
Perempuan itu tersenyum lebar. Senyuman yang mengingatkan Alley pada sosok di Avycon. Putri Kana.
"Biarkan kami keluar dari sini!" pinta Thomas.
"Aku bisa membebaskanmu. Tapi kau harus membunuh wanita itu," ucapnya dingin memandang tajam ke arah Alley.
"Kenapa? Alley tidak bersalah. Alley tak ada hubungannya dengan ini semua," balas Thomas.
"Thomas, apa kau tidak tahu kenapa wali kota melakukan semua ini?" tanyanya.
"Aku ... tahu ...," kata Thomas berat.
Dia bahkan baru mengetahuinya saat dia membaca lembaran di ruangan dokumen tadi.
"Thomas, apa yang kau ketahui?" sela Alley curiga.
Thomas tak menjawab.
"Tapi, Alley tidak melakukan sesuatu," imbuhnya pada penyihir itu.
"Dia terlalu banyak melanggar aturan," ujar Kaledonia.
"Tidak. Dia hanya tidak tahu!" tukas Thomas.
"Takdirnya adalah di sini. Hidup atau mati dia tetap harus berada di sini. Jika dia aku biarkan keluar, sesuatu yang buruk akan terjadi. Termasuk pada dirimu, Thomas. Aku memberimu kesempatan terakhir. 'Mereka' hanya akan memberimu sekali kesempatan untuk keluar. Ayahmu, wali kota tentu tak ingin dirimu berada di sini, bersama mereka, dan menjadi sesuatu yang lain."
"Wali kota ayahmu?" heran Alley menatap Thomas yang mematung di sampingnya.
Dia bahkan tak bisa memercayai itu. Alley yang awalnya percaya pada Thomas malah mendadak ragu kembali.
"Thomas, jelaskan padaku!" bentak Alley.
Thomas bergeming dan berspekulasi dengan pikirannya sendiri. Dirinya tampak bimbang, menimbang segala kemungkinan yang hendak terjadi.
"Silakan Thomas, apa yang akan kau pilih? Membunuhnya, atau membiarkan semua orang mati?" si penyihir menawarkan.
Alley tampak kebingungan dan tak mengerti dengan situasi ini.
Apa yang mereka bicarakan?
"Aku tak ingin melakukan keduanya," jawab Thomas.
"Baiklah, tapi kau harus mematuhi aturan terakhir ini. Keluar, dan biarkan dia di sini. Tak usah mencarinya lagi."
"Kau akan membunuh Alley?" tanya Thomas waswas.
Kaledonia tergelak. "Aku penyihir, tapi aku tak bisa membunuh manusia. Keadaan yang akan membunuhnya, sama seperti orang-orang yang kalian bawa tadi."
"Thomas, kau tak akan meninggalkanku di sini, bukan?" timpal Alley dengan raut wajah terkejut.
Thomas terdiam kaku, menatap Alley dalam-dalam.
"Aku tidak bisa," kata Thomas getir.
Terasa berat.
"Apa?! Apa maksudmu?!"
Sungai bening mengalir di pipi pria itu. Thomas tampak serapuh kertas. Alley tak mengerti apa yang Thomas telah ketahui hingga dia mengucurkan air matanya.
"Alley, percayalah padaku. Ini sesuatu di luar kemampuanku. Tak ada pilihan lain. Aku harus meninggalkanmu di sini."
Alley syok, menarik kerah jaket Thomas kuat-kuat. "Apa?! Apa yang kau ketahui Thomas?!"
"Aku tidak bisa mengatakannya. Jika aku bilang, aku harus membunuhmu."
Alley pun tak mampu menahan tangis meski tak ada air mata yang tersisa lagi di kedua matanya yang memerah.
"Alley, diamlah di sini dan kuharap kau tak membenciku. Percayalah, ini yang terbaik untuk semua orang," kata Thomas melepaskan cengkeraman Alley.
"Baik. Pergi! Pergilah! Selamatkan dirimu sendiri! Aku salah telah menilaimu!"
"Ini. Simpanlah! Percayalah bahwa yang aku lakukan ini adalah hal yang benar. Berjuanglah untuk tetap hidup!"
Thomas memberikan ponsel miliknya.
Alley tak mengerti dengan hal ini. Kenapa Thomas tampak ketakutan saat mengetahui sesuatu yang tak diketahuinya mengenai kota ini? Kenapa dia merahasiakannya?
Thomas berlalu meninggalkan Alley. Dia pergi melewati penyihir itu dan menembus pintu baja yang tak terkunci.
Kaledonia tetap menyungging senyum dengan kedua lengannya yang tersilang di dada.
Alley masih bergeming. Dirinya seperti mengalami de javu. Pintu keluar berada sepuluh meter di depannya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Tak ada apa-apa lagi di luar sana. Segala rahasia kota ada di gedung ini dan dia tak punya tujuan lain lagi untuk hidup. Segalanya terasa semakin kacau. Kehidupannya hampir mati. Dia tak akan pernah bisa kembali ke kehidupannya yang dulu. Dia harus tetap maju dan melebur dengan segala yang terjadi.
Ada satu hal yang Alley bisa lakukan sekarang—mencari kebenaran—rahasia kota dan suaminya. Harapan kebahagiaan dia kubur jauh-jauh karena kali ini, kematian adalah konsekuensinya. Tak ada lagi cara untuk mundur.
Dia akan menyelesaikan segala tujuan akan kebenaran yang dia inginkan di sini.
Dia tak akan menyerah hingga titik darah penghabisan.
Dia akan berjuang untuk menemukan segala kebenaran itu.
__ADS_1
Dan dia tahu apa yang harus dia lakukan pertama kali. Memusnahkan biang keladi kota ini.
Alley berjalan ke depan sembari membidikkan Magnumnya ke arah Kaledonia. Saat jaraknya lima meter, dia langsung mencetuskan peluru menembus kepala pucat penyihir tersebut.
Peluru itu melesat menembus alisnya. Sebelah kepalanya hancur, membuyarkan apa yang ada di dalamnya.
Senyuman kepuasan tersungging di wajah Alley, tapi seketika sirna saat perempuan itu menyibakan lengannya ke kepala yang hancur dan seketika itu pula kepalanya kembali utuh seperti sedia kala.
"Mustahil!"
Alley melotot tak percaya.
Dari lorong di samping, predator itu menerjang dan berdiri di samping si penyihir. Kaledonia mengelus dagu tengkorak monster ganas itu layaknya anjing peliharaan. Dan dari lorong kanan, muncul pria berjubah. Dia berjalan mendekati Kaledonia dengan mata kosong dan berdiri di sampingnya pula.
"Gabriel?" heran Alley kembali dilanda kebingungan. "Sebenarnya, siapa kau?"
Akar pohon menyembul dari lantai yang retak, kemudian bergerak menuju pintu baja di belakang mereka. Akar itu merambat ke atas, ke langit-langit membentuk pola sebatang pohon raksasa. Kaledonia tersenyum. Senyuman penuh makna yang membeberkan segala rahasia.
***
Hutan Avycon, 1850.
Mereka berdiri di antara belukar. Becakap-cakap hendak melancarkan sebuah rencana besar.
"Aku ingin menawarkan transaksi denganmu," ujar Antonio, penyihir agung kepercayaan Raja.
"Transaksi?" heran Erex, berkerut dahi. "Transaksi apa maksudmu?"
"Aku tahu bagaimana rasa sakit itu. Bagaimana rasa sakitnya dirimu dicaci dan direndahkan oleh semua orang. Terutama oleh Putri Kana yang selama ini menginjak-injak harga dirimu terang-terangan. Aku tahu apa yang kau inginkan dan aku bisa mewujudkan keinginanmu itu?" ujar Antonio.
Erex tertawa sinis. "Kau ingin membelot? Kenapa kau ingin mengkhianati Raja?"
"Hidupku tak akan bertahan lebih lama lagi. Terlalu banyak tragedi yang terjadi di tanah ini. Terlalu banyak dipenuhi darah, kutukan, dan sumpah serapah. Terlalu banyak energi negatif di tanah ini yang disebabkan oleh semua orang, adat istiadat, dan aturan-aturan sakral yang dilanggar. Jika ini terus dibiarkan, akan dapat membahayakan umat manusia. Iblis-iblis itu bisa menjadi bumerang bagi umat manusia dan aku harus melakukan pemurnian pada tanah ini—pemurnian pertama. Aku harus memusnahkan semua makhluk yang ada di hutan ini. Dan aku menawarkan transaksi ini padamu. Aku akan membiarkanmu hidup abadi. Tapi, aku ingin semua yang terjadi terpusat padamu. Menjadikanmu kambing hitam. Menjadi pusat kegelapan yang akan terjadi di tanah ini, dalam artian kau yang akan membunuh semua orang lewat bantuanku."
"Lalu, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Erex.
"Ada satu syarat agar kau bisa membunuh semuanya dan aku hanya meminta satu hal darimu," kata Antonio.
"Apa itu?"
"Syaratnya, kau harus mengorbankan ragamu dan menjadi Bambola. Dan permintaanku adalah, kau harus melindungi anakku selamanya," ujar Antonio pada lelaki itu dengan tegas.
"Anakmu? Bukankah dia sudah mati?" heran Erex.
"Aku telah menghidupkan kembali anakku. Aku telah menggunakan dan memberikan kekuatan sihirku 90 persen padanya. Dia telah kembali hidup 100 persen seperti sedia kala bahkan memiliki kelebihan sihir yang kuturunkan padanya. Dia tidak akan menjadi mayat hidup seperti yang dilakukan para penyihir lain untuk menghidupkan orang mati. Aku telah menyegel iblis dan arwah anakku menjadi satu agar iblis itu tak bisa menguasainya. Tapi, aku tidak bisa membuat anakku hidup abadi. Dia akan bisa mati saat melewati batas waktu seratus tahun seperti yang lain. Meski begitu, ada cara agar dia bisa terus hidup, yaitu dengan pohon keramat. Aku sudah mentransferkan kekuatanku di beberapa tempat, termasuk di pohon itu saat aku mati nanti. Di sana, waktu bisa dipercepat, dihentikan, atau dilambatkan. Tapi, selalu ada konsekuensi dan aku ingin kau melindungi anakku hingga titik darah penghabisan."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Jika semua telah dijalankan, selanjutnya apa?"
"Anakku akan tahu apa yang harus dia lakukan kelak. Dia akan melakukan pemurnian kedua untuk menetralkan tanah ini dari segala dendam arwah manusia, ilmu sihir, dan kutukan. Tapi, butuh tiga pemurnian agar segalanya terbebas dan arwah yang telah mati beserta iblis-iblis itu bisa tenang dan tak menguasai umat manusia sepenuhnya. Dan kuminta kau agar bisa bertahan hingga pemurnian ketiga berhasil dilakukan di tanah ini," ujarnya.
Erex mengangguk paham dengan semua penjelasannya.
Di tengah-tengah dusun, Cavaliere dikumpulkan untuk menghadapi pertarungan satu lawan satu. Mereka bertarung mengorbankan nyawa. Rela mati demi mendapatkan sang Putri. Darah bercucuran satu per satu. Mereka tumbang. Mati dengan sia-sia.
Hingga akhir pertarungan, hanya satu yang tersisa. Satu orang yang tak disangka akan memenangkan pertarungan ini. Dialah sang pemimpin, Noman. Pejaka tua itulah pemenangnya. Dengan keberuntungan, dia berhasil menumbangkan Klato. Menancapkan tombak tepat di lehernya.
"Putri Kana, maukah Anda menikah dengan saya?" pinta Noman sembari setengah berlutut di hadapan sang Putri yang sedang duduk di singgasana.
Pria itu bersimbah darah dan luka-luka di tubuhnya semakin kentara. Dia mengulurkan tangannya pada Putri Kana. Berharap diraih olehnya. Tapi, ketika sang Putri hendak meraih tangannya, sesuatu terjadi. Awalnya pria itu terbatuk tapi kemudian muntah darah.
Antonio yang sedang berdiri di samping Raja tersenyum. Hanya dengan gerakan satu jari yang dia sembunyikan di punggungnya, dia bisa menyantet seseorang dalam sekejap dan membuatnya mati.
Di antara mayat-mayat, Noman tersungkur terbatuk-batuk. Satu-satu binatang aneh keluar dari mulutnya. Berbagai jenis ular dan lintah menyembur dari dalam mulutnya. Bahkan keluar dari semua lubang dan bekas luka di tubuhnya. Lalu dia bergeming. Terbujur kaku di tengah-tengah mayat Cavaliere lainnya.
Tetua kemudian mendekati mayatnya. "Ada yang menyantetnya!"
"Apa?! Siapa yang melakukannya? Ini bencana! Ada pemberontak di antara kita. Seseorang telah melanggar aturan. Temukan! Seret dia dan bawa kemari!" sahut salah satu pemimpin suku pada para Cavaliere yang masih tersisa.
"Ada yang membunuh semua penyihir itu, Raja. Penyihir lain," tukas seorang Cavaliere.
"Apa kalian semua sudah membawa semua penyihir di hutan ini? Apa ada penyihir yang masih hidup?" tanya Raja.
"Masih ada dua, Raja," jawab Cavaliere itu. "Nepal si penyihir amatir dan Antonio," ucapnya menatap penyihir di samping Raja. Penyihir yang selama ini melindunginya dari gangguan-gangguan jahat dan Raja sangat percaya padanya.
"Maaf Raja, sepertinya Nepal juga tewas. Dia di sini!" sahut pemimpin suku memperlihatkan jasad penyihir amatir itu yang terbunuh begitu mengerikan. Seluruh organ tubuhnya terburai ke tanah.
Sebelumnya, Antonio telah membunuh semua penyihir lain di sana hanya dengan jampi-jampi yang dia gumamkan.
"Tidak! Ayah!" teriak Erex mendekati mayat penyihir amatir itu.
Sandiwara yang dia lakukan berhasil dengan baik. Demi tercapai tujuan itu, dia rela seluruh keluarganya dibunuh. Bahkan semua orang di dusun itu akan dibunuhnya.
"Pasti penyihir yang melakukan semua ini sudah bunuh diri," pikir tetua dusun. "Karena tak ada penyihir lain lagi di hutan ini."
"Benarkah? Tapi untuk apa penyihir tersebut melakukan ini? Membunuh Noman dan semua penyihir lain?" heran sang Raja.
"Sepertinya ada yang iri. Sepertinya ada yang tidak senang jika Putri Kana menikah dengan Noman."
Antonio tersenyum dalam hati.
__ADS_1
Bukan. Bukan itu alasannya.
Dia ingin membersihkan tanah ini dan segala yang ada di dalamnya dari kekuatan negatif yang tercipta dari keserakahan, ketamakan, dan kesombongan yang menciptakan kutukan di tanah ini. Iblis, ilmu sihir, arwah gentayangan beserta seluruh hal gaib sudah mencemari tanah ini terlalu banyak. Tapi, sebagai seorang ayah tentu dirinya ingin agar anaknya selamat dan terus hidup setelah anaknya mengalami kematian karena kutukan yang disebabkan penyihir lain jauh-jauh hari sebelum Antonio menjadi penyihir agung.
Sebagai seorang ayah, dia ingin melihat anaknya terus hidup. Dia membangkitkan anaknya kembali yang waktu itu baru berusia 5 tahun tanpa sepengetahuan siapa pun, karena memang itu adalah hal terlarang. Sebab kekuatan anaknya setelah dihidupkan kembali akan jauh lebih besar dari sebelum dia mati. Dan jika anaknya tak berada di jalan yang benar, itu hanya akan menjadi buah simalakama bagi kehidupan manusia. Meski begitu, Antonio tak peduli. Dia percaya bahwa anaknya kelak bisa melakukan apa yang dia harapkan. Satu-satunya cara agar tujuan-tujuan itu tercapai adalah transaksi yang dia lakukan dengan Erex dan juga melakukan transaksi dengan iblis yang bersemayam di tubuh anaknya. Membantu anaknya hidup selama 100 tahun tanpa menguasainya dengan imbalan tumbal yang besar. Tumbal yang juga disepakati antara dirinya dan para iblis agar bisa membuat tanah ini kembali netral. Tanpa kutukan, sihir, iblis, dan arwah gentayangan yang mengganggu.
Di saat mereka semua tengah membicarakan hal itu, mendadak terjadi sesuatu. Satu per satu, mayat-mayat Cavaliere yang terkapar di lapangan itu bangkit kembali.
"Ada penyihir yang masih hidup!" sergah Raja kaget.
"Tidak ada. Satu-satunya penyihir yang masih hidup di sini adalah ..."
Para pemimpin suku menatap curiga ke arah satu-satunya penyihir di lokasi. Antonio, penyihir yang berada di samping Raja.
"Bukan! Bukan saya yang menyihir dan menghidupkan mereka semua!" bantah Antonio menggeleng kepala. Berbohong. Meski dia akan tahu apa yang akan terjadi di sini. Kematian akan dihadapinya dan dia memilih hal itu. Semua penyihir akan mati dan yang tersisa hanya anaknya sebagai penyihir terakhir.
Rasa penasaran Putri Kana membuatnya mendekati Cavaliere tersebut.
Dan tragedi itu pun terjadi. Semua Cavaliere menegakkan kepala mereka. Menunjukkan mata mereka yang merah bersimbah darah. Dan tanpa disangka-sangka, salah satunya langsung menancapkan sebatang bambu runcing ke perut Putri Kana. Tidak, bukan hanya satu tapi beberapa. Dan bukan hanya bambu runcing. Mayat hidup Cavaliere itu menghunus panah dan menombak tubuh Putri Kana secara sadis.
Dengan mata terbelalak Putri Kana lunglai—jatuh terkulai—tumbang bersama para Cavaliere yang membantainya.
Antonio memainkan jemari dan bola matanya. Menjadi dalang dari pertunjukkan berdarah tersebut.
Semua orang menyaksikan tak terkecuali anak-anak. Termasuk sang Raja dan Ratu yang tak percaya bahwa Putri mereka yang tercinta telah mati mengenaskan.
"Dia pasti pelakunya! Dia pasti yang melakukan semua ini!" tuduh seorang rakyat jelata pada penyihir Antonio.
Semua orang berseru agar penyihir itu dieksekusi. Para pemimpin suku dari 3 arah mata angin dan tetua dusun melindungi Raja beserta keluarganya dan menyuruh para Cavaliere mengeksekusi Antonio.
"Raja, saya bersumpah. Bukan saya yang melakukan semua ini ...," sanggah Antonio mencoba membela diri tapi terlihat kentara wajah pasrahnya menurut saja apa pun keputusan Raja.
"Saya akan selalu mengabdi padamu, Raja, meskipun saya harus mati. Saya rela, karena saya bukanlah penyebab semua ini," kata Antonio membungkuk di hadapan Raja.
Kemudian Ratusan anak panah, tombak, dan benda tajam lainnya saling memelesat dan mendarat di sekujur tubuhnya.
Sebagai penyihir agung, harusnya dia tak akan pernah bisa mati dengan senjata fisik, tapi Antonio telah melepaskan kekuatan terakhirnya yang tersisa dan memilih jalan untuk mati. Hingga ajal menjemput, dia tetap bertahan dengan kebohongannya.
Pemakaman bagi Putri Kana dimulai.
Erex berhasil menjadi tumbal Bambola. Boneka yang awalnya dipercaya sebagai pelindung bagi jasad Putri Kana berbuah petaka.
Satu aturan dalam pemakaman tak dijalankan sehingga sebuah keotomatisan bagi sihir Antonio untuk menghidupkan Bambola dan membuatnya abadi. Jiwa Erex bersatu dengan jiwa-jiwa berbagai macam hewan dan iblis menciptakan kekuatan hebat baginya.
Saat bangkit menjadi sosok monster, dia mulai membantai seisi penduduk dusun hingga tak tersisa kecuali seorang anak kecil.
Dialah perempuan itu, anak dari Antonio, Kaledonia.
***
Akibat dari kekuatan sihir ayahnya yang dahsyat. Kaledonia bisa hidup dan tumbuh tanpa makan dan minum. Tidak seperti Martyr Project yang dilakukannya di masa mendatang atau penyihir-penyihir lain sebelumnya, bahwa tubuh Kaledonia setelah dibangkitkan dari kematian, bisa tumbuh dan iblis yang menempel di tubuhnya dapat dia kendalikan. Dalam artian, dia tak akan terpengaruh dengan Hell Time. Iblis itu tak akan bisa mengambil alih tubuhnya. Tapi, seperti mayat hidup atau Martyr Project lainnya bahwa orang mati yang dihidupkan akan bertahan dalam waktu seratus tahun di dunia nyata. Setelah itu, dia bisa mati layaknya manusia biasa.
Kaledonia mempunyai cara dari petunjuk ayahnya yang telah mati untuk melakukan trik. Dia bisa memperlambat batas waktu seratus tahun dengan tinggal dalam portal dimensi ruang dan waktu. Dan mempercepat waktu di dunia nyata.
Ada beberapa lokasi portal ruang dan dimensi di hutan Avycon yang salah satunya adalah pohon keramat di mana Putri Kana dimakamkan. Atau sekarang lokasi tersebut adalah gang Kana.
Saat Kaledonia berumur 15 tahun, dia tinggal di pohon keramat dalam portal dimensi ruang dan waktu. Hidup tanpa makan dan minum hingga tanah diratakan dan kota dibangun di atasnya. Kemudian Kaledonia kembali ke dunia nyata dan bergabung bersama warga kota.
Dia hendak menjalankan misi permurnian kedua di kota tersebut untuk membersihkan kutukan dengan cara membunuh seluruh warga kota. Tapi saat itu, Lurid City belumlah cukup. Tubuh-tubuh orang-orang itu terlalu murah dan tak akan cukup untuk dilakukannya pembersihan tersebut.
Ada 2 cara yang bisa dilakukannya. Menumbalkan ratusan ribu manusia atau menumbalkan orang-orang terpilih. Orang-orang terpilih adalah mereka yang berani melanggar aturan. 1 orang terpilih setara dengan 1000 tumbal manusia. Maka dari itu, Kaledonia melakukan transaksi serupa dengan wali kota pertama saat Lurid City dibangun—Suri.
Kaledonia menjelaskan tujuan kedatangannya. Mengatakan kebenaran yang terjadi pada Suri. Tentunya Suri pun awalnya tidak memercayainya. Tapi, Kaledonia membawa Suri menuju tempat-tempat gaib yang berada di beberapa bagian kota termasuk gang Kana dan menunjukkan sebuah lembaran surat yang membuat Suri menangis gemetaran.
Kaledonia menjelaskan kota ini harus dimurnikan dari segala kekuatan negatif. Dia menyarankan cara lain agar kekuatan negatif itu perlahan sirna tanpa harus mengorbankan jutaan nyawa. Dia hanya membutuhkan orang-orang terpilih dari orang-orang yang melanggar aturan.
Akhirnya, Kaledonia menciptakan aturan-aturan di berbagai penjuru kota, terutama gang Kana dan Avycon. Banyak orang yang tak memercayai aturan tersebut hingga akhirnya mereka menantang maut. Menjadi orang terpilih secara otomatis untuk ditumbalkan.
Kaledonia berkata, dia bisa membantu menciptakan senjata perang dan penemuan hebat seperti yang hendak mereka ciptakan di kota tersebut sejak awal dibangun. Dan dia bisa memberi keselamatan bagi orang-orang yang mematuhi aturan—tidak sekalipun melanggarnya.
Kabar kehilangan dan kematian di gang Kana serta Avycon menyebar secara perlahan. Membuat beberapa pihak yang penasaran ingin mengujinya sendiri. Tapi ternyata, perangkap itu berhasil menjerat orang-orang yang tak percaya. Mereka datang menjemput ajal di dalam sana.
Kaledonia akhirnya bergabung dengan Kie Light Biohazard Group, cabang dari KIE LIGHT CORPORATION. Mereka mengetahui kekuatan yang dia miliki. Sihirnya bisa melindungi sekaligus menghancurkan dunia. Dengan syarat harus ada tumbal yang telah mereka ketahui dari wali kota. Mereka bekerja sama menciptakan monster. Mereka menggabungkan kekuatan sihir dan teknologi dalam mesin tempur. Terciptalah proyek-proyek rekayasa genetika ciptaan mereka. Proyek-proyek terlarang lainnya pun tercipta termasuk Martyr Project yang sebenarnya digunakan untuk mencari tumbal.
Kaledonia menguasai Ozzone. Aturan-aturan lain semakin diberlakukan bersamaan dengan penciptaan senjata-senjata perang yang mematikan. Tapi sebelum semua itu dibawa ke dunia luar, beberapa kelompok pemberontak telah melanggar aturan fatal yang menyebabkan laboratorium meledak. Melepaskan virus dan gas beracun berbahaya ke seisi kota. Rencana yang hendak Kaledonia lakukan berakhir sia-sia dan pada akhirnya pemurnian tanah terkutuk itu berakhir dengan banyak tumbal.
Kota ditutup bersama semua orang yang berada di dalamnya. Dia pergi menemui wali kota, mengadakan transaksi dengannya saat kekacauan terjadi di seisi kota. Suri menjadi topeng bagi Kaledonia. Kaledonia memberikan sedikit kekuatan sihirnya pada Suri agar bisa terus hidup—tidak tertular virus yang menyebar—tanpa kebutuhan untuk makan dan minum dalam gedung Sentral yang telah dia segel dengan sihirnya tapi tak bisa sepenuhnya dia kuasai.
Reset Room bisa melepaskan kekuatan sihirnya kembali.
Kemudian Kaledonia menulis catatan kota mengenai segala hal yang terjadi termasuk gang tersebut dan pada akhirnya dia diam di gang Kana—di sebuah rumah dekat pintu EXIT—saat Lurid City mengalami kematian dan menunggu hampir 100 tahun sebelum akhirnya memasuki Egosentris Room di Hotel Kanavi begitu dirinya menemukan Albert, Rendown, dan pihak pemerintah memasuki gang Kana.
Albert dan Rendown berhasil melewati gang Kana—dunia yang tercipta dari ilusi mata. Bentuk gang Kana tidak sama di mata setiap orang yang pernah masuk ke dalamnya.
Perempuan yang terjebak di Egosentris Room yang diceritakan Albert adalah Kaledonia.
Saat Kaledonia keluar, dia kembali ke Ozzone. Berpura-pura menjadi asisten Suri dan mengabarkan hal itu pada wali kota Rendown dan Samael. Suri menunjukkan sebuah lembaran yang membuat Rendown maupun Samael melelehkan air mata. Sebuah lembaran—entah berisikan apa—yang mampu melakukan apa yang disuruh penyihir tersebut agar kota aman dan manusia tetap hidup selamat.
Wali kota Rendown menerbitkan buku kota, bukan hanya sebagai pengingat untuk waspada akan bahaya yang ada di dalam kota, tapi juga secara tak langsung untuk mencari orang-orang terpilih yang berani melanggar aturan. Orang-orang yang awalnya tidak percaya—setelah mendengar kabar kematian dan kehilangan—sahabat serta keluarga mereka akhirnya memercayai rumor tersebut dan tak berani melanggar aturan-aturan itu lagi. Kecuali tentu saja, mereka yang tak percaya dan tetap melanggar—orang-orang terpilih.
Seratus orang telah hilang dan sebagian besar mati—baik mati karena gas beracun, ditabrak, atau dibunuh oleh pihak pemerintah—setelah melanggar aturan sejak dibuka kembali kota tersebut. Seratus orang terpilih itu telah menjadi tumbal dan setara dengan sejuta tumbal rakyat biasa. Hal itu membuat wali kota lega karena hanya butuh beberapa orang lagi untuk bisa menyempurnakan pemurnian ketiga tanpa harus mengorbankan banyak nyawa.
__ADS_1
Keluarga Raufall dan keluarga Sandiea adalah yang terakhir memegang buku kota sebelum buku kota akhirnya dihancurkan dan akses jalan menuju kedua gang ditutup rapat. Wali kota dan Kaledonia percaya bahwa mereka adalah tumbal yang terakhir untuk mengakhiri segala kekuatan negatif karena mereka telah terlalu banyak melanggar aturan di kota tersebut.