Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Celah


__ADS_3

Thomas, Alley, dan Amy masuk ke dalam X-Room.


Mereka dikejutkan dengan sosok yang mematung sedari tadi di dalamnya.


Thomas yang waspada menodongkan pistolnya ke arah sosok berjubah hitam dengan kepala betopeng oksigen tersebut.


Alley bergeming di ambang pintu mencoba mengakhiri isakan tangisnya sendiri.


Thomas mendorong sosok itu hingga terjatuh.


"Tidak apa-apa. Hanya patung," ucapnya lega.


Justice Room atau ruangan lab tersebut sangat bersih. Ruangan yang pernah menjadi tempat pengujian virus dan gas itu terkunci rapat. Debu dan udara dari luar tak dapat masuk maupun sebaliknya. Sehingga tempat itu sangat kontras dengan koridor di luar ruangan.


Alley, Thomas, dan Amy duduk di kursi stainless sembari mencoba menenangkan diri dari ratusan zombie dan makhluk-makhluk mutan berjiwa iblis lain yang mengerumuni mereka dari luar.


***


Alley membisu.


Merenungi segala hal.


Dirinya sungguh tak tahu dengan apa yang harusnya kini dia lakukan. Dia sudah bertemu dengan anaknya tapi hal itu tak terlalu membuatnya bahagia. Dirinya bingung, kematian sahabatnya itu semakin membuatnya menyesali telah membawanya memasuki Ozzone.


Sekarang tentu tak ada yang tersisa lagi dari orang terdekatnya. Dan mengenai suaminya sendiri, Alley sudah tak tahu. Dia ragu dengan rencananya sendiri.


Apakah dia harus berjuang mencari kembali suaminya?


Ataukah dia harus hidup dalam tenang di kota dan merelakan segalanya?


Meski begitu, kepalanya masih dipenuhi rasa murka terhadap wali kota dan seluruh pihak terkait. Membuatnya ingin segera meledakkan seluruh konspirasi dan kegelapan yang menyelubungi kota, terutama tempat ini.


Dia bergeming.


Merenung.


Menimbang-nimbang dari segala sudut pandang.


Thomas membuka magasin pistolnya. Hanya tersisa tiga butir peluru.


Amy sesenggukan, mencoba menghubungi Tiny dengan ponselnya, tapi tak ada jawaban. Dia merobek lengan baju panjangnya dan membersihkan sisa-sisa darah yang mengalir dari lubang bekas gigitan ular piton tadi.


"Kenapa Anda melakukan itu?!" tanya Thomas diliputi emosi.


"Anak-anakku! Mereka hilang gara-gara Suri! Dia mengatakan anakku telah mati. Aku tidak sudi terima itu!" balas Amy mengusap air matanya yang mengalir menghapus riasan wajahnya.


"Aku tahu, tapi lihatlah sekarang! Kita telah melanggar aturan, menantumu lenyap! Aku sudah tidak bisa lagi menjanjikan keselamatan! Aku sudah tidak bisa membantumu lagi mencari anak-anakmu! Kita sudah terlalu jauh melanggar aturan ini! Kita bisa celaka!" ujar Thomas.


Amy hanya terdiam. Diriya sadar bahwa semua ini memang kesalahannya.


Thomas melirik Alley yang sedang melamun. "Alley, maafkan aku."


"Untuk apa?"


"Untuk segala hal yang menurutmu aku salah."


"Benarkah kalian yang menghidupkan kembali jasad-jasad orang mati itu?" tanya Alley menatap para zombie di balik dinding kaca.


"Bukan hanya kami—pihak kepolisian. Tetapi juga mereka. Mereka yang menguasai kota ini. Perusahaan Kie Light. Perusahaan yang membangun dan punya kuasa atas Ozzone."


"Apa alasan kalian melakukan Martyr Project hanya sekadar mencari pelaku kematian mereka? Atau ada alasan lain?"


"Yang aku tahu hanya itu alasannya. Kami menghidupkan mereka, menanyakan siapa yang membunuh mereka. Kemudian kami tangkap pelakunya. Kami penjarakan dia."


"Benarkah? Apa cuma itu?" cetus Alley belum percaya.


"Hanya itu yang aku lakukan. Sesuai perintah wali kota. Tak ada niat lain."


"Lalu bagaimana dengan mereka?" tunjuk Alley keluar. "Apa alasan mereka menghidupkan orang-orang yang telah mati. Kulihat di sini banyak mayat yang hanya tinggal tengkorak. Tidak mungkin alasan mereka hanya untuk mengetahui pelaku kematian mereka. Kau pasti tahu apa alasan mereka?"


"Tidak!" bantah Thomas menggeleng. "Aku tidak tahu apa pun selain yang satu itu. Tugas pihak kepolisian hanya menangkap si pelaku saja. Tak ada yang lain."


"Bohong!" tukas Alley. "Tidak mungkin! Aku sudah mendengar banyak hal mengenai apa yang terjadi di kota ini. Aku sudah mengalami peristiwa kelam dan mengetahui sejarah kota ini."


"Kami juga membantu orang-orang yang ingin menghidupkan kembali keluarganya yang telah meninggal. Tentunya dengan konsekuensi tersendiri. Tapi, semenjak terakhir membantu Nyonya Amy, kami tidak pernah membantu orang lagi. Sudah terlalu banyak Martir di gedung ini dan tentunya hal itu bisa membuat kota semakin bahaya."


"Lalu kenapa jumlahnya ratusan. Bukankah kau yang menghidupkan segalanya?"


"Aku tidak tahu jika pihak lain utusan pemerintah melakukan hal yang sama dan aku tidak mengetahui apa yang mereka lakukan!" tukas Thomas menegaskan.


Alley terdiam.


Apa benar hanya itu yang dilakukan Thomas?


Atau itu hanyalah sebuah alasan agar dia tak mendapat masalah dari wali kota. Karena dia bisa melihat bahwa pria itu pun tak ingin membunuhnya jika dirinya mengetahui kebenaran. Konspirasi ini membuat hatinya resah dan bertanya-tanya sebenarnya siapa yang salah?


"Alley, jika kau tidak percaya pada pihak kepolisian dan wali kota, setidaknya, percaya padaku," pinta Thomas meyakinkan.


"Aku hanya akan percaya padamu jika kau berani menentang apa yang hendak wali kota lakukan terhadap kota ini. Aku merasa mereka akan melakukan sesuatu yang buruk dari tempat ini," ujar Alley.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dan khawatirkan, Alley?" tanya Thomas.


Pertanyaan itu justru membuat Alley kembali menimbang.


"Yang kuinginkan adalah berkumpul kembali dengan keluargaku. Tapi itu takkan mungkin lagi. Dan saat ini yang ingin aku lakukan adalah mengetahui apa yang akan pemerintah lakukan terhadap kota ini."


"Apa kau sadar tindakanmu itu bisa membuatmu terbunuh? Tidakkah kau lihat, temanmu sudah mati di ruangan itu?"


"Aku tahu, kau tak perlu mengatakannya," kata Alley dengan mata yang berkaca-kaca.


"Alley, aku hanya memintamu. Setelah kita keluar dari Ozzone, berusahalah menjalani hidup yang baru. Jika kau memang ingin selalu bertemu dengan Rafael, aku akan membantumu menemuinya kemari. Tapi, kuminta kau tak terlibat lebih jauh dengan urusan pemerintah dan aku juga yakin bahwa wali kota tak melakukan sesuatu yang buruk seperti yang kau duga," kata Thomas.


Alley hanya membatu.


Mereka kembali terdiam dalam kebisuan.


Satu jam terlewat.


Hell Time beberapa menit lagi berakhir.


Alley bangkit dari duduknya. Berjalan menjelajahi ruangan tersebut. Dia membuka lemari besi itu. Di dalamnya terdapat ratusan cairan dalam botol-botol kecil berwarna-warni.


"Tutup kembali lemari itu, apa kau ingin mati di ruangan ini. Itu adalah sampel virus dan bakteri berbahaya," kata Thomas.


Alley memperhatikan rak-rak lainnya. Beragam alat-alat ilmuwan aneh memenuhi setiap rak. Dia tak tahu apa yang ingin dia cari di sana. Dia tak menemukan sesuatu yang menarik.


"Berapa lama lagi ini berakhir?" tanya Alley memandang dinding kaca. Melihat para zombie dan makhluk mutan bergerumut di luar sana.


"Lima menit lagi."


"Jika Hell Time berakhir, apa yang akan terjadi dengan mereka?"


"Para Martir itu akan jadi manusia. Secara naluriah mereka akan kembali masuk ke dalam sel-sel baja."


"Apa mereka tidak akan melakukan sesuatu terhadap kita di sini?" tanya Alley. "Lalu bagaimana makhluk-makhluk aneh itu. Mereka bukan manusia."

__ADS_1


"Meski mereka kembali jadi manusia, mereka tetap bisa membahayakan kita. Bukankah manusia memiliki akal? Sebagian dari mereka akan bertingkah baik dan mengerti dengan keadaan mereka saat ini tapi sebagian lagi akan menolak dan memaksa kita untuk mengeluarkan mereka dari Ozzone. Dan mengenai hewan-hewan itu aku tidak tahu. Aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya," jawab Thomas. "Saat Hell Time berakhir, mereka akan mengalami amnesia sesaat dan mereka bergerak kembali ke dalam sel baja secara tak sadar. Jangan sampai mereka melihat saat kita keluar."


Hell Time berakhir.


Para zombie dan makhuk-makhluk mutan yang lalu lalang di koridor menjauhi ruangan. Terdengar bunyi bip di pintu baja Justice Room disertai kerlipan lampu hijau.


Mereka akhirnya keluar.


"Thomas, bantu aku! Temukan anak-anakku!" pinta Amy memelas sembari mengucurkan air mata.


"Kita harus keluar dari gedung ini terlebih dahulu sebelum Hell Time kedua tiba. Kita pikirkan rencana selanjutnya," kata Thomas.


Terlihat bahwa ucapan Thomas tersebut tak bisa menyenangkannya.


Amy berusaha tenang. Dia sadar bahwa semua ini akibat dari ulahnya karena telah membunuh penyihir itu.


Dari arah koridor di depan void, terdengar sesuatu. Suara samar-samar menyahut. Mereka mendekat ke tengah dan melihat dari baik pagar pembatas. Gumaman terdengar dari bawah—dari lubang hitam itu—menggema pelan di tengah keheningan setiap jalan dan ruangan.


"Ibu ... tolong ...," suara anak kecil menyahut entah dari mana. Menggema bersama embusan angin yang menyeruak dari kegelapan.


Amy tersentak. Dia ingat dengan suara itu.


"Dante ...," gumam Amy. "Thomas, anakku ada di bawah sana!"


"Nyonya Amy, tenanglah! Jangan gegabah! Jangan sampai kita terjebak," timpal Thomas merasa ada yang janggal.


"Ibu ...," suara itu kembali menyahut.


Amy yang merasa yakin dengan suara itu tak peduli lagi dengan segala hal. Dia meluncur menuju tangga ke lantai bawah dan berusaha mencari asal suara. "Aku ingin ke bawah dan memastikan suara itu!"


"Amy! Nyonya Amy!" panggil Thomas selagi berlari mengejar wanita itu.


Suara anak kecil itu terus menggema dan membuat Amy semakin melangkah lebih cepat.


"Jika kau tak bisa membantuku, lebih baik kau diam saja!" bentak Amy terus berjalan menuruni tangga dan berkali-kali memanggil nama anaknya.


"Baiklah. Baik. Aku akan membantumu tapi tenanglah. Dan tetap bersama-sama ikuti aturanku!" kata Thomas.


Mereka masuk ke dalam lift dan mulai turun semakin ke bawah tanah.


"Akan ke mana kita? Apa kau tahu pasti dari mana suara itu berasal?" tanya Alley.


Thomas menggeleng.


"Kita turun ke lantai B20. Setelah itu kita keluar dan mencarinya."


Terdengar suara aneh dari atap lift. Ada sesuatu di atas dan bisa mereka dengar dengan jelas.


"Apa itu?" kejut Alley.


"Tidak bagus," kata Thomas menekan-nekan tombol keluar.


Lift mendadak macet.


Lift itu tak berhenti di lantai B20.


"Sialan!" mereka mulai panik.


Terdengar suara gesekan baja di atap lift.


Mereka yakin bahwa ada sesuatu yang berusaha untuk memutuskan kabel baja lift tersebut.


Alley menekan tombol darurat di kiri pintu.


"Bagaimana ini?!"


Amy panik memandang ke atas atap. Berharap tak ada sesuatu yang muncul di sana.


Tiba-tiba saja kabel baja lift itu putus dan mereka meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.


"Thomas, kita akan mati! Kita akan mati!" pekik Amy.


Mereka menjerit.


Lift terus meluncur menuju lantai terbawah.


Rem otomatis lift tersebut awalnya tak berfungsi tapi untunglah liftnya berhenti di lantai B27.


Mereka tersungkur di sisi dan waspada saat pintu lift tiba-tiba sedikit terbuka.


Mereka mencoba keluar dengan paksa.


Semerbak bau busuk—bau jamur beracun dan bangkai sesuatu—menyeruak saat pintu dibuka—lebih lebar—entah dari mana. Suasana di dalam sana lebih mencekam. Semua dinding retak dan sebagian hancur menghitam terbakar. Lorong-lorong kelam tampak ditumbuhi jamur yang pekat, barang-barang terbakar berserakan di lantai. Menggunung bak sampah. Hanya satu dua lampu sepaneng yang menerangi di setiap perempatan koridor. Selebihnya hanya gelap yang menyelimuti.


Suara anak kecil itu masih menggema. Terdengar begitu dekat dengan mereka.


"Dante!" teriak Amy.


Suaranya memantul ke setiap sudut gedung.


"Diamlah! Suaramu bisa mengundang sesuatu!" cetus Thomas memperingatkan.


Thomas mengeluarkan senter kecil dari sakunya dan mereka mulai berjalan dengan waspada. Menelusuri koridor yang lantainya menganga lebar.


"Kau tahu tempat ini? Apa kau pernah masuk ke lantai ini?" tanya Alley.


"Belum pernah. Tapi setahuku di lantai paling bawah inilah senjata-senjata perang dibuat. Terutama senjata kimia dan senjata biologis."


Mereka bertiga berjalan dengan pelan mencoba mencari asal suara tersebut. Mereka membuka setiap pintu ruangan yang berada di sisi kiri dan kanan koridor. Ada banyak tengkorak manusia di dalamnya.


"Ibu ...," suara anak kecil itu terus menggema.


Sosok bayangan anak kecil tampak di ujung koridor.


"Dante! Tidak salah lagi itu anakku!" sergah Amy berjalan mendekati bayangan itu dengan tergesa.


"Nyonya Amy, tenanglah!" kata Thomas mengikutinya.


Alley berjalan pelan. Dia memperhatikan sekitar, merasa ada yang sedang mengawasinya dari balik pintu-pintu ruangan dan lorong gelap itu.


Bayangan anak itu menghilang saat Amy mendekat. "Dante!"


Terdengar bunyi kepakan sayap dan gaokkan burung gagak entah dari mana.


"Ibu ... tolong!" teriakan anak kecil disertai tangisan semakin terdengar jelas dari lantai bawah.


"Thomas, kau dengar? Itu suara anakku!" sergah Amy langsung berlari.


Thomas dan Alley mengejar Amy menuruni tangga yang gelap.


Mereka melihat ada sebuah lubang hitam yang menganga lebar di dinding. Suara anak kecil itu berasal dari sana.


Amy mendekati lubang dengan pelan.


Thomas menyuruhnya hati-hati.

__ADS_1


"Thomas, apa itu!" tunjuk Alley melihat sesuatu muncul dari lubang yang menganga tersebut.


Tampak sebuah kepala anak kecil muncul dari lubang—tidak—tapi dua kepala. Dua kepala itu tertanam pada leher mekanik panjang yang menancap di bahu tubuh manusia dewasa bertangan delapan dan tanpa kaki. Makhluk itu merayap bak laba-laba. Dua kepala itu terus memanggil-manggil 'ibu' mendekati Amy seraya hendak memenggal kepalanya dengan dua sabit baja yang dicengkeram lengan makhluk tersebut.


"Amy, awas!" teriak Thomas mencetuskan tiga peluru pistolnya yang tersisa ke arah makhluk itu.


Dari dalam lubang itu, muncul makhluk lainnya dengan bentuk mengerikan.


Makhluk-makhluk hasil proyek terlarang masa lalu.


Mereka menciptakan monster dari gabungan tubuh-tubuh manusia dan mesin.


Makhluk-makhluk itu keluar dari dalam lubang dengan bentuknya menyerupai kuda dan kelabang.


Tubuh-tubuh mereka dipersenjatai senjata baja.


"Lari!" pekik Thomas.


Mereka bertiga berlari.


Kelima ekor monster mengejar mereka dengan kecepatan tinggi. Merayap di dinding.


Dengan napas tersengal, mereka terus berlari di antara kegelapan.


Alley hampir terpeleset saat dia melompati bongkahan bata yang ambruk.


Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan di depan dan menutup pintunya rapat-rapat.


Monster itu mencoba merangsak masuk. Dengan senjata yang mereka bawa, mereka mulai menghancurkan pintu kayu yang terkunci tersebut.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Amy panik.


Mereka terjebak di ruangan kecil itu.


Alley meraba setiap dinding, berusaha mencari pintu tersembunyi.


"Ada pintu rahasia di sini!" sergah Alley saat dia menekan dinding kayu dan melihat ada cahaya terang di dalamnya.


Mereka bertiga meraba dinding, berusaha mencari tombol rahasia untuk membuka pintu tersebut.


Alley memutar fiting lampu dinding. Sebuah pintu rahasia akhirnya terbuka.


Terdapat lorong panjang. Mengarah ke sebuah pintu baja di ujung sana. Lorong berneon putih dengan dinding dan lantai berlapis baja.


"Aku tahu ruangan ini. Di ujung sana adalah ruangan penyimpanan senjata?" kata Thomas. "Tapi mungkin lorong ini berbahaya. Ada sensor tersembunyi di dalamnya."


"Tak ada pilihan lain selain kita masuk ke dalam!" pekik Amy.


Alley menyetujui.


"Aku akan masuk duluan," kata Thomas.


Dia berjalan pelan dengan waspada.


Alley menoleh ke arah pintu kayu yang mulai hancur dicabik-cabik sabit baja yang para monster itu bawa.


Thomas mulai berlari menuju ujung lorong sepanjang 30 meter tersebut. Tiba-tiba, dari dinding lorong itu bermuncul puluhan lubang kecil. Dan dari dalamnya, melesat ratusan peluru yang membabi buta. Peluru-peluru berhamburan seperti hujan membentur dinding lorong lainnya. Saling memental berusaha membunuh Thomas dengan ganas. Tapi, dia berhasil menghindar dan tiba di ujung lorong dengan selamat.


"Ini sungguh berbahaya," kata Amy.


"Hanya ada dua pilihan. Mencoba atau mati," timpal Alley.


Dia pun berlari secepat yang dia bisa. Alley syok saat sebuah lempengan besi tajam muncul dari dinding sebelah kiri. Dia menjatuhkan tubuhnya ke belakang sebelum besi itu memenggal kepalanya. Tapi dia tak bisa berleha-leha. Bukan peluru yang kali ini muncul dari dalam dinding. Melainkan lempengan besi tajam keluar hendak mencabik-cabik tubuhnya. Dirinya yang panik berusaha berlari menghindari lempengan besi yang muncul dari berbagai sisi. Dan saat dia sampai di ujung, sebuah pedang mendadak muncul dari lantai dan hampir membelah tubuhnya jadi dua. Untung saja Thomas langsung menangkap dan memeluknya sesaat saat dia sampai.


Amy ragu-ragu untuk melewati lorong terebut meski akhirnya dia memberanikan diri untuk berlari saat monster-monster itu berhasil masuk dan mengejarnya.


Dia sudah berlari sejauh sepuluh meter dan belum ada apa-apa yang keluar dari dinding lorong.


Sesaat hatinya lega.


Tapi mendadak segaris cahaya muncul di hadapannya.


Melesat menuju kakinya.


Amy melompat sebelum laser itu membikin kakinya buntung.


Laser melesat melewati para monster yang mengejar di belakangnya.


Makhluk itu mencengking saat tangan-tangan mereka putus. Tapi mereka masih berusaha mengejar Amy.


Di depan, muncul laser-laser lainnya secara tak terduga. Dengan posisi vertikal, laser itu bergerak ke kiri dan ke kanan seperti pintu. Untung saja Amy bisa melewatinya meski laser itu memotong tas yang yang terkait di pundaknya.


Ada laser lainnya di hadapannya.


Amy yang sudah kelelahan berusaha melompat setinggi yang dia bisa.


Laser itu ikut meninggi.


Amy terguling-guling saat laser menyerempet kakinya.


Membuat sebelah mata kakinya berdarah-darah.


"Amy, cepatlah!" teriak Alley.


Jarak Amy dan mereka berdua hanya sepuluh meter. Dengan kekuatan yang tersisa, Amy kembali berlari tapi kali ini laser itu muncul di belakang salah satu monster yang mengejarnya. Laser tersebut membentuk jaring memenuhi lorong kemudian menembus monster-monster yang berada di depannya. Membuat mereka terbelah-belah dan jatuh berkeping-keping.


Laser itu tak berhenti, terus melesat mengejar Amy.


"Amy! Cepat!"


Alley dan Thomas terus memanggilnya. Menyuruhnya berlari lebih cepat sebelum laser itu membunuhnya.


Alley mengulurkan tangannya pada Amy.


Amy meraihnya dan hampir masuk ke batas aman di ujung lorong.


Tapi ...


"Alley ... temukan anak-anakku!" kata Amy sebelum akhirnya laser itu melewatinya.


Membikin seluruh tubuhnya tercerai berai seperti dadu.


Tubuhnya jatuh berantakan.


Darah tumpah ruah membanjiri lantai.


Amy mati seketika.


"Tidak!" pekik Alley melepaskan lengan Amy yang masih menggenggam erat tangannya.


Monster yang tersisa di ujung lorong berusaha menggapai Alley dan Thomas tapi mereka semua tercabik-cabik oleh bilahan pedang dan laser serta berondongan peluru hingga akhirnya semua monster itu tumbang.


Thomas memeluk Alley yang gamang. Menyuruhnya untuk tidak melihat potongan daging yang berserakan.


"Cepat buka pintu ini, Thomas! Aku tidak ingin di sini!"

__ADS_1


__ADS_2