
Alley beranjak dari tempat itu.
Kembali menuju apartemennya.
Membangunkan Rafael yang masih tertidur pulas.
"Sayang, bangun. Hari ini kau akan dapat teman baru. Sekarang kita mandi dan pergi belajar di tempat Kak Eren."
"Bu, apa di kota ini tak ada sekolah? Aku lebih suka sekolah," kata Rafael sembari menguap.
"Ada, Sayang. Tapi tak ada guru di sekolah itu. Makanya untuk sementara kau belajar dulu di ruangan Kak Eren di bawah."
Alley pun memandikan badan Rafael dengan air hangat. Memakaikan kemeja kotak-kotak padanya. Menyisir rambutnya dengan rapi.
"Ibu, kapan kita bertemu Ayah? Aku rindu Ayah."
"Iya, Sayang. Ibu tahu. Ibu juga merindukannya. Sekarang kita pergi, pelajaran sebentar lagi di mulai."
Alley menuntun anaknya ke apartemen Eren di lantai bawah.
Ada 5 anak kecil seumuran Rafael di ruang tengah, sedang bernyanyi bersama. Sementara para orangtua tengah berbincang di ruang tamu. Mengakrabkan diri selagi anak-anak mereka belajar.
"Hei, Rafael, kemari bergabung bersama teman-teman barumu," panggil Eren.
"Dengar, Sayang, kau belajarlah dengan baik, bertemanbaiklah dengan mereka. Maaf Ibu tidak bisa menemanimu. Ibu ada urusan penting. Nanti sore Ibu pulang," kata Alley mencium kening anaknya.
"Apa Ibu akan mencari Ayah?" balas Rafael spontan.
Alley terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan sembari tersenyum dipaksakan.
Rafael bergabung dengan anak-anak lain.
Alley memberi isyarat pada Eren agar menjaga anaknya selama dia pergi.
Alley pun keluar dari apartemen mengendarai mobilnya menuju Zonier Hospital yang terletak di blok B.
Rumah sakit itu terlihat amat tua. Lantai keramiknya kusam dan pecah. Cat dindingnya retak dan terkelupas. Tapi di bagian lainnya tampak beberapa orang pekerja sedang mengecat ulang temboknya.
Zonier Hospital tampak unik. Banyak sekali ukiran menghiasi sudut dinding maupun meja dan bangku kayu yang berjajar di beberapa ruang. Beberapa tanaman hijau menghiasi sudut-sudut koridor yang kelam.
Di dalam sana begitu sepi. Tak terlihat ada aktifitas yang kentara. Beberapa orang tampak keluar masuk sebuah ruangan. Selebihnya, puluhan kamar yang berada di sisi-sisi koridor tersebut tampak kosong.
Alley kebingungan mencari ruangan Dokter. Tak terlihat satu pun suster yang melintas di situ.
Alley terus berjalan menyusuri koridor yang cukup gelap sebab beberapa lampu sengaja dimatikan. Sembari memperhatikan tanda-tanda petunjuk yang terdapat di setiap perempatan koridor, dia melihat ke beberapa koridor tua yang belum dibersihkan para petugas semenjak Lurid City dibuka.
Alley mendapati papan petunjuk mengarah ke ruangan Dr. Mickhael. Seorang suster baru saja keluar dari ruangannya.
"Apa Dokter ada? Aku ingin bertemu dengannya," pinta Alley.
"Dia di dalam, masuk saja," ucapnya sembari berlalu pergi.
Tanpa mengetuk pintu, Alley membuka pintu kayu jati antik tersebut dan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, Dok," sapa Alley.
"Silakan duduk. Ada apa, Nona?" tanya Dokter muda itu.
Alley menceritakan maksud kedatangannya.
Dia ingin bertemu dengan jasad Raku.
"Siapa pria itu? Apa dia keluarga Anda?" tanya Dr. Mickhael.
"Iya," jawab Alley. "Di mana jasadnya sekarang?"
"Sebelumnya kami minta maaf soal pengkremasian tersebut karena—"
"Tidak apa-apa. Saya mengerti. Saya sudah tahu semuanya," sela Alley. "Jadi, di mana dia?"
Dr. Mickhael membawanya ke sebuah ruangan paling ujung di rumah sakit tersebut. Menuruni tangga masuk ke dalam ruangan yang berada di ruang bawah tanah.
Suasananya begitu angker dan berbau tak sedap saat dokter membawa Alley menuju ruangan di ujung lorong.
Di dalam ruangan berlampu pijar jingga tersebut, banyak sekali rak-rak dipenuhi guci dan stoples berisikan abu. Semuanya terpajang rapi di antara rak gondola.
Di sudut lain, tampak debu-debu yang berserakan memenuhi stoples kusam dan guci antik yang mewah. Tapi, Dr. Mickhael tak membawa Alley ke sana, dia membawa Alley ke sebuah sudut di sebelah kanan. Lampunya menggunakan neon. Menerangi sebuah lemari kaca yang tampak sangat baru.
Dia membuka pintunya dan mengambil sebuah guci bertutupkan kain merah dari sepuluh guci yang berjajar di lemari kaca tersebut.
"Ini abunya," kata Dokter sembari memberikan guci tersebut. Lalu Dr. Mickhael membuka sebuah peti kayu di samping lemari dan mengeluarkan sebuah kardus.
"Ini barang-barang terakhirnya, semua barang-barangnya sudah kami sterilisasi."
Isinya hanya berupa pakaian, dompet, beberapa lembar uang, dan kartu identitas.
"Anda boleh membawanya tapi saya harus melapor pada wali kota terlebih dahulu," kata Dr. Mickhael.
Kemudian mereka kembali ke ruangannya.
Dari lorong sebelah utara, terdengar keributan. Seorang suster berlari memanggil Dr. Mickhael.
"Dokter, gawat, ada yang kecelakaan!" sergahnya memanggil Dokter.
Dr. Mickhael yang hendak menelepon wali kota langsung bergegas menuju ruang UGD.
Sembari membawa barang-barang Raku, Alley mengikutinya dari belakang.
Tampak seorang pria bersimbah darah terbaring di ranjang. Seorang wanita yang menuntun anak kecil, dan pemuda yang menggandeng tangan seorang perempuan tampak menangis di samping pria itu.
Dokter sebisa mungkin mencoba menyelamatkan nyawanya.
Wanita itu menangis menjadi-jadi.
Suster meminta mereka keluar dari ruangan.
__ADS_1
Alley melihat anak itu memeluk ibunya dengan erat sembari menangis tersedu-sedu dan bertanya-tanya keadaan ayahnya yang kritis. Sedangkan kedua remaja itu berdiri di samping mereka.
Wanita itu memandang Alley sembari tak henti-hentinya mengucurkan air mata lalu mereka duduk di kursi depan ruangan tersebut.
Alley tak bertanya.
Dia memilih pergi dari tempat itu dengan membawa abu dan barang-barang Raku tanpa menunggu persetujuan Dr. Mickhael yang sedang sibuk.
Dia kendarai mobilnya menuju ke sebuah jembatan dekat apartemennya.
Dia berhenti di sungai Avycon yang hitam pekat penuh limbah kimia. Lumpur dan lendir hijau tua menyelimuti pinggiran sungai tersebut. Airnya mengalir tenang menuju ke selatan.
Alley berdiri di depan birai menghadap sungai sembari memeluk guci itu. Matanya memandang jauh ke depan, menerawang gedung suram yang menjulang tinggi di daerah kegelapan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Raku, apa kau bertemu Rehan di sana?" tanyanya pada guci yang sedang dia pegang.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Juga pada Rehan? Apakah kau mati oleh virus dan gas itu? Adakah hal lain?"
Alley mengembuskan napas berat.
Dia membuka tali yang mengikat kain merah dengan guci tersebut.
"Raku, aku bingung, bukankah di Javalava kau sudah tidak punya keluarga lagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada abumu."
Alley membuka kain merah tersebut dan melihat abu pria itu di dalamnya.
"Aku tak tahu harus bilang apa. Yang jelas aku ucapkan terima kasih padamu karena mau berusaha membantuku menemukan Rehan. Tapi hal itu malah membuatmu meninggal. Maafkan aku Raku. Aku tidak akan melupakan pengorbananmu ini. Aku menyayangimu tapi aku lebih menyayangi Rehan. Kuharap apa yang akan aku lakukan ini bisa membuatmu bebas dan tenang di alam sana," ujar Alley pada mantan suaminya tersebut.
Perlahan, Alley menaburkan abunya ke dalam sungai Avycon.
Membiarkannya bebas terbawa arus air yang pekat.
Dia pun melemparkan satu per satu barang yang ada dalam kardus tersebut. Dompet beserta isinya dan jins berdarah kering itu ke dasar sungai.
Sebelum dia melemparkan jaket hitamnya, dia sempat memeriksa isi sakunya.
Ada sesuatu di dalamnya.
Selembar kertas kusam terlipat-lipat.
Dia pun membacanya.
Alley, maaf. Aku tidak bisa menemukannya. Aku sudah mencarinya tapi tak ada tanda-tanda dia pernah berada di gang Avycon. Di sini sangat berbahaya dan aku tidak bisa berjalan. Kakiku lumpuh. Jika kau menemukan surat ini berarti aku sudah mati. Dan kuharap kau tidak pernah masuk ke gang Avycon.
Alley gemetaran membacanya.
Kegetiran menyelimuti.
Dia meremas kertas itu kuat-kuat.
Memeluk jaket hitam Raku.
Dia kembali masuk ke mobil.
Menaruh jaket tersebut di sampingnya.
"Raku, aku harus tahu. Aku harus tetap mencari tahu. Tidak mungkin aku menganggap Rehan telah mati di gang tersebut tanpa ada tanda-tanda kematiannya. Setidaknya aku ingin mendapat sebuah petunjuk. Bagaimana dengan Rafael? Apa yang harus aku katakan padanya jika aku tidak menemukan ayahnya? Aku harus menyelidiki gang itu dan menemukan keberadaan Rehan. Aku butuh bantuan," Alley berkata pada dirinya sendiri.
Alley mengambil ponsel dalam tasnya dan menghubungi mertuanya.
"Ibu, ini aku ...."
"Alley? Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah menemukan Rehan?" tanya Nyonya Refal.
"Tidak, Bu. Aku belum menemukannya. Tapi aku sudah menemukan Raku."
"Raku? Bagaimana keadaannya?"
"Dia sudah meninggal."
"Meninggal? Apa yang terjadi?"
"Dia meninggal di gang itu. Mereka bilang, dia meninggal karena menghirup gas beracun dan juga virus yang terdapat di gang itu," kata Alley. "Tapi aku sudah menguburkan jasadnya di sini."
Hening.
Nyonya Refal terdiam bimbang.
Dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Bu ...," panggil Alley.
"Sebaiknya kalian pulang kemari. Alley, kau tak perlu mencari Rehan lagi," ucapnya sembari menahan tangis.
"Tapi, Rehan belum tentu ... meninggal. Aku harus mencari petunjuk mengenainya. Aku tidak akan pulang sebelum menemukan sesuatu ...."
Alley sesenggukan.
"Setelah Rehan menghilang, Ibu hanya tidak ingin kehilanganmu dan juga Rafael."
"Ibu tenang saja, aku dan Rafael akan baik-baik saja di sini. Aku akan minta bantuan pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus Rehan," kata Alley. "Ibu tidak perlu khawatir, aku akan selalu memberi kabar pada Ibu," imbuhnya kemudian menutup telepon tanpa menunggu jawaban mertuanya lagi.
Alley memegang kemudi mobilnya erat-erat. Dia sangat merindukan Rehan. Dia sudah berjanji pada anaknya bahwa dia akan menemukannya. Tapi tragedi Raku membuatnya menyadari sesuatu bahwa pencarian ini akan menjadi hal yang sangat sulit dan tak menentu. Meski begitu, tekadnya tak akan goyah. Dia harus menemukan Rehan bagaimana pun keadaannya.
Dia akhirnya melajukan mobilnya menuju kantor LCPD—Lurid City Police Department—yang terletak tepat di depan Ozzone.
Seperti bangunan-bangunan lainnya, kantor polisi itu pun tampak sangat sepi bak kuburan. Hanya ada dua petugas di dalam kantor yang cukup luas dan mereka pun tidak mengenakan seragam kepolisian. Yang satu memakai kaos dan celana tentara sedang berolahraga di halaman gedung sedangkan seorang lagi mengenakan jaket hitam tengah duduk menatap layar komputer di dalam kantor dengan raut muka kebosanan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pria yang tampak lebih muda dari Alley.
Sebuah nama terbordir di jaketnya.
Thomas Anthony Cliffreed.
"Suamiku menghilang dan aku butuh bantuan kalian untuk menemukannya," cetus Alley tanpa basa basi.
__ADS_1
"Silakan duduk," pinta Thomas sembari tersenyum tipis.
Alley duduk dan kembali bicara.
"Aku mohon temukanlah dia. Bagaimana pun keadaannya aku akan terima."
Alley menggebu tak sanggup lagi untuk menunggu.
"Sabar, Nona. Kami akan membantu Anda. Sekarang ceritakan apa yang terjadi pada suami Anda? Dan kapan dia hilang? Anda tahu dia hilang di mana?" tanya Thomas dengan ekspresi tenang. Berusaha menenangkan Alley yang tampak tegang.
"Sudah lebih dari sebulan dia hilang di kota ini. Di gang Avycon."
Ekspresi Thomas mendadak fokus mendengarkan perkataan Alley dengan serius.
"Suamiku seorang wartawan. Bersama seorang kameramen, mereka datang untuk meliput kota ini lebih dari sebulan lalu tapi seminggu kemudian dia mengirimkan pesan singkat padaku. Dia terjebak. Dia tersesat di gang Avycon dan tak bisa keluar dari sana," ujar Alley.
"Gang Avycon?"
"Ya. Sebelumnya aku sudah menyuruh seseorang bernama Raku untuk mencari mereka. Tapi kau tahu, 'kan? Dia meninggal."
"Jadi, orang itu masuk ke sana untuk mencari suami Anda?" tanya Thomas memastikan.
Alley mengangguk.
"Apa kalian bisa membantuku? Menyelidiki dan mencari keberadaan suamiku di sana?" pinta Alley.
Thomas sangsi untuk menjawab.
Sejenak berpikir sebelum berkata, "Gang itu sangat berbahaya. Jika ingin memasukinya, kami harus punya pakaian khusus anti virus dan gas. Kami tidak bisa menggunakannya tanpa persetujuan wali kota. Lagi pula kami di sini kekurangan personel. Kami tidak bisa semena-mena masuk ke gang itu tanpa mematuhi peraturan yang dibuat wali kota.
"Anda tahu 'kan ada beberapa tempat berbahaya di kota ini. Salah satunya gang Avycon. Kami bisa saja membantu, tapi Anda harus mendapat ijin dari wali kota. Tanpa izin, kami tidak akan bisa melakukan apa-apa."
***
Alley langsung menuju wali kota saat itu juga dan mengatakan tujuannya. Tapi wali kota secara tegas melarangnya memasuki gang tersebut.
"Aku tidak bisa membantumu, gang itu berbahaya. Kematian pria itu harusnya membuatmu sadar bahwa suamimu tak punya harapan untuk hidup lebih dari sebulan di dalam sana," cetus wali kota menanggalkan formalitasnya.
Alley terpaku menahan amarah. "Tapi bisakah dilakukan penyelidikan? Temukan suamiku bagaimana pun keadaannya."
"Tidak bisa, Nona. Kau tahu ada berapa polisi di sini? Aku tidak ingin mengorbankan mereka hanya untuk mencari jasad suamimu."
Perkataannya sedikit menyakiti Alley, berkata seolah-olah memang sudah jelas, pasti, dan tak dapat dimungkiri bahwa suaminya sudah mati dan tak ada kesempatan untuk hidup walau sedikit.
"Bagaimana dengan pakaian khusus itu?! Bukankah dengan itu kita bisa masuk ke sana dengan aman?!"
"Kami sudah lama tidak menggunakannya dan pakaian itu tersimpan di laboratorium Ozzone. Aku tidak memiliki kuncinya."
Alley berkerut dahi.
Tidak percaya.
Tidak puas dengan jawabannya.
"Maksudnya?"
"Aku memang wali kota tapi aku tidak punya hak atas Ozzone. Ada yang menjaga Ozzone. Dan aku tidak bisa membantu semua hal yang berhubungan dengan itu," ujar wali kota berbelit.
Alley tak mengerti.
"Intinya aku tak akan mengijinkan pihak kepolisian untuk membantumu menyelidiki kasus suamimu dengan masuk ke ADS."
"Apakah pemerintah kota ini tidak bisa membantu warganya yang membutuhkan?!" geram Alley.
"Bukan seperti itu, Nona. Tapi kota ini memiliki aturan. Aku tidak ingin ada warga yang melanggar aturan hingga menjadi korban. Tempat itu berbahaya. Sudah memakan banyak korban. Kami hendak menutup daerah itu secara permanen tapi keterbatasan danalah yang membuat kami kesulitan. Jika kau berusaha tetap masuk ke dalamnya, kau pun bisa mati dan itu hanya akan semakin mencemarkan nama baik kota ini saja.
"Sudah lebih dari dua tahun kami mempromosikan kota ini ke dunia luar tapi karena insiden-insiden itu, mereka tak berani tinggal di kota ini. Padahal secara garis besar kota ini aman dan layak dihuni. Hanya saja, beberapa bagiannya memiliki sejumlah aturan yang harus dipatuhi karena jika tidak, itu bisa jadi tempat berbahaya dan memakan korban jiwa.
"Tapi—"
"Aku turut berduka atas kepergian suamimu tapi aku tetap tidak bisa membantumu jika ini berhubungan dengan tempat-tempat terlarang yang sudah aku jelaskan di buku kota. Bagiku, bertambahnya warga di kota ini jauh lebih berharga daripada kehilangan beberapa orang yang melanggar aturan. Seperti suamimu yang belum pernah melapor untuk peliputan kota ini padaku. Itu sudah cukup alasan bagiku untuk tidak membantumu.
Alley hendak membalas namun wali kota kembali mencerocos.
"Dengar, Nona Alley. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu tapi percayalah padaku bahwa apa pun yang aku katakan adalah kenyataan. Maka dari itu, aku membuat buku kota agar beberapa lokasi tidak dilanggar oleh warga baru. Dan kuharap kau pun tidak melanggarnya."
"Tak ada kesempatan? Benarkah itu? Tak ada cara lain untuk menyelidikinya?"
"Temuilah Samael jika kau tidak percaya padaku. Dia lebih tahu struktur bangunan, lokasi gang, rumitnya jalan, dan segala *****-bengek lainnya. Tak ada cara lain. Tak ada jalan lain selain masuk ke gang itu lewat jalan utama yang dijaga Samael."
"Aku sudah bertemu dengannya dan dia sudah menceritakan semuanya," kata Alley pelan. "Tapi, jika aku tidak bisa menemukan Rehan, apa yang akan aku katakan pada anakku? Pada ibuku?" tanyanya menahan tangis selagi memandang wajah Rendown dalam-dalam.
"Beberapa hari lagi kami akan mengadakan pelelangan ke dunia luar mengenai kota ini. Kami akan melelang seluruh gedung, apartemen, rumah susun, hotel, taman hiburan, toko-toko, agar kota ini kembali ramai. Dan aku tidak mau kasus suamimu ini mengganggu acara pelelangan tersebut. Aku ingin kau diam dan menyimpan rahasia ini sendiri," kata Rendown memperingatkan Alley tapi terdengar seperti ancaman.
Alley hanya terdiam merenung. Rasa kesal bergemelut tapi apa daya dirinya tak bisa apa-apa. Jika dia nekat memasuki gang itu sendirian, nasibnya akan sama seperti Raku. Dirinya bimbang harus melakukan apa sekarang.
"Aku minta kau melupakan segalanya, merelakan suamimu, dan gang berbahaya itu. Jangan ungkit masalah ini lagi padaku. Mulailah hidup baru di kota ini dengan anakmu," kata wali kota sembari mengambil sesuatu di lacinya. "Ini adalah surat izin milikmu untuk tinggal di sini. Dan ini, pilihlah salah satu bangunan di katalog ini, aku akan memberikannya secara gratis padamu. Lupakan segalanya, mulailah hidup baru, bukalah sebuah toko unik di kota ini," imbuhnya memberikan sebuah katalog yang penuh dengan gambar-gambar toko yang berada di seluruh penjuru Lurid City.
Alley tidak memahami maksud dari wali kota.
Apakah dia mencoba untuk menyuapku?
Tapi Alley tak ingin lagi berdebat.
Dirinya sudah lelah.
Akhirnya dia pergi dari ruang wali kota dengan membawa surat izin beserta katalog itu bersamanya.
Dirinya terduduk di mobil dan berpikir. Dirinya tahu bahwa ada hal yang disembunyikan wali kota mengenai kota ini dan gang Avycon. Dan wali kota tak ingin Alley sampai mengetahui segalanya.
*Virus?
Gas beracun?
Apakah hanya itu rahasia kota ini?
__ADS_1
Apakah hanya itu yang menjadi misteri kota mati ini?
Atau ... adakah hal lainnya*?