
Lelang telah usai.
Orang-orang mulai meninggalkan kawasan tersebut saat petang menjelang. Pelelangan di hari pertama sukses besar. Seperempat wilayah blok C telah dimiliki orang-orang baru meskipun itu tak cukup kentara untuk menghidupkan kota. Masih ada ribuan bangunan lainnya yang kosong dan itu hanya masalah waktu hingga semuanya terisi.
Alley mengendarai sedan putihnya. Meninggalkan Cielo Theme Park bersama kejanggalan yang baru saja dia alami. Mobilnya melaju di antara kemacetan yang terjadi di jalan utama. Kemacetan yang baru pertama kali dialami oleh sebuah kota mati.
Pemerintah mengalihkan jalan keluar dari kota melewati gerbang barat dikarenakan sebuah batu besar terguling dari atas Grand Cliff dan menghalangi jalan utama di terowongan timur yang menghubungkan Lurid City dan Javalava.
Alley mengambil ponselnya.
Batinnya begitu tak tenang.
Kata-kata anak gaib itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Tentang Kana dan anaknya yang dalam bahaya.
"Halo? Ren?"
"Alley, apa yang kau lakukan di sana?! Sudah beberapa kali aku coba menghubungimu. Rafael kecelakaan. Sekarang dia di rumah. Aku mengobatinya sebisa mungkin tapi dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang. Aku sudah menelepon ambulan tapi sampai detik ini mereka belum juga datang!" sergah Eren di ujung telepon terdengar panik.
Alley sangat terkejut mendengar ucapannya. Segera, Alley lajukan mobilnya secepat yang dia bisa. Tapi kemacetan itu tak akan bisa memaksanya menambah kecepatan.
Hari semakin senja. Mobilnya terhenti ketika mendapati barikade memblokir jalan utama. Jembatan yang menghubungkan blok D ke apartemennya runtuh. Jembatan itu amblas ke dalam sungai Avycon yang tenang dan hitam pekat.
Alley turun dari mobil. Memperhatikan seberapa lebar sungai tersebut-15 meter-dan dia tak akan bisa melewatinya. Alley harus memutar seperti kendaraan lainnya.
Di kejauhan Alley melihat mobil putih. Huruf ambulan tertulis di depannya. Alley tak akan mungkin bisa sampai cepat menuju anaknya jika mengendarai mobilnya. Maka, dia putuskan untuk bejalan kaki.
Alley berlari memutar lewat belokan jalan di perbatasan antara blok C dan blok E. Jarak bangunan dari jalan utama ke jalan berikutnya tak cukup jauh-hanya berselang 2 gedung sekitar 100 meter-kemudian dia berbelok ke kiri. Dia sadar jalan di depannya cukup jauh. Itu artinya dia harus memutar panjang hingga ujung kota dan berbalik arah kembali di belokan tersebut menuju apartemennya.
Alley sangat mengkhawatirkan Rafael tapi rasa lelah membuatnya tak berdaya.
"Rafael! Rafael!"
Alley terus menyebut-nyebut nama anaknya di sepanjang jalan.
Jalanan macet total.
Tak ada yang lebih cepat selain berjalan-mungkin ada, berlari-tapi napasnya terengah-engah dan dia begitu lelah.
Tak jauh di hadapannya, tampak sebuah gang kecil. Terselip di antara 2 gedung tinggi.
Alley melongok ke dalam gang yang sengaja dipalangi beberapa papan agar tidak ada yang melewatinya.
Apa ini gang itu? Gang kana?
Tak ada nama gang tersebut di pintu masuknya. Dia memperhatikan ke dalam gang yang cukup gelap. Gangnya lurus. Tepat menembus masuk ke arah apartemennya. Dirinya yakin karena di ujung gang tersebut tampak sebuah cahaya lampu jalan yang menyala.
Alley memberanikan diri masuk ke dalamnya.
Menyelip di antara palang kayu yang sudah lapuk.
Dia nyalakan ponselnya agar jalan itu sedikit lebih terang.
Hawa dingin memeluk tubuhnya yang bercucuran keringat.
Di kiri dan kanan, tak tampak apa pun kecuali tembok yang menjulang tinggi.
Cahaya di ujung jalan tampak kian dekat.
Dia pun berlari semakin kencang menuju ujung dari gang itu.
Tapi ...
Sama halnya dengan pintu masuknya, ujung gang itu pun disegel.
Dipalangi papan kayu dan lempengan besi.
Dia tak akan mungkin bisa melewatinya.
Celah antara papannya terlalu sempit.
Alley sudah sampai di ujung dan tak mungkin jika dia harus berbalik arah. Jaraknya terlalu jauh jika dia harus berlari memutar di jalan utama. Sedangkan dirinya sangat mengkhawatirkan Rafael. Dia harap ada seseorang di jalan itu yang bisa membantunya membuka palang kayu dan besi itu. Tapi percuma, tak ada siapa-siapa di trotoar. Padahal gerbang apartemennya sudah tampak di depan mata.
Alley mencoba menghubungi Eren.
"Eren bisa kau tolong aku! Tolong buka palang di gang ini. Aku tidak bisa keluar. Aku ada di dalam gang tepat di seberang jalan apartemen kita."
"Apa?! Apa kau gila?! Apa kau tahu tempat apa itu?!" sergah Eren syok.
"Jalanan macet. Ambulan tak akan datang cepat. Aku ingin segera bertemu dengan anakku. Lagi pula ini bukan gang Kana."
"Diamlah! Jangan bergerak dari situ! Aku akan segera ke sana!" kata Eren langsung menutup teleponnya.
Alley berbalik.
Memandang ke sekeliling gang gelap itu.
Merasakan suatu aura yang begitu ganjil di sekitarnya.
Dia arahkan cahaya ponselnya ke kegelapan.
Tak ada apa pun yang janggal.
Tapi, ada sesuatu yang luput dari pengamatannya di dalam tadi saat dia berlari.
Ada sebuah plang kayu tergantung di atas jeruji besi di sisi tembok gedung sebelah kirinya. Meski agak buram tapi dia masih bisa melihat tulisan di plang kayu tersebut.
Gg. Kana
Perlahan Alley coba dekati jeruji itu.
Ketakutannya sedikit sirna.
Dia lebih takut jika anaknya meninggal daripada takut melihat hantu.
Pintunya dirantai dan digembok.
Di pintunya tertulis peringatan DILARANG MASUK dalam 3 bahasa. Indo, Inggris, dan Italia, yang ditandai dengan tanda X berwarna merah.
Dia mengintip ke dalam jeruji.
Ada jalan di dalamnya yang tak lain adalah gang Kana. Lantai gang itu terbuat dari batu yang disusun membentuk pola batu bata khas gang di Eropa.
__ADS_1
Tampak tembok gedung yang menjulang di sudut gang dan bangunan bergaya eropa abad 19 di sisi kiri dan kanannya.
Terlihat janggal memang-beberapa unit bangunan, terbelah sebuah gang, dan menyempil di antara 3 gedung pencakar langit.
Alley melihat ada lampu pijar yang menyala di sudut agak jauh dalam gang tersebut. Berbelok ke kiri seperti menuju pintu keluar. Lalu dia memegangi gembok yang mengunci rantai yang membelit jeruji itu.
Gembok itu terbuka begitu saja saat dia sentuh.
"Tidak. Aku tidak boleh melanggarnya. Ini berbahaya. Aku harus mematuhinya. Tapi, bagaimana dengan Rafael?"
Alley ragu pada diri sendiri.
Dia ingat betul mengenai aturan-aturan gang Kana dalam buku kota tapi saat dia melihat ke sudut gang, dia yakin jalan keluarnya ada di belokan itu. Belokan pendek tak jauh di hadapannya.
Aku harus melewati gang itu.
Dan mengenai 10 aturan yang diterapkan di gang tersebut sebisa mungkin akan dia patuhi kecuali satu.
Alley tak mau menunggu Eren. Lagi pula apa yang akan digunakan temannya itu untuk membuka palang kayu berlapis lempeng besi?
Dia memberanikan diri.
Dia buka jeruji itu.
Mulai melangkahkan kaki pertamanya pada pijakan lantai batu gang.
Tak ada hal aneh terjadi-hawa kengerian atau apa pun-dia tak merasakannya.
Belum.
Barulah ketika kakinya yang satu lagi melangkah masuk, dia mulai merasakan sesuatu yang membuat hatinya kurang tenang.
Aturan no. 1. Jangan berjalan sendirian.
Alley telah melanggar aturan nomor 1 dari 10 aturan saat melewati gang Kana.
Di belakangnya-beberapa senti dari tubuhnya-terdengar jeruji itu tertutup pelan. Tanpa menoleh, dengan tangannya dia raba jeruji itu.
Dia dapat merasakannya.
Bukan hanya palang-palang besinya, tapi tangannya juga merasakan gembok dan rantai yang tadi terlepas kini terpasang kembali dengan sendirinya.
Gang Kana telah mengurungnya dalam kegelapan.
Tak ada jalan kembali dan tak akan ada jalan keluar kecuali jika dia maju dan melewati kengerian yang akan terjadi.
Alley sempat terkejut.
Hanya sesaat.
Harusnya dia sendiri tahu risikonya. Karena hal ini sudah diperingkatkan berulang-ulang dan bahkan dibahas berkali-kali di buku kota. Dia ingat seluruh aturan mengenai gang itu. Maka, dia tidak akan melanggarnya.
Alley mengembus napas.
Mulai berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Selangkah, dua langkah, tanpa ekspresi, dia mulai berjalan melangkahi lantai batu yang dia pijak.
Sepatu bertumit tinggi yang dikenakannya terdengar nyaring saat melangkah. Gemeletuk seperti suara geligi menciptakan melodi angker. Hal itu mulai membuatnya gugup. Terdengar menakutkan saat suara itu menggema di tengah keheningan gang.
Lampu di sudut belokan mulai menerangi langkahnya. Itu membuat hatinya sedikit tenang.
Alley merasa berjalan terlalu cepat. Itu terdengar dari irama langkah kaki sepatunya yang semakin rapat dan memburu. Dia pelankan lagi langkahnya. Sadar bahwa hal itu merupakan salah satu aturan saat melewati gang Kana.
Langit semakin jingga. Lembayung merah tercipta di tepi senja dan gelap mulai merangkak dari timur.
Alley sudah sampai di sudut jalan. Dia mulai berbelok ke kiri tapi sesuatu terlihat olehnya. Meski tidak melirik tapi dia melihat kelebatan itu di sisi kirinya. Di jalan tepat di tempat dia mulai melangkah tadi saat berbelok. Meski sekilas, tapi dalam kondisi setegang itu dia tahu bahwa ada sesuatu ... yang mengikutinya.
Tetes demi tetes bulir keringat sebesar biji gandum menyembul di keningnya kemudian meluncur pelan ke pipi. Ada yang berakhir di dagu, ada juga yang terus mengalir ke leher dan berakhir di dadanya.
Alley terus berjalan dengan pola teratur. Tidak terlalu lambat tapi juga tidak terlalu cepat. Matanya tetap tertuju ke depan dengan raut wajah yang masih tanpa ekspresi.
Sedari tadi Alley fokus pada pikirannya.
Memikirkan tentang anaknya.
Warga kota.
Aturan kota.
Wali kota.
Langit jingga.
Gang Kana.
Segala hal pemikiran negatif, yang membuatnya tak nyaman berada di dalam gang tersebut. Hingga dia tersadar dari lamunannya, matanya mendapati kenyataan aneh.
Jauh di depannya, gang yang sedang dia jajaki itu tampak begitu panjang.
Mustahil!
Alley terkejut bukan main. Meski begitu, dia berusaha menjaga agar raut wajahnya tak berubah walau sulit.
Ini sungguh tak masuk akal.
Dia ingat betul berapa langkah yang dibutuhkannya dari mulut gang Kana hingga ke ujung palang kayu tempat tadi dia menelepon Eren. Jaraknya tak lebih dari sepuluh langkah.
Tapi gang ini ...
Semenjak dari belokan tadi dia merasa sudah berjalan lebih dari 30 langkah dan gang tersebut masih belum tampak ujungnya.
Dia mulai khawatir akan hal lain.
Kekhawatiran akan anaknya kini teralihkan gang tersebut.
Bangunan-bangunan bergaya Eropa di samping kiri dan kanan gang tampak sangat mewah seperti museum. Undakan kecil menuju pintu besi maupun kayu berukir di beranda, halaman mungil, jendela kecil di samping pintu dengan jeruji, patung-patung batu di undakan tangga, lubang ventilasi bawah tanah di samping undakan, tangga besi darurat di lantai 2, balkon-balkon bangunan yang minimalis nan eksotis, atap-atap rumah tanpa genteng, dan hal yang paling kentara adalah dinding bangunan tersebut yang khas bermotif susunan batu bata yang berrelief unik.
Kini, semua bangunan itu telah mati.
Tak ada kehidupan.
Semuanya sunyi.
__ADS_1
Kosong melompong.
Jadi sarang debu dan burung gagak yang sesekali terdengar menggaok.
Hal yang sempat membuat Alley heran adalah beberapa tanaman hias nan langka yang tumbuh dalam pot-pot retak yang diletakan di lantai beton beberapa rumah di situ.
Tanaman itu tumbuh subur. Tidak layu maupun lebat meski tidak diurus selama seabad.
Berpikir membuatnya tidak merasa lelah, tapi ketika pikirannya terfokus lagi pada kenyataan, Alley mulai merasakan aura-aura ganjil yang tak sempat dirasakannya sedari tadi.
Ingin sekali dia menoleh ke belakang untuk mengetahui sejauh mana dia telah melangkah. Tapi hal itu bisa membuatnya melanggar aturan.
Dia terus berjalan tanpa henti menuju gang yang tak jelas ujungnya.
Jam berapa sekarang?
Kenapa langit belum juga gelap?
Kenapa Eren tidak menelepon?
Pertanyaan itu berkecamuk di otaknya.
Alley ingin mengambil ponsel dalam tasnya tapi dia takut melanggar aturan. Akibat yang akan dialaminya jika dia melanggar semua aturan adalah tak akan pernah bisa keluar dari gang Kana.
Rasa khawatir makin menyesakkan hati.
Gang itu tidak berujung.
Alley merinding.
Ingin rasanya segera berlari dari sana.
Rasa khawatir itu semakin memburu berubah menjadi rasa tegang dan takut akan sesuatu.
Di sudut jauh dia mendengar tetesan air. Menetes dari sebuah keran entah dari mana. Kemudian suara-suara aneh mulai terdengar. Makin lama makin kentara: suara embusan angin, gaokkan gagak semakin nyaring, dan langkah kaki lain di belakangnya.
Dia sadar aturan kedua telah dilanggarnya.
Aturan no. 2. Jangan merasa takut atau berani.
Alley merasa takut. Itulah yang menyebabkan suara-suara itu muncul. Semakin dia takut, suara-suara itu semakin terdengar. Meskipun berusaha bersikap tenang, berjalan dengan pola langkah teratur, dan tanpa ekspresi, tapi tak bisa dimungkiri bahwa rasa takutnya semakin menjadi-jadi. Itu terbukti dari degup jantungnya yang terpompa kencang dengan jelas. Hal itu dapat membangunkan sesuatu yang tertidur di situ.
Tak mudah menjaga raut wajah tanpa ekspresi jika dirinya mendengar ada sesuatu yang menggeram di belakangnya.
Alley menelan ludah.
Keringat dingin makin mengucur deras.
Rambutnya yang panjang tampak kusut masai.
Dan kerah jas putih yang dikenakannya basah oleh keringat.
Muka Alley yang sedari tadi tampak kosong kini mulai membentuk ekspresi.
Dia akhirnya mengelap wajahnya dengan lengan jasnya.
Dia tak nyaman.
Hal itu—ketika dia menyapu wajahnya—terbentuk ekspresi, matanya melebar, menyipit, berkedip, dahi dan pipinya berkerut, dan bibirnya sedikit terangkat saat dia menggosok wajahnya yang basah. Membuat wajahnya menampilkan beragam ekspresi.
Ekspresinya semakin jelas ketika sesuatu di belakangnya yang membuatnya tak nyaman bersuara semakin keras. Kadang geraman, lalu desisan, langkah kaki orang, atau senggukan anak kecil yang menahan tangis.
Napasnya yang tak teratur membuat wajahnya menunjukkan ekspresi yang teramat takut.
Satu lagi aturan telah dilanggar olehnya.
Aturan no. 3. Jangan berekspresi.
3 aturan telah dilanggarnya. Meski tidak sampai setengah tapi itu sudah cukup parah. Takut, tegang, khawatir, 3 hal itu mampu membuat pertahanannya roboh. Mungkin itu juga yang dialami ratusan orang yang menghilang dan tersesat di gang Kana. Tak pernah menemukan jalan keluar karena seluruh aturan telah dilanggar.
Dalam kesunyian yang mencekam, pikirannya terus terpacu.
Berpikir adalah satu-satunya jalan agar dirinya tidak semakin menunjukkan tiga hal itu lebih kentara lagi. Beragam pemikiran berseliweran di otaknya demi mengalihkan ketegangan yang dialaminya.
Alley berpikir dari satu situasi meloncat ke situasi lain. Pikiran itu meloncat-loncat dalam imajinasinya. Tapi tetap tidak bisa, dia telah melanggar aturan nomor 2 dan 3. Tak ada cara untuk mengenyahkan bisikan yang mengganggunya dari berbagai sudut. Membuat pikirannya tertuju pada realita yang ada. Ke mana pun dia mencoba berpikir dan berimajinasi, tetap ujung pikirannya tertuju pada apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan.
Alley merasa penyesalan tidak ada gunanya. Dia telah memilih masuk dalam gang ini. Ke dalam situasi membingungkan dan mencekam ini. Dia sudah diperingatkan oleh wali kota dan buku itu mengenai Lurid City. Maka tak akan ada kata penyesalan. Yang ada, dia harus terus maju untuk melewatinya. Melewati gang tersebut hingga akhirnya dia bisa keluar menuju kenyataan lain yang tentunya tidak akan lebih menakutkan dari ini.
Alley optimis—harus. Jika tidak, dia takkan bisa keluar dari ini. Dia makin yakin setelah tersadar tentang aturan-aturan itu. Jika aturan-aturan itu dibuat, berarti ada yang pernah mengalami ini sebelumnya dan dapat keluar kemudian menceritakannya pada semua orang.
Ya, tentu saja!
Detak jantungnya kini mulai teratur kembali. Tidak berdegup terlalu kencang, setelah berpikir sedari tadi. Suara-suara yang sempat terdengar mulai berkurang dan menjauh meski tidak hilang.
Alley melihat ujung gang itu tak jauh di depannya.
Ada sebuah pintu.
Muncul rasa kelegaan meski dibarengi dengan rasa keheranan yang baru.
Dia tidak mempercepat langkahnya.
Tetap dalam pola teratur.
Akhirnya dia sampai di pintu kayu itu.
Dia tarik kenopnya tapi tidak terbuka. Berkali-kali dia mencoba tapi pintu itu terkunci rapat.
Dia merasa bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Kebingungan itu membuncah membuat ekspresi wajahnya terkembang. Membentuk raut wajah penuh tanda tanya dan kekhawatiran ganjil yang kembali menyelimuti hati dan pikirannya.
Mencoba tenang tapi tak bisa—terlambat lagi—suara-suara kembali bermunculan seperti angin. Mengelilinginya dari berbagai arah terutama dari belakang. Ketakutan mulai membelenggu tapi itu tidak boleh membuatnya melanggar aturan lain.
Tenang, tenang!
Alley mencoba membuka pintu itu kembali secara perlahan, yakin dan tenang.
Pintu itu tetap tidak terbuka.
"Sialan!" semburnya.
Spontan kata itu meluncur dari mulutnya.
Sialan!, ucapnya sekali lagi dalam hati karena kesal.
__ADS_1
Aturan no. 4. Jangan bicara.