
Alley masih memperhatikan peta sederhana di tangannya. Tampak kebingungan mencari gedung apartemen Kie Light di tepi jalan. Banyak sekali gedung dan belokan jalan yang tampak sama di kota yang mulai beranjak malam.
Dalam peta ditunjukkan, letak blok F berada di samping area Avycon dengan gambar tanah kosong. Tapi dalam kenyataanya, tak ada tanah kosong di sana. Semuanya penuh dengan gedung bergaya Eropa yang berderet tersusun rapi seolah dijahit menjadi satu.
"Bu, kota ini menyeramkan," Rafael berkata seraya melirik ke sekeliling jalanan yang hening dari dalam mobilnya.
Sunyi senyap.
Bahkan tak ada angin berembus.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini sudah malam. Orang-orang sudah berada di rumah mereka masing-masing," kata Alley menenangkannya.
Waktu baru menunjukkan pukul lima sore tapi wilayah kota bagian barat sudah terlihat gelap. Lampu-lampu jalan dinyalakan. Menerangi sudut-sudut kota dengan sedikit cahaya yang ada. Seluruh gedung tampak terang seperti menunjukkan ada aktifitas di dalamnya. Bagi Alley, ini memang terlalu ganjil. Jika memang benar di dalam gedung-gedung—rumah, kamar apartemen, rumah susun, dan hotel itu—terdapat kehidupan, tidak mungkin jalan raya utama terasa sesunyi ini. Meski begitu, dengan adanya cahaya di gedung-gedung tersebut berhasil membuat anaknya tidak terlalu ketakutan.
Alley masih memarkirkan mobilnya dan melihat peta itu berulang-ulang. Dia masih kebingungan dibuatnya. Kemudian dia merogoh ponsel, berniat menelepon temannya.
"Eren, di mana apartemennya? Aku tidak bisa menemukannya."
"Aku melihat lampu mobilmu dari jendela. Akan aku kedipkan lampu apartemenku agar kau bisa melihatnya. Sekarang kau dekati saja gedung itu," kata Eren.
Alley menutup teleponnya. Melajukan mobil menuju sebuah gedung dengan lampu salah satu kamar apartemen yang berkelap-kelip tak jauh darinya.
Alley memarkirkan mobil di parkiran.
Beserta anaknya, dia keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung abu tua bergaya Italia yang tampak seperti hotel tersebut.
Ada meja resepsionis di samping tapi tak ada yang menjaganya. Di lantai bawah hanya terdapat ruangan luas dengan meja dan kursi menghiasi ruangan itu seperti sebuah restoran. Suasananya sepi bak kuburan. Tiba-tiba terdengar suara pintu lift terbuka di samping yang membuat mereka otomatis menoleh.
"Eren, ke mana orang-orang? Kenapa tempat ini begitu sepi?" heran Alley.
Seperti orang yang waspada, wanita bernama Eren itu melirik ke kanan dan ke kiri kemudian dia berjalan mengunci pintu utama gedung apartemen yang terbuka.
"Kenapa kau kunci? Padahal sebelumnya pintu itu dibiarkan terbuka."
"Bank yang dijaga ketat saja bisa kemalingan apalagi gedung yang tak dijaga seperti ini," jawab Eren beralasan sembari tersenyum dipaksakan. Seperti ada suatu rahasia yang terus dia coba tutupi.
"Ayo, All, kita ke rumahmu!" ajak Eren mengalihkan pembicaraan.
Mereka menaiki lift menuju lantai 6. Menuju sebuah pintu bernomor 36. Mereka masuk ke dalam dan Eren langsung menyalakan lampu apartemen yang padam.
"Bagaimana menurutmu?"
"Lebih besar dari yang aku kira dan lebih bersih tentunya," kata Alley tersenyum tipis.
__ADS_1
Alley mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah barunya. Tampak ruang keluarga yang cukup luas di tengah. Menghadap pada dinding kaca yang memandang langsung ke gedung-gedung perkotaan. Kaca itu tertutupi oleh gorden berwarna krem. Saat Alley hendak membukanya, Eren langsung menarik lengannya.
"Jangan buka gorden itu di malam hari. Kau tahu, 'kan? Di sana blok D," kata Eren mengingatkan.
"Memangnya ada apa di sana?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja kita harus mematuhi aturan kota ini."
"Eren, apakah kota ini berbahaya?" tanya Alley heran dengan orang-orang yang terus membicarakan soal aturan.
"Tidak. Kecuali kau melanggar aturan," jawab Eren tersenyum lebar. "Ya sudah, aku mau kembali ke apartemenku dulu. Ini kuncinya," ucapnya memberikan kunci itu pada Alley sebelum Alley keburu menanyakan sesuatu yang tak sanggup dia jawab dengan jujur.
Ketika Eren pergi, dengan penasaran, Alley hendak mencoba membuka gorden itu lagi, tapi, dia teringat buku itu. Dan ucapan wali kota mengenai aturan-aturan yang berlaku di kota ini membuatnya mengurungkan niat. Lalu dia langsung meraih buku itu dan membacanya.
Di halaman pertama sudah tercatat sebuah pengumuman dengan huruf besar.
BACA BUKU INI.
Alley membalik halaman kedua.
Lurid City, sejarah singkat kota rahasia.
Lurid City dibangun pada tahun 1875, atas kerja sama pemerintah Indo dan Italia. Lurid City atau sebelumnya disebut sebagai Cielo City dibangun secara rahasia sebagai lokasi pabrik senjata dan laboratorium raksasa yang dikelola oleh perusahaan raksasa Kie Light Biohazard Group.
Pada tahun 1890, kota resmi dibuka secara tertutup oleh kedua kepala negara. Kota itu bukan hanya ditinggali oleh para pekerja, tapi seluruh keluarga pekerja diisolasi di kota tersebut demi menjaga kerahasiaan negara dan mencegah segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Seperti kegagalan penelitian, radiasi, kebocoran gas maupun virus, dan semacamnya.
Lurid City terbagi ke dalam 6 blok.
Blok A dinamakan Lotus, di blok itu dibangun berbagai perkantoran dan gedung pemerintah.
Blok B dinamakan Zonier, di blok itu terdapat Ozzone, rumah sakit, sekolah, kantor polisi, dan gedung-gedung fasilitas umum lainnya.
Blok C dinamakan Cielo, di blok itulah sebuah taman hiburan dibangun serta berbagai pusat perbelanjaan, restoran, dan hotel didirikan.
Blok D dinamakan Avycon, merupakan wilayah rahasia dan terlarang.
Blok E dinamakan Kana, tak ada gedung istimewa di blok itu selain hotel, rumah susun, dan pertokoan.
Sama halnya dengan blok F, di blok F yang dinamakan Kie Light itu pun dibangun beberapa apartemen, dan faslitas umum lainnya, tapi di sudut blok F terdapat makam.
Semua orang yang tinggal, lahir dan hidup di kota itu akan selamanya tinggal hingga mati atau dalam batas waktu tertentu dan tidak diperbolehkan keluar dari kota tanpa melakukan prosedur rumit untuk menjaga kerahasiaan penelitian negara dari publik luar.
Pada tahun 1900, sepuluh tahun semenjak kota dibuka, berbagai senjata biologis dari virus-virus berbahaya, obat-obatan, dan penemuan-penemuan yang tercipta dari kota tersebut dijual ke seluruh dunia untuk keperluan kesehatan maupun senjata perang.
__ADS_1
Suatu hari, Lurid City mengalami insiden ganjil. Sejumlah orang tewas di area Avycon, dan sebagian lainnya dikabarkan hilang setelah melewati gang kecil yang terletak menyempil di antara gedung hotel di blok E.
Investigasi terus dilakukan pihak pemerintah di 2 daerah tersebut tapi hal itu malah membuat semuanya bertambah rumit. Kasus tewas dan hilang makin menjadi hingga puncaknya pada tahun 1906 terjadi bencana parah.
Beberapa pihak menduga ada kebocoran gas beracun yang menyebabkan orang-orang mati secara tidak wajar. Karena memang beberapa hari sebelumnya terjadi kecelakan di pabrik. Salah satu laboratorium meledak, melepaskan ribuan virus dan gas beracun ke udara dan air di seluruh kota. Ratusan penduduk Italia mati mendadak dalam satu wilayah di blok D. Mereka tahu, para ilmuwan dan setiap orang tentang segala risiko yang akan terjadi saat mereka memutuskan untuk bekerja dan tinggal di sana.
Saat mengetahui tentang kebocoran gas tersebut, pemerintah Indo dan Italia sepakat untuk menutup kota selamanya. Membiarkan satu per satu orang mati di dalamnya. Kedua akses jalan ditutup. Akses jalan barat bahkan ditutup dengan benteng beton tebal setinggi 100 meter. Sedangkan pintu timur dilapisi oleh 10 pintu baja dalam terowongan batu sejauh 5 kilo meter.
Tahun 2001, 95 tahun sejak ditutup, akhirnya pemerintah membuka pintu baja yang mengisolasi Lurid City, dan memeriksa seluruh keadaan di kota tersebut, tapi baru pada tahun 2003, kota resmi dibuka untuk umum.
***
Alley terus membaca buku tersebut sementara anaknya tidur di lantai setelah kekenyangan melahap camilan yang mereka beli.
Di bab-bab selanjutnya dijelaskan tentang aturan tata tertib lalu lintas, bagian-bagian kota, dan fungsi beberapa bangunan di Lurid City, serta wilayah-wilayah kosong dan terlarang untuk dimasuki.
Banyak sekali aturan-aturan yang dibuat dan tak boleh dilanggar di kota ini. Baginya ini terlalu berlebihan. Beberapa bahkan disertai dengan aturan-aturan yang membuat Alley berkerut dahi. Membuatnya pusing tujuh keliling dengan aturan-aturan konyol dan aneh itu.
Alley membaca keseluruhan mengenai aturan kota. Dia tampak fokus saat dirinya membaca aturan-aturan yang tak boleh dilanggar di dua lokasi yang berkali-kali dia dengar bahwa dua lokasi itu berbahaya.
Gang Kana dan gang Avycon.
Dua tempat kejadian perkara di mana orang-orang tewas dan menghilang.
Ada sepuluh aturan yang tak boleh dilanggar siapa pun saat melewati gang Kana. Dirinya fokus saat membaca aturan-aturan tersebut, karena gang itu tepat berada di seberang jalan apartemennya. Dan dia tidak ingin jika anaknya sampai mendekati gang tersebut.
Cahaya-cahaya aneh tampak gemerlapan di balik gorden di hadapannya. Warnanya jingga, tampak seperti ada obor yang dinyalakan di luar apartemennya.
Alley meletakkan buku tersebut.
Berjalan mendekati gorden yang tertutup.
Rasa penasaran makin merasuk.
Dia ingin melihat ada apa di baliknya.
Tangannya sudah memegangi gorden, bersiap membuka lebar, tapi ada keraguan.
Keraguan yang janggal.
Akhirnya dia hanya merapatkan gordennya ke dinding dan menjauh alih-alih membukanya.
Alley memindahkan anaknya yang terlelap ke kamarnya.
__ADS_1
Dirinya pun ikut tidur karena kelelahan.
Besok pagi, ada hal yang harus dia kerjakan. Penyelidikan mengenai keberadaan suaminya akan segera dilakukan.