
Suara sirine menggema di seantero ruang.
Kandang besi yang mengurung Rafael mendadak terbuka.
Rafael bangkit dengan tatapan kosong.
Sedetik kemudian tatapannya menjadi jahat.
Matanya hitam semua.
Dia berdiri.
Meloncat menerkam ibunya.
Alley terbanting.
Terguling-guling bersama Rafael yang menggerogoti lengannya di balik jaket.
Eren dan Thomas berusaha melepaskan.
Tapi Rafael enggan dan tampak tak senang. Dirinya berang langsung menerjang Eren dan hendak menyerang ulang.
Thomas tak punya pilihan selain menembaknya. Dia mencecar tubuh Rafael berkali-kali.
Tak ada gunanya.
Seperti zombie, anak itu tidak bisa mati kembali.
Ketegangan membuncah di tengah kumandang kematian dari berbagai arah. Bersamaan dengan itu pula, terdengar sel-sel baja terbuka dan sesuatu yang mendiaminya mencoba masuk ke dalam ruangan hendak menyerang mereka semua.
"Sialan!" gusar Thomas.
Situasi semakin mencekam. Dia sadar tak punya banyak waktu untuk kabur sebelum mayat-mayat lainnya menerobos masuk ke dalam ruangan.
Amy dan Tiny menepi di sisi. Ketakutan semakin kentara dan mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Thomas yang awalnya ragu untuk menembak kepala Rafael tak punya pilihan lain. Dia akhirnya menembak kepala anak itu hingga terjatuh dari pelukan Eren. Kemudian, Thomas berlari ke tepi dan menarik tuas di dinding untuk menurunkan kurungan besi. Mengurung Rafael yang berontak ganas di dalamnya.
Alley menangis.
Dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Dia dan Eren saling berpegang tangan mencoba berdiri bergandengan.
Sementara Amy dan Tiny masih terdiam di sudut ruangan, menunggu Thomas melakukan tindakan.
"Di luar sana seluruh mayat hidup ini telah menunggu kita. Kita harus pergi ke tempat aman sebelum mereka menemukan dan menghabisi kita semua," ujar Thomas.
"Kita sudah dikepung! Bagaimana cara kita keluar dari ruangan ini?!"
Amy panik.
Hell Time akan terjadi sekurang-kurangnya satu jam. Itu terjadi saat sirine berbunyi sebagai pertandanya dan menjadi suatu keotomatisan sel-sel baja yang mengurung mereka terbuka. Membiarkan para korban Martyr Project berkelana di seluruh gedung Sentral dan menghabisi orang-orang hidup di dalamnya.
Hell Time di dalam Ozzone dapat terjadi saat orang-orang di dalamnya melanggar aturan. Sebuah kekuatan mistis terbangun dan menghidupkan segala kemustahilan yang ada. Kekuatan mistis tersebut mampu mengendalikan gedung Sentral. Kekuatan mistis dari penyihir itu pula yang menghidupkan sistem pengamanan canggih di dalamnya, ruangan-ruangan, dan segala kengerian yang ada.
Kekuatan mistis tersebut mengendalikan ruang dan waktu.
Tentu saja dalam gedung Sentral terdapat beberapa ruangan aman untuk tempat sembunyi—Justice Room—agar keseimbangan antara kekuatan positif dan negatif tetap terjaga.
Mereka berlima mulai panik di saat para Martir itu mulai mencoba mendobrak pintu dan merangsak masuk ke dalam ruangan ritual.
Thomas menarik tuas yang digunakan perempuan itu untuk kabur. Tapi pintu rahasia itu tidak terbuka. Lalu dia menggeser meja di sudut ruangan.
"Kita harus masuk ke ruangan sebelah. Tak ada cara lain selain masuk lewat lubang ventilasi ini," kata Thomas.
Amy teringat dengan lubang tersebut. Anaknya hilang terisap udara saat tak berhasil menyusuri lubang itu dengan menahan napas.
"Kita harus menahan napas selama di dalam untuk mencapai ruangan sebelah. Jika kalian gagal aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Ini satu-satunya jalan kita jika tak mau dibunuh mereka. Kita tidak bisa melawan mereka. Peluru pistolku terbatas dan akan aku gunakan di saat terdesak saja."
Amy menggandeng Tiny dengan perasaan khawatir. Lubang itu cukup sempit dan dia ragu menantunya yang hamil itu bisa melewatinya.
"Jarak ruangan ini dan ruang sebelah sepuluh meter. Ada banyak belokan di dalamnya. Kalian harus berjalan lurus ke depan dan belok ke kanan saat kalian berhasil melewati belokan yang pertama. Kita sudah tak punya banyak waktu. Aku akan melewatinya duluan. Kalian ikuti aku satu per satu," perintah Thomas mulai merangkak ke dalam lubang ventilasi berdiameter 80 cm tersebut.
Dia merangkak masuk dengan cepat sembari menahan napas. 30 detik kemudian dia berhasil mencapai ujung.
Amy mengikutinya masuk. Sekuat tenaga wanita berumur kepala empat itu menahan napas sembari merangkak di dalamnya. Saat berada di dalam, dia teringat dengan anak bungsunya yang tak berhasil melewati lubang udara itu.
Amy berhasil menuju ujung dan Thomas membantunya keluar.
Eren masuk, rok panjang yang sedang dipakainya menyulitkannya bergerak. Dia sudah tak kuat menahan napas saat dirnya hampir mencapai ujung lubang. Dia mengembuskan napas. Untunglah Thomas berhasil menarik lengannya sebelum lubang itu mengisapnya.
Pintu ruangan ritual hampir berhasil didobrak dan Alley melihat anaknya masih meronta-ronta gila dalam kurungan.
"Kau duluan masuk, Tiny!" perintah Alley.
Tiny sendiri ragu dia bisa melewatinya. Apalagi anak dalam perutnya terus menendang-nendang kesakitan.
"Aku mungkin tak akan berhasil. Masuklah duluan sebelum terlambat," saran Tiny.
Alley menggenggam lengan Tiny. "Tidak! Berusahalah! Kau pasti bisa! Kita masuk sama-sama. Aku mengikutimu dari belakang!"
Tiny mulai merangkak memasuki lubang. Dia berusaha tiga kali lipat menahan napas dan kesakitan perutnya yang buncit.
__ADS_1
Pintu Rinachita Room berhasil didobrak.
Alley mendapati mayat-mayat hidup itu dengan tubuh dan wajah mengerikan. Mereka berjalan seperti zombie agresif. Dia langsung masuk ke dalam lubang sebelum mereka melumatnya.
Keringat mengucur deras membasahi kepala Tiny.
Di ujung lubang Amy terus memanggilnya. Menyemangatinya untuk bertahan.
Para Martir itu mengikuti Alley masuk ke dalam lubang. Tentu mereka bisa karena mereka tidak bernapas.
Tiny sudah tak mampu menahan napas sementara Alley di belakangnya terus mendorong Tiny untuk maju sebab para zombie itu mulai mendekat hendak meraih kakinya.
Tiny mengembus napas.
Tak sanggup untuk menahan lagi.
Seketika isapan angin yang sangat kuat berusaha menyedot mereka termasuk mayat hidup tersebut.
Isapan itu berasal dari lubang di belokan pertama.
Para zombie terisap lebih dulu.
Alley dan Tiny mengikuti.
Mereka terpontang-panting.
Tersedot bersama udara yang entah berasal dari mana.
Mereka terpanting ke berbagai belokan dan tentu saja isapan itu berasal dari lantai terbawah Ozzone.
Mereka terus terisap ke lantai bawah. Alley berusaha menahan agar tak terisap lebih jauh. Dalam lubang yang tak terlalu lebar itu, dia menekan kedua kakinya kuat-kuat di antara dinding lubang.
"Tiny, berusahalah menahan napas!" pekik Alley.
Tiny yang kesakitan berusaha kembali menahan napasnya. Dia berusaha melakukan hal yang sama seperti yang Alley lakukan.
Tiny berjarak satu meter di atas Alley.
Mereka berdua menahan napas kembali.
Beberapa detik kemudian isapan itu berakhir.
Alley menengok ke bawah, mencoba mencari celah yang ada. Cahaya terlihat di belokan sebelah kanan. Dia yakin ada jalan keluar di sana. Dengan isyarat tangannya, Alley menyuruh Tiny mengikutinya merangkak mundur.
Alley berbelok dan ternyata benar di sana ada jalan keluar. Dia mendorong pintu carang yang menutupi lubang udara hingga terbuka. Merangkak keluar dan mencoba mengeluarkan Tiny yang berjuang keras di belakangnya.
Alley mengulurkan lengan dan Tiny pun berusaha meraih lengan Alley sekuat tenaga. Tapi sekonyong-kongong zombie-zombie itu merayap di belakang Tiny dan menarik kakinya. Hal itu sontak membuatnya terkejut dan menjerit mengembuskan napas. Isapan udara kembali tercipta dan menyedot Tiny sebelum dia berhasil meraih lengan Alley.
Tiny terisap ke dalam gelap entah ke mana.
Suaranya menggema ke seantero ruang, memecah kelam di langit malam.
"Alley!" timpal Eren.
Mereka bertiga keluar dari ruang gudang.
Berlari menuju birai void gedung Sentral.
Menengok dari atas.
Mendapati Alley berada 2 lantai di bawahnya.
"Alley, apa kau baik-baik saja?" teriak Eren.
Alley mengiyakan.
"Bagaimana dengan Tiny?" teriak Amy yang cemas.
"Maafkan aku, dia ... terisap ...," kata Alley.
Di ujung koridor, mereka mendengar gerombolan kaki yang berlari.
"Tak ada waktu untuk bersantai. Kita harus mencari tempat aman. Alley, carilah ruangan kaca berlampu neon putih. Masuk ke dalamnya, kau akan aman di sana!" sahut Thomas mulai berlari mencari Justice Room di lantai tersebut.
Ada beberapa Justice Room di gedung Sentral tapi Thomas pun tak mengetahui secara keseluruhan letak ruangan tersebut.
Justice Room adalah sebuah ruangan Lab, berdinding kaca, dan di dalamnya terdapat alat-alat penelitian serta beragam perabotan yang terbuat dari stainless. Pintu ruangan itu berlapis baja dengan keamanan super canggih. Siapa pun yang masuk ke dalam, otomatis ruangan itu akan terkunci dan mengurung siapa pun di dalamnya hinggal Hell Time berakhir.
Hell Time berakhir satu jam setelah sirine berhenti berbunyi.
Thomas, Amy, dan Eren yang berada di lantai B10 berlari ke kiri. Thomas memimpin dari depan.
Alley dilanda kebingungan. Dia tak tahu harus berlari ke mana. Gedung itu penuh dengan gang—koridor—dan ruang-ruang gelap. Lampu-lampu gedung banyak yang mati. Hanya lampu pijar yang menerangi setiap gang di dinding. Menerangi sudut-sudut kelam dengan sedikit cahaya yang ada.
Thomas, Eren, dan Amy berlari menuju Justice Room yang berada di lantai B11. Di tengah serbuan mayat-mayat hidup, mereka mencoba menyelamatkan diri, berlari menuju ruangan itu agar mereka tak mati.
"Sialan! Justice Room tak bisa dibuka!" gerutu Thomas.
"Tidak! Kita semua bakalan mati di sini!" sergah Amy panik.
"Apa ada ruangan lainnya?" timpal Eren yang sama paniknya.
Sesosok zombie dengan wajah tanpa rahang dan mata yang bolong sebelah muncul dari kanan dan menerkam Eren bak harimau kelaparan.
__ADS_1
Eren terguling-guling ke samping.
Zombie itu memeluk Eren bak ulat bulu.
Berusaha memakan pundaknya dengan rahang yang hanya sebelah.
"Thomas tolong aku!" pekik Eren.
Thomas menghajar zombie yang menyerang Eren dengan ganas.
Dia mengambil puing-puing bangunan yang berserakan.
Menghantamkannya ke kepala zombie itu hingga hancur berantakan.
Darah hitam menyembur.
Mayat hidup itu tak juga mati.
Tak melepaskan diri.
Tetap mencengkeram Eren seakan enggan untuk dilepaskan.
Thomas menarik tubuh zombie tersebut dari Eren dengan sekuat tenaga. Tubuhnya terlepas tapi kedua lengan makhluk itu buntung dan memilih untuk tetap memeluk wanita itu.
Eren memekik histeris.
Thomas melemparkan tubuh mayat hidup itu ke bawah tangga hingga berguling-guling. Berusaha melepaskan kedua lengannya yang tersisa. Dia lemparkan kedua tangan itu ke sudut jauh. Tangan buntung itu merayap-rayap di sudut yang gelap.
Eren berusaha bangkit.
Pundaknya terluka.
Darahnya mengalir dan menyatu dengan darah mayat hidup tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Thomas terengah.
Eren menggeleng tapi dirinya masih syok.
"Sebaiknya kita segera menemukan tempat yang aman!" saran Thomas memandang Amy dan Eren bergantian.
Mereka kembali berlari mencari 'ruang keadilan' lainnya untuk mengamankan diri.
Sementara itu puluhan Martir yang kehausan mengejar Alley.
Alley terus berlari hendak berbelok menaiki tangga.
Zombie-zombie lain bermunculan dari berbagai arah.
Alley terkepung di tepi void.
Dia memegangi pagar pembatas.
Melihat ke bawah.
Tampak legam bak lubang hitam tanpa dasar.
Dia melihat sebatang pipa besi melintang menghubungkan sisi lantai gedung itu dengan seberang.
Alley mendaki birai dan berusaha berjalan di atas pipa besi itu. Dengan hati-hati dia mengendap, berjalan pelan menjaga keseimbangan, dan berusaha agar pipa itu tak bergoncang. Sebab, sekali dia goyah, dia bakalan jatuh ke bawah—ke kedalaman gedung Sentral terbawah. Embusan angin dari dasar membuat rok berrenda dan rambut kusutnya berkobar-kobar di tengah kegelapan.
Dengan sangat hati-hati Alley berjalan menyeberangi pipa itu. Meski begitu, dia harus segera sampai ke seberang. Para Martir mengikutinya berjalan di atas pipa dan terus mengejarnya secara bergerombol.
Dia tak habis pikir dengan mayat-mayat hidup itu. Seharusnya dia pun menyadari bahwa zombie yang mengejarnya saat ini bukanlah hasil kebocoran eksperimen laboratorium. Bukan pula mereka hidup kembali karena virus. Mayat-mayat itu hidup karena iblis menguasainya. Mereka tak akan mati jika ditembak kepalanya, maupun dicincang tubuhnya. Mereka bahkan tak akan mati meski dibakar dan yang tersisa hanya abunya.
Hanya ada dua cara memusnahkan mereka. Mengeluarkan iblis itu atau menunggunya selama seratus tahun agar lenyap dengan sendirinya.
Satu-satunya yang diinginkan iblis dalam tubuh mereka adalah membunuh manusia. Manusia yang terkena gigitan tak akan jadi seperti mereka. Orang yang dibunuh akan mati selamanya. Dan arwah orang yang mati tersebut akan jadi bagian kelam Lurid City.
Alley tak mau itu.
Alley tak ingin mati.
Dia ingin mempertahankan hidupnya sampai akhir dan mengakhiri semua rahasia yang ada di kota tersebut meski dirinya sendiri tak mengetahui bagaimana caranya.
Thomas dan Eren melihat Alley menyeberangi pipa yang diikuti puluhan Martir.
Pipa besi itu mendadak reyot.
Membengkok.
Terlepas dari pangkalnya.
Puluhan zombie terjun bebas ke lubang hitam.
Alley yang tergelincir langsung memeluk pipa besi yang tergantung dengan erat sekuat tenaga karena tak ingin bernasib sama.
Dia langsung meraih birai di lantai bawah sebelum pipa itu akhirnya terlepas.
Dia berhasil naik dan berdiri.
Napasnya terengah-engah.
Rasa lelah kian mendera tapi dia tak bisa lengah.
__ADS_1
Para Martir itu bisa membunuhnya kapan saja saat dia lelah dan mulai lemah.