Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Kenyataan


__ADS_3

Alley berencana menemui wali kota kembali. Berharap mendapatkan sebuah pekerjaan di sana. Kini, dirinya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tak ada yang bisa dia lakukan selain terus hidup dan menunggu sebuah keajaiban datang. Misalnya suaminya selamat dan mereka berkumpul kembali meski tanpa kehadiran Rafael. Tapi Alley tak mungkin bisa hidup dalam angan-angan semu. Dirinya kini makin pasti tentang bahaya di gang Avycon tersebut. Orang-orang mulai membicarakannya saat pemerintah mencoba membenteng jalan menuju gang Avycon. Pemerintah sudah hampir selesai membangun benteng tersebut. Hanya menyisakan sebuah pintu baja yang dijaga ketat oleh wanita tua kepercayaan wali kota.


Alley akhirnya sampai di Kana market. Dia langsung menemui wali kota. Ada seorang pria di ruangannya-Officer Lurid City Police Department.


Alley belum sempat masuk. Dia ingin menguping percakapan mereka yang terdengar cukup mencurigakan.


"Thomas, apa kau gila?! Kali ini dia benar-benar kelewatan. Dia hampir melanggar aturan sakral di Ozzone. Kau tahu sendiri itu sangatlah berbahaya!" bentak wali kota pada pria itu.


"Tapi, Pak, anaknya sedang hamil. Apa kita harus terus mengurungnya?" tanya Thomas.


"Mereka hampir membahayakan bukan hanya nyawa mereka sendiri tapi juga nyawa semua orang yang ada di kota ini," kata Rendown. "Kau tahu dengan pasti apa yang ada di dalam Ozzone."


"Apa kita tidak bisa membantu Nyonya Amy sama sekali? Mungkin kita bisa melakukan pencarian di sana," saran Thomas.


"Hentikanlah! Ini tidak akan berhasil! Aku memang wali kota tapi aku tidak punya hak atas Ozzone. Madam Suri juru kunci tempat itu. Hanya dia yang bisa menemukan kedua anak Nyonya Amy. Jika dia tidak bisa menemukannya, tak ada satu pun orang dari kita yang bisa menemukannya," balas Rendown.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Thomas bimbang.


"Buat kompromi dengannya. Bicaralah padanya. Katakan bahwa anaknya tak mungkin bisa selamat. Ozzone bukanlah gang Kana atau Egosentris Room. Ozzone hanyalah sebuah reruntuhan yang penuh dengan hal mengerikan. Dan kau bisa mati kapan saja di tempat itu. Tak akan ada orang yang bisa bertahan di Ozzone bawah tanah level 10 lebih dari satu hari. Tempat itu adalah pusat dari segala kekacauan yang terjadi di kota ini seabad lalu. Bukan hanya virus yang masih mengontaminasi. Bukan hanya gas beracun yang masih terperangkap dalam ruang-ruang kaca yang menjadi alasan kenapa orang tak mungkin bisa melewati hari hidup di sana. Tapi juga banyak hal lainnya yang mungkin tidak kau ketahui."


"Martyr Project maksud Bapak? Bukankah mereka dikunci dalam ruangan-ruangan isolasi," sanggah Thomas.


"Kau tak akan tahu, Thomas. Sudah aku bilang Madam Surilah juru kunci tempat itu. Dia adalah pengendali Ozzone. Jika kau atau mereka atau siapa pun melanggar aturan yang telah ditetapkan Suri di tempat itu, mungkin kita bisa mati," jawab Rendown. "Satu hal lagi, bukan Martyr Project yang aku maksud. Tapi hal lain, yang belum kau ketahui.


"Sekarang katakan pada Nyonya Amy hal yang aku bilang tadi. Jika dia tidak mau menerima kompromi itu, bunuh saja mereka berdua. Kau tahu 'kan, aku sudah lebih dari delapan tahun mencoba membuat kota ini hidup. Jika aku tidak berhasil membuat kota ini hidup dalam waktu sepuluh tahun, kita akan mati. Sama halnya jika ada bahaya yang mengancam kota ini gara-gara segelintir orang pengacau. Lebih baik musnahkan saja mereka."


Tanpa berkata apa-apa Thomas langsung berdiri dari tempat duduknya dan beranjak hendak keluar ruangan. Mendengar itu, Alley langsung pergi. Urung menemui wali kota. Ada seseorang yang ingin Alley temui sebelum dia pergi menemui Amy dan menantunya itu.


Selepas keluar dari Kana market, Alley langsung melajukan mobilnya menuju makam.


Dia parkirkan mobilnya cukup jauh dari makam dan dengan langkah cepat dia mendekati nisan anaknya. Bunga yang ditaruhnya kini sudah layu dan kering.


Dia usap batu nisan itu dan membersihkan makamnya dari batuan-batuan kecil dan daun-daun yang gugur dari atas tebing batu.


"Masih berduka?" cetus pria itu yang sedang bersandar di sebatang pohon kering tak jauh dari tempat Alley berdiri. Shal lusuhnya yang menjuntai dari leher hingga ke pinggang tampak berkibar-kibar tertiup angin kuburan. "Kenapa datang sendirian?"


"Aku ingin bicara denganmu!" kata Alley menatapnya tegas.


"Bicara? Oke, kalau begitu mari ke rumahku," balasnya.

__ADS_1


"Aku ingin bicara di sini."


"Di tengah orang-orang mati? Apa kau tidak punya aturan? Apa kau tidak kasihan dengan orang-orang mati ini? Suaramu hanya akan membuat mereka terganggu," ucapnya seraya berbalik pergi. "Ikuti aku, kita bicara di rumahku."


Pria itu menjauh.


Alley mengikutinya dengan waspada.


Mereka menuju sebuah rumah kecil di belakang gedung tinggi.


Rumahnya terselip di antara gedung dan tebing curam.


Rumah kayu bergaya Indo dan terlihat sangat tua.


Gabriel membuka pintu kayu yang reyot itu.


"Silakan masuk ke Istanaku," sambutnya.


Alley mengedarkan pandangan. Menatap lantai kayu yang berdecit, foto-foto wanita bangsawan di bilik, rak alat makan antik, dan taplak usang di atas meja kecil yang berada di antara sofa kumal.


"Silakan duduk," pintanya pada Alley yang tampak linglung dan waspada. "Sofanya memang kotor tapi tak ada virus di dalamnya yang akan membunuhmu. Tenang saja," canda pria itu seraya tersenyum.


Pria itu manggut-manggut.


Alley menatapnya.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan. Lebih tepatnya banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu mengenai kota ini."


"Apa yang ingin kau tanyakan?" kata Gabriel mencekuh sebatang cerutu dari saku mantelnya dan menyalakannya.


Alley cukup kebingungan dari mana dia harus memulai. Banyak sekali yang ingin dia ketahui dari kota ini. Dia berharap pria itu tahu segalanya.


"Mungkin kau belum lahir saat kota ini dibangun, tapi apa kau tahu sejarah mengenai kota ini? Awal saat semuanya dibangun dan segala sesuatu yang dirahasiakan pemerintah selama ini?"


Gabriel mengisap cerutunya, mengembuskannya, kemudian mulai bercerita. "Mungkin kau sudah tahu alasan di balik pembangun kota ini seratus tahun lalu."


"Pabrik senjata dan obat-obatan?" Alley memastikan.


Gabriel menggeleng.

__ADS_1


"Lebih dari itu. Kota ini adalah markas senjata perang dan ilmu pengetahuan yang bisa menghancurkan dunia. Dan tahukah kau di mana kota ini dibangun dan tempat apa tanah ini sebelum mereka meratakannya menjadi kota yang tak tercetak di peta?"


Alley menggeleng.


"Mereka membangun kota ini di atas tanah terkutuk."


"Tanah terkutuk?"


"Dulu, tempat ini adalah sebuah hutan belantara dan sekelompok pribumi tinggal di sini. Suku Dayak yang masih tersisa di Java Island. Suku Dayak Avycon.


"Suku Dayak Avycon sangat kental akan kehidupan spiritual, ritual magis, adat istiadat, dan kepercayaan pada segala sesuatu yang berbau mistis. Merekalah satu-satunya suku Dayak di Java Island yang memiliki kemampuan sihir. Mereka mampu mematikan orang hidup dan menghidupkan orang mati. Mereka mampu berbicara dengan arwah dan mengajak para iblis menjadi sekutu mereka.


"Suku Dayak Avycon memiliki kebiasaan, ritual maupun tradisi aneh di kehidupan mereka. Misalnya, setiap orang yang lahir di bulan purnama harus menumbalkan dirinya pada umur 20 tahun. Semua pria yang sudah menikah tidak boleh memotong rambutnya. Seorang wanita yang telah melahirkan dua orang anak harus mengamputasi dadanya untuk santapan para siluman peliharaan mereka. Jika seorang istri selingkuh dengan pria lain, maka sang suami diperbolehkan menyayat-nyayat ataupun menyiksa tubuh istrinya hingga puas. Jika ada orang yang sakit dan tak kunjung sembuh dalam waktu 7 hari, maka dia harus dibakar hidup-hidup. Mereka percaya ada arwah jahat yang menempel di tubuh orang itu yang menyebabkan sakit dan harus dimusnahkan. Jika ada orang yang melakukan kesalahan berkhianat, maka salah satu anggota tubuh orang itu harus dipotong dan diawetkan kemudian digantung di tengah-tengah dusun," ujar Gabriel bercerita seraya mengisap cerutunya.


"Itu sungguh mengerikan. Apakah hal-hal mengerikan yang terjadi di kota ini ada hubungannya dengan mereka?"


"Bukan hanya terhubung. Tapi semua hal-hal aneh yang kau temui di kota ini sangat terikat dengan mereka-penghuni tanah ini," jawab Gabriel. "Setiap beberapa minggu, mereka selalu melakukan ritual pemanggilan arwah dan bercakap-cakap dengan sanak keluarga mereka yang telah mati. Dan meskipun mereka dapat menghidupkan orang mati, mereka tidak dapat sepenuhnya membangkitkan jasadnya dengan jiwa yang sama. Karena jasad mereka yang telah mati kini sudah menjadi bagian dari 'sesuatu' yang lain."


Alley mengangguk mendengarkan kisah pria itu dengan saksama. Dia teringat dengan perkataan kasir itu.


Penyihir di Ozzone yang bisa menghidupkan orang mati.


Segala kemustahilan yang sempat dia pikirkan kini memudar berganti dengan keraguan bahkan mungkin keyakinan yang memang benar adanya.


"Dari sekian tradisi aneh yang mereka lakukan, tradisi yang paling mereka agungkan dan lakukan secara turun temurun selama berabad-abad adalah jika mereka mati, mayatnya tidak boleh dikubur di dalam tanah.


"Mereka biasanya menenggelamkannya dalam lubang berisi air, menyimpannya di perut pohon beringin, di dalam batu-batu besar, dibakar atau bahkan dibiarkan membusuk oleh cuaca di puncak pohon. Karena mereka yakin jika jasad mereka dikubur, jasad mereka akan diambil oleh para iblis, dimakan oleh dedemit dan roh mereka akan diganggu oleh makhluk-makhluk jahat dari neraka bawah tanah.


"Perlakuan pada orang yang telah mati itu pun disesuaikan dengan derajatnya. Misalnya, para pemimpin, harus diawetkan dan disimpan dalam batu secara rapi. Mayat penyihir dan pejuang, harus dimutilasi dan dimasukkan ke dalam perut hewan buas dan disimpan di dalam pohon raksasa. Sedangkan untuk rakyat jelata, jika tidak dibuang ke lubang air, mereka dibakar maupun dijemur hingga mengering di pucuk pohon. Lain halnya dengan orang-orang khusus yang mendapat 'wahyu' yang sering mereka sebut Raja dan Ratu beserta seluruh keturunannya. Mereka adalah orang-orang yang dapat meramal dan bertindak sebagai penasehat para pemimpin suku. Jika mereka mati, mereka akan didandani secantik atau setampan mungkin. Tubuh mereka akan diawetkan menggunakan cairan khusus yang mereka buat. Mayat mereka akan disimpan di dalam perut pohon beringin keramat. Pohon yang mereka anggap membawa keberuntungan, keberkahan, dan kedamaian. Mereka menganggap bahwa pohon keramat tersebut dapat menyatu dengan jiwa orang yang telah mati. Bersamaan dengan dimasukkannya mayat mereka dalam pohon tersebut, mereka memasukkan pula sebuah boneka. Boneka yang dipercaya dapat melindungi mayat maupun roh orang-orang itu sepenuhnya dari gangguan makhluk-makhluk jahat seperti iblis dan siluman. Tapi boneka tersebut sungguhlah mengerikan. Dan inilah awal bagaimana hal-hal mengerikan ini menjadi sejarah kelam awal kebangkitan Lurid City."


Gabriel mematikan puntung cerutunya ke dalam asbak kayu


"Aku pernah melihat pohon beringin dari jendela kamar apartemenku. Letaknya tepat menghadap area Avycon. Apa beringin itu yang kau maksud? Bukan hanya itu, aku juga melihat pria-pria dengan pakaian yang cukup aneh sedang mengelilingi seorang perempuan di dekat pohon tersebut," kata Alley. "Kau tahu siapa perempuan itu?"


"Itu adalah Kana. Putri dari Raja dan Ratu suku Dayak Avycon," jawab Gabriel mantap. "Kana mati mengenaskan di tempat di mana gang itu dinamakan. Gang yang dikutuk karena kematiannya."


"Ceritakanlah padaku," pinta Alley.


Gabriel mengangguk.

__ADS_1


Kisah kelam ini pun dimulai.


__ADS_2