
"Alley! Naik ke lantai atas! Berlari menuju koridor B13A, ada Justice Room di sana. Masuk ke dalam ruangan berneon putih!" pekik Thomas yang berada 2 lantai di atasnya.
Tanpa berleha-leha Alley terus berlari menaiki tangga. Keringat mengucur deras membanjiri tubuhnya. Dia berbelok ke kanan sembari memperhatikan petunjuk nama koridor di setiap sudut jalan.
Thomas, Amy, dan Eren pun berlari ke tempat yang sama.
Tiba-tiba ruangan menjadi gelap gulita tanpa sebab.
Alley yang tengah berlari, tersandung, dan membuatnya terguling di lantai yang kotor. Dia membentur sesuatu lalu merabanya.
Ada sepasang kaki di situ.
Lampu-lampu remang kembali menyala.
Muncul sesosok gadis kecil di hadapannya.
Lehernya tergorok.
Gadis kecil itu sedang memegang sebilah pisau dapur.
Matanya melotot tajam.
Darah menggelenyar dari sela-sela matanya.
Dia memandang Alley yang tersungkur di lantai dengan tatapan kematian.
Gadis kecil itu menebaskan pisau yang sedang dipegangnya hendak menggorok leher Alley.
Alley reflek bangkit sebelum pisau itu membelai lehernya.
Dia mundur ke belakang menghindari serangan.
Di belakangnya, ada anak kecil lain.
Alley menoleh.
Anak laki-laki dengan kedua mata yang bocor sedang berdiri memegang gunting.
Anak kecil itu mengarahkan guntingnya ke paha Alley.
Alley memekik saat gunting itu melukai pahanya dan merobek sedikit roknya.
Alley menepi ke dinding koridor.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Bukan hanya dua anak kecil itu yang berada di sana.
Ada beberapa anak lainnya.
Mereka membawa berbagai senjata tajam.
Anak berkepala bocor memegang palu.
Anak berwajah meleleh membawa sebotol cairan asam.
Anak yang gosong terbakar memegang obeng.
Gergaji.
Pecahan kaca.
Ada pula sosok anak kecil dengan tubuh terbelah yang diikat sebuah tali, organ tubuhnya menyembul keluar, menjuntai menyentuh lantai dan terseret-seret saat dia melangkah.
Anak-anak Martir yang dulunya dibunuh menggunakan senjata sama seperti yang mereka bawa.
***
Thomas, Amy, dan Eren saling petak umpet dengan para zombie. Bertindak waspada, mencari celah untuk berlari dan berharap tak berada dalam kepungan.
Peluh keringat tampak membasahi wajah mereka. Terutama Amy yang tampak sangat kepayahan.
"Justice Room tak jauh lagi. Bertahanlah!" bisik Thomas pada Amy dan Eren.
"Kuharap kali ini ruangan itu tak terkunci!" timpal Amy menghela napas.
Para Martir tak mengejar mereka. Mereka berjalan pelan, mengendap-endap mendengar keadaan. Berharap bahwa mereka tak mendapat kejutan di setiap belokan yang berada di depan.
Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Ruangan apa ini?" heran Eren.
Ruangan yang sangat berantakan.
Banyak kandang-kandang berkarat di dalamnya.
Noda hitam menutupi seluruh lantai keramik yang putih.
Obat-obatan dan jarum suntik berserakan
Mereka melangkah dengan waspada. Dari sudut jauh terdengar jeritan Alley. Membuat Thomas dan—terutama—Eren khawatir.
"Alley!" panggil Eren spontan.
"Diamlah!" bentak Thomas.
Teriakan Eren bisa mengundang sesuatu.
Pintu keluar ruangan berada di depan mereka. Tapi mereka tak berani berlari ke sana. Mereka takut ada sesuatu muncul dengan tiba-tiba.
Seperti yang Thomas duga, ada sesuatu di ruangan ini.
Derap langkah kaki kecil menunggu kesempatan yang pas untuk menyerang.
Thomas memegangi lengan Eren dan Amy dengan kuat. "Saat aku bilang lari, berlarilah sekencang mungkin menuju pintu itu."
Eren menelan ludah, menyadari ada bahaya di sekitar mereka.
Amy celingak-celinguk menajamkan mata semakin waspada.
Dua pasang kaki melenggok dari balik meja.
Makhluk hitam itu memiliki tiga kepala menyeringai menunjukkan taringnya yang tajam di setiap kepala.
"Jangan bilang bahwa kalian melakukan Martyr Project pada anjing itu," tukas Eren.
"Tidak. Aku tidak tahu soal anjing itu," sanggah Thomas.
Anjing berkepala tiga—Cerberus—Itu berlari hendak menerkam mereka.
Thomas melepaskan satu butir peluru pistol ke arahnya.
Anjing itu terpental.
Dari berbagai sudut ruangan bermunculan makhluk-makhluk mutan lainnya.
Anjing berkepala dua.
Rubah ekor sembilan.
Kucing berkaki enam.
__ADS_1
Ular piton berkepala dua.
Monyet berkepala anjing.
Anak kecil berkepala kera.
Dan mamalia serta puluhan hewan reptil lainnya yang memiliki anatomi tubuh janggal.
"Godevil Project ...," kata Thomas teringat dengan sebuah artikel dalam catatan kota seabad lalu.
Godevil Project, sebuah eksperimen terlarang yang dilakukan Kie Light Biohazard Group untuk merekayasa genetika dan menciptakan ras hewan baru dengan cara menggabungkan berbagai tubuh hewan lain menjadi satu. Tapi tentu ada satu kekuatan lain yang menyebabkan makhluk-makhluk itu tetap hidup selama ini. Bukan hanya mutan yang terlahir dalam laboratorium.
Thomas menoleh ke arah Cerberus.
Anjing itu terkapar.
Mati dan tak bangkit kembali.
"Mereka bisa kita bunuh. Waktu telah berjalan lebih dari seratus tahun. Iblis dalam tubuh mereka bisa kita musnahkan," kata Thomas. "Tapi, kita harus tetap lari. Kita tak akan bisa melawan mereka dengan mudah tanpa senjata," imbuhnya mengarahkan pistol. Berusaha menghemat peluru dalam pistolnya sebisa mungkin.
"Lari! Sekarang!" pekik Thomas.
Eren dan Amy langsung berputar melangkah kaki dan mulai berlari.
Thomas mengikuti satu meter di belakang mereka.
Makhluk-makhluk mutan itu mulai menyerang.
Jumlahnya belasan.
Mereka terus berlari mendekati pintu.
Seekor monyet berkepala anjing langsung menerkam Eren.
Eren terbanting.
Monyet berkepala anjing itu menggigit pundaknya yang sebelumnya terluka.
Di saat yang sama hewan-hewan mutan lainnya menyerang Thomas dan Amy dengan ganas.
Makhluk itu mencoba mencabik Thomas. Dia terpaksa melepaskan beberapa peluru untuk membunuh mereka.
Amy merangkak ke kolong meja saat seekor ular piton berkepala dua memagut dan menancapkan taring runcing sepanjang lima senti ke betisnya yang berlemak.
Thomas menembak ular itu dan berusaha melepaskan gigitannya.
Di saat yang sama, Eren, berusaha menyingkirkan makhluk yang menggigit pundaknya dengan kuat. Dia mendapati jarum suntik yang bertebaran di lantai. Langsung saja dia ambil dan tancapkan ke dalam mata monyet berkepala anjing itu berkali-kali.
Darah hitam menyembur dari matanya yang bocor.
Tumpah ruah membasahi wajah Eren hingga hitam legam.
Makhluk itu berhasil dilepaskan tapi belum mati.
Eren mengambil nampan besi yang tergeletak.
Membenturkannya ke kepala makhluk itu hingga tewas.
"Mati! Mati kau sialan!" racaunya menjerit-jerit.
Mutan itu meraung-raung.
Memecah kesunyian.
Menciptakan ketegangan di tengah ruangan kematian.
Dari sudut jauh terdengar gerombolan kaki-kaki yang berlari. Para zombie mulai mendengar kegaduhan dari dalam ruangan tersebut.
"Ayo, lari! Bahaya!" pekik Thomas menembakkan peluru pistolnya berkali-kali ke makhluk mutan yang menyerang mereka bertiga, lalu meraih lengan Amy. Membantunya berdiri.
Mereka berlari menuju pintu keluar.
Makhluk-makhluk itu mengejar.
Thomas menahan pintunya.
"Eren, ambil pipa itu!" perintah Thomas.
Diambilnya pipa-pipa besi yang tergeletak di lantai koridor.
Dimasukkannya pipa besi itu ke pegangan pintu hingga terkunci.
Makhluk-makhluk itu tak akan bisa membukanya.
Memberi kesempatan pada mereka untuk menghela napas.
"Thomas, apa itu!" tunjuk Amy ke langit-langit koridor di sudut jauh, ke arah sesosok makhluk yang bertengger di lubang ventilasi seperti laba-laba.
Thomas dan Eren mengedar pandangan.
Dia melihat Justice Room berada tepat di ujung koridor.
"Kuharap kalian bisa bertarung dan bertahan sedikit lagi. Kalian lihat Justice Room berada di ujung sana!" kata Thomas.
Eren dan Amy menatap sekitar, lalu mengambil pipa besi yang cukup runcing.
Makhluk-makhluk yang berada di belakang mencoba mendobrak pintu.
Tak berhasil.
Thomas memimpin di depan.
Berjalan pelan di koridor remang.
Di antara meja-meja dan besi berkarat yang berserakan.
Makhluk yang tadi bertengger merayap seperti laba-laba. Rupanya semakin kentara. Tampak seperti manusia tapi di pinggangnya terdapat enam tangan dan kaki. Makhluk mengerikan itu tersenyum dengan wajah yang terbelah.
Makhluk itu menerjang hendak menerkam Thomas.
Thomas menghantamkan pipanya hingga kepalanya hancur.
Sosok-sosok lainnya bermunculan dari berbagai sudut.
Amy dan Eren memegang pipa besi kuat-kuat.
Gemetaran.
Mata mereka tak bisa berhenti fokus pada makhluk-makhluk yang merayap di langit-langit dan mencari celah untuk menyerang.
Mereka terkepung.
Jumlahnya sepuluh.
Dengan kewaspadaan tinggi mereka mematung.
Salah satu dari makhluk itu merangkak mendekati wajah Amy yang ketakutan.
Wajahnya yang terbelah mendadak terbuka dan muncullah mimik mengerikan dengan kedua bola mata menonjol di baliknya.
Thomas langsung menancapkan pipanya ke arah wajah yang menganga hingga menembus kepalanya dan mati.
__ADS_1
Makhluk-makhluk lainnya mengerang dan mulai menerkam.
Eren hendak berlari.
Salah satu makhluk menangkapnya dari atas.
Makhluk itu berusaha mencekik Eren dengan keenam tangannya.
Eren mengerang kesakitan sementara Thomas dan Amy berusaha membunuh makhluk itu satu-satu.
Eren menghantamkan pipa besi yang dipegangnya ke arah pinggang makhluk tersebut. Makhluk terkutuk itu memekik seperti **** hutan hingga terlepas dari tubuhnya.
Dia hantamkan pipa besi itu ke wajahnya.
Tak cukup kuat.
Makhluk itu merayap menggerayanginya.
Eren yang gusar dan semakin tak berdaya berusaha menghajarnya kembali.
Thomas terpaksa mencetuskan tiga peluru pistolnya.
Amy berusaha berlari mencapai Justice Room tapi betisnya yang masih terasa ngilu dengan darah yang terus mengalir membuatnya sempoyongan. Tangan makhluk itu menjambak rambutnya dan menggulingkannya ke lantai.
Eren yang masih diserang berusaha menghunus pipa besi sekuat tenaga ke mulut makhluk yang buruk rupa di hadapan wajahnya.
Darah hitam menyembur membasahi wajahnya kembali.
Eren berdiri dan berlari menuju ruangan itu.
Dirinya bingung.
Ada dua ruangan di sana.
Ruangan lab yang sama-sama memiliki dinding kaca dan pintu baja.
Yang satu diterangi lampu neon.
Yang satu diterangi lampu pijar.
Dia melihat papan nama di atas kedua pintu ruangan itu.
X-Room dan ROAT.
Thomas mengatakan bahwa Justice Room adalah yang berlampu neon putih. Eren tak ingin masuk ke ruangan X-Room. Dia melihat sesosok mengerikan di sana. Akhirnya masuk ke ruangan sebelah. Ruangan bertuliskan ROAT.
"Eren, jangan masuk ke sana!" sergah Thomas yang berlari mengejar dan membantu Amy memusnahkan makhluk yang tersisa.
Terlambat.
Eren telah masuk ke dalam.
Pintu baja itu terkunci rapat.
Eren resah saat ruangan itu berbunyi nyaring dan lampunya berkelap-kelip. Tak ada apa-apa di ruangan tersebut selain ruangan kaca berpintu baja dan di sebelah dindingnya terbuat dari tembaga beserta lantainya pun terbuat dari bahan sama.
Suara itu membuat Eren panik. Apalagi dia melihat Thomas dengan wajah gelisah. Dia berteriak-teriak mencoba membuka pintu baja.
Terjadi sesuatu di ruangan itu.
Dinding tembaga itu menarik tubuh Eren dengan tiba-tiba.
Eren meraung saat dirinya tertarik seperti magnet membentur dinding tersebut.
"Thomas, apa yang terjadi? Tolong aku!" pekik Eren histeris.
Thomas berusaha menghancurkan dinding kaca.
Percuma.
"Apa yang terjadi?" tanya Amy waswas dari balik dinding kaca.
Eren terus menjerit saat tubuhnya ditarik oleh dinding tersebut. Dinding itu seperti menyedot darahnya. Eren menumpahkan air mata. Air matanya tersedot pula oleh dinding itu dan langsung lenyap. Air mata itu mengalir dengan deras bersama darah yang menyeruak dari sela-sela matanya.
Eren memekik memanggil-manggil Alley dan Thomas. Dirinya merasakan penderitaan yang teramat sangat. Dinding itu berusaha menyedot seluruh cairan yang berada dalam tubuhnya melalui sela-sela mata, lubang hidung, mulut, telinga, dan pori-pori kulitnya. Semakin dia menangis, cairan darah itu keluar semakin deras.
Tiba-tiba kulit tangannya terkelupas. Tertarik seperti kulit mangga yang matang. Tampak daging bagian dalamnya berserat-serat dengan darah yang tersedot dan urat nadi yang berdenyut-denyut.
"Alley!!!"
***
Alley bergelut dengan anak-anak berjiwa iblis tersebut. Anak-anak itu terus menyerangnya dengan senjata yang mereka bawa. Dia berusaha menghindar dan berlari menjauh tapi mereka mendadak menjadi lincah.
Mereka menyerangnya bertubi-tubi.
Senjata-senjata itu berhasil mengenai beberapa bagian tubuhnya.
Ada seorang anak berwajah meleleh yang membawa cairan kimia dalam tabung kaca. Anak itu melemparkan cairan tersebut ke arah Alley. Beruntung dia bisa menghindar. Cairan itu mengenai wajah gadis kecil di belakangnya dan seketika itu juga wajahnya meleleh seperti lilin.
Alley mendengar teriakan Eren yang memanggil namanya. Dirinya yang khawatir menendang tubuh anak-anak yang mengepungnya kemudian berlari secepat yang dia bisa menuju asal suaranya.
Thomas tengah berada di depan ruangan kaca, berusaha membuka pintu baja tersebut.
"Eren! Thomas, apa yang terjadi?!"
Alley panik mendapati temannya terjebak di dalam sana dalam keadaan tersiksa.
"Dia bisa mati. Ini adalah ruangan pelenyapan!"
"Apa?! Tidak! Eren!"
Tubuh Eren mengerut.
Seluruh cairan di tubuhnya tersedot.
Sekonyong-konyong kulitnya tertarik.
Lepas dari tubuhnya.
Termasuk kulit wajahnya.
Eren masih tersadar dan menjerit sementara Thomas dan Alley mencoba mendobrak. Hal mengerikan memenuhi ruangan pelenyapan—ruangan yang digunakan untuk melenyapkan Martyr Project.
Ruangan di mana malaikat pun bisa menangis tersiksa sebelum akhirnya lenyap.
Dinding itu semakin menyedot seluruh tubuhnya dengan kekuatan dahsyat.
Eren seperti gumpalain air di atas spon.
Cairan di tubuhnya lenyap terserap.
Dan di saat cairan tak tersisa lagi, dinding itu mulai menyedot kulitnya.
Merobek dagingnya.
Mengisap seluruh organ tubuhnya.
"Alley, selamat tinggal ...," gumam Eren yang tak sanggup memekik lagi saat dinding mengerikan itu menyedot seluruh daging di tubuhnya. Yang tersisa hanyalah seonggok tengkorak berbusana. Tengkorak itu pun lenyap tak berbekas ditelan kegelapan. Pakaian Eren terjatuh ke lantai dan dia lenyap di ruangan tersebut.
"Tidak! Eren!!!" pekik Alley menggelegar ke setiap sudut koridor yang ada.
__ADS_1
Mengundang seluruh makhluk kegelapan ke arah mereka.
Ratusan Martir dan mutan mengerikan saling berlomba berlari mendapatkan mereka.