GARIS

GARIS
12 - Bima


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Bold Italic (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


“Malu kenapa?” Ucapku ketika sudah duduk di samping Ririn.


“Karena senang pacaran dengan kakak mungkin.” Ucap meta.


Aku tertawa ketika melihat wajah Ririn yang bersemu merah. Lucu menurutku.


Tanpa sadar tanganku terulur untuk mengelusnya.


“Oh iya Rin. Kamu engga jadi daftar anggota basket?” Tanya Bagas kepada Ririn.


“Engga deh kak. Aku ikut ekskul lain aja.”


Aku menatapnya bingung, “Kenapa?”


Dia kemudian mengalihkan pandangan dari Bagas kepadaku, “Karena satu ekskul sama kamu bakalan susah menurutku.”


“Susah?”


“Iya, pasti nanti banyak omongan yang bilang aku masuk esksul basket karena kamu. Mending aku ikut ekskul lain aja deh.”


“Ikut apa?” Tanyaku.


“Emm, fotografi mungkin? Ada Meta dan Kak Rio di klub itu.” Jawabnya.


Aku menganggukkan kepalaku. Sepertinya tidak masalah kalau Ririn ikut ekskul itu. Lagipula ada Rio yang bisa kusuruh untuk menjaganya kalau ada apa-apa.


“Yasudah, itu makanannya udah aku anterin. Kami balik ke kelas ya.” Ucapku sambil bangkit dari bangku.


Ririn kemudian mengangguk mengiyakan.


Aku hendak berjalan namun berhenti dan kembali menoleh ke Ririn, “Rin, kamu nanti pulang sendiri ya? Aku lupa kalau hari ini ada latihan basket.”


Kulihat senyum merakah diwajahnya, “Oke!” Ucapnya bersemangat.


Aku lantas tersenyum dan berjalan ke arah kelasku.


“Bim, sepertinya kontras sekali dengan apa yang kau ceritakan kepada kami.” Ucap Rio ketika sudah duduk di bangku kami.


Aku mengernyit bingung, “Maksudnya?”


“Kau bilang kau hanya pura-pura pacaran. Tapi kenapa sepertinya kau benar-benar suka pada Ririn?”


Aku memang bilang kepada Rio dan Bagas kalau aku hanya pura-pura pacaran dengan Ririn. Ketika mereka menanyakan alasannya kubilang bahwa aku belum bisa bilang.


Mereka berdua hanya mengangguk, mencoba menerima apa yang kubilang.


“Kenapa kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” Ucapku pada Rio.


“Yaa kejadian tadi pagi. Ketika sibuk nyalin pr kau langsung tergopoh-gopoh ketika Jason bilang pacarmu diganggu Fany.”


Aku terkekeh pelan, “Ya untuk itulah aku pura-pura pacaran. Untuk melindungi Ririn dari Fany.”


“Lalu kenapa kau bela-belain anterin makanan untuk Ririn. Lalu tiba-tiba kau mengelus kepalanya tadi. Bukannya kau anti sekali disentuh?” Tanya Rio lagi.


Aku terdiam cukup lama. Aku juga sedikit bingung dengan sikapku.


Tiba-tiba saja Rio menujukkan telunjuknya kepadaku sambil tertawa, “Benarkan kubilang. Kau benaran suka dengannya. Apa pura-pura pacaran hanya akal-akalanmu saja?”


Aku langsung mengambil telunjuknya dan memelintirnya ke belakang. Rio mengaduh kesakitan namun masih tertawa menggoda kepadaku.

__ADS_1


“Berisik! Udah lihat ke depan sana. Pak Edi sudah masuk.” Ucapku cepat.


Bagas yang melihat adegan tadi hanya menepuk bahuku sambil tersenyum seperti mengatakan ‘sudahlah kawan, jangan berbohong. Kami tau semuanya.’


Aku tidak menjawab apa apa. Apa aku benar suka pada Ririn? Sejak kapan?


Tentu ini hal yang bagus, mengingat Ririn adalah pasanganku. Tapi apa Ririn juga bakalan suka denganku.


Arghhh!


***


“Nih, minum.” Ucap Bagas sambil menyodorkan botol mineral kepadaku.


“Makasih.” Ucapku, lalu meneguk air mineral itu sampai setengah botol.


Karena turnamen yang akan datang, akhir-akhir ini latihan sangat ketat.


Aku kemudian mengeluarkan hpku dan mengetikkan sesuatu.


Bima


Lagi apa?


5 menit, 10 menit, 15 menit. Masih belum ada balasan dari Ririn.


Bagas lalu menepuk pundakku, “Bim, ayo, waktu istirahat udah selesai. Tuh pak Alan sudah manggil.”


Aku lantas mengangguk dan memasukkan hpku ke dalam tas kemudian lari menyusul Bagas ke tengah lapangan.


Aku tidak terlalu memikirkan balasan Ririn. Mungkin perempuan itu sedang tidak memegang hp di dekatnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 ketika kami selesai latihan.


Aku mengeluarkan hp dari dalam tas dan menatap bingung layar hp. Masih belum ada balasan dari Ririn.


Aku kemudian menenteng tasku dan berjalan ke arah parkiran mobil. Bagas sudah pulang duluan, tinggal beberapa kendaraan yang terparkir di parkiran.


Aku sedikit kecewa melihat nama yang tertera di layar hpku. Ternyata yang sedang menelpon Rio, kupikir Ririn.


“Halo.”


“Halo Bim. Kau masih di sekolah?”


“Masih. Ini mau pulang. Kenapa?”


“Ririn hilang Bim.”


“Hilang?” Ucapku panik.


“Orang tuanya menelpon Meta, menanyakan apa Ririn sedang dengannya. Kata orang tua ketika Ririn terakhir di telepon, Ririn masih di sekolah. Setelah itu hpnya tidak bisa dihubungi lagi. Orang tuanya khawatir sekali. Coba kau periksa di area sekolah ya. Aku dan Meta sedang mencari di sekitar tempat yang sering didatanginya.”


“Oke. Aku cari di sekitar area sekolah. Kalau kau sudah menemukannya kabari aku ya.” Ucapku pada Rio.


Aku langsung memasukkan hpku ke dalam celana lantas masuk kembali ke area sekolah.


Aku memasuki tiap tiap kelas yang ada di lantai 1, lantai 2, dan lantai 3, namun aku masih belum menemukan Ririn.


Aku menatap jam tanganku. Sudah pukul sembilan.


Dimana kamu Rin, batinku.


“Nak Bima? Sedang apa?”


Aku langsung membalikkan badanku terkejut. Ternyata pak Reno, satpam sekolah.


“Pak, ada melihat siswa perempuan? Orang tuanya tidak bisa menghubunginya dari pulang sekolah tadi.”


“Wah malam-malam begini tentu sudah tidak ada orang lagi nak. Ah iya, tadi bapak ada melihat. Tapi sih katanya dia hanya mengambil bukunya yang ketinggalan.”


“Dimana dia pak?” Ucapku terburu-buru.

__ADS_1


Pak Reno kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah pintu masuk sekolah, “Baru 5 menitan tadi saya lihat. Nak Bima engga lihat?”


Aku lantas berlari kearah pintu masuk. Sepertinya aku terlalu panik sampai tidak melihat siapa saja yang kutemui. Tujuanku hanya satu, menemukan Ririn.


Saat itulah di daerah parkiran kulihat perempuan itu.


“Hei! Kau! Berhenti!” Ucapku padanya.


Wanita itu lantas panik dan buru-buru hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun aku sudah menahan pintu mobilnya.


“Kau? Seli bukan? Temannya Fany? Apa yang kau lakukan di sekolah jam segini?”


Dia lalu menjawabku dengan tergagap, “Aku hanya mengambil bukuku yang tertinggal.” Ucapnya sambil menunjukkan buku ditangannya.


Aku tentu tidak mempercayainya.


“Dimana Ririn?” Ucapku tajam.


“Aku tidak tau. Aku tidak ada urusannya dengan pacarmu.”


“Aku tau kalianlah biangnya. Dimana Ririn?!” Ucapku lagi dengan nada suara yang cukup tinggi.


Namun perempuan di depanku hanya membuang mukanya. Tidak ada niatan menjawab pertanyaanku.


Aku lalu menggengam tangannya.


Harusnya aku menolak ketika disuruh Fany untuk ke sekolah. Si Fany tukang labil itu. Aku disuruh melepaskan Ririn yang sudah disekapnya di gudang, tapi tiba-tiba ketika sudah di sekolah Fany malah menyuruhku membiarkan Ririn sampai besok pagi. Dasar wanita tidak berperasaan itu. Kalau saja ayahku bukan bawahan ayahnya tentu ak-


Aku langsung melepaskan tangaku dari tangan Seli. Lantas berlari ke arah gudang sekolah.


“Rin! Ririn!”


Aku menggedor pintu gudang dengan keras. Gudang sekolah letaknya cukup jauh di belakang.


Bahkan mungkin Pak Reno jarang sekali memeriksa gudang ini.


“Rin! Kamu di dalam? Ini aku Bima.” Ucapku. Namun tidak ada jawaban dari dalam.


Saat itulah aku melihat hp di dekat pintu masuk. Aku mengambilnya kemudian menghidupkannya.


Aku membuka kunci hp tersebut. Ternyata ini hp Ririn. Sepertinya benar Ririn di dalam gudang ini.


Aku langsung berlari dan meminta kunci gudang kepada pak Reno.


“Tapi kunci ini cuma saya yang punya Nak Bima. Engga mungkin ada yang buka pintu gudang selain saya.” Ucap pak Reno dibelakangku yang sedang membuka pintu gudang.


Aku tidak menjawabnya. Aku lebih berfokus membuka pintu gudang.


Saat sudah terbuka, aku menghidupkan flash hpku. Saat itulah kulihat Ririn yang sudah tergeletak lemas di lantai.


Aku langsung menghampirinya, “Rin? Ririn. Bangun. Kamu engga kenapa-kenapa?”


Ririn lalu membuka matanya. Saat itulah air matanya langsung turun. Dia menangis dengan histeris.


“Huaaa, Bima. A-aku takut sekali. Da-dari tad-i aku mem-manggil..”


Aku langsung memeluknya, “Sudah sudah, kamu bisa jelaskan nanti. Sekarang kita pulang ya.”


Meta hanya mengangguk dan mencoba berdiri. Namun sepertinya kakinya masih lemas untuk menopang tubuhnya.


Aku lantas berjongkok di depannya, menyuruhku naik ke punggungku. Dia lalu naik ke atas punggungku.


“Makasih ya Pak. Saya pamit dulu.” Ucapku pada Pak Reno.


“Iya Nak Bima. Semoga temannya tidak kenapa-kenapa ya.”


Aku hanya tersenyum lalu berjalan ke arah parkiran mobil.


Baru satu hari saja Ririn sudah dibuat begini oleh Fany. Bagaimana hari-hari selanjutnya.


Tiba-tiba saja aku merasa takut. Takut kejadian seperti tahun lalu terulang lagi.

__ADS_1


To be continued..


__ADS_2