing, dan umpatan Erex silih berganti bersahutan membelah cakrawala.


Alley tak peduli.


Dia terus berlari ke kiri.


Gang ini buntu.


Sebuah ruangan dengan pintu terbuka tampak di ujung gang.


"Tolong! Tolong!" suara seseorang terdengar entah dari mana.


Alley menoleh ke segala arah. Suara minta tolong saling bersahutan entah dari mana.


Alley memandang ke langit. Ke puncak dua gedung yang mengapit gang tersebut.


Alley merasa suara itu berasal dari sana.


"Bebaskan aku!"


"Tolong!"


"Aku mohon!"


"Lepaskan aku, sialan!"


"Dasar wanita jalang!"


"Mati kau! Hahaha!"


Di kiri dan kanan tembok gedung itu, muncul ribuan wajah dengan beragam ekspresi.


Wajah-wajah itu berlomba-lomba meminta tolong.


Mengumpat bersumpah serapah.


Menangis.


Tertawa menggila.


Wajah-wajah itu mengucurkan cairan darah dari seluruh lubang di wajah mereka.


Jeritan mereka kian nyaring seiring dengan berjalannya Alley.


Alley lunglai.


Dia tersungkur di lantai beton.


Dirinya merasa pening.


Sesak napas.


Seluruh tubuhnya perih dan gatal-gatal.


Alley terbatuk.


Darah menyembur dari mulutnya.


Dia yakin bahwa gas beracun dan virus mematikan itu mulai menggerogoti tubuhnya. Dan suara dari wajah-wajah gaib itu membuatnya semakin lemah. Dengan tenaga yang tersisa dia mencoba menggapai pintu di hadapannya. Dia berjalan terseok lalu masuk dan hendak menutup pintunya. Slot pintunya rusak. Dia terjebak dan tak ada jalan untuk kembali. Lengkap sudah penderitaannya. Dia tinggal menunggu ajal.


Bambola berdiri di ujung gang. Satu kakinya buntung tapi makhluk itu berhasil melumat Anaconda mutan hingga hancur terkoyak.


Alley terjebak dalam ruangan berisi pakaian bermasker dan tabung-tabung oksigen yang tergeletak di sisi. Tak ada jalan keluar lain di sana. Yang ada hanyalah tumpukan peti di sudut ruangan.


Alley menyeret peti-peti tersebut dan juga tabung-tabung oksigennya untuk menghalangi pintu yang hendak dimasuki Bambola yang kini sedang berlari di antara wajah-wajah gaib pemilik tengkorak yang menggunung di tengah kolam.


Alley bersandar di dinding ruangan.


Tepat menghadap pintu.


"Ya, Tuhan, Tolong aku! Kuatkan Aku! Aku sudah lelah dengan semua ini!" lirih Alley getir.


Dirinya begitu lelah. Sempat terbersit dirinya lebih baik mati toh tak ada harapan yang tersisa lagi.


Alley melepas rompi anti peluru dan jaket hitam milik raku yang telah tercemari darah iblis. Dia menaruhnya di sisi. Hanya kaos pink kusam yang dikenakannya. Dia mengintip peluru dalam Magnumnya—yang terakhir tersisa.


Dirinya lelah.


Hidup atau mati, Alley ingin mengakhirinya di ruangan ini.


Terdengar auman dari balik pintu dan makhluk itu berusaha mendobraknya. Enam peluru di pistolnya harus bisa melumpuhkan makhluk itu. Kali ini, dia harus fokus dan tak menembak tengkorak makhluk itu sebab percuma, tengkorak terkutuk itu sekeras baja. Dia akan menembak kaki-kakinya hingga hancur. Setidaknya itu bisa membuatnya roboh.


Sang monster mendobrak pintu.


Mengaum ganas.


Kepala monyet di lehernya menyeringai.


Kepala bayi yang berada di rahang bawahnya tertawa riang.


Wajah Erex yang menempel di atas tengkorak karnivora itu menyungging senyum meski dengan mulut yang robek dan mata yang bolong sebelah akibat perlawanan Alley tempo lalu.


Tanpa basa-basi lagi, Alley memberondong ke enam pelurunya menghancurkan kaki anjing, singa, dan tangan manusia yang menempel dalam tubuh monster tersebut.


Makhluk itu mencengking.


Alley membuang Magnumnya.


Menebas kaki sang monster yang tersisa dengan goloknya.


Alley mencecar monster itu secara brutal. Tangisannya tak berhenti mengalir. Dia membantai makhluk itu dan terus berdoa di akhir tenaga yang tersisa. Kemudian Bambola mengibaskan ekor buayanya hingga membuat Alley terpental ke tembok. Goloknya menancap di punggung makhluk itu dan ponsel—pemberian Thomas—di sakunya jatuh ke dalam lubang di samping kirinya.


Dia baru menyadari bahwa ada lubang di sebelah sana.


Bambola yang belum mati kemudian merayap seperti kadal dan berusaha melenyapkan Alley dari muka bumi.


Alley berusaha bangkit tapi tak sanggup. Dia berguling ke sisi, menghindari moncongnya yang hendak mengoyak perutnya.


Alley bangkit dengan napas tersengal.


Dia mengerang kesakitan.


Dirinya terbatuk-batuk.


Darah segar terus menyembur dari mulutnya.


Tangan dan kakinya berbintik seperti cacar dan mengelupas.


"Aku mungkin akan mati. Tapi aku tak sudi jika harus mati olehmu!" gusar Alley selagi mengangkat bongkahan beton di dekat kakinya dan melemparkannya hingga mendarat di atas ekor buaya makhluk itu.


Merasa masih sanggup, Alley mengangkat tabung-tabung oksigen besar kosong itu dan membantingnya dengan tenaga yang tersisa.


Pandangannya kian redup.


Hidungnya mengucurkan darah.


Mulutnya terbatuk seakan seluruh organ tubuhnya hendak termuntahkan keluar.


Makhluk itu terkulai.


Mengerang.


Alley mengambil goloknya yang menancap di punggung sang monster.


Dia harus segera membunuhnya.


Melenyapkannya sebelum makhluk itu bangkit kembali.

__ADS_1


Alley terseok mendekati moncongnya dan langsung menghunjamkan golok titaniumnya menembus mulut Erex yang menganga. Berkali-kali dia hunuskan senjatanya hingga wajah terkutuk itu terkoyak hancur.


Tak puas, Alley menyayat kepala monyet di lehernya yang tak berhenti berkicau hingga akhirnya mereka diam selamanya.


Ada wajah bayi yang menatapnya di bawah rahang sang monster. Bayi itu menatap wajah Alley dengan tatapan tak berdosa. Memelas meminta belas kasih. Alley awalnya tengah siap untuk merobek mulut mungil bayi itu, tapi ketika bayi itu menatapnya lembut entah kenapa dia urungkan niat. Dan itulah kesalahan fatal yang dia buat.


Bambola menoleh saat mulut sang bayi berubah menyeringai. Moncong putih berbalut darahnya langsung melumat tangan kiri Alley hingga buntung.


Alley meraung. Berusaha bergerak dan berlari keluar ruangan, tetapi makhluk itu keburu menggigit sepatunya. Makhluk itu—dengan kekuatan terakhir—melemparkan tubuh Alley ke sudut ruangan.


Lubang selokan itu berada di sampingnya.


Alley merangkak dan jatuh ke dalamnya.


Dia berhasil masuk sesaat sebelum kepala monster itu melumat tubuhnya. Dengan golok yang masih di tangan, Alley tancapkan ke wajah bayi tersebut. Mengorek-ngorek mulut bayi iblis itu hingga darah mengalir sederas air terjun, meyembur membanjiri tubuh Alley, dan menyatu dengan darahnya sendiri yang mengalir dari lengan kirinya yang buntung.


Bambola tergolek mati.


Kepalanya terkulai di ambang lubang.


Sudah berakhir.


Alley tahu bahwa ini semua sudah berakhir. Dia menyungging senyum di tengah tangisan dan penderitaan yang teramat sangat.


Ada cahaya tak jauh di dalam saluran air tersebut. Cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah lubang trotoar di atasnya. Dan di antara cahaya-cahaya itu, Alley mendapati sesuatu.


Seseorang tengah bersandar di dinding dengan kaki yang terlipat.


Siapa itu?


Mungkinkah?


Dengan tenaga terakhirnya, Alley merangkak.


Merangkak menuju ketidakpastian nasibnya.


Sebelah matanya mendadak buta.


Seluruh tubuhnya berbintik mengeluarkan nanah busuk.


Darah di tubuh Alley semakin terkuras habis.


Darah itu mengalir dari lengannya yang buntung, luka-luka di tubuhnya—lubang hidung, telinga, dan mulutnya.


Virus dan gas beracun itu semakin menggerogoti kehidupannya.


"Rehan ...," kata Alley pelan. "Sayang, kaukah itu?" imbuhnya seraya memuntahkan darah.


Alley yakin itu adalah suaminya. Dia melukis sedikit senyum dan bergegas merangkak lebih cepat sebelum dirinya tak sanggup lagi.


Itu memang Rehan, suaminya.


Alley memeluknya dan menangis menderu-deru.


Ya, Alley akhirnya menemukan suaminya.


Tapi ...


Harapan itu sirna sudah selamanya ...


Pencarian ini berakhir selamanya ...


Itu memang Rehan. Jasad Rehan ...


Jasad suaminya yang telah jadi tengkorak.


Rehan mati di sana beberapa saat setelah mengirim pesan pada istrinya. Bahkan ponselnya masih tergenggam erat dengan jari-jarinya yang tinggal tulang belulang.


Alley duduk di samping tengkorak suaminya dengan posisi serupa.


Alley sadar bahwa dia akan mengalami hal yang sama. Kakinya telah lumpuh dan matanya telah buta seutuhnya.


Alley menggenggam erat lengan Rehan dan tersenyum di detik-detik kematiannya.


"Akhirnya, kita bisa bersama lagi. Kali ini, kita semua bisa bersama selamanya. Denganmu, denganku, dengan Ibu, dengan Raku, dengan Eren, dengan Rafael ...," ucapnya kemudian napasnya terhenti dan jantungnya diam tak berdetak untuk selamanya.


Alley mati oleh waktu yang membelenggu.


Oleh kegelapan yang menyelimuti.


Oleh takdir yang harus dia jalani.


Dan kematiannya adalah suatu kebenaran yang hakiki.


Dia telah berusaha untuk hidup, tapi takdir dan waktu menginginkannya untuk mati.


Dan jika harus seperti itulah jalannya, dia tak akan bisa melawannya lagi.


Setidaknya, dia tahu bahwa kematiannya adalah pengorbanan.


Kematiannya bisa menyelamatkan banyak nyawa tak berdosa dan menetralkan segala kekuatan negatif di kota ini.


Di tanah terkutuk ini.


***


1 tahun kemudian.


Thomas berdiri di puncak Grand Cliff.


Memandang Lurid City dengan saksama.


Mengingat kenangan-kenangan kelam di masa lalu.


Terutama tentang wanita itu.


Thomas berkali-kali mencoba menghubungi ponsel yang dia berikan pada Alley, tapi tak pernah ada jawaban hingga akhirnya ponsel itu pun mati dan dia meyakini bahwa Alley telah mengalami hal yang sama.


Ayahnya—Rendown—mengatakan bahwa Alley adalah yang terakhir. Pengorbanannya adalah yang terbesar. Kota ini telah aman dari kekuatan negatif yang selama ini bersemayam di dalamnya. Tak ada lagi hal-hal gaib yang membahayakan seisi kota.


Kedua dunia itu kini telah memisahkan diri. Tak ada portal waktu. Tak ada kutukan. Tak ada arwah gentayangan dan iblis yang mengganggu. Perlahan semua itu mulai sirna. Hanya satu tempat yang berbahaya dan itu dijaga oleh Kaledonia.


Lurid City yang pernah mati telah bangkit. Dan kehidupan kota ini dimulai kembali dari awal.


Thomas sesenggukan menyapu air matanya.


Dia yakin ini adalah hal yang benar.


Dia tidaklah egois.


Kematian Alley adalah keharusan.


Sesuai dengan apa yang pernah dia baca dalam lembaran itu.


Lembaran yang membuatnya menangis tersedu-sedu.


Lembaran yang berisi kutukan;


Aku bersumpah, demi iblis yang bersemayam dalam bumi. Demi neraka jahanam yang menungguku di akhir hayat.


Aku bersumpah, kutukan ini akan menetap dalam tubuhku hingga akhir zaman, menghancurkan seluruh hidupku hingga titik darah penghabisan.


Aku bersumpah, bahwa akan ada penderitaan abadi yang membelenggu tubuhku, keluargaku, dan seluruh keturunanku kelak.


Aku bersumpah, akan jadi penghuni nerakanya. Menjadi kawan bagi iblis-iblis jahanam dan tak ada pengampunan yang diperuntukkan untukku.


Aku bersumpah, semua orang akan mati dalam kegelapan, dalam siksaan perih teramat sangat di tanah terkutuk ini.


Aku bersumpah, jika aku melanggar aturan, membiarkan mereka melanggar aturan, dan menyelamatkan mereka yang telah melanggar aturan, aku akan mati dan semua orang akan mati mengenaskan dalam lautan kesengsaraan tiada akhir. Bayi-bayi iblis akan lahir di tanah ini dan menyelimutinya dengan penyesalan tak berujung.


Aku bersumpah, akan mengakhiri semua ini cukup sampai di sini. Mematuhi apa yang tersisa dan melepaskan yang telah terjadi. Mematuhi peraturan dan melenyapkan mereka yang telah melanggar aturan hingga waktu di mana seluruh kekuatan negatif lenyap dan segala kutukan ini akhirnya musnah.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2