
Ruangannya sungguh benderang. Tentu ada hal yang membuat ruangan ini tampak sama seperti 100 tahun lalu selain teknologi canggih yang masih berfungsi di tiap tempat.
"Apa ada jebakan di ruangan ini?" tanya Alley getir.
"Tenang saja. Di sini aman."
Alley mengedarkan pandangan ke arah rak-rak etalase yang dipenuhi beragam jenis senjata. Etalase-etalase tersebut berendeng rapi di sepanjang ruangan bercahaya neon.
Dia berjalan mendekati sebuah etalase di depannya sedangkan Thomas mendekati lemari kaca yang menarik perhatian di sisi ruangan.
"Ambilah sebuah senjata, kita harus bisa melindungi diri. Kita tak akan pernah tahu ada apa lagi di tempat ini. Sepertinya butuh waktu bagi kita untuk bisa keluar," kata Thomas menghancurkan lemari kaca dan mengambil dua buah rompi. Dia lemparkan salah satunya pada Alley. "Masukkan peluru ke saku rompi itu sebanyak yang kau bisa."
Alley mengenakan rompi anti peluru tersebut dan memperhatikan satu-satu pistol yang ada di dalam etalase. Beretta, walter, mark 23, heckler and Koch USP. Nama-nama pistol itu tertulis di depannya. Beberapa senjata di etalase lain terlihat aneh dengan dilengkapi tabung-tabung kecil yang penuh dengan cairan dan peluru berjarum suntik.
Alley yang penasaran hendak mengambilnya dari pintu kaca yang terbuka.
"Kuharap kau tak menyentuhnya. Itu adalah senjata biologis, virus mematikan yang menyebabkan kematian semua orang," kata Thomas menghancurkan etalase lain yang terkunci.
Dia mengambil sebuah Shotgun dan pistol. Mengantongi berkotak-kotak sel peluru dan magasin di saku rompi anti pelurunya.
Alley masih memperhatikan senjata-senjata tersebut. Bimbang untuk memilih salah satunya karena dia sama sekali belum pernah menggunakan senjata api. Dia ambil sebuah Magnum Revolver. Senjata yang menurutnya kuat. Dia kantongi berkotak-kotak pelurunya. Sebuah senter kecil dia temukan dari salah satu laci dan tak lupa dia kantongi. Ada sebuah golok di etalase. Dia ambil sebagai senjata utama. Revolver itu hanya digunakan saat dirinya terdesak. Golok itu sungguh ringan. Dia belitkan kantong golok itu dipinggangnya.
Thomas melirik jam di tangannya. Waktu mendekati tengah malam. Sebuah sirine kembali mengumandang saat Hell Time mulai terjadi lagi.
"Asisten penyihir itu sepertinya ingin membunuh kita di sini?"
"Mungkinkah Hell Time hanya sebuah alasan. Penyebabnya adalah sirine itu. Itulah yang menyebabkan Hell Time. Jika sirine itu tak berbunyi, mungkinkah Hell Time tak terjadi?" pikir Alley.
"Aku tidak tahu."
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Ke lantai satu. Kita harus keluar dari gedung Sentral," kata Thomas.
"Bagaimana dengan anak-anak Nyonya Amy?" tanya Alley.
Sebelum Amy mati, dia sempat memintanya untuk menemukan anak-anaknya. Hal itu tentunya membuat Alley sedikit bimbang dengan apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Alley, tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Kita bisa mati jika kita terus berada di sini. Kita harus segera keluar secepatnya."
Thomas membuka pintu baja. Banyak daging-daging berserakan memenuhi lorong kematian itu. Untunglah para monster itu tak kembali bangkit saat Hell Time tiba.
Ada tumpukan tubuh Amy yang tercincang di situ. Alley memaling muka, tak ingin melihatnya lebih lama.
"Kita harus melewati lorong ini lagi. Tak ada jalan lain untuk keluar dari sini," kata Thomas mengantongi pistolnya dan mengalungkan Shotgunnya. "Kita lakukan bersama-sama!" kata Thomas menggenggam lengan Alley.
Mereka akhirnya berlari berusaha menghindari lempengan besi yang muncul dari berbagai sisi. Lempengan besi itu mekar seperti kipas dan berputar hendak menebas dari atas.
Mereka merunduk, besi lain muncul dari belakang dan melayang hendak mencincang.
Peluru-peluru memberondong dari dinding lorong.
"Merunduk!" teriak Thomas saat sebuah piring tajam berputar-putar di udara.
Mereka berlari melompati bongkahan daging-daging monster yang tercincang.
"Berhenti!"
Di hadapan mereka jaring laser itu muncul. Mereka hendak berbalik tapi jaring yang sama tercipta, mengurung mereka berdua di dalam lorong itu.
"Kita akan mati di sini Thomas!" Alley histeris.
Kedua jaring laser itu melesat mendekat.
"Diam! Tenang!" perintah Thomas. "Jangan bergerak!" laser itu mendadak mulai bergerak melambat begitu saja.
"Lorong ini dilengkapi sensor gerak," kata Thomas baru menyadari.
Mereka berdiri, mematung diri, dan berharap tak mati. Tak berapa lama kemudian laser itu menghilang. Jika sejak awal dia menyadari hal itu mungkin Amy masih bisa selamat.
"Siap?" tanya Thomas.
Alley mengangguk pasti. Mereka berlari mencapai ujung. Helaian rambut Alley terpotong saat dua buah pedang dan segaris laser hampir membelah tubuh mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Thomas.
Alley menggeleng.
Mereka berjalan cepat ke arah barat. Melewati lorong-lorong yang kelam. Dari sudut jauh terdengar sayup-sayup aneh di antara suara sirine yang meraung-raung memecah keheningan malam, membawa kegelapan ke dalam suasana kelam nan mencekam.
Lantai di hadapan mereka terbelah dan dinding-dindingnya retak saat mereka tiba di ujung lorong. Tampak sebuah pintu bertuliskan West Ring Gate. Tapi pintu itu terkunci dan hanya bisa dibuka saat sistem keamanan direset ulang.
Suara-suara terdengar dari segala penjuru—menggema. Terdengar suara auman monster di sana. Dari berbagai penjuru lorong, terlihat pula banyak sosok-sosok hitam bermunculan. Berdiri di sepanjang koridor—arwah-arwah gentayangan yang tewas terbakar.
Beberapa sosok hitam itu muncul mendekati Alley dan Thomas. Mereka dapat menembus tubuh tapi ada perasaan sakit saat mereka menembus tubuh masing-masing.
Mereka berlari menghindari hantu-hantu yang berusaha masuk ke dalam tubuh mereka. Saat mereka menolak, mereka merasakan rasa sakit dan terpental-pental.
Alley terpental ke belakang. Lantai retak yang dipijaknya tiba-tiba ambruk membawa serta dirinya ke lantai dasar.
"Alley!" pekik Thomas.
"Aku tidak apa-apa!" balas Alley sembari menahan punggungnya yang sakit dan pergelangan kakinya yang keseleo.
Alley mulai bangkit tapi hantu-hantu itu berusaha menguasai tubuhnya. Membuatnya menggelinjang menolak apa yang hendak merasukinya.
Hal yang sama Thomas rasakan. Sungguh tak kuat rasanya menerima siksaan rasa sakit itu.
Makhluk itu tak bisa Alley musnahkan. Dia berusaha berlari menjauhi arwah-arwah gentayangan yang terus mencoba masuk ke dalam tubuhnya. Rasanya seperti terkena serangan jantung tiap kali sosok itu menembus tubuh.
Dia terus berlari menuju lorong-lorong pengap yang lebih gelap dan berbau tak sedap.
Alley menabrak sebuah pintu. Dia nyalakan senter yang dia bawa dan melihat plat bertuliskan Labirin Dokien. Pintu itu terkunci saat dia coba buka. Dia tembak dengan senjata Magnum yang dipegangnya. Tapi kuatnya peluru itu tak sanggup menembus baja pengamanan gedung. Peluru itu memantul dan melesat ke samping. Menembus arwah-arwah yang mulai mendekatinya.
Alley mengeluarkan golok titanium dari pinggangnya. Memasukannnya ke celah pintu yang sedikit menganga. Dia terus mencolok celah itu dan berharap pintunya terbuka.
"Argh! Sialan!" geramnya dengan sekuat tenaga.
Mendadak pintu itu terbuka saat listrik memercik di celahnya. Dia pun masuk ke dalam dan menutupnya. Entah kenapa hantu-hantu itu tidak bisa masuk ke dalam seolah ada suatu energi yang menyegel tempat tersebut.
__ADS_1
Alley tidak tahu mengenai keberadaan Thomas. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah dengan masuk ke labirin tersebut. Dia pernah mendengar tentang labirin itu dari Amy. Anaknya—Rossie—menghilang di sini saat Suri menyuruhnya memasukinya agar bisa menemukan Dante.
Alley mulai menapaki labirin. Labirin yang memiliki banyak cabang dan ruangan. Di setiap ruangan terdapat layar-layar kamera cctv. Di ruangan lain ada pula pengontrol pintu. Beberapa ruangan lain terkunci.
Alley berjalan di antara gelapnya lorong dan pengapnya udara. Bau-bau aneh tercium. Kadang di salah satu sudutnya tercium bau parfum Perancis, di sudut lainnya tercium bau danur, bau hangus dan bau gas. Dia berharap bahwa itu bukanlah gas beracun.
Alley terus berjalan mengelilingi labirin tapi akhirnya dia tersesat di dalamnya. Meski begitu, dia mencoba mengingat. Di lorong-lorong itu terdengar suara-suara yang membuat bulu kuduknya meremang. Lorong-lorong itu makin jauh makin terasa lembab, kotor, dan bau. Dan mungkin ribuan virus menghuni beberapa ruangan yang tertutup.
"Halo!" teriak Alley sekeras mungkin.
Suaranya menggema—memantul dari satu lorong ke lorong lainnya.
"Alley!" pekik seseorang dari sudut jauh.
"Tiny?"
Suara desisan terdengar dari sudut sebelah kanan. Dari lorong sebelah kiri dia dapat pula mendengar langkah kaki bergerombol hendak mendekat di antara tetesan air.
Alley berjalan lebih cepat, menyadari bahwa bahaya kian mendekat.
Dengan senter kecil yang dibawanya, Alley memperhatikan papan nama perempatan labirin tersebut. Tapi, segalanya begitu janggal. Papan nama itu terpasang secara acak. Di perempatan pertama, dia mendapati berada di lorong A210, tapi di depan, perempatan itu bertuliskan D414. Hal yang membuatnya makin pusing. Meski begitu dia terus berusaha berjalan lurus ke arah yang dianggapnya barat.
Lantai yang diinjaknya tiba-tiba basah.
Alley arahkan senternya ke bawah.
Cairan darah mengalir dari dari lubang kunci di pintu kiri.
Berbau busuk.
Alley melewatinya dan terus berjalan ke depan. Terasa aura yang sangat ganas saat dia mulai melewati lorong kumuh dengan jeruji besi yang berkarat.
Dia arahkan cahaya itu ke dalamnya. Ada sesuatu dalam jeruji itu. Mayat-mayat dengan setengah badan terbungkus kain kafan.
"Alley!" teriak Tiny.
Suaranya menggema.
Terdengar dekat tapi Alley tak tahu keberadaannya dengan pasti.
Alley menajamkan pendengarannya. Tak jauh lagi. Suaraya berasal dari sebelah kanan.
Dia segera berlari menuju suara itu. Membuka pintunya dan berjalan di atas lantai baja yang menggantung di tengah kolam hitam pekat dengan bau busuk yang menyengat.
Alley melirik ke dinding, banyak sekali lubang udara dengan kipas yang berputar kencang. Dia mempercepat langkahnya. Masuk ke dalam pintu lain. Di dalamnya terlihat seperti rumah jagal. Lampu-lampu pijar menerangi ruangan yang penuh dengan potongan daging manusia, berhamburan tercabik-cabik tak keruan. Tampak ratusan kepala terpenggal dan organ tubuh yang terburai memenuhi lantai. Tapi anehnya, ruangan itu terlihat baru dan potongan tubuh manusia yang tampak segar meski bau busuk menyebar dengan kentara.
Alley mendapati Tiny di sana.
Terbujur di antara tumpukan mayat yang menggunung dan kipas yang mengoyak bagian pinggang hingga kakinya.
"Tiny!" pekik Alley.
Dia mendekati tumpukan mayat itu sembari menutup mulutnya, menahan mual, tak sanggup melihat Tiny yang tergeletak dengan seluruh kaki yang tercabik dan buntung. Bahkan perutnya yang sedang hamil terkoyak. Darah membanjiri tapi hal itu tak membuat Tiny mati.
Alley merangkulnya.
Menggenggam lengannya.
"Alley, mana ibuku?" tanya Tiny dengan wajah pucat. Sekarat bak hendak bertemu ajal.
Alley menggeleng tak sanggup mengatakan kebenaran.
Tiny tiba-tiba mengerang kesakitan tapi bukan karena kehilangan setengah tubuhnya, melainkan karena perutnya. Seperti ada yang hendak keluar dari perutnya yang terkoyak itu. Dia menangis, tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Dia merasa lebih baik mati tapi dia tak juga mati dan tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi.
"Alley, keluarkan makhluk itu dari perutku!" pinta Tiny tersengal.
Alley linglung melirik perut hamil Tiny yang semakin membesar seolah hendak meledak. Usus-usus Tiny terburai dari bagian perut bawahnya yang menganga.
"Makhuk itu telah membunuh anakku! Dia mau menguasai tubuh anakku!" Tiny mengerang. "Alley! Keluarkan makhluk itu! Aku sudah tak kuat lagi!"
Alley memegang goloknya. Meski ragu, dia harus melakukannya.
Dia menyayat perut Tiny dengan goloknya. Berusaha menghentikan penderitaan yang dialaminya.
Ada suara melengking dari dalam perutnya saat Alley sayat dan kemudian sesosok tangan kecil serupa arang menyeruak. Tangan makhluk itu berselaput cakar dan kepalanya muncul dengan mata semerah darah.
"Bunuh Alley! Bunuh makhluk itu!"
Iblis kecil itu menyeringai dan melengking ke arah Alley.
Alley mengarahkan Magnumnya ke arah kepala makhluk hitam itu.
Menembaknya.
Seketika, semuanya hening.
Tiny yang sedari tadi menjerit kemudian bergeming dengan mata terbelalak memandang sesosok pria yang berdiri di belakang Alley.
"Sayang ...," kata Tiny sebelum akhirnya dia mengembuskan napas terakhir.
Alley menoleh ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?!" sergah pria itu.
Sebelum sempat Alley melihat wajahnya, sebuah hantaman keras mendarat di kepala Alley.
Alley terbanting ke samping.
Senjata yang digenggamnya terlepas.
"Tidak! Tidak! Istriku!"
Pria itu memeluk istrinya erat sembari menangis menjadi-jadi.
Alley berusaha bangkit. Pukulan itu hampir saja membuatnya pingsan.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?! Kau telah membunuhnya!" sembur pria dengan wajah lusuh.
Pria itu mengambil Magnum yang tergeletak dan mengarahkannya ke tubuh Alley.
__ADS_1
"Rossie, dengarkan aku!" pinta Alley.
Pria itu menembaknya.
Alley terpental ke belakang.
Tubuhnya mendarat di atas tumpukan kepala.
Pria itu—Rossie—meraung-raung histeris.
"Sayang, apa yang telah terjadi?!"
Rossie menggila dan tak bisa menerima. Dirinya telah terkurung di labirin itu selama ini tapi di saat dia bertemu istrinya, dia harus melihatnya mati secara mengenaskan.
Alley terbatuk. Menahan rasa sakit. Peluru itu tak menembus tubuhnya. Rompi anti peluru itu berhasil melindunginya.
"Lihat perut istrimu, Rossie! Ada iblis di dalamnya," kata Alley terengah-engah.
Rossie melihat perut istrinya. Ada seonggok mayat hitam dengan mata senyala api terkulai di belahan perutnya yang menganga lebar.
"Apa? Apa yang terjadi padanya?!" tanya Rossie panik.
Alley berusaha bangkit dan mendekatinya.
"Ibumu membunuh Suri. Kita terperangkap di gedung ini. Istrimu terisap lubang udara dan tiba di sini. Sedangkan ibumu telah mati!" kata Alley. "Sebelum ibumu pergi, dia menyuruhku untuk menemukanmu dan adikmu kemudian keluar dari sini," imbuhnya seraya mengambil golok dan mengantonginya.
"Apa?!"
Rossie masih terlihat panik dan histeris.
"Sudah tak ada waktu lagi. Aku sudah lelah. Aku ingin keluar dari Ozzone," ucapnya menahan sakit di perut dan kepalanya yang basah oleh darahnya yang tercampur dengan darah mayat-mayat itu.
Alley bergerak meraih tangan Rossie. Mengambil Magnum yang tergenggam di tangannya sembari menyeretnya bangkit berdiri.
"Ayo ...."
"Tidak! Aku tak ingin meninggalkan istriku!"
"Ya sudah, terserah kau saja!" kata Alley tak mau ambil pusing.
Dengan pandangan kabur dia terseok mendekati pintu keluar.
Alley kembali melewati jembatan di kolam itu.
Mendadak jembatannya roboh.
Sebagian jembatan tercebur ke dalam kolam.
Alley berpegangan pada birai. Dirinya terkejut saat jembatan itu meleleh dalam kolam hitam. Kolam itu berisi cairan asam berbahaya. Jembatan semakin rubuh dan Alley mulai terlepas dari pegangan besi yang berkarat.
"Tolong!"
Ada suara langkah yang mendekat. Para Martir bermunculan menyesaki jembatan, hendak memangsa Alley. Tubuh mereka menambah beban berat jembatan. Beberapa Martir tercebur ke dalam cairan kimia. Kulit mereka rontok seketika dan langsung menjadi tengkorak. Meski begitu, tengkorak itu belum lenyap, berusaha memanjat jembatan yang amblas, hendak meraih kaki Alley.
Rossie memanjat sebuah pipa besi yang melintang dekat jembatan tersebut.
"Rossie, tolong aku!" pinta Alley tersengal sembari menendang tengkorak yang tak menyerah.
Rossie tampak ragu. Seraut kekesalan akan ketidakjelasan semuanya membuatnya bimbang. Tapi akhirnya, dia mengulurkan lengan, berusaha menggapai Alley.
Alley mengulurkan sebelah lengannya, tapi tak sampai. Jaraknya hanya satu senti dari jemari Rossie.
"Kau harus loncat! Raih tanganku!" perintah Rossie.
Alley ragu, jika dia gagal, dia bakal langsung mati. Tapi tak ada waktu lagi, cairan itu mulai merayap melenyapkan besi jembatan dan membuatnya makin terperosok. Sebelah kaki Alley dia pijakkan di atas besi yang mencuat kemudian dia melompat meraih lengan Rossie dan mencengkeramnya dengan erat.
Rossie membantunya berdiri di atas pipa dan mereka berjalan perlahan menuju seberang.
"Kenapa mereka semua bisa sampai ke sini?" heran Rossie.
"Terjadi kekacauan di ruang ritual. Sebelum mati, penyihir itu mengutuk tempat ini, mengurung kami di sini dan mengatakan bahwa kami semua akan mati," ujar Alley. "Sebaiknya kita segera keluar dari sini!"
"Tidak bisa. Kita tidak akan bisa keluar," kata Rossie.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau ingat jalan untuk sampai ke sini?"
"Kita cari! Aku sedikit lupa tapi kita pasti bisa keluar."
Rossie menggeleng. "Percuma, labirin ini penuh dengan jebakan. Setiap lorong yang kau lewati secara tak langsung mengubah lokasi lorong lainnya. Labirin ini terus berubah. Satu-satunya cara keluar adalah mengatur ulang sistem keamanan di Reset Room, itu yang tertulis dalam buku manual yang kutemukan di salah satu ruangan. Tapi itu tak akan berhasil. Butuh kode untuk masuk ke sana. Aku telah mencobanya dan tak berhasil. Setiap kesalahan kode akan berakibat fatal. Salah satunya bisa membuat labirin ini menyesatkan dan membuka ruangan-ruangan berbahaya. Sudah lama aku tidak bisa keluar dari sini."
"Antar aku ke ruangan itu. Setidaknya aku harus mencobanya."
Rossie terdiam sesaat tapi akhirnya menganggukkan kepala. Dia membawa Alley melewati lorong-lorong kelam kembali, tapi kali ini, para Martir menghadang mereka seiring dengan suara sirine Hell Time yang tak juga berhenti berkumandang.
Mereka berlari berkelak-kelok, berputar naik turun tangga menuju ke kedalaman bumi, hingga akhirnya tiba di hadapan satu pintu berwarna merah marun. Pintu sama yang pernah dia lihat sebelumnya di gang Kana. Bahkan di atas pintu itu terpasang sebuah lampu neon bertuliskan kata EXIT.
Di depan pintu itu ada sebuah logo dan sederet alfabet.
"Butuh dua cara untuk masuk. Menempatkan posisi logo itu dan memasukkan kata sandi," kata Rossie selagi berjaga memperhatikan keadaan.
Alley ingat dengan logo tersebut. Logo perusahaan Kie Light. Berbentuk bintang hitam dalam matahari merah yang berkobar. Tapi, letak penempatannya sedikit aneh. Alley memutar kenop bintang hitam itu pada posisi tegak lurus dan memutar kenop matahari merah itu pada posisi miring hingga ukiran matahari yang meliuk bagai keris itu berada di depan jarak kosong bintang hitam.
Kemudian tangannya bergerak ke arah papan alfabet. Hanya satu kata yag dia ingat di buku kota. Logo itu di sebut Twilight Star In Sun atau TWISIS.
Dia menulis kata Twisis, kemudian pintu bergetar dan terbuka ke samping. Di dalamnya hanya ruangan kecil dengan sebuah tuas di tengah dan sebuah layar berpapan tombol sandi.
"Bagaimana kau bisa tahu? Aku telah mencobanya ratusan kali tapi gagal," kata Rossie tak percaya.
Alley hanya diam tak menanggapi dan mendekat ke tengah ruangan hendak menarik tuas tersebut.
"Saat tuas ditarik, semua pintu yang terkunci akan terbuka. Kau harus mengubah kata sandi agar pintu-pintu itu bisa kau kunci secara manual," kata Rossie.
Alley mengangguk, dia menarik tuas itu dan menulis kata sandi baru dalam layarnya.
Tiba-tiba terjadi getaran hebat. Ruangan ini bergerak ke atas. Berputar ke kiri dan pintunya terbuka menghadap sebuah lorong lain. Lorong menuju pintu keluar.
"Kita harus pergi! Cepat!"
__ADS_1
Meski sirine Hell Time telah berakhir, ada sesuatu yang membuat mereka cemas di depan sana. Sesuatu itu sedang berdiri di tengah lorong. Orang-orang yang berdiri dengan setengah tubuh terbungkus kain kafan kumal.