Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Cielo


__ADS_3

Lurid City, 10 Juni 2006.


Blok Cielo terletak di tengah-tengah kota. Di blok ini terdapat taman hiburan Cielo Theme Park dan beberapa hotel, restoran, serta toko-toko bernama Cielo. Alley mengetahuinya menurut buku kota yang dia baca, bahwa Cielo yang berarti surga adalah nama awal kota ini—Cielo City, kota Surga.


Pemerintah menyebutnya demikian karena kota ini terletak di dalam kawah pegunungan batu—Grand Cliff yang mengelilinginya—menyembunyikan kota ini dari dunia luar.


Sebagai kota rahasia, pesawat terbang pun dilarang melintasi Lurid City. Dan sesungguhnya, kota ini adalah kota yang indah. Pemandangan matahari terbenam di puncak Grand Cliff adalah hal yang menakjubkan jika saja tragedi kebocoran itu tak pernah terjadi dan menjadikan kota ini seram yang penuh dengan misteri dan sejarah masa lalu yang kelam. Tragedi tersebutlah yang menyebabkan orang-orang merasa takut dan menjadikannya sebagai kota seram Lurid City.


Penggantian nama kota ini pun terjadi setelah 50 tahun paska ditutupnya Cielo City. Itu pun dinamai oleh seorang pendaki tebing yang tak sengaja menemukan kota rahasia di balik Grand Cliff. Dia memotretnya dan memublikasikan foto kota mati tersebut ke seantero negeri, sehingga semua orang tahu keberadaannya. Maka dengan terpaksa saat itu juga pemerintah menguak fakta mengenai kota ini pada publik.


Banyak kecaman dari warga saat pemerintah mengumumkan bahwa ada lebih dari satu juta orang yang mati oleh kebocoran gas dan virus. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka semua perlahan melupakan kabar mengenai kota tersebut sebab masyarakat pun tak paham betul dengan sejarah kota apalagi Grand Cliff dijaga ketat sejak hari itu. Dan pendaki tersebut hilang tanpa jejak yang menyebabkan orang-orang tak berani mendekat mengingat ada konspirasi terselubung yang dilakukan pemerintah.


Saat Presiden Ke-6 memimpin Indo. Lurid City dibuka bersama rahasianya yang perlahan terbongkar. Tapi tetap saja meski beberapa rahasia kota telah terkuak, masih ada seribu rahasia yang belum terungkap maupun tak pernah dipublikasikan pemerintah.


Pelelangan yang dilakukan wali kota Rendown atas pemerintah pusat mendapat tanggapan positif dari kalangan masyarakat. Tepat di hari ini, pelelangan gedung itu dimulai dan dilangsungkan di Cielo Theme Park, taman hiburan yang juga disebut sebagai Liver Of Lurid City.


Masyarakat dari luar kota baik itu pengusaha, pejabat, pegawai, maupun orang-orang biasa berbondong-bondong mengikuti pelelangan kota. Tak kurang dari 50 ribu orang telah mendaftar sebagai peserta lelang, dan mereka semua sudah berada di halaman depan Cielo Theme Park.


Alley tak merasa tertarik dengan tawaran wali kota tempo lalu mengenai bangunan gratis itu. Tapi dirinya penasaran dengan langkah apa yang akan dilakukan wali kota demi menghidupkan kembali kota tersebut.


Alley tak ingin menerima uang tutup mulut itu dari wali kota. Dirinya bersikeras ingin menyelidiki gang Avycon dan mencari tahu kebenaran.


Dengan mengenakan pakaian formal, sehelai jas putih dan rok selutut, Alley pergi ke pelelangan tersebut. Dia ingin melihat kebohongan apa yang akan dilakukan wali kota demi membuat kota mati ini terisi penuh.


"Bu, mau ke mana?" tanya Rafael.


"Ada pekerjaan yang harus Ibu lakukan," jawab Alley seraya berjongkok menatap wajah anaknya.


"Apa Ibu mau mencari Ayah lagi? Aku ikut, Bu. Aku juga ingin mencari Ayah," anaknya berkata dengan berwajah murung.


Alley menggeleng. "Tidak, Nak. Kali ini, Ibu bukan mau mencari Ayah. Ibu mau mencari pekerjaan. Ibu harus punya uang agar bisa mencari Ayah."


Alley pun sebenarnya ragu dengan ucapannya sendiri. Entah hal itu benar atau tidak. Jika dia bisa menyuap beberapa pihak, mungkin dirinya bisa mendapat bantuan untuk menemukan suaminya di gang Avycon.


"Kau tunggulah di sini bersama Kak Eren. Bermainlah dengan anak-anak lain, nanti sore Ibu pulang," kata Alley sembari mencium kening anaknya.


Rafael hanya mengangguk menuruti perkataannya.


Alley melajukan sedan putih itu.


Meninggalkan anaknya yang sedang bermain dengan anak-anak lainnya di parkiran apartemen.


Dilajukan mobilnya ke Cielo Theme Park di blok C yang letaknya 6 km dari apartemen Kie Light.


Pagi itu jalanan begitu ramai. Tak seperti biasanya. Dirinya harus bersusah payah mencari lokasi parkir berdesak-desakan dengan ribuan kendaraan lainnya.


Pelelangan telah dimulai di beberapa titik lokasi saat Alley tiba. Cielo Theme Park adalah bangunan pertama yang dilelang dan itu dimenangkan oleh seorang pengusaha kaya raya.


Alley berdiri di salah satu titik lokasi pelelangan sembari mendengar pidato wali kota dan beberapa pihak pemerintah pusat yang hadir di atas panggung itu. Dia memperhatikan kembali katalog bangunan yang dilelang. Dugaannya benar, Avycon dan Ozzone tak ikut disertakan dalam lelang.


"Bangunan selanjutnya yang dilelang adalah Hotel Cielo, harga dibuka dengan seratus juta," sahut wali kota yang memandu pelelangan di titik lokasi tersebut.


Dia menunjukkan gambar hotel tersebut dalam layar proyektor.


Alley memperhatikan sepuluh orang yang duduk di balik meja di panggung itu. Beberapa mengenakan jas putih mirip ilmuwan atau dokter. Beberapa lainnya berpakaian serba hitam tampak seperti agen rahasia pemerintah. Di dada baju mereka tersampir pin bergambar bintang hitam dalam matahari merah. Dia tahu itu adalah logo perusahaan raksasa KIE LIGHT CORPORATION. Induk perusahaan yang bertanggung jawab atas pembangunan kota dan menguasai Ozzone sepenuhnya.


Alley mencium kebusukan yang hendak mereka lakukan. Entah kenapa dia merasa bahwa mereka hendak menghidupkan Ozzone kembali saat seisi kota dipadati penduduk.


Alley bosan dan kecewa melihat apa yang dilakukan wali kota dan antek-anteknya. Mereka tak menyampaikan hal-hal buruk mengenai kota ini. Mereka bahkan tak menyinggung soal aturan-aturan kota dan wilayah terlarang serta berbahaya seperti yang mereka tulis di buku kota.


Sebenarnya rencana apa yang hendak mereka lakukan?


Alley beranjak dari acara itu dan pergi berkeliling mengamati taman hiburan. Dia berjalan ke dalam, melihat wahana-wahana permainan yang tua dan berkarat memenuhi setiap sudut taman yang tak terawat. Kondisinya sungguh miris, semuanya tampak seperti pernah mengalami bencana nuklir Cernobyl.


Suasana lokasi Alley berpijak sungguh sepi.


Semua orang fokus mengikuti lelang.

__ADS_1


Dari kejauhan samar-samar dia melihat seorang anak kecil.


"Hei!" panggil Alley.


Anak itu malah kaur ketika dia mendekatinya.


"Nak, apa yang kau lakukan di sini? Di mana orangtuamu?" tanya Alley berlari mendekati anak itu.


Dia berhasil memegang pundaknya, mencoba membalikkan anak itu untuk melihat wajahnya.


"Kana! Kana!" kata anak itu sedikit berteriak lalu berlari menjauh.


Alley ingat betul suara itu.


Rafael, itu suara anaknya.


"Raf! Rafael!" teriaknya memanggil anak itu yang memasuki sebuah bangunan.


Di pintu masuk bangunan itu tertulis 'Lorong Tanpa Batas'.


Alley masuk ke dalam.


Ada sebuah lorong labirin yang terbuat dari cermin. Dinding kiri dan kanan, atap, dan lantai semuanya dilapisi cermin. Dia dapat melihat pantulan wujudnya yang banyak di setiap sisi cermin itu. Dan dia baru menyadari, kini tubuhnya tampak begitu kurus.


"Raf! Rafael! Di mana kau? Dengan siapa kau kemari?"


Alley memasuki lorong cermin itu sembari terus memanggilnya. Matanya terus memandang ke setiap sisi. Membuatnya terkena vertigo akibat pantulan dirinya sendiri.


Alley melihat anak itu di cermin.


Wujudnya terpantul-pantul menjadi ratusan, dia tidak tahu berada di mana anak itu. Anak itu hanya berdiri membelakangi dan tak menunjukkan wajahnya.


"Nak! Rafael! Kemarilah, apa yang kau lakukan di sini!"


"Kana! Kana!" kata anak itu.


Memantul dari satu sudut ke sudut yang lain.


"Kana? Kana apa maksudmu?" heran Alley sembari terus berjalan mencari wujud asli sosok yang dia pikir anaknya.


Dia diam di tempat.


Mengedar pandangan ke segala arah.


Bayang-bayangnya ikut bergerak memutar di kala dirinya melirik ke segala sudut.


Ada hal yang aneh di situ.


Ada satu bayangan di cermin itu yang tak mengikuti gerak tubuhnya.


Dia terheran-heran sekaligus ngeri.


Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Kana! Kana! Kana, Kakak!" Suara anak itu kembali menggema dan tiba-tiba saja sosok anak itu muncul di samping bayangan tubuh Alley yang tak bergerak dalam cermin.


"Rafael, apa itu kau?"


Sosok anak itu memegang lengan bayangannya dan sekonyong-konyong semua bayangan Alley yang lainnya tampak serupa.


Ada anak kecil yang memegangi lengannya.


Saat dia menoleh ke kanan, secara ajaib anak itu telah berada di sampingnya, menggenggam lengannya dengan begitu erat.


Alley sontak kaget. Tapi dia langsung berjongkok hendak melihat wajah anak itu seolah kejadian ajaib barusan bukan sesuatu yang harus ditakutkan.


"Siapa kau?" tanya Alley melihat wajah anak itu yang tampak pucat pasi.

__ADS_1


Itu bukanlah anaknya.


"Margin," jawabnya pelan. Memandang Alley dengan tatapan kosong.


"Margin? Margin, di mana orangtuamu?"


Margin menggeleng.


"Pasti mereka sedang mengikuti lelang. Ayo kita kembali, ibumu pasti khawatir."


Margin yang bergeming mendadak melotot dan berkata, "Lari! Pergi dari kota ini! Anakmu dalam bahaya!"


"Apa?"


Mendadak wajah anak itu berubah begitu saja.


Matanya seolah ditetesi tinta yang menyebar, membuatnya hitam semua.


Dan giginya meruncing bak ikan piranha.


Alley terkesiap.


Dengan reflek menjauhkan diri ke belakang.


Tapi, anak itu mencengkeram lengannya dengan erat.


"Kakak, tolong aku! Aku takut sendirian!" kata Margin yang wajahnya kini berubah bentuk mirip Kappa.


"Tidak! Tidak! Lepaskan Aku!"


Alley berontak menarik lengan dari genggamannya.


Anak itu langsung lenyap begitu saja.


Alley mencoba menenangkan diri. Mengatur napas dan mengamati keadaan. Dia sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi.


Anak itu, siapa dia?


"Rafael!" Alley mendadak teringat anaknya. Muncul rasa kekhawatiran, dia keluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Eren untuk mengetahui kabar anaknya. Tapi, telepon itu tak tersambung. Dia lalu berusaha mencari jalan keluar dari ruangan cermin yang membingungkan dirinya.


Tampak sesuatu muncul sekelebat di cermin itu saat lampu yang tergantung di langit-langit mulai berkelip.


Alley tak ingin sedikit pun meliriknya.


Tak ingin mencari tahu apa itu.


Yang jelas, itu bukanlah bayangan anjing.


Entah makhluk apa itu.


Alley kembali bergeming. Dirinya mulai dilanda kepanikan karena tak bisa menemukan jalan keluar. Semua lorong tampak sama. Lorong tanpa batas. Dan dia merasa hanya berputar-putar di dalamnya.


Alley mengambil gincu merah dalam tasnya, mencoba mencari akal. Dia goreskan gincu itu di dinding cermin. Menandainya agar dia tidak kembali melewati lorong yang sama.


Dia pun berjalan menyusuri lorong itu satu per satu. Berbelok ke arah lain saat dia mendapati tanda merah yang dia torehkan. Akhirnya, dia menemukan sebuah pintu bertuliskan kata 'Exit' di hadapannya.


Dia buka pintu itu tapi anehnya malah tiba di parkiran.


Alley menoleh ke belakang. Lorong cermin tadi berubah jadi gudang tua. Sungguh hal yang tidak masuk akal. Begitu pula halnya dengan tempat parkir tersebut, orang-orang peserta lelang itu mulai meninggalkan Cielo Theme Park saat matahari tengah berada di tepi barat.


Dia melihat jam tangannya.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore.


Dia ingat dirinya tak selama itu di dalam ruang cermin.


Tanda tanya kian merasuk di pikirannya.

__ADS_1


Kejanggalan mulai dia alami di kota ini satu per satu.


__ADS_2