
Tiba-tiba terdengar bunyi slot dibuka di balik pintu itu.
Alley memutar kenop dan langsung masuk ke dalamnya ketika sesuatu di belakangnya—entah apa—mengaum meremangkan bulu kuduk. Tanpa menengok ke belakang, dia langsung menutup pintu itu dengan cepat.
Sejenak dia bersandar pada pintu, mengatur napas, dan membaca keadaan sekeliling.
Seperti telah berlari maraton, Alley begitu kelelahan. Meski begitu, ketakutannya dan kekhawatiran terhadap anaknya lebih dominan. Rasanya dia sudah terlalu lama berada di gang tersebut tetapi langit bercerita lain padanya. Di balik pintu sebelum dia masuk, langit berwarna jingga. Tapi di sini, di tempat dia berdiri, langit berwarna lazuardi serupa siang hari. Harusnya ini tak akan membuatnya terkejut. Tapi tetap saja, dia merasa bahwa segala sesuatu masih tak wajar dan tak masuk akal.
Alley melanjutkan perjalanan.
Semua bangunan tampak begitu jelas hingga ke detail-detailnya meskipun tanpa menoleh.
Berjalan di gang yang benderang tapi keheningan itu mengalahkan segalanya.
Ini tak ada bedanya.
Di sisi ini dia malah merasa tengah hilang. Hilang dari dunia atau mungkin sebaliknya—semua orang yang telah hilang dan hanya dirinyalah yang tersisa di muka bumi. Bukannya terperangkap dalam dimensi lain.
Langkahnya mendadak terhenti.
Gang itu bercabang.
Depan, kiri, dan kanan.
Kegelisahan kembali merasuk.
Tanpa menengokkan kepala—itu aturan yang sakral—Alley melirikkan bola matanya ke kiri dan ke kanan. Dan tentu saja ke depan. Tak ada yang ganjil tapi tak ada pula yang menunjukkan jalan keluar.
Dia terus berpikir.
Menimbang-nimbang.
Berspekulasi.
Mengingat peta kota.
Mengingat gang ini.
Mengingat segala hal.
Jika benar, gang di sebelah kanan adalah jalan menuju sungai dan ke depan adalah jalan raya. Meski aneh tapi memang begitulah seharusnya. Dia meyakini dan menurutnya mungkin peta itu telah salah dibuat. Atau kelewat kurang detail menggambar lokasi gang Kana ini.
Berbagai asumsi, bertele-tele dengan pikirannya sendiri dilakukannya demi membuat hatinya tetap tenang.
Dia lakukan apa pun itu demi mengenyahkan segala sesuatu yang membuatnya paranoid.
Tapi, dia tak punya logika akan hal tersebut.
Jalan mana pun akan sama saja menurutnya.
Akhirnya, dia memilih berjalan ke kanan, menuju tempat yang dia rasa sungai.
Alley mulai melangkah lagi.
Dia yakin ada sesuatu di belakangnya.
Sesuatu yang semenjak dia masuk gang tersebut menggodanya untuk menoleh ke belakang. Pada sesuatu yang membikin hatinya jungkir balik ketakutan.
Ada langkah lain di belakang. Langkah sepatu lain di balik irama sepatu selopnya, saat Aley melangkah.
Apa aku sudah melanggar aturan lain?
Dia bergeming sejenak, mencoba mengenyahkan hal yang mungkin halusinasinya saja.
Ya, aturan itu telah dilanggar.
Aturan yang menyebabkan suara itu muncul.
Aturan no. 5. Jangan diam, harus terus bergerak.
Diam berarti mati.
Diam berarti hilang.
Diam berarti tak akan pernah bisa keluar.
Tak boleh diam tapi juga tak boleh berlari.
Sungguh membingungkan aturan-aturan terkutuk itu.
Alley merasa serba salah.
Dia mungkin bisa gila jika terus bertahan dan mencoba tidak melanggar satu per satu aturan celaka itu.
Alley melangkah kembali dengan pola teratur tapi tampak tegas. Tidak setenang tadi. Langkah lain terus mengikuti. Dia yakin itu bukanlah gema yang ditimbulkan hak sepatunya dalam gang tersebut.
Pikiran wanita itu runyam.
Hal itu membuatnya gila.
Alley tak lagi tahan dengan ini semua.
Pada akhirnya, dengan sengaja dia melanggar aturan keenam.
Dia berlari.
Terus berlari sekencang yang dia bisa tapi suara lain seakan ikut berlari mengejarnya.
Memburu.
Aturan no. 6. Jangan berlari.
Alley tak peduli dengan aturan tolol itu.
Dia harus berlari demi meredam jiwanya yang ketakutan luar biasa.
Di hadapannya, gang itu makin bercabang seperti labirin. Tak ada satu pun gedung yang tinggi di sini. Dia merasa berada di kota lain, bukan Lurid City. Hampir semua bangunan sejajar setinggi 10 meter. Tak ada yang lebih tinggi dari itu.
Tanpa pikir panjang Alley bergerak mengikuti kata hatinya.
Berlari ke arah gang yang dia lihat.
Suara itu semakin mengejarnya.
Derap langkah kaki itu terdengar kian bertambah.
Bukan sepasang.
Segerombolan.
Menyerbu ingin menubruknya.
Alurnya salah.
Alley malah berlari menuju kegelapan di depan.
Langit menggelap di seberang sana.
Seperti ada dua dunia yang berbeda.
Dia langsung berlari menembus batas antara terang dan gelap.
Gang itu kini mencekam.
Gelap gulita.
Tak jauh di ujung gang, dia melihat sebuah pintu merah tua. Di atasnya ada seberkas cahaya dari lampu kecil yang menerangi tulisan di pintu tersebut.
EXIT.
Sesuatu terus mengejarnya dan tak mungkin Alley akan diam. Tapi langkahnya goyah. Dia kelelahan, rok ketat selututnya dan sepatunya membuat dia kesulitan dan kesakitan.
"Ya Tuhan, tolong aku!" pekiknya sembari mengucurkan air mata.
Mencipta berbagai ekspresi takut yang luar biasa di mukanya.
Bukan hanya suara langkah mengejar, tapi terdengar pula geraman sesuatu yang hendak menerkam tubuhnya dari belakang.
Suara-suara lain bersahutan dari berbagai arah.
Terdengar jendela pecah.
Air menyemprot dari keran.
Pintu terbanting keras.
Desisan minyak panas di penggorengan yang tercampur air.
Tap tap keyboard komputer.
Desing pisau diasah.
Pagar berdecit.
Lonceng berdentang.
Angin berdesir.
Gagak menggaok.
Kabut hitam menyeruak dari celah-celah pintu tiap rumah yang tampak suram.
Selopnya patah sebelah. Membuat Alley hilang keseimbangan. Tapi untunglah dia masih bisa mengendalikan gerakan tubuhnya yang condong terhuyung-huyung ke depan hendak mencium lantai beton.
Dia kelelahan.
Ketakutan terus mengejar.
Tapi detik ini dia begitu gusar.
Amarahnya membuncah.
"Jangan ganggu aku!" teriak Alley sewaktu dia menolehkan kepala ke belakang bersama tubuhnya yang juga ikut berbalik.
Dia tercengang.
Bukan karena ada sesuatu di sana, tapi karena tak ada apa pun.
Suara-suara lenyap tanpa jejak.
Kesunyian kembali menyeruak.
__ADS_1
Tak ada kehidupan yang mengikuti.
Tak ada wujud dari suara yang tadi di dengarnya.
Apa ini cuma lelucon atau apa?
Buku itu mengatakan jika aturan itu dilanggar, maka sesuatu yang dia dengar akan jadi kenyataan. Tapi dia tak melihat apa pun. Tak ada makhluk aneh yang menggeram itu.
Aturan no. 7. Jangan menengok.
Sesaat Alley merasa tenang.
Sembari mengatur napas, dia merogoh ponselnya dari tas.
Dia lihat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Baterainya masih penuh dan sinyalnya juga kuat. Dia coba menelepon Eren, tapi nomornya tidak aktif. Lalu dia menelepon wali kota. Hanya kotak suara yang menjawab.
"Pak, saya ada di gang Kana. Tolong saya, saya tidak bisa keluar!" ucapnya dengan nada panik. Berharap wali kota mendengar kotak suara teleponnya.
Lalu dia menelepon rumah mertuanya. Tersambung. Ada yang mengangkat telepon itu.
"Halo?" sapa seorang wanita di ujung telepon.
"Bu, ini aku, Alley."
"Maaf saya tidak kenal Anda."
"Kau siapa?" tanya Alley heran.
"Saya Amy. Saya tinggal di rumah ini."
"Lalu, ke mana Ibu saya? Yang tinggal di sana?"
"Nyonya Refal maksud Anda. Dia sudah meninggal."
"Apa?! Kapan?!" Alley terkejut.
"Dua tahun lalu. Sebelum meninggal, dia bilang pada saya bahwa dia sudah tidak punya keluarga lagi. Makanya dia menjual rumahnya ke saya ..."
Alley lunglai.
Dia tidak percaya akan hal ini.
Sembari menangis dia menurunkan ponselnya dari telinga. Menggenggamnya erat-erat di tangan.
Suara wanita bernama Amy itu masih terdengar berkata halo-halo di ujung telepon sebelum akhirnya ditutup.
2 tahun lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Dia bertanya-tanya. Alley dilanda kebingungan dengan segala sesuatu yang makin tak masuk akal ini. Semakin kentara dia berpikir tentang peluang-peluang apa yang bisa dia ambil untuk bisa keluar dari sini. Jika menurut apa yang dipikirkannya benar, apa gang ini semacam lorong waktu? Dan dia sudah hilang selama 2 tahun dari dunianya.
Pikiran-pikirannya melayang jauh.
Seribu pertanyaan berkecamuk.
Alley ingat baru beberapa jam dia berada di gang. Jika dia lebih lama lagi terjebak di sini, entah akan berapa tahun lagi yang harus dia lewati.
Di sini tak ada tanda-tanda jalan keluar selain tentu saja pintu yang sedang dia belakangi tak jauh darinya.
Alley nyaris menyerah.
Dia teringat dengan anaknya.
Dia harus kembali untuk anaknya.
Mungkin anaknya sedang menunggunya saat ini. Merindukan ibunya memeluknya.
Dia coba menghubungi wanita bernama Amy itu sekali lagi. Berharap dia bisa membantunya. Tapi kali ini teleponnya tak tersambung. Yang terdengar hanya suara gemuruh aneh dan sinyal pun lenyap.
Suara itu terdengar kembali—mendesis—tepat di belakangnya, terdengar seperti tabung gas yang bocor.
Alley menoleh.
Sekonyong-konyong dia terjungkal ke belakang. Tubuhnya membentur jalan dan nyaris saja kepalanya mendarat di bongkahan batu yang mencuat.
Ada yang menabraknya.
Sosok hitam melayang menghantam dirinya.
Dia melihatnya.
Benda hitam compang-camping itu melesat bagai angin ke sudut jauh di ujung jalan.
Kengerian kembali datang.
Alley tahu, kali ini akan sangat berbahaya. 7 aturan telah dilanggar dan sebagaimana telah dijelaskan dalam buku kota bahwa melanggar aturan ketujuh, sama saja mengundang kematian untuk menjemputnya.
Seluruh penghuni gang itu akan menampilkan wujudnya.
Masih dalam keadaan syok, Alley bangkit. Tak akan ada waktu untuk berleha-leha. Dengan kaki seperti orang pincang—karena hak sebelah selopnya patah—dia berlari menuju pintu EXIT itu.
"Sialan! Berengsek!" cercanya.
Pintu itu tidak bisa dibuka. Sama seperti pintu sebelumnya.
Alley mencoba membantingkan tubuh untuk mendobraknya. Tak berhasil, dia malah merintih karena bahunya kesakitan.
Alley menengok ke belakang. Satu-satu lampu jalan yang tadinya padam kini menyala. Menerangi gang yang gelap gulita. Dan jauh tepat di perempatan gang, makhluk itu muncul.
Mendengus.
Kaki depannya melangkah anggun bak singa Raja.
Tangan manusia di kedua tubuhnya merangkak bak bayi.
Kaki belakangnya merayap bak buaya darat.
"Ya Tuhan, apa itu?!"
Rengekan tangis bayi terdengar dari dalam makhluk mengerikan yang saat ini sedang menatapnya dari jarak 50 meter. Kemudian makhluk itu berlari ke arahnya.
Apa yang harus aku lakukan?
Alley melirik ke kiri dan kanannya. Ke rumah-rumah itu. Di sebelah kanan, pagar-pagar dan pintu-pintu rumah tertutup tapi di sebelah kirinya ada sebuah rumah berhalaman dengan pagar yang terbuka. Pagar itu hanya lima langkah darinya. Dia mungkin bisa masuk ke rumah itu dan berlindung untuk sementara waktu. Tapi dia tidak boleh keluar jalur. Dia harus tetap masuk pintu bertulis EXIT terssebut. Harus bisa membuat pintu itu terbuka.
Alley berpikir kritis.
Dia masukkan ponsel ke dalam tas dan memegang tasnya erat-erat dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya mencoba melepaskan sepatu dengan tumit yang utuh. Berhasil. Sekarang dia harus bergerak secara cepat dan tepat. Jika tidak, monster itu bisa menerkamnya atau pintu itu tak berhasil terdobrak makhluk tersebut.
Alley mengambil ancang-ancang. Tak ada waktu lagi untuk merobek rok selututnya yang ketat. Dia hanya menaikkan roknya ke atas agar bisa bergerak bebas. Beberapa meter lagi makhluk itu menerjang dan sedetik kemudian mencelat hendak menerkam Alley dari udara.
Alley melotot saat senyuman kematian tersungging dari wajah seorang pria yang menempel di atas tengkorak monster itu. Rambut hitamnya berkobar di udara.
Tepat sepersekian detik sebelum makhluk itu menerkam, Alley membungkuk, meloncat ke depan, berguling, kemudian dengan cepat masuk ke halaman rumah dengan pagar yang terbuka. Sedangkan monster itu menabrak pintu EXIT hingga akhirnya berhasil membuka.
Alley berlari menuju pintu rumah di depannya. Sungguh beruntung pintunya tak terkunci. Tanpa berpikir panjang, dia mencelus ke dalamnya dan langsung menyelot pintu itu rapat-rapat.
Dia tak akan mungkin masuk melewati pintu EXIT itu sekarang. Makhluk itu masih ada di luar. Dia harus memikirkan rencana dan strategi untuk bisa masuk ke dalam pintu tersebut.
Monster itu masih mengejarnya. Dia mencoba mendobrak pintu rumah di mana Alley berada. Satu kali didobrak tidak berhasil, dua kali, tidak juga. Lalu makhluk itu diam seperti menyerah.
Alley mencoba mendekati pintu untuk mendengar gerak gerik di baliknya. Dia dapat mendengar embusan napasnya. Monster yang diam itu mendadak mengaum ganas, melengking, menggelegar memekakan telinga. Auman monster itu begitu mengerikan. Suaranya mengejutkan Alley dan membuatnya hampir terkena serangan jantung. Alley reflek menjauh dari pintu. Tapi makhluk itu belum mencoba mendobrak lagi. Alley mendapati bayangannya di jendela kecil di samping pintu. Tampak mondar mandir seolah berpikir bagaimana caranya agar bisa masuk.
Lampu pijar sepaneng menerangi ruangan demi ruangan. Tidak seperti rumah-rumah Eropa lainnya, rumah ini berbeda. Lantainya dari kayu. Dindingnya sebagian dari kayu dan sebagian lagi berlapis beton.
Dengan sebelah sepatunya, Alley mengendap-endap mengintip ke sekeliling rumah. Ada undakan di sebelah kanan. Cukup sempit. Lebarnya 60 senti. Makhluk itu mungkin tak bisa melewatinya jika berhasil masuk rumah. Alley bisa aman di lantai 2. Tapi dia tidak langsung naik. Dia berjalan beberapa langkah ke depan. Ada sebuah pintu di dekat tangga. Sementara di depannya ruangan buntu, hanya dinding kayu berjendela. Di sampingnya ada sebuah rak. Foto-foto terpajang di situ. Dia mencoba meneliti tetapi ruangan terlalu remang sehingga tak bisa melihat potret orang-orang dalam foto tersebut.
Alley beralih ke pintu itu.
Dengan hati-hati dia membukanya. Sebelah tangannya memegang selopnya yang masih utuh. Digunakan sebagai senjata kalau-kalau ada sesuatu yang muncul di baliknya. Tapi tak ada apa-apa. Di balik pintu itu hanya dapur.
Ada 2 pintu lain, sebuah kamar mandi, dan satu lagi terkunci mungkin mengarah ke halaman belakang. Dia masih berada di dapur mencoba mencari sesuatu dari laci-laci yang ada di sana. Dia menemukan pisau daging. Dia gunakan untuk memotong tumit sepatu sebelahnya agar serasi dan mengenakannya kembali.
Alley masih mencari-cari sesuatu yang lebih baik dari pisau tersebut untuk digunakan sebagai senjata. Yang dia temukan hanya palu, gunting, dan berbagai macam perkakas dapur. Di sudut dapur hanya ada sapu usang tapi di belakangnya dia mendapati sesuatu. Sebuah tongkat besi. Ujungnya lancip bermata dua. Yang satu lurus, yang satu melengkung, seperti tongkat untuk menggeser kayu panas dalam perapian. Segera dia ambil tongkat itu dan digenggamnya erat-erat.
Brok!!!
Suara itu terdengar nyaring dari pintu depan.
Makhluk itu berhasil masuk.
Alley panik.
Dia terserang panik.
Hal yang harusnya tidak boleh dia rasakan.
Otomatis aturan itu terlanggar.
Aturan kedua dari 3 aturan sakral yang benar-benar tidak boleh dilanggar.
Aturan no. 8. Jangan panik.
Kini kesempatan untuk keluar dari gang Kana—dari kengerian ini—semakin tipis baginya.
Alley tak akan punya kesempatan menuju tangga saat ini. Dia bersembunyi di belakang pintu dapur saat makhluk itu dengan perlahan merangkak memasuki dapur yang sempit.
Monster itu bergerak menuju pintu kamar mandi. Membuka pintunya dengan moncong putih berbalut darah.
Alley melihat banyak sekali luka memenuhi tubuh dan kepalanya. Sesuatu atau seseorang telah menyerangnya sebelumnya.
Sang monster sadar akan keberadaan Alley. Dia menoleh dan menelengkan kepalanya lalu menggeram.
Alley menjerit.
Dengan gesit dia menghambur keluar pintu.
Menuju lorong tangga.
Jika dia terlambat sedikit saja, makhluk itu pasti sudah mencabik kakinya.
Monster itu terus mencoba merangsak masuk lorong tangga.
Alley berlari.
Tak ada waktu untuk memperhatikannya.
Di lantai 2 hanya ada 2 kamar dan balkon. Balkonnya terkunci dan dia salah kaprah tentang lorong tangga itu. Makhluk itu bisa masuk dengan cara memiringkan tubuhnya.
Alley tahu, dia harus tenang dan diam. Dia masuk ke dalam sebuah kamar. Kamarnya berdinding triplek dan rangka kayu.
Dia menekan sakelar di dekat pintu. Memadamkan lampu kamar itu kemudian memanjat rangka kayu di belakang pintu. Kakinya berpijak pada kosen kayu di atas pintu. Dia berusaha tak bergerak dalam keadaan tubuh setengah membungkuk karena terhalang oleh langit-langit yang rendah.
__ADS_1
Sang monster masih merayap mencari Alley.
Dia selalu berpikir apa makhluk tersebut bisa mencium bau badannya?
Atau mendengar detak jantungnya dan dia berpikir pula kenapa makhluk itu saja yang muncul?
Atau yang hanya mengejarnya?
Kenapa yang lainnya tidak?
Sebelah tangannya menggenggam erat tongkat besi. Bersiap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
Monster itu mengendus. Membuka pintu dengan moncongnya. Alley lupa menyelotnya. Dia berharap kali ini makhluk itu tak melihatnya.
Makhluk itu tidak masuk ke kamar. Hanya membukanya kemudian mengeluarkan moncongnya dari ambang pintu. Merangkak hendak memeriksa kamar sebelah.
Rasa lega sempat menghampiri tapi ponsel sialan itu mendadak berdering.
Alley sontak kaget.
Secepat kilat makhluk itu melongokkan kepalanya ke ambang pintu. Alley melihat wajah pria di atas kepalanya.
Melotot ke arahnya.
Mulutnya menyeringai.
Rambutnya melambai-lambai.
Dengan reflek Alley tancapkan tongkat besi ke arah mata pria itu. Sang monster mengerang, menjerit mundur ke belakang. Sedangkan Alley tersungkur ke lantai kayu.
Alley langsung menutup pintu dan menyelotnya. Menghalangi pula pintu itu dengan lemari bayi dan ranjang yang berada dalam kamar. Tak lupa membawa tongkatnya, dia bergegas menuju sebuah jendela di ujung kamar. Dengan besi itu dia memecahkan kacanya.
Makhluk itu masih terus mencoba masuk. Gagal lewat pintu dia mencoba menubruk triplek dari kamar sebelah.
Ponselnya terus berdering.
Alley tak punya waktu untuk mengangkatnya.
Dia terus memukul serpihan kaca yang masih tertancap di bingkai jendela.
"Ya, Tuhan, selamatkan aku!"
Alley mengeluarkan kakinya terlebih dahulu.
Mencoba keluar dari jendela kecil itu.
Menginjak pijakan kecil di dinding rumah.
Sedikit terjepit di bagian bahu.
Beberapa serpihan kaca kecil yang tertinggal melukai paha dan tangannya.
Triplek yang menjadi penyekat dua kamar itu nyaris roboh.
Membuat Alley panik bukan kepalang.
Dia menjerit mencoba mengeluarkan bahunya.
Makhluk itu berhasil membobol triplek.
Dengan sekuat tenaga Alley mengeluarkan bahunya dari bingkai jendela sebelum monster terkutuk itu memenggal kepalanya dengan taring-taringnya yang setajam belati.
Alley menjatuhkan diri dari ketinggian dua setengah meter ke bawah. Mendarat di atas hamparan gulma liar yang menyelimuti halaman kecil rumah tersebut.
Tulangnya seakan remuk.
Dia mengerang kesakitan tapi mencoba berdiri kembali dan berlari menuju pintu EXIT yang terbuka.
Di dalam pintu itu sungguh gelap gulita. Hanya cahaya kecil berwarna putih yang tampak nun jauh di ujung lorong.
Tubuh Alley babak belur.
Keringat dan darah bercampur mengotori seragam putihnya.
Sang monster meloncat keluar dari rumah.
Masih memburunya.
Alley sungguh kelelahan. Tapi dia tidak ingin jika harus mati di sini. Maka, dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia berlari. Berlari menuju cahaya putih di ujung lorong tersebut.
Dengan napas yang tersengal, Alley mencoba berlari secepat yang dia bisa.
Dia kira tak akan ada yang lebih buruk dari makhluk itu.
Salah.
Lorong gelap itu mendadak berwarna merah jingga serupa lava.
Dari langit-langit lorong terjulur ratusan kaki sebatas lutut berpasang-pasang.
Kaki-kaki itu bergoyang.
Berayun-ayun.
Menghantam wajah Alley.
Membuatnya terjengkang.
Darah mengucur dari lubang hidungnya.
Kepalanya pening.
Pandangannya kabur.
Cahaya putih itu tampak samar terlihat. Berbayang menjadi dua dan berputar-putar di pikirannya.
Orang yang mencoba menghubungi Alley belum juga menyerah. Dia terus menelepon ke ponselnya.
Alley sempat menoleh ke belakang, sang monster mencoba mengejarnya tapi kaki-kaki itu menghalangi geraknya. Makhluk itu pun kesulitan dan terus mencabik-cabik kaki gaib yang terjulur dari langit-langit lorong yang sempit.
Jeritan demi jeritan kesakitan pemilik kaki tersebut terdengar melengking.
Alley mulai merangkak. Dia belum bisa memulihkan pening di kepalanya. Dia bergerak menuju cahaya itu dalam keadaan panik dan histeris.
Kini tangan-tangan terjulur dari lantai dan dinding lorong. Melambai-lambai meminta tumbal. Tangan-tangan tersebut memegangi kaki dan lengan Alley. Dia terjerat dalam lorong. Sama halnya dengan makhluk tersebut. Alley menjerit sembari menusuk tangan-tangan itu dengan tongkat besinya. Sedikit demi sedikit bergerak ke depan sebelum monster itu berhasil menerkamnya dari belakang.
"Lepaskan aku! Jangan ganggu aku! Aku mohon! Tolong!!!" pekiknya menggelegar. Berharap ada sesuatu yang menolongnya di ujung lorong itu.
Semakin dia panik dan histeris, semakin dia menjerit dan berekspresi, semakin dia bergerak dan mencoba berlari, tangan-tangan itu semakin mencengkeramnya erat-erat, dan membuatnya kesulitan untuk melepaskan diri.
Mereka—Alley dan monster itu—terjebak. Tapi Alley sadar makhluk itu mulai berhasil melepaskan diri sementara dirinya kesulitan.
Dalam keputusasaan.
Kebingungan.
Kepanikan.
Ketakutan.
Dia ingat dengan aturan-aturan sebelumnya.
Tentang gang ini.
Tentang bagaimana cara keluar dari kengerian ini.
Tenang!
Tapi bagaimana dia bisa tenang dalam keadaan seperti ini?
Adakah cara?
Adakah kesempatan untuk membuatnya tenang?
Mungkinkah harus melanggar aturan itu?
Aturan kesembilan. Itu bukanlah aturan sakral. Hanya aturan biasa.
Ya, cuma itu satu-satunya cara terakhir.
Maka, dia menghirup napas panjang.
Mengembuskannya secara perlahan.
Mulai memejamkan mata.
Fokus.
Konsentrasi agar bisa tenang.
Aturan no. 9. Jangan memejamkan mata.
Selang beberapa detik kemudian tangan-tangan yang menjeratnya mulai mengendur.
Pikirannya melayang jauh ke awang-awang.
Mengingat kenangan indah bersama anaknya ...
Suaminya ...
Keluarganya ...
Tak terlintas sedikit pun pemikiran tentang gang dan kota mati ini.
Sembari tetap memejam mata, Alley mulai melangkah, berlari tapi tidak terburu-buru—tidak panik.
Dia berlari meninggalkan makhluk yang terjerat tangan-tangan setan itu.
Tak ada sesuatu yang menghalangi langkahnya.
Dia terus maju menuju cahaya putih yang dia harap bukan cahaya yang mengantarnya ke dalam ajal.
Melainkan jalan keluar.
Keluar dari gang terkutuk ini.
Lorong hitam yang sebelumnya dia lihat sangat jauh dan panjang kini memendek. Itu dapat dirasakannya. Cahaya putih itu semakin dekat menembus ke dalam kelopak matanya.
Cahaya itu tak kunjung redup.
Apa aku sudah sampai?
__ADS_1
Terdengar suara bunyi pintu besi tertutup di belakang.
"Sudah aman. Bukalah matamu!" kata suara seorang pria padanya.