
Siang malam silih berganti, hari demi hari berlalu dengan tak pasti. Hampir seminggu tapi belum ada kabar apa pun dari mereka.
Alley mencoba menghubungi seorang teman yang tinggal di kota itu. Berharap dapat sebuah tempat tinggal yang aman jika dia memang harus pergi ke kota itu dan menetap di sana—di kota mati Lurid City.
Seminggu lebih sudah terlewat. Seperti minggu-minggu sebelumnya, tak ada kabar apa pun.
Sebenarnya, apa yang telah terjadi dengan mereka?
***
"Aku harus pergi, Bu. Aku akan pergi ke Lurid City. Aku harus mencari tahu keberadaan Rehan dan aku akan membawa Rafael bersamaku," kukuh Alley pasti.
"Berapa lama kau akan tinggal di sana?"
"Sampai aku menemukan Rehan. Atau mendapat kabar mengenainya. Entah itu seminggu, dua minggu, sebulan atau berapa lama pun sampai aku mendapatkan jawaban pasti mengenai Rehan."
"Tapi bagaimana dengan pendidikan Rafael? Di kota suram itu tidak ada sekolah, bukan?"
"Iya, aku tahu. Tapi temanku sering mengajar anak-anak di apartemennya. Rafael bisa belajar di sana untuk sementara waktu."
"Baiklah jika itu keputusanmu. Ibu tidak bisa melarangmu. Tapi terus hubungi Ibu, jangan sampai hilang kontak sama sekali," kata mertuanya tak mampu menutupi rasa cemas. "Jika kau sudah sampai, segeralah laporkan mereka yang hilang pada pihak kepolisian di sana. Jangan pernah bertindak sendiri, Ibu tidak ingin kau juga hilang tanpa kabar."
Alley mengangguk pelan sembari memandang anaknya yang tengah menonton televisi dengan santai.
***
Perbatasan Javalava-Lurid City, 6 Juni 2006.
Sedan putih itu melaju kencang di jalanan lengang, membawa mereka berdua ke sebuah kota kelam di balik tebing curam.
Alley kemudikan mobilnya menerobos kegalauan hati yang tengah dia dera. Mencoba menyeberangi garis-garis penghalang yang selama ini membuatnya tak tenang.
Tentu saja, tujuannya mendatangi kota itu hanya satu. Mengetahui keberadaan suaminya. Jika artinya mereka harus tinggal untuk waktu yang cukup lama, tentu mereka akan.
Alley harus mencari tahu kebenaran.
Di mana suaminya berada?
Dan apa yang telah terjadi?
Lurid city adalah kota yang kebanyakan orang dijauhi. Tak ada yang ingin tinggal di sana kecuali dengan terpaksa.
Menurut info yang Alley ketahui dari Rehan—sebelum suaminya pergi untuk mencari tahu perkembangan kota tersebut—kota seluas 54 km² itu dihuni tak lebih dari 100 penduduk saja.
Kota itu baru dibuka dan diresmikan sejak 3 tahun yang lalu. Pemerintah membuka kota yang telah mati dan ditutup selama 100 tahun itu dengan maksud untuk menghidupkannya kembali. Merelokasi penduduk baru agar tak memadati kota-kota besar yang telah ada.
***
Alley masih melajukan mobilnya dengan kencang hingga dia melihat gerbang menuju sebuah terowongan di Grand Cliff. Ada 2 petugas yang menjaga gerbang tersebut.
"Permisi, Nona. Apa Anda akan tinggal atau hanya lewat saja di kota ini?" tanya seorang petugas yang duduk di pos jaga.
"Saya akan tinggal," jawab Alley mantap.
"Kalau begitu Anda harus mengunjungi tempat ini dahulu untuk dapat surat ijin sebelum Anda menetap," perintah petugas itu seraya memberikan sebuah brosur bergambar lokasi yang harus Alley tuju.
Kana Market.
Alley kembali melaju dan menyalakan lampu depan mobilnya, bergerak memasuki terowongan batu yang begitu panjang. Sesekali dia melirik anaknya yang tengah tertidur pulas di sampingnya.
Alley memandang ke sisi kiri dan kanan terowongan tersebut. Keheningan menyelimuti. Hanya ada 1 atau 2 mobil saja yang lewat. Setiap ratusan meter sekali tampak jelas pintu baja yang terbuka di sisi kiri maupun kanannya. Pintu baja yang sengaja dibangun untuk menghalau apa pun agar tak ada yang bisa keluar ataupun masuk kota itu di masa lalu.
Tak berapa lama kemudian, Alley tiba di ujung terowongan. Hal pertama yang dia lihat adalah bangunan-bangunan suram nan kelam. Ratusan rumah, apartemen, dan gedung bergaya Eropa memenuhi kota yang pernah mati.
Hampir tak ada kehidupan di kota ini. Jika dilihat baik-baik memang tak ada orang-orang berjalan di trotoar. Barangkali karena hari sudah beranjak senja meskipun matahari belum berada di penghujung barat. Tapi sebagian sudah tampak gelap terutama kota bagian barat. Tebing batu yang menjulang tinggi menutupi cahaya matahari di bagian tersebut saat senja.
Apartemen temannya yang akan dituju Alley berada di blok F, bagian barat kota. Dari jalan tampak hanya beberapa toko yang ada dan itu pun terletak di bagian timur saja, bagian yang lebih banyak dihuni oleh orang-orang lama.
Di sisi sebelah kanan jalan utama, tampak menjulang sebuah bangunan seperti benteng raksasa berdiri sepanjang 2 kilo meter dengan tinggi 100 meter. Terlihat seperti sebuah penjara untuk penjahat kelas profesional.
Kana Market tak jauh lagi dari hadapannya. Alley memarkirkan mobilnya di depan mini market tersebut.
Dengan perasaan heran, dia turun sembari membawa brosur dan masuk ke dalamnya. Membiarkan anak lelakinya itu tertidur sendirian di dalam mobil.
"Selamat datang, Nona, selamat belanja," sapa dingin kasir wanita bertubuh gendut yang duduk sembari sibuk membaca buku dan mengunyah permen karet.
"Maaf, saya cuma mau meminta surat izin. Saya akan tinggal di kota ini. Menurut petugas, saya bisa mendapatkan surat izin itu di sini," kata Alley menunjukkan brosur di tangannya.
Kasir itu melirik dan menutup buku yang sedang dibacanya. Menatap wanita itu lekat-lekat.
"Sudah lama sejak orang terakhir meminta surat izin itu setengah tahun yang lalu," ucapnya sembari meniup-niup permen karet yang dia kunyah.
"Lalu apa saya bisa mendapatkan surat izin itu hari ini?" tanya Alley.
"Bukan aku yang mengurus surat izin tersebut. Kau harus bertemu dengan wali kota," jawabnya dengan nada terdengar malas. "Nelly, antarkan Nona ini padanya!" sahut kasir itu pada perempuan muda yang sedang merapikan rak makanan.
"Ayo Nona, ikut saya!"
Mereka menuju ke sebuah ruangan di belakang mini market tersebut.
"Apa Anda akan tinggal di kota ini?" tanyanya penasaran selagi berjalan.
"Ya, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Bila saya jadi Anda, saya tidak mau tinggal di kota ini."
"Kenapa?"
Sebelum sempat perempuan itu menjawab, mereka sudah tiba di ruangan wali kota.
Dia menyuruh Alley masuk ke ruangannya.
"Silakan duduk!" pinta seorang Bapak yang sedang mengisap sebatang cerutu di balik meja antik itu. "Ada urusan apa Anda datang kemari?" tanyanya sambil menyunggingkan senyuman.
"Saya ingin dapat surat izin tinggal. Saya akan tinggal di kota ini," jawab Alley yakin saat dia tengah duduk di hadapannya.
"Maksudnya tinggal selamanya atau tinggal sementara?" tanya wali kota seperti menginterogasi dirinya.
"Sepertinya saya akan tinggal cukup lama tapi saya tidak tahu pasti sampai kapan saya akan tinggal di sini."
"Hmm ... sebelumnya Anda tinggal di mana?" wali kota mematikan cerutunya ke dalam asbak.
"Apa untuk mendapat surat izin itu saya harus diwawancarai terlebih dahulu?"
"Ya, itu aturan di kota ini," balasnya sembari mengembuskan asap terakhir dari mulutnya.
"Baiklah. Tapi bisakah lebih cepat? Sebab saya meninggalkan anak saya di mobil."
"Tentu-tentu. Tapi Anda harus jujur menjawab pertanyaan saya," kata wali kota manggut-manggut.
Dia berjalan mendekati rak-rak yang penuh sesak dengan berkas-berkas berwarna perak.
"Tolong ceritakan sebelumnya Anda tinggal di mana? Untuk apa Anda pindah kemari?" tanya wali kota sembari mencari sesuatu.
"Saya tinggal di Javalava. Saya bersama anak saya datang kemari hanya ingin mendapat ketenangan," jawab Alley. "Sekaligus mencari tahu kebenaran."
"Kebenaran? Kebenaran apa?" herannya melirik dengan curiga.
"Lebih dari sebulan lalu suami saya mengunjungi kota ini. Tapi sampai detik ini dia belum juga pulang. Saya ingin mencari tahu keberadaannya."
"Memangnya siapa suami Anda?"
"Seorang wartawan, namanya Rehan, dia bersama seorang kameramen kemari untuk meliput kota ini."
"Meliputnya? Saya tidak pernah bertemu dengan wartawan yang meminta izin untuk meliput kota ini. Kenapa suami Anda tidak melapor kepada saya saat hendak meliput kota ini? Apa dia tidak tahu bahwa kota ini memiliki aturan?"
Alley menggeleng. "Saya tidak tahu."
"Jadi, sebenarnya Anda tinggal di sini untuk mencari suami Anda?" wali kota memastikan.
Alley mengangguk. "Anak saya merindukan ayahnya. Saya akan mencarinya. Dan jika bisa, saya ingin meminta pihak kepolisian di kota ini untuk mencari keberadaan suami saya."
Alley hanya mengangguk pelan.
"Siapa nama Anda?"
"Alley Raufall."
"Suami dan anak Anda?"
"Rehan dan Rafael Raufall."
Wali kota mencatat sendiri biodata Alley dan anaknya.
"Apa Anda sudah punya tempat tinggal di kota ini?"
"Iya. Saya sudah membeli salah satu apartemen milik teman saya."
"Membeli?" heran wali kota berhenti mencatat.
"Saya sudah punya surat-suratnya."
"Berapa teman Anda menjualnya?"
"Apa saya harus mengatakannya?" tanya balik Alley. Wali kota hanya menatap seakan berkata iya. "Lima juta. Saya heran kenapa teman saya menjualnya semurah itu tapi—"
"Apa Anda sudah melihat apartemennya? Di mana lokasinya?"
"Saya belum melihat apartemennya tapi menurutnya itu bagus dan besarnya lebih dari cukup. Apartemen saya ada di lantai 6 nomor 36 Kie Light Apartement. Jalan Kana blok F."
Jawabannya sedikit membuat wali kota tersentak seperti menyadari sesuatu.
"Kenapa, Pak?" Heran Alley mendapati ekspresi wali kota yang tiba-tiba berubah.
"Tidak apa-apa. Apartemen itu memang bagus dan harganya sungguh murah karena minggu depan pemerintah pusat akan mempromosikan kota ini pada kota-kota lain dan apartemen maupun rumah-rumah kosong di kota ini akan dilelang minimal tiga puluh juta pada semua orang," tuturnya.
Alley merasa ada kebohongan di antara kata-kata yang diucapkannya.
"Satu pertanyaan lagi. Apa di kota sebelumnya Anda masih punya rumah?"
"Rumah mertua. Selama ini kami tinggal dengannya."
Wali kota terus mencatat data-data tersebut.
"Saya juga perlu data-data suami Anda. Apakah Anda punya kartu identitas suami Anda dan riwayat pekerjaannya?"
"Saya tidak punya tapi saya bisa jelaskan," kata Alley yang mulai menjelaskan biodata suaminya.
__ADS_1
***
"Maaf, Pak. Kenapa Anda mengerjakan semuanya sendiri?" Alley bertanya-tanya.
"Anda tahu 'kan kota ini baru dibuka tiga tahun lalu. Belum ada orang yang mengenal banyak tentang kota ini. Jadi tidak ada tugas wali kota yang terlalu sibuk untuk saya kerjakan sendiri," jawabnya. "Baiklah. Anda sudah selesai. Silakan tanda tangan di sini dan di sini," perintahnya. "Dengan begini Anda sudah sah tercatat sebagai warga Lurid City yang ke-101 dan saya mohon pada Anda untuk mematuhi segala peraturan yang berlaku di kota ini. Datang lagi kemari besok. Saya akan berikan surat izin beserta surat-surat lainnya pada Anda besok sebab ada beberapa hal yang harus saya urus terlebih dahulu."
"Baik, Pak," kata Alley sembari menjabat tangannya.
"Oh ya, saya hampir lupa. Kenalkan nama saya Rendown dan ada aturan pertama yang harus Anda lakukan. Yaitu mengenal kota ini. Pergilah ke kasir dan minta A1 padanya. Baca buku tersebut sampai tuntas. Buku tentang segala hal mengenai kota ini dan peraturan-peraturan yang tak boleh dilanggar. Jangan pernah sekali-kali mengabaikannya karena saya tidak akan bertanggung jawab jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Anda dan anak Anda," ujar wali kota memperingatkan.
Kata-katanya membuat Alley terheran-heran tapi dia coba untuk tidak memikirkan dan menuruti apa yang wali kota katakan.
Dia pun keluar dari ruangan wali kota dan berjalan menuju kasir di depan.
"Pak wali kota menyuruhku meminta A1 padamu. Apa itu?"
"Oh, benda itu. Untung saja kau menanyakannya," ucap kasir memberikan sebuah buku dan peta Lurid City. "Aturan nomor 1: kenali kota ini. Baca buku ini dan jangan langgar aturan-aturannya. Terakhir kali aku lupa memberikan benda ini pada penghuni baru, beberapa minggu kemudian dia ditemukan tewas di sebuah gang."
Alley hanya bermuka sinis. Dan langsung keluar dari Kana Market tanpa bertanya mengenai hal tersebut.
Dia mendekati mobilnya. Terkejut mendapati anaknya tidak ada di dalam sana.
"Raf! Rafael!" teriak Alley panik.
"Hei, Nona! Apa yang di dalam itu anakmu?" sahut kasir itu memanggil Alley.
Alley berlari masuk ke dalam.
"Oh, Rafael! Kau buat Ibu khawatir saja."
"Ibu, aku lapar," kata Rafael sembari memegang beberapa camilan di tangannya.
Rafael mengambil sekaleng biskuit dan minuman kaleng lalu Alley membayarnya di kasir. Sewaktu kasir itu sedang memindai belanjaannya, Alley melirik keluar dari balik pintu kaca. Melihat benteng hitam raksasa yang berdiri puluhan meter dari Kana Market.
"Emm ... apa kau tahu apa itu?" Alley bertanya.
"Ozzone," jawabnya malas.
"Tempat apa itu?"
"Dulu itu adalah sebuah pabrik dan laboratorium. Tapi sekarang itu hanyalah kandang zombie dan seorang penyihir tinggal di sana," jawab kasir sembari tersenyum. Membuat Alley terheran-heran. "Semua dijelaskan di buku itu kecuali penyihirnya," imbuhnya tersenyum lebar seakan bergurau tapi itu sama sekali tidak lucu bagi Alley.
Alley memperhatikan buku dengan judul 'Rahasia Umum Lurid City' tersebut dan membuka peta yang terlipat di tangannya.
Dia melihat dalam peta kota yang berbentuk persegi panjang itu terdapat kotak hitam seluas 4 km² di blok B. Dia pikir mungkin itu Ozzone yang dimaksudkannya. Tapi ada 2 wilayah lagi yang tampak aneh dalam peta. Yang satu sebuah wilayah kecil ditandai dengan garis kotak putus-putus berwarna biru tepat berada di blok E, di depan apartemen yang akan dia tinggali kelak. Satu lagi sebuah wilayah kosong tanpa ada gambar bangunan maupun jalan. Hanya wilayah kosong. Sebuah sungai membelah wilayah kosong dan kota tersebut. Letaknya di blok D, di samping Ozzone dan Kie Light Apartement.
"Lalu tempat apa ini?" tanya Alley menunjuk kedua wilayah dalam peta tersebut.
"Gang Kana dan A.D.S. Avycon Dark Spot. Itu wilayah berbahaya. Jangan masuk ke sana," dia memperingatkan.
"Berbahaya?"
"Sebenarnya aku tidak boleh bilang padamu. Kedua wilayah itu dijelaskan di dalam buku tapi wali kota tidak menulis alasan kenapa wilayah tersebut berbahaya. Dia hanya menulis sejumlah aturan yang harus dipatuhi terutama untuk kedua wilayah tersebut."
"Apa yang berbahaya dari tempat itu?"
"Sejumlah orang dikabarkan hilang saat melewati gang Kana sedangkan banyak orang tewas di Avycon," jawabnya sembari memasukkan belanjaan Alley ke kantong kresek.
Hati Alley begitu tak tenang mendengar ucapannya. Dia mendadak teringat suaminya yang berada di gang Avycon. Sulit membayangkan jika suaminya mengalami hal buruk di gang itu.
"Semuanya lima puluh tujuh ribu, Nona," kata kasir memberikan belanjaannya.
"Oh, iya. Ini," Alley memberikan uangnya.
"Kau tinggal di mana?"
"Kie Light."
"Oh, pasti harga apartemen yang kau beli murah, ya?"
Alley hanya diam.
"Itu tak heran. Bahkan seharusnya rumah-rumah dan apartemen itu diberikan secara gratis pada semua orang," ucapnya. "Apalagi di bagian barat kota. Mengingat banyak kasus sering terjadi di sana. Dan kau tahu, orang-orang yang tinggal di sini hanya orang-orang yang terpaksa karena tak ada tempat bagi kami untuk tinggal di kota lain yang lebih ramai dan aman tentunya. Apartemen itu berada di blok F, 'kan? Lebih baik kau berhati-hati. Jangan sampai anakmu keluyuran memasuki wilayah itu."
"Terima kasih atas peringatannya. Aku bisa menjaga anakku sendiri," Alley berkata sedikit kesal. "Ayo, Raf!" ajaknya pada Rafael untuk keluar.
"Sampai jumpa. Jangan lupa datang lagi kemari dan semoga kau beruntung di sana," cetus kasir itu sambil tersenyum meledek.
"Aku ingin tanya satu hal lagi padamu?" tanya Alley saat membuka pintu toko.
"Apa?"
"Apa penduduk kota ini tahu mengenai tempat-tempat itu sepertimu?"
"Ya, semua orang tahu. Itu sudah jadi rahasia umum. Tapi mereka diam dan tak mengungkit masalah ini sebab kami ingin kota ini dipenuhi oleh penduduk agar ramai dan kami tidak kesepian lagi. Bila kami membuka rahasia ini ke dunia luar, orang-orang pasti takkan sudi tinggal di sini. Mereka akan kabur jika mengetahui sejarah dan misteri apa yang ada di balik kota mati yang coba mereka hidupkan kembali ini."
"Lalu kenapa kau memberitahuku hal ini?"
"Karena aku yakin kau tidak akan pergi dari kota ini. Pasti ada suatu alasan kuat hingga kau mau tinggal di sini," jawab kasir itu sambil tersenyum kembali.
Alley tak membalasnya. Dia langsung pergi menyusul anaknya yang sudah duluan masuk ke dalam mobil.
Sebelum dia meninggalkan Kana Market—dengan perasaan sedikit gelisah—sekali lagi, dia melihat peta. Memperhatikan bahwa apartemen yang akan dia tinggali terletak di antara 2 wilayah berbahaya yang salah satu namanya pasti memiliki sejarah karena digunakan sebagai nama mini market tersebut.
__ADS_1