Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Teori


__ADS_3

"Dari mana kau tahu semua cerita itu?" tanya Alley.


"Ibuku. Sewaktu aku masih kecil. Dan ibuku mengetahuinya dari gadis kecil yang selamat itu," jawab Gabriel.


"Apa anak itu masih hidup?"


"Dia masih hidup."


"Mustahil, jika dia masih hidup, berapa umurnya sekarang. Lebih dari 161 tahun," sanggah Alley.


"Itu memang benar."


"Hingga saat ini?" heran Alley.


"Iya. Dia tinggal di Ozzone."


Alley terdiam sejenak memikirkan pertanyaan selanjutnya.


"Apakah tragedi suku Dayak tersebut yang menyebabkan kejadian-kejadian aneh dan mengerikan terjadi di kota ini?"


"Tragedi tersebut bukan hanya menjadikan tanah ini terkutuk. Tapi juga membuat segala sesuatu—apa pun itu—di sudut-sudut yang tersebar di antara bangunan-bangunan kota ini memiliki semacam kekuatan gaib dari sesuatu yang jahat.


"Bukti kentara yang diketahui hampir semua orang di kota ini adalah mengenai gang Kana dan gang Avycon. Kedua daerah inilah tempat kejadian perkara tragedi tersebut. TKP ini melintang dari benteng Ozzone barat ke arah ADS dan berakhir di Kana. Tapi meski begitu bukanlah hal yang mustahil jika sewaktu-waktu, di setiap sudut kota bagian lainnya terjadi hal yang sama. Memiliki keanehan dan kengerian yang sama mengingat kota ini sudah berdiri lebih dari seratus tahun lalu, sudah terkumpul banyak memori dan peristiwa gelap mengenai orang-orang yang mati di sini.


"Mereka sudah dipastikan akan menjadi bagian dari kengerian ini kelak. Sebelum menjadi tanah terkutuk, tanah ini memang adalah tanah keramat. Dan para penyihir telah memantrainya sejak lama. Maka dari itu, kau bisa menemukan tempat aman di antara kegelapan begitu pun sebaliknya. Mereka telah memantrainya dengan energi positif dan juga energi negatif yang dikuasai oleh boneka tersebut."


"Bambola. Aku pernah bertemu dengan makhluk itu saat aku masuk ke gang Kana. Kau bilang para suku Dayak menciptakan boneka itu untuk melindungi roh Putri Kana. Tapi kenyataannya, makhluk itulah yang membawa malapetaka dan awal dari semua ini. Membawa kegelapan hingga sekarang—tanah mereka menjadi sebuah kota. Kau bilang mereka tak melaksanakan satu aturan. Aturan apa itu?" heran Alley.


"Aturan itu adalah aturan yang sakral, keramat, tak boleh dilanggar. Dan aturan tersebut hanya boleh dilaksanakan oleh kaum penyihir. Kau tahu, di saat tragedi itu berlangsung, tak ada satu penyihir pun yang tersisa hingga dengan amat terpaksa mereka meniadakan aturan tersebut."


"Jika memang aturan itu sangat sakral dan tak boleh dilanggar, kenapa mereka terus melanjutkan ritual yang mungkin mereka tahu bakalan terjadi sesuatu yang fatal?"


"Semua itu di luar dugaan mereka. Mereka percaya mengenai aturan itu tapi sebenarnya mereka pun belum pernah mengalaminya. Mungkin karena ketakutan yang sejak awal tertanam hingga ketika beberapa penyihir mendeklarasikan aturan tersebut, mereka tunduk dan setuju. Tapi di saat semua penyihir telah tewas, apa yang mungkin mereka yakini dan takuti sepenuh hati? Satu aturan sakral—doa penyihir untuk boneka tersebut. Mereka lebih memilih mematuhi sembilan aturan lain ketimbang mengenyahkan semua yang sudah menjadi adat istiadat mereka."


"Di ending ceritamu, kita tahu bahwa inti dari semua kekacauan ini adalah Erex, 'kan?"


"Iya. Kita tahu bahwa dia penyebabnya. Tapi apa alasannya? Apa latar belakangnya dia melakukan semua itu?" tanya balik pria itu.


"Apa karena balas dendam terhadap Putri Kana yang selalu meremehkannya?" Alley menduga.


"Aku pernah dengar kata Ibu, bukan cuma itu alasannya. Ada alasan lain yang tak diketahui. Ibuku bilang bahwa penyihir itu memiliki garis kehebatan yang sama. Jika sang ayah adalah penyihir hebat, tentunya anaknya akan memiliki kemampuan sihir yang hebat pula semenjak dia lahir. Meski dalam aturannya, sihir itu dapat dipelajari dan dikembangkan menjadi lebih hebat lagi, tapi tetap, bakat dan keturunanlah yang mendominasi seorang penyihir apakah bisa kuat ataupun lemah," tutur Gabriel mengeluarkan sebatang cerutu lagi dari saku mantelnya.


"Ayah Erex—Nepal—adalah penyihir amatir. Gagal. Dia selalu ceroboh dalam melakukan segala hal hingga akhirnya dia tak pernah diikutsertakan kelompok penyihir dalam upacara adat istiadat dusun. Begitu pula ibu Nepal, hanya penyihir biasa yang tak bisa melukai orang-orang ataupun melindunginya dengan sempurna. Sedangkan ibu Erex hanyalah rakyat jelata yang tak memiliki garis keturunan penyihir apa pun. Dia meninggal saat melahirkan Erex. Dari penjelasan tersebut sudah terbukti jika Erex tak mungkin memiliki kemampuan yang hebat. Bahkan Erex tidak pernah menunjukkan atau mempelajari ilmu sihir hingga orang-orang percaya dan menganggap Erex bukanlah apa-apa. Tak ada darah penyihir di tubuhnya. Mereka kira dia mengikuti darah ibunya yang hanya rakyat jelata."


"Pantas saja, sedari tadi aku sempat heran dengan aturan pemakaman no 7. Tumbal Bambola tidak boleh dari kalangan penyihir. Dan Raja percaya bahwa Erex bukanlah penyihir? Makanya dia mengijinkannya menjadi tumbal untuk pelindung Putri Kana? Aturan ini pasti berkaitan erat dengan aturan nomor 8 yang sedang kita bicarakan," kata Alley.


Gabriel hanya mengangguk.


"Tapi apa sebenarnya Erex? Apa kau tahu dia itu penyihir atau bukan?" tanya Alley.


"Mungkin saja, meski amatir, ayahnya tetaplah penyihir yang mungkin bisa jadi menurunkan darah sihirnya ke tubuh Erex meski hanya beberapa tetes."


"Tapi, ada hal yang masih mengganjal bagiku mengenai aturan kedelapan—memantrai boneka agar menjadi pelindung dan kebangkitan Bambola yang dicikalbakali oleh Erex."

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Gabriel.


"Bisakah penyihir yang telah mati, dijadikan asesoris bersama makhluk itu bangkit dari kematian? Tanpa ada sesuatu yang menghidupkannya dalam artian penyihir lain?"


"Jika menurut logika itu tidaklah mungkin. Jika seorang penyihir mati, dia tidak akan bisa hidup kembali dengan sendirinya. Tapi mungkin juga itu bisa terjadi apabila aturan lain tak dilaksanakan. Mungkin suatu keotomatisan jika aturan kedelapan diabaikan, maka sosok yang mereka percayai akan menjadi sebagai pelindung malah bertindak sebaliknya," kata Gabriel mengisap cerutunya.


"Mereka bilang di Ozzone terdapat seorang penyihir. Kau tahu siapa dia?"


"Namanya Suri. Ibuku tahu cerita itu darinya, dan dialah gadis kecil yang tak dibunuh oleh makhluk tersebut, katanya. Tapi aku tidak begitu yakin."


Berbagai pertanyaan lainnya semakin bergemelut memenuhi kepala Alley.


Kini sebuah pertanyaan lain muncul.


"Jika seperti itu kenyataanya, berarti ada kesimpangsiuran dalam ceritamu. Apa kau tidak menyadarinya?" kata Alley.


"Ya, aku tahu, kadang hal itu yang membuatku bingung. Madam Suri adalah penyihir, dan dia adalah satu-satunya yang selamat dalam pembantaian itu. Otomatis gadis kecil yang selamat itu adalah penyihir. Satu penyihir yang terakhir. Dan mengenai hal tentangnya aku pun kurang mengetahui. Ibuku ataupun Suri tak pernah menjelaskan hal itu secara detail," jelas Gabriel.


Meski Alley telah mengetahui sejarah terbangunnya kota ini maupun misteri yang ada di dalamnya, tapi tetap saja menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatnya sulit dimengerti. Semua ini terlalu rumit untuk dicerna dan dia tak mungkin membahas lebih jauh mengenai penyihir dan gadis kecil yang selamat itu. Gabriel pun tak mengetahuinya.


"Ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya pria itu.


"Satu hal lagi," timpal Alley. "Apa benar Madam Suri bisa menghidupkan orang mati?"


Gabriel mengangguk. "Tentu saja. Kau ingin menghidupkan seseorang? Kau ingin menghidupkan anakmu lagi?"


Pertanyaannya membuat Alley tersentak, rasa ingin dan perasaan itu sempat menderanya sesaat, tapi dia pikir itu percuma. Bukannya dia tidak percaya tapi apa yang bisa dihidupkan kembali dari anaknya?


"Kau tahu, Madam Suri bisa menghidupkan orang mati meski yang kau bawa padanya hanya abunya atau tulang belulangnya," kata Gabriel.


"Abunya? Apa yang bisa kau lihat dari itu setelah dihidupkan?"


"Bicara? Kau bisa bicara dengan itu. Dan sesosok wujud dapat tercipta dari abu itu meski bentuknya akan terlihat mengerikan."


"Adakah orang bodoh yang melakukannya?"


"Bukan ada, tapi siapa yang melakukan hal itu? Kau bisa menanyakan langsung pada orangnya? Orang-orang yang menghuni LCPD dan antek-antek wali kota. Secara sembunyi-sembunyi mereka melakukan sebuah proyek rahasia.


"Mereka menghidupkan orang-orang yang mati karena pembunuhan, atau tabrak lari hanya untuk percobaan rahasia semata. Mereka dihidupkan agar menjadi saksi atas kematian mereka sendiri. Melalui proyek tersebut akhirnya para polisi bisa mencari pelaku yang menyebabkan mereka mati," ujar Gabriel.


"Untuk mereka yang baru mati mungkin hal itu terlihat bagus. Bukankah membangkitkan mereka dari kematian bukanlah sebuah dosa? Harusnya hal itu digembar-gemborkan secara terang-terangan. Tapi, jika hanya abu atau tulang belulangnya, apa yang selanjutnya terjadi setelah mereka dihidupkan dan bersaksi? Apa mereka terus dibiarkan hidup?" tanya Alley.


"Itu adalah sebuah pertanyaan yang menarik," kata Gabriel. "Orang-orang yang dihidupkan Suri tak akan bisa mati kembali sebelum melewati waktu seratus tahun. Dan juga ada efek samping dari ritual penghidupan jasad tersebut."


"Apa itu?"


"Ada sebuah situasi yang disebut sebagai Hell Time. Jasad yang dihidupkannya tak hanya berasal dari pemanggilan roh pemilik jasad tersebut, tapi sesuatu hal lain menumpang dalam rohnya. Hal itu bereaksi seperti candu. Akan ada waktu di mana candu itu hilang dan kau akan menjadi tak terkendali. Maka, orang yang dihidupkannya, di beberapa waktu tertentu bisa menjadi sesuatu yang jahat. Sesosok yang tak dikenal yang mungkin bisa membunuhmu. Maka dari itu, pada waktu yang mereka sebut Hell Time, mereka di kurung dalam jeruji besi.


"Hell Time yang terjadi pada setiap orang berbeda-beda, ada yang hanya satu jam, 5 jam, sehari, seminggu, bahkan selamanya setelah proses penghidupkan itu selesai."


"Jadi, maksudmu, meskipun aku menghidupkan anakku, dia tak akan sama persis seperti anakku yang kukenal?"


"Maksudku, hanya di zona Hell Time saja. Di luar itu, dia adalah anakmu, baik sifatnya, kelakuannya, ataupun segalanya sama seperti yang kau kenal terakhir kali, kecuali tentunya fisiknya yang sudah berubah."

__ADS_1


"Meski begitu, apa efek sampingnya sangat parah?"


"Apa kau pernah menonton film zombie atau vampire atau monster atau pembunuh berdarah dingin? Saat Hell Time tiba, orang-orang yang dihidupkan akan menjadi seperti itu."


"Mengerikan, jika semua itu terjadi," kata Alley meringis.


"Ya, itulah sebabnya mereka yang menguasai kota ini merahasiakan proyek tersebut dan tak membebaskan orang-orang yang telah dihidupkan dari penjara-penjara di Ozzone."


Alley sedikit menyimpul senyum.


Dia bangkit dari duduknya secara perlahan.


"Ini sudah cukup, bagiku jawaban itu sudah jelas. Tak ada harapan bagiku untuk memeluk anakku dengan wujud seperti yang terakhir kali aku kenal ataupun tinggal bersamaku untuk selamanya," kata Alley memandang kuburan anaknya nun jauh dari jendela rumah Gabriel.


"Menurutku kesempatan itu ada. Jika masalah pertama adalah mengenai Hell Time, semua bisa diatur, karena semua ada tanda-tandanya dan saat itu terjadi kau bisa mengurungnya dalam sebuah kandang besi selama beberapa jam.


"Dan mengenai bentuk fisik anakmu itu, aku pikir tak akan ada terlalu banyak perubahan. Karena hanya orang bodoh yang menguburkan anaknya tanpa diawetkan ke dalam liang lahat seharga gedung di depan rumahku ini," ucapnya. "Dan itu pun jika memang benar bahwa anakmu berada di dalam kuburannya."


"Kenapa kau meragukan keberadaan anakku di dalam sana?" heran Alley.


"Itu karena proyek yang mereka lakukan. Kadang mereka membongkar makam tanpa seijin keluarga kemudian mereka hidupkan di dalam Ozzone untuk mencari pelaku kematiannya."


"Kenapa mereka berbuat kotor seperti itu? Apakah semua itu hanya untuk mencari kebenaran? Pelaku kematian?" tanya Alley berkerut kening.


"Bukan hanya itu. Ada konspirasi di balik semua itu. Ada hal yang mungkin bisa membuatmu terkejut," kata Gabriel. "Wali kota bersama seluruh penguasa kota menumbalkan pelaku-pelaku kematian demi terciptanya kedamaian di kota ini dan terbebas dari pengaruh jahat. Hal-hal berbahaya yang lebih dari sekadar virus dan gas beracun yang mengontaminasi beberapa wilayah di kota ini terutama Avycon."


"Apakah Avycon seberbahaya yang diceritakan wali kota?"


Alley tiba-tiba teringat akan suaminya saat gang itu disebut.


"Avycon bukanlah mimpi buruk, tapi lubang kematian. Bukan hanya virus dan gas beracun ataupun monster yang kau temui di gang Kana yang menghuni wilayah itu, tapi segalanya. Kegelapan menyelimuti tempat tersebut. Meski begitu, seperti yang aku bilang, penyihir-penyihir terdahulu memantrai sebuah jalan tersembunyi atau tempat aman meski di wilayah berbahaya sekalipun. Dan di ADS ada jalur tersebut, kau bisa masuk dan kembali hidup-hidup jika melewati jalur itu dengan tepat."


"Kau pernah melewati jalur aman itu?" tanya Alley penasaran.


"Ya, perkataan wali kota mengenai tempat itu adalah sebuah dusta. Karena aku yakin dia pun mengetahui soal jalur aman itu di sana," tukas Gabriel.


"Kau tahu begitu banyak informasi mengenai kota ini? Apa kau seorang mata-mata?" Alley bertanya-tanya.


Pria itu hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Aku hanyalah anak yang mencari kebenaran. Ibuku meninggal setelah menceritakan sejarah kota ini. Ada yang bilang dia tertabrak, ada juga yang bilang dia dibunuh oleh utusan wali kota yang tak lain adalah seluruh pihak kepolisian itu sendiri. Aku menguburkan jasad ibuku di tanah ini, menghabiskan seluruh uang yang aku miliki untuk membeli sebidang tanah dan perlengkapan pemakaman ibuku.


"Sebulan kemudian setelah ibuku dimakamkan aku berencana untuk menghidupkannya kembali. Aku ingin tahu siapa pelaku yang menyebabkan kematiannya. Tapi, saat aku bongkar kuburannya, sama sekali tak ada jasad ibuku di sana. Aku yakin merekalah yang mencurinya dan melaksanakan proyek itu.


"Yang aku sesalkan adalah mereka mengambil jasad ibuku tanpa sepengetahuan atau persetujuanku. Sejak itu aku mulai menyelidiki segalanya. Tentang wali kota dan pihak-pihak terkait yang mencuri jasad ibuku. Sampai sekarang aku selalu rutin keluar masuk Ozzone tanpa sepengetahuan mereka. Hingga akhirnya aku mendapat sebuah jawaban pasti dan kuyakini bahwa di balik niat baik pemerintah menghidupkan kembali kota ini, tersimpan sebuah rencana jahat yang aku sendiri belum tahu pasti."


"Apa selama keluar masuk Ozzone kau telah menemukan ibumu?"


"Tidak. Belum. Tujuh tahun aku mencarinya di sana tapi aku tak menemukan apa-apa."


Alley sesaat berpikir mengenai kemungkinan-kemungkinan yang pria itu katakan dan membuatnya semakin curiga pada wali kota. Mengenai Ozzone, Avycon, Kana, suaminya, dan jasad anaknya yang mulai membuatnya resah nan gelisah.


Benarkah jasadnya ada di dalam kuburannya?

__ADS_1


__ADS_2