Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Kebenaran


__ADS_3

Detik ini, baginya, gericau bising deruan mobil, mesin bor di ujung jalan, derap langkah orang-orang yang lalu lalang lebih merdu daripada senandung kicauan burung, dan lebih menenangkan ketimbang alunan musik klasik.


Alley bebas.


Dia akhirnya bebas dari gang yang menyesatkan itu.


Air matanya tumpah ruah bersama perasaan lega dan sedih yang bercampur aduk jadi satu.


Yang ada di pikiran Alley saat ini adalah menemui Eren secepatnya.


Dia berjalan terisak memasuki gedung apartemen Kie Light yang kini dipenuhi oleh orang-orang tak dikenalnya. Mereka semua memandangi tubuh lusuhnya dengan tatapan heran penuh curiga.


Alley tak peduli.


Dia segera memasuki lift dan menggedor pintu rumah Eren begitu dia tiba di atas.


Seseorang membuka pintu dan Eren yang sedang berada di dalamnya langsung memeluk Alley erat saat dia mematung memandangnya.


"Alley, dari mana saja kau?! Ke mana saja kau selama ini?!"


"Mana anakku?! Mana Rafael?!"


Alley histeris.


"All, dengarkan aku, Rafael sudah meninggal!"


Eren mencengkeram pundaknya kuat.


Menatap tegas ke dalam mata Alley yang basah.


"Tidak! Tidak Eren! Tidak mungkin!"


Alley tersungkur di lantai sembari menangis menderu-deru.


Eren memeluknya mencoba menenangkannya tapi Alley malah jatuh pingsan.


***


Lurid City, 11 Desember 2011.


"Ceritakanlah padaku ke mana saja kau selama ini?" tanya Eren saat Alley yang terbaring di sofa siuman.


"Aku terjebak di gang Kana," jawab Alley lemas.


"Selama itukah? Lebih dari lima tahun?" herannya tak percaya.


"Bagiku rasanya seperti beberapa jam. Aku masih ingat ketika senja itu kau meneleponku. Mengatakan Rafael kecelakaan. Mengatakan padaku mengenai gang itu dan menyuruhku untuk tetap diam dan tak masuk ke dalamnya. Jika saja aku menuruti katamu waktu itu, aku pasti bisa melihat anakku dan mungkin anakku selamat. Meskipun tidak, aku pasti bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali. Aku memang tolol ...."


Alley mencoba menahan tangis.


"Ini semua salahku, Alley. Aku tidak menjelaskan secara detail mengenai kota ini karena aku pikir, gang itu dan kota ini tak separah itu untuk ditinggali. Maafkan aku Alley. Dan maafkan aku juga karena aku tidak bisa menyelamatkan anakmu. Saat itu jalanan macet, jembatan roboh, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," sesal Eren.


"Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu. Aku ingin bertemu dengan Rafael. Di mana dia dimakamkan?"


Alley dengan cepat berusaha menerima kenyataan pahit ini.


"Tidak Alley. Hari ini, kau harus istirahat terlebih dahulu. Lihatlah dirimu, mungkin sebaiknya kita ke rumah sakit," ajak Eren menatap tubuh Alley yang memprihatinkan.


"Tidak Eren, aku baik-baik saja," jawab Alley berusaha tegar meski kentara wajahnya penuh dengan kegetiran yang teramat sangat.


"Kalau begitu, istirahatlah. Aku janji akan mengajakmu ke makamnya secepatnya."


Alley mengangguk tipis. Lalu membaringkan tubuhnya di sofa itu, mencoba terlelap dalam tidur dan berharap apa yang telah dilaluinya hanyalah sebuah mimpi buruk semata.


***


Beberapa hari kemudian.


Alley mengenakan gaun hitam terusan sepanjang betis. Gaun itu tersimpan dalam lemari pakaiannya selama 5 tahun. Dia ingin berpakaian layak untuk menemui Rafael di makam kota.


"Eren ...."


"Ya? Apa, All?" tanya Eren selagi menyisir rambut panjang Alley yang kusut di depan cermin.


"Kulihat gedung ini terlihat ramai. Apa seluruh gedung di kota ini telah dipenuhi orang-orang seperti ini?" Alley bertanya-tanya.


"Hampir. Tapi belum semuanya."


"Apartemen ini ... kenapa tidak kau jual saat Rafael meninggal dan aku menghilang?"


"Ini adalah apartemenmu. Kau sudah membelinya dariku, bukan?" kata Eren. "Lagi pula, firasatku mengatakan, kau pasti bakal kembali. Entah kapan itu tapi aku yakin kau pasti akan kembali ke rumah ini."


"Eren, terima kasih untuk segalanya. Terutama karena kau mau memakamkan anakku," kata Alley saat melihat wajah Eren di pantulan cermin.


"Tentu, All. Kita ini, teman, 'kan?"


Alley mengangguk. "Ayo kita berangkat!"


Dengan mengendarai mobil Eren, mereka berangkat menuju pemakaman kota. Letaknya di bagian paling barat Lurid City. Bagian sudut dari blok F.


Alley memetik setangkai bunga yang tumbuh di dekat sebatang pohon.


Mereka berjalan di antara nisan-nisan yang berderet memenuhi satu-satunya lokasi yang memiliki permukaan tanah paling luas di kota ini. Dan itu pun masih tidaklah luas untuk dijadikan sebagai tempat pemakaman.


Letak makam anaknya berada paling jauh dari jalan raya, berada di pojok makam. Tepat di bawah tebing curam yang berdiri mengelilingi kota.


Alley memandang nisan anaknya, menaruh setangkai bunga di dekatnya seraya meraba batu nisan tersebut.


"Ibu menyayangimu, Nak!" ucapnya bercucuran air mata.


Eren mengelus pundaknya, berkata agar tetap tabah dan menerima kepergian anaknya dengan ikhlas.


"Kau yakin anakmu ada di dalam sana?" celetuk seorang.


Mereka menoleh.


Seorang pria itu mirip gelandangan berdiri tidak jauh dari mereka. Wajahnya brewok dengan rambut acak-acakan. Dia memakai mantel tebal lusuh dan celana jins setengah robek.


Pria itu mendekati mereka berdua.


"Apa maksudmu?!" tukas Eren.


"Apa kalian yakin dalam kuburan itu ada jasad?" tanya pria itu lagi.


"Ini adalah makam anakku dan di dalamnya tentu saja ada anakku. Apa maksudmu bicara begitu?" tanya balik Alley merasa tersinggung dan tersakiti.


"Kau yakin?"


"Tentu saja. Aku ada di pemakaman saat Rafael dikuburkan. Kenapa kau bilang begitu? Apa kau tidak punya perasaan pada temanku?!" gusar Eren.


Alley bangkit berdiri dan memandang tepat ke hadapan pria itu sembari menyapu air mata di pipinya. "Siapa kau?"


"Kenalkan namaku Gabriel. Aku hanya salah satu warga kota. Kebetulan rumahku dekat sini."


"Kenapa kau bilang jasad anakku tidak ada di dalam sana?"


"Aku tidak mengatakan anakmu tidak ada di sana. Aku hanya bertanya apa kau yakin dia ada?" jawab Gabriel berbelit.


Alley memandang Eren meminta jawaban.

__ADS_1


"Tentu saja, Alley. Aku ada di pemakaman. Aku yang memakamkan. Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat jasad anakmu dimakamkan," sanggah Eren. "Alley, sebaiknya kita pulang. Jangan dengarkan omongannya," sambungnya menarik lengan Alley pergi menjauh dari pria tersebut.


"Jika kalian ingin menanyakan sesuatu, datanglah ke rumahku!" sahut Gabriel sembari tersenyum.


"Eren, apa kau mengenalnya?" tanya Alley selagi mereka berlalu pergi.


"Setiap bulan selama hampir lima tahun aku mengunjungi makam anakmu, aku belum pernah melihat pria itu. Mungkin dia warga baru atau mungkin orang gila. Kau jangan dengarkan ucapannya tadi. Percayalah dan tenang saja, jasad anakmu ada di dalam sana," ujar Eren mencoba agar Alley tidak khawatir tapi sepertinya perkataannya malah membuat Alley sedikit curiga dan sama sekali tak merasa lega.


***


"Aku akan menemui wali kota siang ini," kata Alley.


"Untuk apa?" heran Eren. "Istirahatlah. Kau baru saja mengalami hal buruk."


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan wali kota."


Alley meminjam mobil Eren setelah dia mengantarkannya kembali ke apartemen. Saat dia keluar dari parkiran tadi, dia memandang sejenak hotel Kanavi yang kini telah beroperasi. Memandang ke lantai teratas. Lantai di mana keegoisan menyelamatkan dirinya dari jebakan mengerikan yang hendak mengurungnya dalam ketidakpastian jika dia tidak berbuat nekat dan melanggar perjanjian. Tapi Alley senang dia mengambil keputusan tersebut. Meski rasa pahit atas kematian anaknya tak akan mampu membuatnya tersenyum lagi tapi setidaknya dia meyakinkan dirinya tak boleh menyerah dari kehidupan ini. Dari semua ini.


Alley melajukan mobil itu menuju Kana Market. Kasir gendut itu tersenyum sinis sekaligus terkejut sewaktu dirinya membuka pintu masuk.


"Hebat, berhasil selamat dari sana? Bagaimana caranya?" tanyanya sembari tepuk tangan yang terdengar meledek. "Aku menerima pesanmu tiga tahun yang lalu di kotak suara. Aku pikir kau tak akan pernah bisa keluar. Aku begitu terkejut. Bagaimana caramu bisa keluar? Ratusan orang tak ada yang kembali setelah memasuki gang Kana. Hebat kau, Nona."


"Tak ada yang hebat, aku menyesal. Aku menyesal tinggal di sini. Aku menyesal masuk ke gang itu. Jika aku tak pernah di sini mungkin sekarang anakku masih berada di sisiku," kata Alley dingin. Kemudian pergi ke ruangan Rendown tanpa meminta izin darinya.


"Masuklah!" sahut Rendown saat Alley mengetuk pintu.


"Oh, Nona Alley, bagaimana kabar Anda?" sapanya berusaha agar dirinya tidak menunjukkan ekspresi terkejut. "Duduklah. Apa Anda baik-baik saja?" tanyanya tampak salah tingkah.


"Kenapa Anda tegang begitu?" sindir Alley dengan ekspresi tajam. "Anda pasti bertanya-tanya bagaimana saya bisa keluar dari sana. Saya bukan hantu tapi kenapa Anda terlihat ketakutan seperti itu melihat saya?"


"Tidak. Aku tidak apa-apa," tukasnya mengelap keringat yang menyembul di dahinya.


"Kau tidak perlu khawatir. Albert tidak keluar dari ruangan itu bersamaku," kata Alley dengan bahasa yang cukup tajam. Dirinya lelah berbahasa formal.


"Dia masih hidup?"


"Tentu saja, dia tidak bisa mati di ruangan itu," jawab Alley sedikit menahan emosi.


"Bagaimana kau bisa keluar?" heran Rendown. "Apa dia membiarkanmu keluar?"


"Tidak. Aku melukai kakinya agar aku bisa berlari dan masuk ke pintu keluar," balas Alley dingin.


Rendown menatap satu titik kosong sembari tersenyum sinis.


"Itu adalah ruangan keegoisan. Hanya orang bodoh yang mematuhi aturan dalam ruangan itu. Kau sudah benar. Kau mengambil tindakan yang tepat," ujarnya yang kini terlihat rileks.


Hal itu tak membuat Alley senang barang sedikit pun.


"Kenapa kau berbohong mengenai aturan pertama gang Kana? Kenapa di buku kota tak dijelaskan mengenai Albert dan sejarah awal sebelum dibangunnya Lurid City? Kenapa kau tak mengirim bala bantuan untuk menolongku saat aku berhasil menghubungi telepon bangunan ini?"


"Apa maksudmu? Mengenai aturan pertama aku tidak berbohong. Aturan pertama memang seperti itu bahkan sebelum buku kota diterbitkan," tukasnya.


"Bukan itu maksudku. Kenapa kau tidak menjelaskan bahwa aturan pertama itu adalah aturan sakral yang benar-benar tak boleh dilanggar seperti 3 aturan sakral lainnya?" tuding Alley.


"Itu sudah menjelaskan sesuatu. Agar tidak ada orang yang memasuki gang tersebut terutama sendirian," jawabnya beralasan.


"Bukankah itu kesalahan fatal? Bagaimana jika di ruangan itu tak ada Albert atau orang lain? Kenapa kau tak menjelaskan hubungan antara aturan pertama gang Kana dengan ruangan itu? Apa tujuanmu?" tanya Alley lebih dalam. "Jika di sana tak ada Albert, mungkin aku akan terkurung selamanya. Begitu pula jika aku tak bersikap egois saat itu dengan melukainya agar aku bisa keluar. Aku akan terkurung di ruangan terkutuk itu selama bertahun-tahun atau mungkin selamanya. Kenapa kau tak menjelaskan semua itu di buku kota?"


"Jadi, apa yang ingin kau dengar di buku kota tentang aturan pertama, ruangan itu, dan Albert? Apa kau ingin mendengar aku menulis bahwa ada seorang pejabat atau mungkin mantan wali kota terjebak di ruangan dalam gang Kana dan kalian jangan masuk ke gang Kana jika kalian tidak mau tersesat di dalamnya atau terjebak di ruangan itu dan menjadi penghuninya. Tidakkah bagimu kata-kata tersebut terlihat kejam, konyol, dan merendahkan martabatku sebagai wali kota yang berusaha mencoba menghidupkan kembali kota mati ini?" ujarnya. "Aturan-aturan, tempat terlarang, buku kota, dan peringatan itu sudah lebih baik daripada aku tidak memberitahu warga kota sama sekali. Jika aku menjelaskan secara detail mengenai bahaya, keburukan, dan sejarah kelam kota ini ke dunia luar, bagaimana aku bisa menghidupkan kembali kota ini dan membuatnya ramai?"


Alley terdiam sejenak. Tak dapat dimungkiri bahwa perkataan wali kota itu memang benar dan bertanggung jawab.


"Lalu bagaimana dengan Albert?"


"Itu masalah lain. Antara aku dan dirinya dan warga kota tak perlu mengetahuinya."


"Apa kau sinting?!" cetusnya. "Apa kau tidak pernah berpikir bahwa kita bisa keluar dari gang itu karena keberuntungan? Bila kita masuk ke dalam lagi, apa kau bisa pastikan kau bisa selamat atau tidak melanggar aturan lagi? Akan jatuh lebih banyak korban jika aku mencoba menolongmu!" tukas Rendown. "Sudahlah! Jangan memikirkan gang itu, yang terpenting sekarang adalah kau selamat. Jalanilah hidup barumu mulai dari saat ini. Mungkin kau dan anakmu bisa membuka toko sesuatu di kota ini atau mungkin kalian bisa pergi meninggalkan kota mengerikan ini dan tinggal bersama ibumu lagi," sarannya.


"Apa kau tidak tahu? Tak ada yang tersisa lagi sekarang. Semuanya telah tiada. Anakku dan ibuku sudah meninggal."


"Anakmu meninggal? Kapan?" heran Rendown.


"Dia tertabrak mobil saat aku sedang terperangkap dalam gang Kana. Apa kau tidak tahu? Apakah kau tak punya catatan kematian anakku sehingga kau bertanya seperti itu?" tanya Alley dengan wajah murung.


"Tidak. Makanya aku heran dengan anakmu yang telah meninggal."


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan tentang anakku lagi. Tak sanggup seperti ini terus. Aku hampir merelakan kepergiannya. Juga mungkin kepergian suamiku yang tak aku ketahui. Mungkin kau benar. Aku harus menjalani hidupku yang baru. Aku tak akan pergi dari kota ini. Tak ada apa pun lagi di luar sana. Aku tak punya keluarga lagi. Aku akan tetap tinggal di kota ini."


Tiba-tiba seorang wanita tanpa permisi langsung masuk ke ruangan wali kota dengan wajah murka. Seorang perempuan muda yang tengah hamil mengikuti wanita itu dari belakang.


"Bagaimana ini?! Kenapa belum ada kabar juga mengenai anakku?!" bentak wanita itu pada wali kota.


"Nona Amy, silakan Anda duduk dulu, kita bicarakan baik-baik permasalahannya," pinta wali kota.


"Sebaiknya aku pergi dulu, permisi," kata Alley pada wanita yang sedang melotot tajam ke arah wali kota.


"Kenapa Anda sebagai wali kota tak pernah ada rasa tanggung jawab sedikit pun atas hilangnya anakku di kota ini!" tuduh wanita bernama Amy itu.


Alley menutup pintu ruangan tanpa mendengar lebih jauh pembicaraan mereka. Sebelum pergi, dia mengambil sekaleng minuman di showcase. Wanita yang masuk ke ruang wali kota tadi dipenuhi amarah. Suaranya terdengar sampai keluar. Tak lama kemudian, kedua wanita itu keluar dengan tatapan gusar. Beberapa pengunjung Kana market tampak terheran-heran termasuk Alley.


"Kau tahu siapa mereka?" tanya Alley pada kasir itu.


"Sudah hampir lima tahun mereka datang kemari. Perempuan itu adalah menantunya. Lima tahun lalu, anak bungsunya hilang di Ozzone. Begitu pula anak sulungnya yang tak lain suami perempuan itu. 8 bulan lalu hilang di sana saat penyihir menyuruhnya melakukan sebuah ritual."


"Apa selama lima tahun terakhir ini banyak orang hilang?" tanya Alley.


"Tidak juga. Beberapa orang menghilang semenjak masuk ke Ozzone. Mereka bilang orang yang masuk ke sana menghilang karena melanggar aturan saat meminta bantuan pada penyihir. Aku pernah cerita, 'kan? Di dalam sana tinggal penyihir. Dia bisa menghidupkan orang mati," ujarnya.


"Menghidupkan orang mati? Yang benar saja," tukas Alley sinis. "Tidak mungkin ada orang yang bisa menghidupkan anakku lagi. Gara-gara kota ini, gara-gara gang itu. Tidak. Ini semua memang salahku sejak awal hingga anakku meninggal."


"Tunggu dulu, kau bilang anakmu meninggal? Apa kau yakin anakmu sudah meninggal? Apa dia dimakamkan di pemakaman kota?"


"Dia tertabrak mobil. Kenapa? Kenapa beberapa orang meragukan kematian anakku?"


"Bukan itu maksudku. Hanya saja, apa kau sudah baca bab tujuh di buku kota. Aturan bahwa jika ada orang yang meninggal di kota ini dan ingin dimakamkan di pemakaman kota, maka kau harus melapor pada wali kota dan memenuhi syarat-syarat administrasi di kota ini.


"Di sini, lahan pemakaman sangatlah terbatas maka ada sejumlah biaya yang harus dipenuhi. Jika tidak, mayat orang yang meninggal akan dikremasi, abunya di simpan dalam guci kemudian ditaruh di masing-masing rumah keluarganya. Apa kau tidak baca bab itu?"


"Benarkah?"


Alley tak percaya.


"Tentu saja. Itu yang aku lakukan pada ibu dan adikku saat mereka meninggal," ucapnya. "Di kota ini tak ada bedanya antara hilang dan mati."


Alley terpaku sejenak sebelum dia mengambil belanjaannya. Hendak berlalu pergi.


"Di mana anakmu dimakamkan? Apa dia dikremasi?" tanyanya.


Hati Alley sedikit tersayat mendengarnya membicarakan kematian anaknya sesantai itu.


"Tidak. Aku memakamkannya di kota ibuku," dustanya.


Alley masuk ke dalam mobil.


Membuka kaleng minuman yang dia beli.


Meneguknya.


Perlahan dia menangis lagi.

__ADS_1


Dia masih tak percaya.


Dia sulit percaya.


Dia bahkan tak sempat melihat wajah terakhir anaknya.


Alley melajukan mobil itu kembali menuju apartemennya. .


Lurid City tampak sangat berbeda dari yang terakhir dia ingat.


Kota bagian timur tampak dipenuhi penduduk.


Di sepanjang jalan dia mendapati orang-orang lalu lalang.


Anak-anak yang sedang bermain bola di halaman.


Mobil-mobil terparkir rapi di depan toko-toko perlengkapan yang baru dibuka.


Kota ini mulai hidup kembali meski di bagian barat masih terlihat sedikit sepi. Hanya apartemen Kie Light yang kini tampak penuh dihuni.


Pemerintah kota kini sudah mulai bergerak. Mereka mulai membenteng pintu masuk Avycon. Memblokir beberapa gedung di sekitarnya dan menutup hal-hal mengerikan dalam gang tersebut yang membuat orang yang memasukinya mati tanpa sebab yang jelas. Sekilas Alley teringat suaminya.


Masihkah dia hidup dalam gang itu?


Mereka bilang Avycon lebih berbahaya dari Kana. Bukan hanya sesuatu mengerikan dan mustahil yang ada dalam gang itu tetapi juga bahaya lain yang mengintai seperti virus yang masing mengontaminasi dan juga gas beracun yang merebak di beberapa bagiannya. Meski begitu, harapan itu masih ada meski tidak sekentara dulu.


Sebelum Alley memarkirkan mobilnya di depan apartemen, sejenak dia melirik ke arah pintu masuk gang Kana. Celah itu sudah diblokir permanen dengan beton setinggi 3 meter.


Alley keluar dari mobilnya dan masuk berdesakkan dengan beberapa orang yang hendak keluar. Lantai dasar apartemen dipenuhi orang-orang. Beberapa terlihat sedang makan di restoran yang kini telah beroperasi.


Eren mengajaknya menuju salah satu meja yang kosong begitu mereka bertemu. Mereka duduk di situ. Sementara Alley mengamati wajah-wajah asing itu, Eren memesan makanan pada seorang pelayan.


"Alley, kau tahu, aku senang. Tahun demi tahun banyak orang mengunjungi kota ini dan mulai tinggal di sini," kata Eren.


Alley tak begitu memperhatikan omongannya. Matanya malah tertuju pada dua orang yang duduk di sebelah mejanya. Dua wanita yang tadi dia lihat di Kana market.


"Ibu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya perempuan muda yang sedang hamil 8 bulan di sebelahnya.


"Ibu juga bingung, Ibu tidak tahu apa lagi yang harus Ibu lakukan untuk mencari Dante dan Rossie," jawab wanita itu.


"Apa kita sebaiknya menemui Suri lagi?"


"Untuk apa kita menemuinya lagi. Bukankah Dante dan Rossie hilang gara-gara dia!" gusar Amy.


"Iya. Tapi, Bu, kita juga salah. Kita telah melanggar aturan yang dia berikan sewaktu di Ozzone."


"Umur Dante baru 10 tahun saat dia hilang. Tidak mungkin dia bisa untuk tidak melanggar aturan yang terlalu sulit itu. Lalu Rossie hilang di labirin itu. Kau memang bodoh, kalian memang bodoh! Bisa-bisanya kalian menuruti penyihir tua itu lagi.


"Sejak awal saat Ibu memintanya menemukan pembunuh suami Ibu, dia tidak sanggup dengan alasan karena Ibu tidak membawa jasadnya. Bagaimana mungkin Ibu bisa membawa jasad yang sudah membusuk di liang lahat ke hadapannya?!" ujar wanita itu berkoceh tak keruan.


Alley masih mencuri dengar perbincangan mereka.


"Tiny, sebaiknya kau pindah dari kota ini. Tinggal dengan Ibu di Javalava."


"Bagaimana dengan Dante? Bagaimana dengan suamiku Rossie? Mereka adalah anak Ibu. Apa Ibu tega membiarkan mereka hilang?"


"Tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Tak akan ada yang bisa membantu kita. Wali kota saja sudah angkat tangan. Dia melarang kita memasuki Ozzone kembali. Jika kita memaksa masuk tanpa Thomas, kita bisa tersesat dan celaka di sana. Sama seperti Rossie dan Dante," ujar Amy.


Tiny mengelus perutnya yang membuncit.


"Anakku mungkin tak akan pernah bisa melihat ayahnya."


"Tenanglah. Masih ada Ibu di sini. Ibu juga merindukan Rossie. Ibu adalah ibunya. Ibu tahu bagaimana rasanya."


Mendadak Alley teringat pada Rafael, Rehan, dan mertuanya. Kini semuanya telah tiada meski dia belum yakin suaminya mati mengingat bahwa dirinya telah mengalami perjalanan dimensi ruang dan waktu di gang Kana—berharap suaminya mengalami hal sama di Avycon. Tapi kini dia tak punya siapa-siapa kecuali tentu saja teman baiknya Eren.


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang.


Alley menyantapnya dengan perasaan sedikit hampa.


***


Alley duduk di sofa, di hadapan dinding kaca yang tepat mengarah ke Avycon Dark Spot yang cukup jauh. Dia duduk sembari membaca buku kota. Membaca bab-bab yang belum sempat dia baca dengan saksama mengenai Ozzone.


Lembar demi lembar buku itu Alley telusuri tetapi dia tidak menemukan apa yang ingin diketahui.


Penyihir itu.


Penyihir yang tinggal di Ozzone.


Penyihir yang katanya bisa menghidupkan orang mati.


Di buku itu tak dijelaskan sedikit pun mengenainya.


Detik ini dia memikirkan banyak hal mengenai sejarah di balik pembangunan kota dan seluruh misteri di dalamnya. Pasti ada maksud tertentu dari semua ini. Mengenai alasan kenapa wali kota menyembunyikan tentang penyihir tersebut.


Hari telah beranjak malam saat Alley terlelap. Dia terbangun dan melihat jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 8. Di balik dinding kaca yang tertutup gorden, tampak gemerlap cahaya. Cahayanya berkelap-kelip. Terlalu aneh jika itu adalah cahaya dari gedung di sebelahnya. Karena penasaran, dia pun berjalan mendekati gorden itu dan mengintip di baliknya. Hal yang Eren larang sejak dia pertama kali menghuni apartemen tersebut. Tapi kali ini, Alley tak peduli. Dia ingin mengetahuinya.


Ada hal mengejutkan di balik kaca itu. Alley melihat sebatang pohon beringin raksasa tepat di daerah yang mereka sebut Avycon. Semua berubah menjadi hutan. Tak ada gedung-gedung kota di baliknya. Ribuan obor menerangi gelapnya hutan. Tampak orang-orang aneh melakukan semacam ritual di antara obor-obor yang berkobar.


Di tengah-tengahnya, terdapat sesosok perempuan cantik. Meski jarak pandang Alley cukup jauh tapi dia bisa dengan jelas memandang paras cantik perempuan itu.


"Alley, apa yang kau lakukan?! Tutup gorden itu!" sergah Eren saat dirinya masuk ke ruangan Alley dan mengejutkannya.


Alley menoleh kaget.


"Apa kau tahu sesuatu mengenai kota ini?" tanya Alley heran dengan semua kejanggalan yang dilihatnya.


Eren terdiam cukup lama sampai akhirnya dia berkata. "Tidak. Aku tidak tahu secara detail mengenai kota ini. Mengenai hal-hal tak masuk akal yang terjadi di kota ini."


"Apa yang terjadi di luar sana? Di Avycon. Apa kau tahu?"


"Alley, apa kau melihat sesuatu di luar sana? Apa yang kau lihat?" tanya Eren tampak gelisah.


"Memangnya ada apa? Kenapa kau tampak takut begitu?"


"Alley, apa kau melihat hutan dan sosok perempuan di luar sana? Apa dia tersenyum padamu?!"


Eren menunjukkan ekspresi khawatir dan gamang yang membuat Alley terheran-heran.


"Ya, aku melihatnya. Aku melihat perempuan itu tapi aku tidak melihatnya tersenyum padaku," jawab Alley.


Eren langsung mengembuskan napas lega. "Alley maafkan aku. Harusnya sejak awal aku bilang padamu mengenai apa yang ada di balik jendela itu. Untung saja aku belum terlambat."


"Ada apa sebenarnya, Eren?"


Eren duduk di sofa.


Alley mengikuti duduk di sampingnya.


"Beberapa orang di apartemen ini ditemukan tewas saat mereka melihat perempuan itu tersenyum ke arah mereka. Termasuk suamiku yang juga tewas karena hal yang sama. Entah bagaimana ceritanya mereka ditemukan tewas di pintu masuk gang Avycon," tutur Eren. "Itu sebabnya dulu aku melarangmu melihatnya tapi aku terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya padamu."


"Lalu, bagaimana dengan yang lain. Penghuni lain apartemen ini. Apa mereka mengetahuinya?" tanya Alley.


"Hanya penghuni lama. Setelah aku melaporkan kasus kehilanganmu ke pihak kepolisian, atas perintah wali kota, mereka menutup semua jendela di apartemen ini yang menghadap wilayah itu secara permanen. Penghuni baru dan warga baru lainnya tak mengetahui hal itu. Begitu pun mengenai gang Kana dan Avycon ataupun Ozzone."


Alley terdiam dalam lamunan. Dalam kebimbangan dan rasa penasaran yang terlampau sangat. Bila dia orang lain, saat ini mungkin dia sudah minggat dari kota misterius ini. Tapi Alley ingin mengetahui kebenarannya dan bagaimana pun juga dia ingin mengetahui keberadaan suaminya meski suaminya meninggal di gang itu—setidaknya dia harap bisa melihat jasadnya—tidak seperti jasad anaknya yang sudah tak akan mungkin bisa dia lihat lagi.


Anaknya kini telah terbaring tinggal tulang di liang kubur itu. Tak ada yang tersisa untuk Alley lihat.

__ADS_1


__ADS_2