
Alley meninggalkan rumah pria itu, membawa serta semua jawaban yang sebelumnya ingin dia tanyakan. Tapi bersamaan dengan itu, pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan dan berbagai asumsi kini bergemelut di pikirannya. Salah satunya mengenai wali kota.
Apakah dia menjadi salah satu dalang di balik semua ini?
Hal itu semakin jelas kala dia ingat ancaman wali kota terhadap Thomas mengenai ibu yang kehilangan dua anaknya.
Saat ini, Alley merasa harus menemui mereka. Menanyakan hal-hal mengenai Ozzone atau Avycon.
Mungkin mereka tahu sesuatu.
Dia berangkat menuju Lurid City Police Departement.
Thomas sedang duduk di bangkunya saat dia masuk.
"Nona Alley, bagaimana kabar Anda? Apa Anda baik-baik saja?" tanyanya berbasa-basi.
Alley menggeleng. "Kehilangan ibuku, suamiku, anakku, semuanya ... apa itu terdengar baik-baik saja," tukas Alley begitu dingin.
"Maafkan saya," sesal Thomas.
"Aku ingin bertemu mereka," pinta Alley.
"Mereka? Siapa?"
"Wanita dan perempuan hamil itu."
"Anda mengenali mereka?" tanya Thomas.
Alley hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
Thomas membawanya ke sebuah sel tahanan di lantai dua. Wanita dan perempuan hamil itu ditempatkan di sel yang jauh dari pintu masuk. Mereka berdua sedang duduk di kursi di balik jeruji besi. Meski begitu, sel tahanan yang mereka diami tidaklah kumuh. Sel itu lebih telihat sebagai tempat perlindungan.
"Nyonya Amy, ada yang ingin bertemu dengan Anda? Katanya dia mengenal Anda," kata Thomas pada wanita itu.
Amy menatap Alley dengan heran.
Alley memberi isyarat kepadanya untuk mengiyakan.
"Bisakah tinggalkan kami? Kami ingin bicara bertiga saja," pinta Alley pada Thomas.
Thomas menjauh dan menunggu di sebuah kursi jauh di lorong dekat tangga.
Alley mengambil sebuah kursi di samping sel dan duduk di hadapan mereka.
"Kau mengenal kami?" tanya Amy.
Alley menggeleng. "Tidak, tapi kita pernah bertemu sebelumnya di ruangan wali kota dan di rumah sakit 5 tahun lalu."
"Lalu mau apa kau menemui kami?" tanyanya curiga.
"Ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian," aku Alley. "Mengenai Ozzone, dan masalah yang kalian alami."
"Untuk apa? Kami tidak mengenalimu?" cetus Tiny yang beranjak mendekati Alley.
"Aku butuh kepastian, mengenai kota ini, dan semua hal yang aku alami saat ini. Aku dengar kau hendak menghidupkan jasad suamimu yang tertabrak di Ozzone. Aku dengar Madam Suri bisa menghidupkan orang mati. Aku juga telah mendengar apa yang terjadi setelah orang-orang mati dihidupkan olehnya. Yang ingin aku tanyakan adalah apakah semua itu benar? Mengingat kalian pernah masuk ke sana—ke Ozzone."
Amy tersenyum kecut kemudian berkata. "Kami melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan mereka, orang-orang mati yang kemudian dia hidupkan. Mereka semua menjadi zombie. Mereka tidak bisa mati dan hanya dikurung dalam sel-sel baja. Ada beberapa yang terlihat normal seperti manusia biasa tapi kebanyakan dari mereka terlihat seperti monster. Entah siapa yang membawa jasad korban-korban kecelakaan dan pembunuhan itu dengan bentuk yang mengerikan kemudian dihidupkan untuk memberi sebuah kesaksian. Terakhir kudengar yang melakukan semua itu adalah orang-orang yang mengurung kami di sini."
"Apa kau menghidupkan kembali suamimu?"
"Tidak," jawab Amy tegas. "Yang ada, anakku malah hilang di sana!"
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Tiny curiga.
"Suamiku hilang di gang Avycon 5 tahun lalu, aku tersesat di gang Kana selama itu pula dan baru bisa keluar beberapa hari lalu. Dan saat aku berhasil keluar, anakku, mertuaku, mereka semua sudah tiada," jawab Alley. "Dari sejak kemarin aku mendengar pembicaraan kalian, dan aku hanya ingin mendengar apa yang kalian alami sebab mungkin itu bisa memberiku sebuah petunjuk—entah apa—yang jelas, aku merasakan ada sesuatu yang harus kuketahui mengenai kota ini. Dan aku yakin kalian memiliki kisah yang belum aku ketahui."
"Jika kami ceritakan semua rahasia mengenai Ozzone, mungkin kami akan mati," kata Tiny.
"Aku telah mendengar rencana pembunuhan kalian saat wali kota bicara pada Thomas. Dan cepat atau lambat, kalian mungkin akan mati. Tapi aku bisa membebaskan kalian jika kalian mau membantuku, menceritakan hal-hal yang pernah kalian alami," pinta Alley setengah berbisik selagi beranjak dari tempat duduknya dan memegangi jeruji yang memisahkan mereka.
Amy memandang jauh ke arah Thomas yang duduk dengan tatapan waspada. Dia menghela napas kemudian mulai menceritakan segalanya.
"Suamiku mati entah karena tertabrak atau mungkin sengaja ditabrak aku tak tahu pasti karena saat itu aku tidak melihat kejadiannya secara langsung. Dia telah dibawa ke rumah sakit saat aku mengetahuinya. Itu membuatku ragu karena ada suatu hal yang terjadi sebelum dia tewas.
"Beberapa minggu sebelumnya, kami datang ke kota ini untuk berlibur tapi dia mendapat sebuah pesan bahwa temannya hilang di gang Avycon dan membutuhkan bantuannya. Dia menceritakan pada wali kota mengenai hal itu. Berusaha meminta bantuan untuk menemukan temannya di dalam sana. Tapi wali kota menolak dengan tegas hingga akhirnya dia nekat untuk masuk ke dalam gang tersebut. Seminggu lebih dia hilang di dalam sana hingga akhirnya berhasil keluar tapi tanpa membawa temannya. Yang ada, dia malah ditabrak sebuah mobil tepat di jalan masuk menuju Avycon," ujar Amy.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Alley dan dirinya ingin menanyakan hal itu. "Siapa nama teman suamimu?"
"Rehan. Dia teman kerja suamiku, katanya dia datang untuk meliput kota ini tapi dirinya bersama seorang kameramen bernama Sam tersesat di gang Avycon," jawab Amy. "Tunggu dulu, kau bilang suamimu hilang di gang Avycon. Siapa namanya?"
"Dialah suamiku," jawab Alley seraya mengangguk. "Yang aku heran adalah bagaimana suamimu bisa keluar dari sana dengan selamat karena kuyakin kalian sudah mendengar rumor mengenai daerah tersebut, bukan?"
"Aku juga tidak tahu. Tak ada satu pihak pun yang mau membicarakan itu padaku termasuk wali kota," jawab Amy.
__ADS_1
"Aku lihat saat itu kau berada di rumah sakit. Apa saat suamimu meninggal, jasadnya dikremasi?" tanya Alley penasaran.
"Apa maksudmu?" sela Tiny.
"Aku juga sama, menyuruh seorang teman untuk mencari keberadaan suamiku di gang tersebut, tapi dia akhirnya tewas setelah keluar dari sana. Tepat di gerbang masuk. Mereka bilang, temanku meninggal karena menghirup gas beracun dan virus. Akhirnya mereka terpaksa mengkremasi jasadnya agar virus itu mati dan tak sampai menyebar," jawab Alley.
"Sudah aku duga pasti ada konspirasi di balik ini semua. Karena dokter mengatakan bahwa suamiku tak terjangkit virus apa pun meskipun dia pernah berada di Avycon. Dia murni kecelakaan atau dicelakakan oleh orang-orang yang memang bertugas untuk melakukan itu!" gusar Amy.
"Lalu, bagaimana setelah itu? Apa yang kau lakukan pada jasad suamimu?"
"Aku membawanya pulang ke kotaku dan menguburkannya, tapi sebulan setelah itu, aku tahu tentang Madam Suri. Aku bersama kedua anakku—dengan meminta bantuan Thomas—akhirnya kami menemui Suri di dalam Ozzone.
"Tujuanku menemuinya hanya satu, ingin tahu siapakah yang menabrak suamiku saat itu. Tapi, wanita tua itu mengatakan pada kami jika kami ingin mengetahuinya maka jasad suamiku harus dibawa dan harus dihidupkan kembali olehnya. Tapi bagaimana mungkin aku bisa membawa jasad suamiku yang sudah membusuk dalam tanah ke hadapannya? Maka dari itu aku membatalkan segalanya.
"Kami hendak keluar dari Ozzone tapi sesuatu terjadi. Suara Sirine dengan lantunan nada yang tak aku pahami terdengar mengumandang dari puncak gedung Sentral yang terletak di tengah lapang Ozzone. Tibalah waktu yang mereka sebut Hell Time. Sel-sel baja yang mengurung mayat-mayat hidup itu dibuka—dibuka secara sengaja. Membiarkan mereka berkelana ke seluruh penjuru Ozzone untuk menghabisi orang-orang hidup di dalamnya.
"Penyihir jalang itu tak membantu kami. Dia hanya tersenyum, mengatakan pada kami untuk lari mencari tempat sembunyi. Lalu dia kabur bersama seorang asisten yang selalu mendampinginya.
"Kami berlari mencari tempat aman bahkan Thomas pun tak mengetahui situasi tersebut. Thomas membantu kami—membantuku dan anak-anakku menuju tempat yang aman. Saat itu aku tak mengerti kenapa dia hendak menolong kami karena saat ini aku merasa bahwa dia adalah salah satu orang yang bergerak membuat skenario kecelakaan tersebut dan bersandiwara bahwa semua itu tak ada hubungannya dengan pihak wali kota maupun kepolisian. Tapi aku tetap tidak percaya padanya," tukas Amy.
"Lalu, bagaimana anakmu bisa hilang di sana?" heran Alley.
"Saat kami berlari mencari tempat sembunyi, tanpa sengaja tangan anakku yang paling kecil—Dante—terlepas dari genggamanku. Kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang otomatis terkunci saat ada orang di dalamnya hingga Hell Time berakhir.
"Saat itu aku sadar bahwa anakku masih berada di luar sana. Di antara lorong-lorong kelam. Aku dapat melihat anakku dari dalam ruangan itu melalui dinding kaca. Tapi aku tidak bisa keluar dari sana untuk menyelamatkan anakku yang menangis ketakutan. Thomas tak bisa membantuku. Katanya seluruh ruangan di dalam Ozzone sudah tersistem secara otomatis dan dia tidak bisa membuka pintu ruangan itu hingga Hell Time berakhir.
"Anakku begitu ketakutan, sebuah suara terdengar dari speaker di setiap sudut ruangan. Suara dari madam Suri. Dia menyuruh Dante masuk ke dalam lubang ventilasi udara untuk dapat masuk ke ruangan kami. Tapi syaratnya, anakku harus menahan napas dan merangkak dalam lubang sepanjang 10 meter tersebut. Jika gagal, lubang itu akan menyedotnya dan membuangnya ke suatu tempat di Ozzone.
"Anakku masuk ke lubang karena ketakutan dibunuh oleh mayat-mayat hidup itu tapi dia tak berhasil melewati lubang itu dan terisap entah ke mana."
"Mayat-mayat hidup berlarian, bertingkah gila dengan bentuk yang mengerikan. Thomas bilang itu adalah Martyr Project, sebuah proyek rahasia pemerintah yang bertujuan untuk mencari pelaku kasus pembunuhan dengan cara menghidupkan kembali jasad korban yang telah mati dan menjadi saksi atas kematiannya sendiri. Baru-baru ini kudengar bahwa mereka sering mengambil jasad-jasad korban secara ilegal. Mereka melakukan Martyr Project tanpa sepengetahuan keluarga," timpal Tiny.
Alley mendadak terpikir sesuatu, keraguan akan kemustahilan kian runtuh dan keyakian akan sesuatu yang tak masuk akal kian merasuk.
Satu hal yang kini terlintas di benaknya adalah anaknya.
Dia ingin memastikan keberadaan jasad anaknya di kuburan itu.
"Apa kau akan mengeluarkan kami dari sini?" tanya Tiny memastikan.
"Bersabarlah. Nanti sore aku kembali lagi ke sini dan mengeluarkan kalian. Tapi, aku harus pergi terlebih dahulu. Aku ingin memastikan satu hal lagi. Aku akan membongkar kuburan anakku dan kuharap bahwa pikiranku salah," kata Alley berlalu pergi.
Thomas yang sedang duduk di ujung lorong langsung berdiri hendak menyapa tapi Alley mendahului.
Alley langsung meluncur menuju apartemen Eren.
"Eren, jujurlah padaku. Apa benar kau melihat dengan mata kepalamu sendiri saat jasad Rafael dikubur?" tanya Alley menginterogasinya.
"Alley, kenapa kau?"
Eren terheran-heran mendapati raut wajah Alley yang dingin dan kaku. "Tentu saja, Alley, aku melihat langsung saat mereka mengubur peti mati Rafael."
"Bagaimana dengan jasadnya? Apa kau benar-benar yakin bahwa jasad Rafael ada di dalam peti mati itu? Apa benar kau mengecek kembali isi peti mati itu sebelum diturunkan ke liang lahat?"
Eren rikuh dan ragu.
"Aku ... Aku lupa Alley. Maafkan aku," aku Eren gelagapan.
"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk membeli tanah makam itu?"
"Lima juta."
"Apa kau berbohong? Bukankah kau juga tahu pasti berapa biayanya? Bukankah di buku kota dijelaskan?" heran Alley. "Jujurlah Eren."
Eren tampak gugup dan salah tingkah. Keringat dingin menyembul di dahinya.
"Alley, sebenarnya, wali kota yang menyuruhku melakukan ini," Eren mengakui dengan pelan seakan berat untuk mengatakannya.
"Apa? apa yang kalian lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saat Rafael meninggal, aku tidak langsung menguburkannya. Aku menunggumu selama seminggu. Dan Rafael diawetkan di sebuah ruangan di Zonier Hospital. Aku menunggumu dan berharap kau kembali meski aku telah mengetahui hal mengenai gang Kana. Wali kota mengutus Thomas padaku. Dia menceritakan dengan detail mengenai gang itu dan menyuruhku segera melakukan tindakan pada Rafael.
"Thomas menyuruhku untuk mengkremasi Rafael atau menguburkannya secara layak di makam. Tapi bagaimana bisa aku membayar tanah makam itu? Di sisi lain aku juga tak ingin mengkremasi jasad Rafael. Desakan bertubi-tubi aku terima dari Thomas dan wali kota. Hingga waktu berjalan sebulan dan Dr. Mickhael tak bisa menyimpan jasad Rafael lebih lama lagi.
"Atas perintah wali kota, Thomas datang padaku dan menawarkanku sebuah pilihan. Dia bilang aku tak perlu membayar tanah makam itu dengan syarat aku harus menyingkirkanmu selamanya. Dia bilang aku harus tutup mulut mengenai segala hal dan melenyapkan jejak keberadaanmu di kota ini."
"Kenapa mereka mau melakukan itu?"
"Mereka bilang ini soal rahasia kota. Mereka bilang telah menyuap warga kota ini yang mengetahui mengenai keberadaan tempat berbahaya. Mereka telah melenyapkan seluruh buku kota setelah diselenggarakannya pelelangan tersebut. Mereka ingin menghidupkan kembali kota ini dan melupakan sejarah yang ada.
"Waktu itu aku benar-benar tak punya pilihan lagi. Jika aku menolak, bukan hanya Rafael yang akan dikremasi tanpa izin tapi juga akan ada oknum-oknum yang menganggapku sebagai ancaman kota dan sesuatu mungkin terjadi."
Alley tak sanggup berkata-kata. Masih mendengar cerita Eren dengan saksama.
__ADS_1
"Keesokan harinya, mereka membawa sebuah peti mati menuju makam. Mereka bilang itu jasad Rafael. Tanpa rasa curiga aku hanya menuruti dan menjadi saksi dalam prosesi pemakaman itu."
"Jadi benar, kau tidak melihat wajah Rafael di dalam peti mati itu sebelum diturunkan?" Alley memastikan.
Eren hanya menunduk dan mengangguk pelan.
"Ada siapa saja saat pemakaman itu berlangsung?" tanya Alley.
"Aku, Thomas, Dr. mickhael, dan beberapa orang berseragam putih yang tak aku kenal."
Alley terduduk lemas, mengembuskan napas berat sembari memegangi sebelah kepalanya yang mendadak pening.
"Alley, kau tidak apa-apa?"
"Bagaimana dengan mertuaku. Apa dia tidak mencariku?"
"Nyonya Refal mencarimu. Dia datang ke kota ini dan mencarimu selama beberapa bulan. Dia berkali-kali bertanya padaku dan pihak wali kota. Tapi aku hanya bisa bilang tidak pernah mengenalmu sama seperti yang diperintah wali kota. Beberapa waktu setelah itu aku mendengar kabar Nyonya Refal meninggal dan dimakamkan di Javalava."
"Kenapa semua orang membohongiku, Eren?" kata Alley berkaca-kaca dengan ekspresi kesal yang tertahan.
"Maafkan aku Alley. Aku memang salah. Aku tak tahu harus bagaimana. Kupikir kau tak akan kembali."
"Kenapa mereka berbohong padaku, mengenai kematian anakku sendiri pada ibunya yang telah kembali? Kenapa mereka tetap berbohong padaku, mengatakan tak mengetahui kematian anakku? Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka rencanakan? Jika mereka tahu aku bisa keluar dari gang itu, kenapa mereka tak membunuhku saja. Karena kutahu—mereka tahu—bahwa yang aku inginkan sekarang hanyalah membongkar segalanya," ujar Alley dengan begitu lemas.
"Aku juga tidak mengerti. Saat Thomas memaksaku mengambil pilihan itu, dia tak seperti pihak kepolisian lainnya. Dia menyuruhku menghapus, melupakan, dan melenyapkan semua jejakmu dengan tanganku sendiri. Aku membakar semua barang dan beberapa pakaianmu dari apartemenmu dan mengunci apartemenmu meski kunci itu tak pernah sampai ke tangan Thomas. Dia hanya menyuruhku diam dan menjalani kehidupan baruku agar aku bisa selamat. Kupikir mungkin dia berbeda," kata Eren.
"Aku tak percaya satu pun dari mereka. Aku tidak percaya lagi dengan segala hal."
Eren menatap Alley dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku Alley ...."
"Aku akan membongkar makam anakku. Kuharap apa yang aku pikirkan salah. Tapi jika semuanya memang benar, aku tak akan tinggal diam. Aku akan membongkar kebusukan yang terjadi di kota ini."
***
Waktu hampir senja saat Alley dan Eren tiba di makam.
Alley tak ingin menunda-nunda hal ini lagi. Apalagi dia harus membebaskan Amy dan Tiny sebelum wali kota melenyapkan mereka berdua.
Alley dan Eren pergi menuju rumah Gabriel untuk meminta bantuannya membongkar makam anaknya.
Alley memanggil Gabriel dari luar tapi tak ada jawaban. Akhirnya dia mencoba masuk ke dalam rumah itu.
Dia berjalan ke bagian belakang rumah.
Ada sesuatu di sana.
Dia melihat sebuah kandang berjeruji besi yang sangat besar berdiri di belakang rumahnya.
Dia dekati kandang itu.
Di dalamnya, dia melihat bekas tapak kaki. Beberapa bagian jeruji itu tampak membengkok seakan pernah ada hewan buas yang berontak di dalamnya. Keheranan mendera di saat dia mulai memikirkan sesuatu. Mendadak Gabriel menepuk pundaknya dari belakang dan mengejutkannya.
"Ada apa Alley?" tanya Gabriel.
Wajahnya kelelahan dan sedikit pucat. Keringat membasahi seluruh pakaiannya.
Alley tak menanyakan hal itu. Dirinya fokus untuk melakukan hal yang dia inginkan saat ini. "Bantu aku. Bongkar makam anakku."
Gabriel hanya mengangguk pelan.
Mereka bergegas ke makam Rafael.
Dengan sebuah sekop, Gabriel mulai menggali tanah kuburan itu.
Satu jam kemudian Gabriel berhasil menggali hingga ke dasar. Tampak peti kayu yang sangat lapuk di dalamnya.
Gabriel membongkar peti itu dengan menggunakan sekopnya.
Dia hanya tersenyum saat melihat isi di dalamnya.
Tak ada apa-apa di dalam peti mati itu.
Seperti yang dia kira, tak ada jasad Rafael di dalam sana.
Alley terkulai lemas mendapati kenyataan yang ada. Meski dia telah curiga tapi tetap tidak percaya bahwa wali kota benar-benar melakukannya.
Eren yang sama-sama terkejut mencoba menenangkan Alley.
"Sudah kubilang, mereka semua adalah orang-orang licik. Kuyakin sekarang bahwa anakmu berada di Ozzone,"kata Gabriel selagi keluar dari lubang kuburan.
"Aku tak percaya mereka semua melakukan kebohongan seperti ini," timpal Eren.
Alley masih terduduk diam. Memandang ke dalam lubang dengan mata kosong.
__ADS_1