
Kumandang adzan magrib telah nyaring bergema kala sang fajar tenggelam di barat, sekarang waktunya untuk bersembayang, mendekatkan diri pada allah swt. Namun, 4 nelayan di kapal enggan menuruti apa yang telah menjadi kewajiban sebagai seorang beriman, ikan-ikan air asin telah melemahkan rasa takut mereka pada tuhan.
“Cepat tarik jala itu!!!”
“Baik!!”
Penuh semangat, tenaga terkerahkan pada 8 tangan yang menarik jala di sisi kapal sebelah kanan. Para ikan sukses terkait dalam jala, ratusan mahluk air asin tak tahu apa-apa terjebak antara rajutan benang kukuh. Mereka sangat gembira akan hasil tangkapan kali ini, tanpa tahu jikalau sembringah kegebiraan pasti menjadi jeritan penyesalan kala nyawa tak di raga.
terjangan omabak kejam menghantam setiap senti kapal yang belayar di air asin, menghebuskan keputusasaan pada pundak 4 nelayan, hanya saja... tak cukup untuk sebuah ombak agar mengirimkan rasa keputusasaan pada mereka, tangguh telah mendarah daging. mereka terus mencari ikan di samudra air asin tanpa kenal akan takut, enggan memperdulikan arti kata “keselamatan". bahkan, jikalaupun ada badai besar di hadapan kapal, tetapi banyak ikan di bawah sana, maka badai besar bukan lagi masalah. panggilan tuhan pun 4 nelayan abaikan, apa lagi sebuah ombak? tak ada artinya...
kiranya sudah cukup banyak, 4 nelayan dalam kapal pulang ke daratan, meninggalkan tumpukan air asin penuh ikan. namun, jikalau memang 4 nelayan dalam kapal masih ingin menangkap ikan di air asin, mau di taruh di mana hasil dari tangkapan itu? seluruh badan kapal telah berjibun akan ikan-ikan sebelumnya.
kapal di ikat pada kayu besar di dermaga, beberapa nelayan lain telah ada di sana sebelum-sebelumnya, kira saat kumandang adzan magrib terdengar.
__ADS_1
4 nelayan tak kenal takut menjual hasil tangkapan mereka, mendapatkan sejuput kertas berangka untuk kelangsungan hidup sanak keluarga. 8 langkah kaki mendayu-dayu pulang, kertas berangka telah lekat pada tangan, tak ada lagi kecemasan di pikiran. 4 nelayan berpisah, menempati rumah tepat singgah, bertemu dengan ayah, serta sanak keluarga lain. di bagi rata setiap angka di muka, membuat pintu kesejahtraan terbuka. “lelahnya sehabis berlayar...” keluh 4 nelayan dalam hati kecil. memang 4 tubuh itu telah menerima rasa lelang yang teramat, terlebih harus bertahan terhadap goncangan air asin tak kenal ampun selama lebih dari 9 jam, rasanya mau tidur saja jika di rumah.
“nak, lain kali kamu pulangnya habis magrib atau isha saja yah... jangan terlalu mendekati subuh, nanti sembayang mu jadi bolong-bolong.” wanti-wanti 4 ibu pada anak mereka.
“tapi... nanti aku akan dapat ikan nya sedikit, kalau begitu adik-adik, anak-anak, istri, ibu dan ayah mau makan apa? Aku mencari ikan untuk menghidupi kalian. kalau di suruh cepet-cepet pulang, biar tidak melayar saja, dari pada capek-capek tidak kepake.” bela 4 nelayan.
“ibu mu ini cuma mau kau lebih dekat pada tuhan...”
“bagus nak.”
sebuah ke bohongan telah di lontarkan oleh 4 bibir nelayan. mereka tak hanya memberikan kertas angka untuk menghidupi sanak keluarga, hanya sedikit untuk alasan itu. sebagian besar hasil menjual ikan-ikan air asin di berikan pada penjudian, dari 100 hanya 5 untuk sanak keluarga, 95 untuk berjudi.
setelah 1 hari bersenang-senang, berudi, berpoya-poya, tidak sembayang, menjauhi seluruh sanak keluarga yang membutuhkan bantuan. 4 nelayan kembali ke kapal, mencoba peruntungan dengan mencari ikan-ikan di air asin yang kaya. ikatan di dermaga telah hilang, ombak kecil membawa kapal ke tengah-tengah genangan raksasa air asin, mereka gembira akan hal itu.
__ADS_1
dari waktu ke waktu, ashar berubah menjadi magrib, ikan-ikan telah cukup terkumpul dalam badan kapal, mencukupi untuk alasan “menghidupi sanak keluarga", namun tak cukup untuk asalan “berjudi". wanti-wanti sang ibu mulai terlupakan, “pulanglah saat magrib atau isha" tak mungkin lagi di lakukan oleh ke 4 nelayan, padahal wanti-wanti sang ibu tak lain 'hanya untuk menyelamatkan anak-anaknya dari panasnya api neraka'.
kumandang adzan isha telah lalu cukup lama. intinya... ke 4 nelayan telah mengingkari janji pada sang ibu dan tuhan untuk pulang kala adzan magrib atau isha agar dapat sembahyang.
kapal telah penuh akan para ikan yang siap di jual ke pasar. kemungkinan besar ke 4 nelaya akan terus mencari ikan di genangan air asin, terlebih... setiap tarikan dari jala mereka begitu melimpah ruah akan mentahan kertas berangka. tawa nyaring terdengar dari kapal, mereka belum pernah mendapatkan ikan sebanyak itu sebelum-sebelumnya.
sementara di tengah genangan air asin, 4 nelayan bahagia akan tangakap mereka. di daratan, 4 orang ibu merasa begitu kecewa akan tingkah anak mereka. rasa tahu akan kebohongan memedihkan hati, ingkar janji menjadi garam pada luka di batin, air mata tergenang di pipi 4 seorang ibu, tanpa sadar 4 hati wanita berjasa berdoa pada tuhan “jikalau anak ku selalu membuat luka di hati ini, yah allah... tolong jangan pulangkan mereka pada ku lagi.”, petir menggelegar kala sebuah doa dari 4 ibu terkabul seketika.
dalam kekecewan penuh kesal sang ibu, tawa-tawa di atas air asin masilah nyaring terdengar, banyak orang sadar jika tuhanpun ikut kesal pada tingkah mereka.
tak ada badai yang menerjang kapal, tak ada lagi ikan yang dapat di tangkap, tak ada ombak untuk pulang, tak ada angin yang membantu, tak ada bintang ataupun bulan untuk menerangi, tak ada cita di sana... kapal yang membawa 4 nelayan tak dapat pergi ke manapun, air asin kala ini sangatlah tenang seperti danau, penuh kabut, tak dapat pulang. ikan-ikan yang tertangkap jala telah membusuk tak berarti.
penyesalan merayap di setipa pori-pori 4 nelayan, berkata sembari menujukan wajah murung “andai kami pulang kala adzan magrib...”
__ADS_1