Gang: The Endless Alley

Gang: The Endless Alley
Bambola


__ADS_3

Hutan Avycon, 1850. Tanah sebelum dibangun Lurid City.


Sang Raja dan sang Ratu sedang berunding mengenai pernikahan Putri sulung mereka—Putri Kana—Putri pertama dari 14 bersaudara. Mereka menyuruh sang Putri mencari pendamping hidup dari kalangan pejuang yang biasa mereka sebut Cavaliere.


Putri Kana berjalan menuju balai dusun dengan anggunnya. Bermacam-macam manik-manik menghiasi leher dan pergelangan tangan sang Putri. Rambutnya sebahu hitam lurus dan kulitnya yang kecoklatan itu tertutupi oleh lembaran mantel dari kulit hewan. Guratan tato indah terukir elok di lengan kirinya berbentuk bintang dalam matahari yang berkobar. Dia berjalan melenggok indah bak Cleopatra dengan kaki telanjang. Menunjukkan dengan kentara bahwa dia memang Putri Raja.


Seluruh rakyat jelata bertekuk lutut saat sang Putri tiba.


"Selamat datang Putri," sambut seorang tetua dusun.


"Di mana para calon suamiku?" tanya Putri Kana lantang.


"Mereka di sini," kata tetua memanggil semua pejuang menghadap sang Putri. "Adakah pria yang berkenan di hati Anda, Putri?" tanyanya.


Tetua memperkenalkan nama para Cavaliere satu per satu.


"Namanya Klato, dia anak dari pemimpin suku timur. Selain jago memanah, dia juga tampan dan tentu saja kuat," kata Tetua.


Putri Kana memandang wajah pria itu yang tampak dingin tak tersenyum sedikit pun.


"Yang ini namanya Tuan Noman. Dia pemimpin suku barat."


Tetua tak menjelaskannya secara detail.


Putri Kana menatapnya.


Pria itu hanya pejaka tua yang umurnya sama dengan Raja. Bekas luka di sekujur tubuhnya menandakan bahwa dia pernah bertarung dengan makhluk buas. Tapi kini umurnya sudah tua dan satu-satunya hal hebat yang dia punya hanyalah kekuasaan.


Pria itu tersenyum tipis saat sang Putri memandangnya.


Kemudian Putri Kana menatap pria yang ketiga, tapi sebelum tetua mengenalkannya, pria itu secara kurang ajar langsung meraih lengan Putri dan mengelus-elusnya dengan raut wajah penuh nafsu sambil berkata-kata cabul. Melihat perlakuan pria itu, semua orang menjadi geram, terutama Putri Kana.


Dengan sigap, Cavaliere yang lain menyeret pria itu ke tengah.


Seseorang menebaskan benda tajam ke lengan pria itu hingga putus.


Darahnya terciprat ke pakaian sang Putri.


Putri Kana berang melihatnya dan pergi dari hadapan mereka. Dia kembali ke kediamannya. Sebuah rumah pohon di utara dusun.


"Selamat siang, Putri," sapa seorang pemuda.


Putri tak mengacuhkannya.


"Bagaimana Putri? Anda sudah menemukan calon suami yang cocok untuk Anda?" tanyanya.


Putri Kana mendelik tajam.


"Maaf kalau saya lancang," ucapnya buru-buru dengan kepala tertunduk menghindari tatapan sang Putri.


"Kau tahu, semua pria di hutan ini payah! Semuanya murahan dan tidak bisa diandalkan!" gusar sang Putri.


"Tidak semua, Putri. Saya berbeda dari yang lainnya," kata pemuda bernama Erex itu.


"Ya, kau berbeda," Putri menyetujui. "Kau lebih tolol dari yang lain. Hanya anak dari penyihir amatir yang bahkan tidak bisa menyantet seseorang. Dan kau tak memiliki kemampuan apa pun. Harusnya kau malu dilahirkan di dunia ini. Lebih baik kau jadi tumbal saja untuk santapan para siluman peliharaan ayahmu itu," cercanya sembari melengos pergi.


Pemuda itu terdiam menatap tajam perempuan itu dengan penuh amarah namun sedetik kemudian dia menyunggingkan senyum yang begitu misterius.


"Ayah, tidak ada pria yang menarik perhatianku di sini. Semuanya kelihatan payah," keluhnya pada sang Raja.


"Memangnya pria seperti apa yang kau inginkan?"


"Yang benar-benar kuat dan tak takut mati," jawab Putri Kana yakin.


"Bukankah semua Cavaliere begitu?"


"Maksudku, bukan dalam perburuan atau peperangan. Tapi pertarungan satu lawan satu. Suruh mereka beradu kekuatan!"


"Itu tidak mungkin, Nak. Kita membutuhkan para Cavaliere yang hebat itu. Ayah tidak mungkin mengorbankan mereka semua hanya untuk mendapatkan suami terbaik untukmu."


"Ayah kan Raja, Ayah bisa melakukan segalanya," tuntut Putri.


"Tapi bukan berarti Ayah berhak melakukan dengan seenaknya. Ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar oleh keluarga kita semua."


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya adakan pertarungan itu. Jika tidak, aku akan mengucap sumpah di hadapan semua orang," ancamnya. "Ayah tahu, 'kan? Ayah sendiri yang bilang. Wahyu itu diturunkan padaku. Bahwa setiap sumpah yang aku ucapkan bisa menjadi kenyataan."


Sang Raja termenung sesaat.


"Baiklah, Ayah memang tidak punya pilihan lain," kata Raja sembari mengembuskan napas berat. "Dan kau harus berjanji akan menerima siapa pun yang menang dalam pertarungan."


"Pasti, Ayah. Aku berjanji."


***


Di tengah-tengah dusun, Cavaliere dikumpulkan untuk menghadapi pertarungan satu lawan satu.


Mereka bertarung mengorbankan nyawa.


Rela mati demi mendapatkan sang Putri.


Darah bersimbah satu per satu.


Mereka tumbang.


Mati dengan sia-sia.


Hingga akhir pertarungan, hanya satu yang tersisa. Satu orang yang tak disangka akan memenangkan pertarungan ini. Dialah sang pemimpin, Noman. Pejaka tua itulah pemenangnya. Dengan keberuntungan dia berhasil menumbangkan Klato dengan menancapkan tombak di lehernya.


Sebenarnya Putri Kana menyesal dengan pertarungan ini jika pada akhirnya yang menang adalah orang tua itu. Tapi Putri Kana sudah mengucap janji. Dia tahu jika dia mengingkarinya, dia akan mendapat masalah besar. Seseorang yang mengingkari janji, lidahnya akan dipotong dan orang itu akan dikucilkan sekalipun dia seorang Putri. Maka, dia terpaksa menerima pria tua itu dengan lapang dada.


"Putri Kana, maukah Anda menikah dengan saya?" pinta Noman sembari setengah berlutut di hadapan sang Putri yang sedang duduk di singgasana.


Pria itu berlumur darah. Luka-luka di tubuhnya semakin bertambah kentara.


Noman mengulurkan tangannya pada Putri Kana. Berharap diraih olehnya. Tapi, ketika sang Putri hendak meraih tangannya, sesuatu terjadi. Awalnya Noman terbatuk tapi kemudian muntah darah. Semakin lama darah menyembur semakin deras.


Semua orang melihat pria itu dengan tatapan keheranan.


Di antara mayat-mayat, Noman tersungkur.


Terbatuk-batuk.


Satu-satu, binatang melata mendesak keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Berbagai jenis ular dan lintah berhamburan.


Bahkan keluar dari setiap lubang dan bekas luka di tubuhnya.


Lalu bergeming.


Noman terbujur kaku di tengah-tengah mayat Cavaliere lainnya.


Tetua lalu mendekati tubuhnya dan berteriak, "Ada yang menyantetnya!"


"Apa?! Siapa yang melakukannya? Ini bencana! Ada pemberontak di antara kita. Seseorang telah melanggar aturan. Temukan! Seret dia kemari!" sahut salah satu pemimpin suku pada para Cavaliere yang masih tersisa.


"Jangan ada seorang pun yang pergi dari tempat ini! Bila tidak, aku sendiri yang akan turun tangan menghabisi kalian!" amarah Raja memuncak.


Tak berapa lama kemudian Cavaliere kembali dengan membawa belasan penyihir tapi dalam keadaan sudah tak bernyawa.


"Apa-apaan ini?!" sergah Raja terkejut.


"Ada yang membunuh semua penyihir itu, Raja. Penyihir lain."


"Apa kalian semua sudah memeriksa semua penyihir di hutan ini? Apa ada penyihir yang masih hidup?" tanya Raja.


"Masih ada dua, Raja," jawab Cavaliere itu. "Nepal si penyihir amatir dan Antonio," ucapnya menatap penyihir di samping Raja. Penyihir yang selama ini melindunginya dari gangguan-gangguan jahat. Dan Raja sangat percaya padanya.


"Maaf Raja, sepertinya Nepal juga tewas. Dia di sini!" sahut pemimpin suku memperlihatkan jasad penyihir amatir itu yang terbunuh begitu mengerikan. Seluruh organ tubuhnya tercecer keluar.


"Tidak! Ayah!" teriak Erex—pemuda yang dianggap Putri Kana tolol itu—mendekati mayat ayahnya.


"Pasti penyihir yang melakukan semua ini sudah bunuh diri," pikir Tetua dusun. "Karena tak ada penyihir lain lagi di hutan ini."


"Benarkah? Tapi untuk apa penyihir itu melakukan ini? Membunuh Noman dan semua penyihir lain?" heran Raja.


"Sepertinya ada yang iri. Sepertinya ada yang tidak senang jika Putri Kana menikah dengan Noman."


Di saat mereka semua tengah membicarakan hal itu sekonyong-konyong terjadi sesuatu. Satu per satu, mayat-mayat Cavaliere yang tergeletak di lapangan bangkit kembali.


Mereka memang biasa melihat mayat bisa hidup kembali meski hanya sesaat. Tapi dalam kasus ini lain. Mereka syok karena yang bangkit dari kematian itu tidak hanya satu melainkan semua Cavaliere yang mati di pertarungan. Cavaliere itu berdiri tegak dengan kepala menunduk.


"Ada penyihir yang masih hidup!" teriak Raja kaget.


"Tidak ada. Satu-satunya penyihir yang masih hidup di sini adalah ...," para pemimpin suku menatap tajam ke arah satu-satunya penyihir yang berada di lokasi.


Antonio, penyihir yang berdiri di samping Raja.


"Bukan! Bukan saya yang menyihir dan menghidupkan mereka semua!" bantah Antonio menggeleng kepala.


Rasa penasaran Putri Kana membuatnya mendekati Cavaliere tersebut. Tapi, tragedi itu terjadi. Semua Cavaliere menegakkan kepala dan menunjukkan mata mereka yang merah berdarah-darah. Dan tanpa disangka-sangka pria itu langsung menghunuskan sebatang bambu runcing ke perut Putri Kana. Tidak. Bukan hanya satu tapi beberapa. Dan bukan hanya bambu runcing, mayat hidup Cavaliere itu menancapkan panah dan menombak tubuh Putri Kana secara sadis.


Dengan mata terbelalak Putri Kana lunglai—jatuh terkulai—tumbang bersama para Cavaliere yang membantainya.


Semua orang melihat kejadian itu tak terkecuali anak-anak. Termasuk sang Raja dan Ratu yang tak percaya bahwa Putri mereka telah mati mengenaskan.


"Dia pasti pelakunya! Dia pasti yang melakukan semua ini!" tuduh seorang rakyat jelata pada penyihir Antonio.


Semua orang berseru bahwa pelakunya adalah penyihir tersebut. Semua orang pun tahu bahwa Antonio adalah penyihir paling hebat. Itulah sebabnya dia dijadikan pelindung Raja. Dan penyihir hebat mampu membangkitkan orang mati tanpa mengadakan ritual.


Semua orang berseru agar penyihir itu dieksekusi. Para pemimpin suku dari 3 arah mata angin dan tetua dusun melindungi Raja beserta keluarganya serta memerintahkan para Cavaliere mengeksekusi penyihir itu.


Raja yang tak bisa berpikir jernih kemudian memerintahkan para Cavaliere untuk membunuhnya.


"Saya akan selalu mengabdi padamu, Raja. Meskipun saya harus mati, saya rela, sebab saya bukanlah penyebab semua ini," kata Antonio membungkuk di hadapan Raja.


Ratusan anak panah, tombak, dan benda tajam lainnya saling memelesat dan mendarat di sekujur tubuhnya.


***


Pemakaman untuk sang Putri dan yang lainnya digelar. Mayat Cavaliere dan penyihir dipotong-potong menjadi 4 bagian. Tapi pemakaman mereka tidak dilaksanakan seperti biasanya karena mereka adalah pemberontak. Mayat-mayat mereka sudah tercemar iblis. Tangan-tangan mereka dikumpulkan, diikat, dan dibuang di lubang air. Kaki-kaki mereka digantung di pucuk pohon. Tubuh-tubuh mereka dibakar dan kepala-kepala mereka dijejalkan ke dalam perut anjing lalu disimpan dalam rongga batu.


Sedangkan pemakaman untuk sang Putri tidaklah seperti itu. Ada banyak ritual dan aturan yang harus dijalankan sebelum akhirnya Putri Kana dibaringkan untuk selama-lamanya.


10 aturan yang harus dipatuhi.


Aturan 1: jasad Putri harus dimandikan dengan air kembang 16 rupa, sesuai dengan jumlah keluarga mereka.


Aturan 2: seluruh luka yang ada di tubuh sang Putri harus dijahit.


Aturan 3: mencekoki dan melapisi tubuh sang Putri dengan cairan pengawet alam.


Aturan 4: membalut tubuh sang Putri dengan pakaian terbaik dari kulit hewan.


Aturan 5: mendandani sang Putri secantik mungkin dan menghiasinya dengan berbagai batu mulia.


Aturan 6: melakukan ritual pembersihan roh jahat yang dipimpin oleh tetua dusun. Ritual ini bisa berlangsung selama tiga hari.


Aturan 7: membuat sebuah boneka hidup yang mereka sebut Bambola. Sebuah boneka yang terbuat dari berbagai macam tubuh hewan dan manusia yang disatukan. Antara lain anjing, tengkorak singa, **** hutan, buaya, monyet, manusia dewasa, bayi, dan tulang ular boa.


Pembuatan Bambola ini tidak boleh dibuat oleh sembarang orang. Hanya orang yang akan dijadikan tumbal saja yang berhak membuatnya. Dan sang tumbal tidak boleh dari kalangan penyihir. Harus rakyat jelata.


"Raja, izinkan saya menjadi tumbal," pinta Erex—pemuda yang dihina Putri Kana.


"Maukah kau?" tanya Raja.


"Tentu. Saya akan menjaga dan melindungi Putri Kana dengan baik," ucapnya.


Erex mulai mengumpulkan bahan-bahan pembuatan boneka tersebut. Dia bersama beberapa orang berburu hewan-hewan buas.


Dia menguliti kepala singa dan mengambil tengkoraknya.


Dia memotong kepala dan semua kaki **** hutan raksasa dan menggantinya dengan tengkorak singa dan dua pasang kaki anjing serta singa.


Dia rekatkan dan dijahitnya dengan akar-akar rambat.


Dia sambungkan pula bagian belakang **** hutan itu dengan setengah perut dan ekor buaya.


Tak lupa setengah tulang ular dan rusuk singa ditancapkan di sekujur tubuh **** hutan tersebut.


Kepala monyet-monyet kecil ditempelkan di leher kiri dan kanan **** hutan berkepala tengkorak singa itu seperti kalung.


Bagian yang paling sadis adalah ketika Erex memotong kepala bayi yang baru lahir dari seorang penduduk dan menempelkannya di bagian bawah rahang tengkorak singa.


Dia rekatkan semua itu menjadi satu.


Dan sentuhan terakhir adalah mengorbankan dirinya sendiri. Menyatukan beberapa anggota tubuhnya ke dalam boneka tersebut.

__ADS_1


Sang Raja sendiri yang melakukan pengeksekusian terhadapnya.


Di akhir hayatnya, Erex tersenyum. Tetap tersenyum hingga akhirnya benda tajam itu memenggal kepalanya yang tengah terbaring.


Sang Raja membelah kepalanya dan menempelkan wajah Erex pada tempurung kepala tengkorak singa itu dengan rambut panjangnya yang tergerai.


Terakhir adalah menempelkan kedua lengan Erex di tubuh makhluk tersebut.


Kini boneka itu tampak seperti predator ganas.


Aturan 8: memantrai Bambola agar menjadi pelindung Putri dan bukan sebaliknya. Ritual ini hanya bisa dilakukan oleh penyihir. Tetapi tak ada penyihir yang tersisa. Maka, aturan ini ditiadakan.


Aturan 9: memasukkan jasad sang Putri beserta Bambola tersebut ke dalam perut pohon beringin keramat. Setelah pohon raksasa tersebut dilubangi berbentuk kotak dengan ukuran satu setengah meter kubik.


Aturan 10: menaburkan bunga ke dalamnya, menutup lubang dengan kayu pohon tersebut dan mendoakan sang Putri.


Pemakaman pun selesai dalam waktu dua minggu.


Ada hal yang mereka tidak ketahui.


Sesuatu yang mengganjal.


Satu aturan yang mereka tidak lakukan.


Dan itu adalah kesalahan fatal yang pernah mereka buat.


Malam itu, sehari setelah pemakaman, sesuatu terjadi.


Bencana itu datang.


Dari dalam makam sang Putri terdengar geraman sesosok makhluk. Suara itu semakin nyaring dan sesuatu meronta-ronta hendak keluar dari dalam sana dengan ganas.


Orang-orang bertanya-tanya sewaktu melihatnya. Mereka semua berusaha mendekati pohon tersebut. Tapi tiba-tiba keluar sesuatu dari dalam sana.


Makhluk itu hidup.


Benar-benar hidup.


Dia merangkak keluar mendekati orang-orang.


Awalnya mereka hanya heran tapi tak lama kemudian keheranan itu berubah menjadi kengerian yang mencekam.


Mereka melihat tubuh Putri Kana tercabik-cabik berantakan di dalam makamnya sendiri bagai seonggok daging cincang. Yang masih utuh dari tubuhnya hanya sebuah kepala cantik dengan mata yang bolong sebelah.


Tanpa disangka-sangka, makhluk itu mencelat ke angkasa gelap.


Melayang di balik purnama.


Terjun menerkam satu per satu orang di dusun.


Semua orang tunggang-langgang ketakutan.


Berharap lolos dari monster yang selama ini mereka percayai sebagai pelindung.


Suasana kian sadis.


Sang monster memburu.


Merobek.


Meremukkan tubuh-tubuh manusia di hutan itu dengan gerakan cepat nan ganas. Seperti anjing yang mengigit sekantong air, seketika darah menyembur memuncratkan setiap organ tubuh saat makhluk itu menerkam mereka dan melemparkannya ke dahan pohon seperti sekantong sampah. Bahkan dengan sadisnya makhluk itu mengoyak dan mencabik-cabik tubuh manusia hingga hancur lebur seperti daging giling.


Rakyat jelata, pemimpin suku, tetua dusun, Cavaliere, dan hampir seluruh keluarga Raja musnah. Potongan-potongan tubuh mereka tercerai-berai memenuhi setiap sudut pepohonan yang renggang.


Sang Raja belum mati.


Dia bergeming.


Terpaku dalam ketakutan.


Membeku dalam kebisuan.


Dia menatap tajam makhluk itu yang berdiri di hadapannya.


Makhluk itu menundukkan kepala.


Tampaklah wajah yang dia kenal.


Erex menatapnya ganas.


Mata merahnya tertutupi beberapa helai rambutnya.


Pemuda itu menyunggingkan senyum jahat pada Raja.


Senyuman kematian.


"Jadi kau? Kaulah penyebabnya?"


Sang monster segera memangsanya sebelum Raja mendapat jawaban.


Semuanya tewas secara mengenaskan.


Bulan menjadi saksinya.


Tempat itu kini seperti neraka.


Tumpahan darah membanjiri sekeliling api unggun yang tengah berkobar.


Tapi, masih ada yang tersisa.


Seorang gadis kecil berumur 5 tahun.


Berdiri di semak-semak.


Sendiri dalam ketakutan.


Menangis saat makhluk itu mendekatinya perlahan.


Seakan telah direncanakan, sang monster tidak menerkamnya.


Sang monster berlutut pada gadis itu seperti meminta maaf.


Lalu pergi menuju kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2