
Alley menggenggam erat jaket Raku yang masih tersimpan di lemarinya dengan beberapa pakaiannya yang masih tersisa. Dia mencium jaket mantan suaminya tersebut sembari memikirkan rencana yang hendak dia lakukan selanjutnya.
"Raku, bantu aku. Bantu aku menghadapi semua ini," ucapnya pelan.
Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tersisa di lemari itu. Yang ada hanya sebuah kaus pink dan rok coklat berenda selutut serta sepatu bot kulit hitam.
Dia pakai jaket hitam milik Raku. Berharap hal itu bisa membuatnya tegar menghadapi situasi ini.
Alley memandang dari balik dinding kaca apartemennya. Tampak gedung-gedung tinggi berdiri kelam diterpa cahaya senja.
"Alley, apa kau yakin akan melakukan hal ini?" tanya Eren di belakangnya.
"Aku tak pernah bertemu suamiku. Aku tidak ingin hal yang sama menimpa Rafael. Jika aku bisa bertemu dan melihatnya, akan aku lakukan bagaimana pun caranya dan menerima bagaimana pun keadaannya. Setelah itu aku akan membongkar segalanya ...," ujar Alley. Kegetiran menyelimuti wajahnya.
"Biarkan aku membantumu. Biarkan aku ikut bersamamu!" pinta Eren.
Alley menoleh memandang ke arahnya.
"Yang akan aku lakukan ini adalah kejahatan. Meski kejahatan ini hanya untuk membongkar kejahatan mereka. Tapi tetap saja aku mungkin akan mendapat hukuman. Dan kematian adalah hal yang mungkin akan kudapatkan. Jika kau membantuku, kau mungkin akan mati."
"Aku tak peduli. Aku lelah bersembunyi. Aku lelah membohongi semua orang. Aku juga ingin mengetahui kebenaran. Biarkan aku membantumu."
Awalnya Alley ragu tapi akhirnya dia mengangguk pelan.
***
Senja itu, mereka mendatangi LCPD.
Rencana yang akan Alley lakukan adalah membebaskan Amy dan Tiny. Lalu masuk ke dalam Ozzone dengan bantuan Gabriel.
Di sepanjang perjalanan, Alley meredam emosi pada oknum-oknum yang telah membohonginya.
Thomas sedang duduk di meja saat mereka masuk ke dalam kantor.
"Aku ingin mereka dibebaskan!" kata Alley pada Thomas dengan nada tegas, namun tak tersulut emosi.
Dia tak ingin emosinya membuncah dan mengacaukan rencananya.
"Aku tidak bisa melakukannya. Jika mereka tidak mendatangi surat perjanjian wali kota, aku tidak bisa membebaskan mereka," elak Thomas.
"Perjanjian apa? Apa mereka melakukan kejahatan? Mereka hanya ingin bertemu dengan keluarga mereka yang hilang. Sama sepertiku dulu!" sembur Alley.
"Sebaikya kalian tidak ikut campur mengenai kasus mereka. Ini urusanku, mereka dan wali kota," balas Thomas seakan mengancam.
Hal itu membuat Alley geram.
"Teganya kau membohongiku! Kenapa kau mencuri jasad anakku!" tuding Alley yang tak sanggup lagi untuk menahan amarah.
"Apa maksudmu?"
"Tak ada jasad di kuburan Rafael? Kau membohongiku dan Alley, Thomas!" timpal Eren.
"Apa?!" kejut Thomas.
"Bukankah kalian yang mencuri jasad anakku?!" tukas Alley. "Di mana jasad anakku sekarang?!"
Thomas melirik ke kanan dan ke kiri dengan waspada. Tak ada petugas lain yang mendengarkan pembicaraan mereka. Dia langsung menyuruh Alley dan Eren mengikutinya menuju ke tempat ibu dan menantu itu berada.
"Apa maksud kalian?" heran Thomas di koridor lantai 2 tak jauh dari Amy dan Tiny.
"Tak ada jasad anakku dalam kuburannya. Bukankah kalian yang telah mengambilnya. Aku sudah menggali kuburan anakku dan tak ada apa pun di dalam sana!" ujar Alley gusar.
"Tidak. Aku tidak melakukan hal yang seperti kalian tuduhkan. Kenapa kalian bisa berkata seperti itu?"
"Aku sudah mengetahui yang kalian kerjakan. Kau dan wali kota mencuri jasad-jasad orang mati di kota ini untuk melakukan Martyr Project itu, bukan?!" sergah Alley.
"Sabar, Alley. Tenanglah! Jangan berteriak-teriak!" kata Thomas.
"Katakanlah pada Alley kejujuran, Thomas! Kenapa kau membohongi kami?" pinta Eren.
"Percayalah. Aku tidak pernah mengambil jasad anakmu untuk proyek tersebut."
"Seluruh keluargaku telah mati. Jangan kalian bohongi aku lagi. Bahkan ketika anakku sendiri mati, kalian masih menggunakannya untuk melakukan proyek sialan itu! Kenapa kau tega padaku?! Jika bukan kau yang melakukannya, lalu siapa?! Bukankah kalian selalu melakukan hal itu?!"
"Alley, tenanglah. Aku akan menjelaskan sesuatu padamu. Kau harus percaya padaku!" kata Thomas.
"Apalagi yang bisa kau jelaskan?! Kalian sudah berbuat sesuatu yang jahat terhadapku, terhadap keluargaku. Kalian tak mau membantuku menemukan suamiku. Kalian tak mau membantuku keluar dari gang Kana saat aku meminta bantuan. Kalian mengancam Eren, dan tak mengatakan kebenaran pada ibuku yang mencariku saat aku hilang. Apa yang sebenarnya kalian inginkan?! Apa tindakan kalian itu sesuatu yang benar?!" cetus Alley bersungut-sungut.
"Tenanglah! Jangan sampai mereka mendengar kalian. Jika mereka tahu, itu akan membahayakan nyawa kalian. Percayalah padaku, aku akan menjelaskan secara baik-baik semua yang ingin kau ketahui."
"Tidak! Aku tak akan percaya pada kalian!" tukas Alley. "Sekarang, bebaskan mereka!" tunjuknya pada Amy dan Tiny.
"Apa yang akan kau lakukan, Alley?" tanya Thomas.
"Aku akan mencari anakku di Ozzone dan kau tak akan bisa mencegahku!"
"Thomas, bebaskan kami!" pekik Amy.
Kegelisahan dan kebimbangan tersirat di wajah Thomas.
Di sisi lain dia kasihan terhadap Alley.
Di sisi lain dia merasa bersalah.
Di sisi lain dia tidak ingin menentang wali kota dan melanggar aturan kota.
Di sisi lain pula dia tidak ingin jika harus melenyapkan mereka semua yang dianggap ancaman bagi wali kota.
Sebab Thomas pun berpikir bahwa mereka hanya ingin mencari tahu kebenaran. Bukan untuk mengacaukan kota ini. Dan hati kecilnya terus mengatakan sesuatu. Sesuatu yang harus dia lakukan terhadap mereka agar mereka semua merasa tenang. Tidak menambah situasi menjadi kacau-balau dan melibatkan berbagai pihak.
"Baiklah. Aku tidak ingin membuat situasi ini begitu keruh. Akan aku antar kalian semua ke Ozzone dan membantu apa yang ingin kalian cari sebisaku. Tapi kuharap kalian tidak banyak bertingkah di kota ini. Jangan sampai wali kota mengetahui—"
"Tidak!" sela Alley. "Aku akan masuk ke Ozzone tanpa bantuanmu!"
"Dengar, Nona! Jika kau masuk ke Ozzone tanpa aku, kau bisa tersesat atau mati," sergah Thomas memelototi Alley, Eren, Amy dan Tiny bergantian. "Kalian tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam sana. Kalian tak akan tahu apa-apa!"
Alley terdiam.
Memandang wajah Thomas dalam-dalam.
Berusaha mencari ekpresi kebohongan di antara raut wajahnya yang tampak gelisah.
"Bagaimana dengan anak-anakku?" tanya Amy.
"Aku akan coba meminta bantuan Suri lagi mengenai orang-orang yang kalian cari di dalam sana. Tapi kuminta kalian, terutama Anda Nyonya Amy untuk tidak berulah dan melanggar aturan yang ditentukan Madam Suri terhadap kita," Thomas memperingatkan.
Amy hanya diam.
Tiny mengangguk setuju dan mengelus-elus perutnya yang buncit.
Thomas membebaskan Amy dan Tiny. Membawa mereka ke sudut gedung LCPD.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat mereka mulai bergerak mengendap-endap menghindari polisi-polisi lain yang hendak menyergap mereka di tempat jika mengetahui apa yang dilakukan Thomas beserta empat wanita itu.
Thomas membuka sebuah pintu dan mereka tiba di sebuah lapangan kecil yang terimpit di antara dua gedung tinggi. Lima puluh meter dari tempat mereka berpijak tampak sebuah rumah bergaya Indo.
Rumah tersebut tampak tua dan kontras dengan dua gedung tinggi di kiri dan kanannya. Rumah tembok bercat krem yang tampak kumal itu terlihat tak terurus. Halamannya dipenuhi belukar dan rumput liar kerontang terpanggang panasnya terik matahari di kala siang. Lantai keramiknya pecah belah dan atap gentingnya tampak lapuk dan berlumut.
"Akan kau bawa ke mana kami?" tanya Alley curiga.
"Ini adalah jalan rahasia menuju Ozzone."
"Kenapa kau tak melewati jalan biasa?" tanya Amy.
Thomas memandang wajah mereka semua yang penuh dengan kecurigaan. "Sudah sebulan, para peneliti dan ilmuwan utusan perusahan Kie Light mulai mengeksplorasi Ozzone bagian timur. Jika kita melewati jalan biasa, mereka akan mengetahui keberadaan kita."
"Apa yang akan mereka rencanakan lagi?" tanya Alley.
"Jika aku memberitahu apa yang dilakukan wali kota, mungkin aku harus membunuhmu," kata Thomas.
"Aku tak peduli lagi," tantang Alley berwajah dingin. Memelototi Thomas dengan ganas.
Thomas mengabaikan.
Dia tak ingin berdebat.
Dia lalu memilih kunci yang pas untuk membuka pintu rumah itu.
Mereka semua memeriksa ruangan demi ruangan dalam rumah.
Amy memasuki dapur. Memperhatikan beragam peralatan makan dan perkakas dapur. Dia mendapati sebilah pisau di situ. Tanpa semua orang sadari, dia selipkan pisau itu ke dalam tasnya.
Thomas menyuruh mereka mendekatinya yang berdiri di hadapan lemari jam besar. Dia memutarkan arah jam itu ke arah angka 12 dan 6. Lalu menekan tombol yang tersembunyi di balik pajangan dinding. Tiba-tiba dinding bergeser, sebuah pintu rahasia terbuka di samping jam besar tersebut.
"Apa kau bisa aku percaya?" tanya Alley sangsi.
"Kali ini, percayalah padaku. Hanya aku yang bisa kalian percaya saat ini. Aku akan berusaha membantu kalian dan menjaga agar kalian selamat di Ozzone. Tapi aku meminta satu hal dari kalian. Turuti semua kata-kataku dan jaga semua yang kita lakukan ini agar tetap rahasia. Jangan sampai pihak kepolisian lain tahu apalagi wali kota. Karena aku juga mempertaruhkan nyawaku di sini," ujar Thomas.
Mereka berlima masuk ke dalam jalan rahasia tersebut. Menyusuri lorong sempit yang panjang dan lembap yang hanya tersinari lampu pijar kecil di setiap beberapa meter sekali.
Mereka akhirnya tiba di ujung lorong. Terdapat sebuah lift berjeruji besi yang tampak berkarat.
Mereka masuk ke dalamnya dan Thomas menekan tombol lift itu menuju ke lantai paling atas.
Mereka tiba di sebuah lorong lain yang menuju satu-satunya pintu.
Ruangan berpintu baja itu dilengkapi sistem keamanan bersandi. Tombol-tombol tampak berderet di samping pintunya. Thomas mengetik kodenya dan pintu baja itu akhirnya membelah terbuka.
Di dalamnya, terdapat ruangan berkarpet merah.
Dinding dipenuhi rak buku.
__ADS_1
Tapestri-tapestri indah
Lukisan Picasso.
Sofa mewah.
Dan meja kantor antik tanpa adanya debu meski seabad telah berlalu.
"Ruangan apa ini?" heran Eren.
"Salah satu ruangan CEO Kie Light Biohazard Group. Ini adalah salah satu ruangan teraman di Ozzone. Ruangan ini anti virus, gas beracun, peluru, dan bom tapi ironisnya ruangan ini terlupakan dan tak pernah digunakan saat insiden kebocoran terjadi."
Thomas membuka pintu baja lain di sisi ruangan yang menggunakan sistem pengamanan sama.
Mereka keluar dari pintu tersebut.
Tiba di ruangan lain yang lebih luas.
Berdebu.
Cat dinding mengelupas.
Lantai keramiknya kusam.
Beberapa lumut dan rumput liar tumbuh di sela-sela lantai yang retak.
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang menuju ujung dari gedung Ozzone bagian luar.
Ozzone terbagi dalam 3 zona.
Zona level 1 adalah gedung bagian luar berbentuk cincin persegi yang disebut sebagai Ring Gate. Bangunan raksasa inilah yang tampak dari luar. Ring Gate berbentuk persegi dengan panjang masing-masing sisi 2 kilo meter dan lebar 400 meter serta tinggi 100 meter yang memiliki 30 lantai ke atas.
Ozzone Level 2—gedung Sentral—berada di tengah-tengah Ozzone dan terpisah dari Ring Gate oleh lapangan selebar 350 meter di masing-masing sisi. Luas gedung Sentral 250.000 m² dengan tinggi lebih dari 250 meter mencakar langit dan memiliki lebih dari 60 lantai.
Sedangkan Ozzone level 3 adalah bagian bawah tanah Ring Gate dan gedung Sentral yang menyatu. Tapi terdapat beberapa bagian yang terpisah sendiri di bawah tanah dengan kedalaman dan jumlah lantai yang tidak diketahui secara pasti.
Mereka berjalan menyusuri koridor melewati ruangan demi ruangan sepi dan janggal.
Eren tampak sedikit was-was saat mengamati sekeliling. Dia tahu bahwa di gedung ini banyak orang mati tapi dia tak melihat adanya sisa-sisa manusia di dalam ruangan-ruangan dengan pintu terbuka itu. Mungkin karena mereka berada di lantai paling atas dan tak tampak sesuatu yang menyeramkan di sana.
Mereka menuju kereta dalam gedung yang dapat membawa mereka mengelilingi berbagai tempat di Ozzone dengan sekejap.
Menuju sayap kanan Ozzone lantai tiga puluh bagian barat daya.
Menuruni lift lainnya.
Thomas bilang hanya lift tersebut yang aman digunakan untuk turun ke lantai satu. Itulah kenapa dia memilih lift yang terjauh. Selain karena dia mengantisipasi kalau-kalau dirinya bertemu orang-orang Kie Light atau mungkin bertemu sesuatu yang lain.
Mereka keluar dari Ring Gate menyusuri lapangan berlantai batu susun menuju gedung Sentral yang menjulang tinggi di tengah-tengah. Di sanalah seorang penyihir bernama Suri tinggal.
Thomas mengetikkan kode dalam pintu baja yang menyegel tempat tersebut. Hal itu membuat Alley bertanya-tanya. Dia tetap merasa janggal dengan sistem keamanan yang menurutnya cukup canggih pada abad 19 dan kini berusia lebih dari 100 tahun, tapi tetap bekerja.
Lupakan itu, aku telah masuk portal waktu. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan.
Alley membatin.
Suasana gedung Sentral tidak seperti Ring Gate.
Gedung Sentral sangat kelam.
Dinding berlumut kecoklatan dan hitam seperti pernah terjadi kebakaran.
Berbagai meja dan kursi besi tampak berkarat. Tergeletak menumpuk di sepanjang sudut ruang dan lorong.
Terdapat bekas ribuan telapak tangan dan kaki yang tercetak di dindingnya hingga ke langit-langit.
"Mengerikan," kata Eren melihat telapak tangan dan kaki itu seakan orang-orang pemilik telapak itu bisa berjalan di dinding dan langit-langit.
Alley melihat ada telapak aneh yang tercetak di sudut dinding. Dia tahu bahwa itu bukanlah telapak kaki manusia.
Dengan waspada, mereka berjalan menuju lift dan turun ke lantai B10.
"Kuharap kalian tidak ketakutan dengan apa yang akan kalian lihat di bawah nanti," kata Thomas memandang Alley dan Eren secara bergantian.
Amy dan Tiny hanya diam. Tahu sebab mereka telah melihat sebelumnya.
Mereka tiba di sebuah lorong remang yang tersinari sedikit cahaya lampu pijar.
Di sepanjang lorong terdapat sel-sel baja seperti penjara. Dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri para penghuninya.
Alley mengamati ada seorang pemuda yang tengah duduk dalam sel itu sembari memandangi mereka berjalan. Pemuda itu bergeming mirip orang sinting.
Di sel baja lainnya sesosok wanita tampak histeris minta dibebaskan.
"Siapa mereka?" heran Alley memandang orang-orang yang dikurung dalam sel-sel baja berkarat.
Beberapa memohon untuk dibebaskan.
Beberapa lainnya berteriak-teriak.
"Mayat hidup! Mereka bukan manusia!" kata Amy menyela Thomas yang hendak berkata.
"Alley, bersiaplah. Mungkin yang dikurung di pintu ini bisa membuatmu mual," kata Thomas seraya membuka pintu besi yang menyekat lorong tersebut.
Di sel-sel lainnya yang berada di balik pintu itu, tampak hal-hal yang mengerikan. Berbagai bentuk manusia korban kecelakaan terlihat bergerak memenuhi seluruh sel baja yang ada. Tampak orang-orang dengan sebagian anggota tubuhnya yang hancur, tanpa lengan dan kaki, ataupun wajah gepeng terlindas truk. Bahkan ada seorang pria berkepala buntung dengan kepala yang dipegang tangannya sendiri memohon-mohon untuk dibebaskan maupun seorang wanita dengan perut bolong dan usus yang terburai menangis histeris. Ada pula seonggok tengkorak yang mengamuk dalam sel. Tengkorak itu membenturkan tubuhnya ke arah jeruji besi dan hancur berantakan tapi kemudian menyatu kembali seperti sediakala.
Di sudut lainnya tampak siluet abu yang bergerak dalam ruang kaca. Abu itu melayang-layang membentuk sosok wajah mengerikan.
Eren tak kuasa menahan rasa ingin muntah.
Alley hanya bisa menggeleng dengan raut wajah yang syok melihat semua itu.
Tiny lebih memilih menutup mata dan dituntun Amy karena dia merasa perutnya yang sedang hamil itu berkontraksi sewaktu melihat semua Martyr Project tersebut.
Ada sebuah ruangan di sana.
Rinachita Room—ruang ritual.
Mereka masuk dan Thomas menutup rapat pintunya.
Ruangan remang dengan penerangan yang hanya berupa cahaya lilin.
Di samping ruangan, terdapat sebuah meja yang dipenuhi tabung-tabung kaca laboratorium dan terdapat berbagai jenis cairan di dalamnya.
Di tengah-tengah, tertoreh gambar bintang hitam dalam matahari merah—simbol perusahaan Kie Light. Tiga batang lilin meneranginya.
Di langit-langit, tergantung rantai dan kurungan besi bertutup kain hitam.
Dindingnya pula dihiasi tapestri-tapestri hitam yang menjuntai hingga ke lantai.
"Di mana penyihir itu?" tanya Alley.
"Aku akan memanggilnya," kata Thomas lalu membunyikan sebuah bel kecil di meja itu sebanyak tiga kali.
Tiba-tiba sesosok bayangan berputar di tengah ruangan.
Seorang nenek muncul di depan tiga lilin yang menyala.
Seorang wanita muda berdiri di belakangnya.
Wanita tua itu berwajah Eropa dengan rambut putih terkonde. Dia mengenakan berlapis-lapis jubah yang terbuat dari wol. Lehernya dililiti oleh syal yang begitu tebal. Pakaian itu menutupi seluruh tubuhnya yang besar. Sedangkan seorang perempuan di belakangnya mengenakan seragam suster kompeni—seragam terusan hingga ke lutut—dengan rambut dikepang satu dan sepatu bot hitam.
"Ada apa kalian kemari?" tanyanya dengan suara serak nan tegas.
Matanya tajam memandang Alley.
Tampak raut wajah kesal di mata Amy seakan hendak mengatakan sesuatu.
Tapi Alley keburu berkata, "Anakku. Apakah dia ada di sini?" tanya Alley.
Wanita tua itu tersenyum seolah telah mengetahui. Dia hanya mengangguk mengiyakan.
"Di mana dia? Aku ingin bertemu dengannya?" pinta Alley buru-buru.
Thomas mencoba menahan sikap Alley yang tampak memaksa. Menyuruhnya bersabar.
"Tenanglah, kita duduk. Ikuti peraturan di ruangan ini," kata Thomas seraya duduk di lantai tepat berhadapan dengan Madam Suri yang terhalangi tiga cahaya lilin.
Mereka semua mengikutinya duduk di samping Thomas.
"Untuk apa kau menemui anakmu? Sekarang anakmu bukanlah manusia," kata Suri.
"Di mana dia? Aku ingin bertemu dengannya!" pinta Alley tetap memaksa.
"Diamlah, Nona! Tak perlu berteriak di tempat ini. Ikuti peraturanku jika kalian menginginkan sesuatu!" bentak Suri.
"Siapa yang telah membawa anakku kemari?! Apa kau tahu?" tanya Alley tak mengindahkan aturannya.
Suri memandang Thomas, Amy, Tiny, dan Eren satu-satu.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
"Bohong! Apakah wali kota yang membawanya?! Apa Thomas atau pihak kepolisian lainnya?!" tuding Alley dengan nada keras.
"Tenanglah, Alley. Jika kau melanggar peraturan, kita semua akan mendapat masalah," bisik Thomas sembari mencengkeram pergelangan lengan Alley begitu kuat.
"Kau ingin tahu? Tanyakan langsung pada anakmu," kata Suri menengadahkan telapak tangan ke atas.
Kurungan yang tergantung di langit-langit turun ke lantai tepat di samping Alley.
Awalnya tak ada apa-apa di kurungan itu tapi kemudian sesosok tangan kecil tampak menjulur di antara kain hitam yang menutupinya.
__ADS_1
Perempuan yang mereka sebut asisten penyihir itu menyingkap kain itu hingga terbuka.
Sesosok anak kecil berada di dalamnya. Anak kecil itu mengenakan jas hitam berdasi kupu-kupu merah.
"Rafael?" kata Alley.
"Ibu ...," panggilnya.
"Jangan sentuh anakmu. Iblis dalam tubuh anakmu belum bisa menguasai diri," kata Suri memperingatkan.
"Ibu, di mana aku, kenapa aku dikurung?! Ibu, bebaskan aku!" pinta Rafael bercucuran air mata.
"Rafael, maafkan Ibu," kata Alley yang ikut menangis hendak menyentuh anaknya.
Thomas mencegah.
Mengingatkannya mengenai aturan.
Alley tak percaya bahwa anaknya itu telah meninggal dan yang dia lihat saat ini hanyalah seonggok mayat yang dihidupkan kembali oleh penyihir.
Tapi, bukan hanya roh Rafael semata yang ada di dalam tubuh anaknya kini.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang bisa mengambil alih tubuh Rafael saat Hell Time tiba. Saat dia menyentuh anaknya.
Eren sama terkejutnya mendapati Rafael yang hidup kembali.
"Rafael, Ibu menyayangimu. Jangan takut, Nak," kata Alley. "Rafael apa kau tahu siapa yang menabrakmu? Apa kau tahu siapa yang membawamu kemari?"
Rafel yang masih anak-anak itu belum bisa mencerna perkataan Alley. Dia mencoba mengingat segala hal. Meski semuanya tampak jelas tapi Rafael pun seperti tidak percaya bahwa dirinya sendiri telah mati.
"Samael! Samael yang telah menabrakku, Ibu!" kata Rafael.
Alley ingat dengan nama itu.
Wanita tua penjaga gerbang di Avycon.
Alley bertanya-tanya kenapa wanita itu tega menabrak anaknya. Dugaannya pun menguat mengenai konspirasi wali kota. Wanita itu adalah utusan wali kota. Berarti yang melakukan hal ini adalah wali kota. Dan tentu saja hal ini ada hubungannya dengan Thomas mengingat dia adalah kepala Officer LCPD.
Alley menoleh menatap Thomas dengan gusar.
"Kalian yang telah membunuh anakku! Kenapa kalian melakukan hal ini?!" sergah Alley menampar Thomas.
"Alley, tenanglah! Aku sendiri tidak tahu tentang hal ini. Percayalah!" sangkal Thomas.
Alley terus menumpahkan air matanya.
"Rafael, siapa yang telah membawamu kemari? Apakah pihak kepolisian yang membawamu dan menghidupkanmu?" tanya Alley mencoba tenang.
Rafael menggeleng. "Samael pula yang menghidupkanku, Bu."
"Apa?!" syok di hati Alley tak berkurang. Malah semakin menjadi-jadi. Dia tidak percaya. "Kenapa? Kenapa Samael melakukan hal itu? Membunuh Rafael dan menghidupkannya lagi?"
Dia memelototi Thomas. Menagih jawaban.
Thomas menggeleng. Dirinya sama terkejutnya dengan Alley. "Tidak. Aku tidak tahu apa pun, Alley."
"Nak, apa kau tahu kenapa dia melakukan itu?"
Alley menatap anaknya dalam-dalam.
"Tidak. Aku tidak tahu!" jawab Rafael. "Ibu keluarkan aku. Bawa aku pulang, Bu. Aku takut."
Rafael merengek minta dibebaskan.
Thomas masih terus menahan Alley agar tak menyentuhnya.
Rafael terus menjulurkan tangannya minta diraih ibunya.
Alley merindukan anaknya. Dia ingin memeluk anaknya. Tangisan mereka pecah menderu-deru.
"Alley ...," Eren memeluknya dengan lembut.
Amy tampak tidak senang saat memandang Suri. Dirinya sakit hati atas lenyapnya kedua anaknya di tempat ini.
"Beritahu aku di mana kedua anakku?!" pinta Amy padanya.
Amy sudah tak sanggup lagi meredam emosi itu. Melihat Alley dan anaknya, membuatnya teringat dengan kedua anaknya sendiri yang hilang. "Kenapa kau menyembunyikan anak-anakku?!"
"Kedua anakmu telah melanggar aturan. Mereka tidak bisa melewati ujian yang kuberikan. Mereka sudah mati!" kata Suri.
Hal itu membuat Amy berang.
Murka.
Lantas dia berdiri.
Mengeluarkan pisau dari dalam tas.
Menghunuskannya tepat di perut penyihir tua itu.
Semua menatap Suri dengan terbelangah.
"Ibu!" kejut Tiny.
Saat Amy menusuk tubuh Suri. Suri hanya menyimpul senyuman.
"Akhirnya ... aku bebas ...," kata Suri yang mendadak meledak menjadi abu.
Amy terpental ke belakang.
Membentur dinding.
Yang lain tersungkur di lantai.
"Apa yang telah kalian lakukan?! Kalian telah melanggar aturan sakral! Kalian semua akan mati di tempat ini!" sergah perempuan asisten penyihir itu.
Perempuan itu mundur ke belakang.
Menarik tuas di dinding.
Pintu rahasia terbuka.
Dia lenyap di baliknya.
Alley tak peduli dengan insiden itu.
Dia kemudian meraih lengan anaknya.
Hendak dipeluknya.
Sekonyong-konyong, anaknya berubah menjadi lain.
Rafael berontak seperti kerasukan setan.
Dia mencengkeram lengan Alley begitu kuat.
"Rafael!"
Alley mencoba melepaskan diri.
Tak bisa.
Pergelangan tangannya dicakar-cakar anaknya sendiri hingga berdarah.
Thomas dan Eren mencoba membantu Alley melepaskan cengkeraman itu.
Tak berhasil.
Cengkeramannya begitu kuat.
Nyaris meremukkan lengan Alley.
Sementara itu, Tiny beringsut mendekati mertuanya yang merintih dan membantunya berdiri.
"Rafael, lepaskan tangan Ibu!" pinta Alley.
Wajah Rafael begitu kosong. Anaknya memekik histeris.
"Tak ada gunanya!" keluh Thomas mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya. Mengarahkannya ke tubuh Rafael.
"Thomas, apa yang kau lakukan!" pekik Alley.
Thomas tak ragu.
Dia langsung mencetuskan peluru pistol itu ke tubuh Rafael hingga akhirnya Alley terlepas dari cengkeramannya.
"Dia bukan manusia, Alley! Kau harus terima itu!" sergah Thomas.
Alley yang syok menahan tangis. Memegangi lengannya yang terluka.
Tubuh Rafael terkapar di dalam kurungan tersebut.
"Rafael ...," kata Alley pelan seraya mengucurkan air mata.
Sebuah sirine terdengar mengumandang dari berbagai sudut gedung.
Meraung-raung di ujung senja.
Memecah ketegangan yang ada.
__ADS_1
"Hell Time! Kita harus segera pergi dari sini!" ujar Thomas.
Alley masih memandang jasad anaknya dalam kurungan itu yang perlahan bangkit kembali.