GARIS

GARIS
13 - Ririn


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


Aku menatap kosong jalanan yang ada didepanku. Aku masih sedikit ketakutan, namun sudah tidak gemetar seperti saat Bima pertama menemukanku.


“Iya. Udah sama aku. Kalian pulang aja, udah jam segini. Biar aku yang anterin Ririn pulang. Iya. Oke.”


Bima kemudian menutup telponnya dan memasukkan hpnya ke kantong celana.


“Kamu gapapa?” Tanyanya sambil menatap khawatir padaku.


“Engga apa-apa.”


“Udah tenang? Mau cerita kejadian tadi?” Tanyanya hati-hati.


Aku kemudian mengangguk dan mulai menceritakan.


“Aku sendirian di kelas. Sudah jam pulang sekolah, Meta dan Alin juga sudah pulang. Aku hanya ingin menyalin beberapa catatan di papan yang tidak sempat kucatat. Ketika sudah selesai dan keluar kelas, tiba-tiba saja kepalaku ditutup dengan karung. Banyak tangan yang menarikku. Aku mencoba berteriak. Tapi mulutku di tutup oleh mereka.”


Aku berhenti sejenak untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan dengan suara sedikit bergetar.


“Aku disekap di gudang. Berkali-kali aku berteriak minta tolong, tapi tidak ada bantuan. Hpku juga diambil mereka.”


Kulihat Bima menghela napas keras. Tangannya yang menggenggam setir terkepal keras.


Aku kemudin melanjutkan, “Fany bukan?”


Bima menoleh, “Apanya?”


“Fany yang membuat aku disekap seperti ini kan?”


Bima kemudian melihat ke arahku, “Maafin aku Rin, ini semua salahku. Harusnya aku tau Fany akan berbuat hal yang mengerikan padamu.”


“Itu bukan salahmu. Tapi ada yang ingin kutanyakan. Boleh?”


Bima menganggukkan kepalanya, “Tanyakan saja.”


“Ketika di dalam gudang, sayup-sayup aku mendengar tertawaan mereka dan mereka mengatakan nasibku akan sama seperti Nadin. Siapa itu Nadin?”


Bima seketika membeku ditempatnya. Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya.


“Kamu engga akan seperti Nadin.” Jawabnya cepat.


“Siapa itu Nadin?”


“Dia sekolah di SMA Pelita dulu. Namun baru setahun, dia langsung pindah ke sekolah lain. Penyebabnya karena Fany dan kawan kawannya membullynya.”


“Kenapa Fany membullynya?” Tanyaku. Aku sepertinya tau arah pembicaraan ini. Namun aku masih tetap ingin memastikannya langsung pada Bima.


“Itu masalah dulu, Rin. Fany memang seperti itu.” Kilahnya.


“Tentu Fany punya alasan untuk membullynya. Kenapa?” Tanyaku lagi.


Bima menghela napas keras, “Karena Nadin mantan pacarku.”


***


Aku menatap kosong ke depan kelas ke arah Bu Mus yang sedang menjelaskan.


Sudah 2 minggu sejak kejadian di gudang. Namun 2 minggu itu jugalah pikiranku melayang entah kemana.


Aku baru mengetahui fakta kalau mantan Bima juga mengalami hal yang kualami.


Tiba-tiba ada rasa takut dalam diriku.

__ADS_1


Mendengar Bima mengucapkan nama wanita lain juga membuatku merasa aneh. Cemburu kah?


Selama 2 minggu ini, Aku tidak melihat Fany disekolah. Sehingga aku tidak perlu terlalu takut.


Ketika kutanyakan ke Meta, kata Meta tentu saja Fany bisa sesukanya masuk atau tidak masuk sekolah.


Ayahnya salah satu petinggi daerah, sehingga kepala sekolah ini cukup berhati-hati dengan Fany.


“Rin, ayo ke kantin.” Ucap Alin membuyarkan lamunanku. Ternyata sudah jam istirahat.


“Kalian saja deh. Aku mau ke UKS. Kepalaku pusing sekali.”


“Mau kami antar?” Ucap Alin kepadaku.


“Engga, aku pingin sendiri.”


Alin dan Meta kemudian saling bertatapan.


“Oke, hati-hati ya Rin. Kalau ada apa-apa langsung kabarin kami.” Ucap Alin.


Aku mengangguk kecil.


Aku terus berjalan sambil sibuk dengan pikiranku. Namun aku bukan ke UKS.


Kalau kita berjalan sedikit lagi melewati UKS, akan ada sebuah bangku kayu disitu.


Aku duduk di bangku itu, sambil menatap daun-daun yang berguguran.


Suasana disini sangat tenang, jauh dari keramaian siswa-siswa lain.


“Hai, kamu sedang apa?”


Aku mengangkat kepalaku keasal suara tersebut.


“Hai, kak Dimas. Lagi duduk-duduk aja.”


“Boleh aku ikut duduk disini?”


“Lagi banyak pikiran ya?”


“Engga kok kak, lagi pingin sendiri aja.”


“Kamu engga kenapa-kenapa Rin?” Tanyanya hati-hati.


Aku menatapnya heran, “Engga kenapa-kenapa kak, kenapa emangnya?”


“Tadi aku dengar dari teman-temannya Fany, kalau mereka menyekapmu di gudang. Aku khawatir padamu, aku langsung mencarimu ke kelas, tapi kata teman kamu, kamu ke UKS. Jadi aku menyusulmu kesini.”


Aku tersenyum mendengarnya. Kalau saja ketika baru masuk sekolah aku mendengar ini, tentu senangnya bukan main.


Hanya beberapa tindakan kecil Bima bisa membuatku mengalihkan rasa sukaku dari Dimas. Sekarang ini aku tidak lagi berdebar melihat Dimas.


“Makasih udah khawatir kak. Tapi Ririn engga kenapa-kenapa.” Ucapku padanya.


Dimas lalu menghela napas keras, “Aku harusnya menahan Bima ketika bilang kalau kalian pacaran. Harusnya Bima juga tau bahayanya. Kalau memang dia sayang sama kamu, harusnya dia bisa merahasiakan hubungan kalian.”


Aku terkejut mendengar ucapan marah dari mulut Dimas.


Dimas sepertinya menyadari kalau aku terkejut, “Ah, maaf Rin. Aku sedikit tersulut emosi.”


Aku menggeleng pelan, “Tidak apa kak. Tapi, apa kakak punya masalah dengan Bima? Sepertinya kakak kurang suka dengannya.”


“Bima tidak pernah cerita kepadamu?”


Aku menggeleng pelan.


“Dulu, ada satu orang temanku. Namanya Nadin. Mantan pacar Bima dulu.”


Ah, aku teringat dengan Nadin yang sempat diceritakan Bima kemarin.


“Karena berpacaran dengan Bima, Nadin jadi di bully dan harus pindah sekolah. Karena hal itu aku kurang suka dengannya.”


Aku menganggukkan kepalaku. Namun seperti masih ada yang disembunyikan Dimas.

__ADS_1


Aku ragu untuk membaca pikirannya, takut menemukan hal yang terlalu privasi.


Namun mendengar nama Bima dan Nadin aku terlalu penasaran.


Saat itulah Dimas menatapku, lantas aku menatap matanya.


Bima selalu mendapat apa yang menjadi keinginanku. Ketua basket, prestasi yang baik, dan perempuan yang kusuka.


Dulu aku suka dengan Nadin, namun Bima mendapatkannya. Apa sekarang harus terulang lagi? Dia mendapatkan Ririn, wanita yang kusuka.


Aku langsung menutup kemampuanku dan mengerjap terkejut.


Dimas? Suka padaku? Aku masih belum bisa mengalihkan pandanganku dari Dimas.


Tiba-tiba saja Dimas mendekatkan wajahnya ke wajahku.


“Ririn, aku suka kamu. Aku lebih bisa melindungimu daripada Bima. Apa kau mau meninggalkannya?”


Napas Dimas terasa sampai kewajahku, dekat sekali. Aku berdebar tidak karuan.


Aku langsung bangkit dari dudukku, “Maaf kak, a-aku kembali ke kelas dulu.”


Aku lantas berjalan cepat meninggalkan Dimas yang masih terduduk di bangku.


Saat tiba di pintu kelas, tiba-tiba saja lenganku ditarik dari belakang. Ternyata Bima.


“Kenapa?” Tanyaku heran.


“Akhirnya hilang juga sakitnya. Kau habis dari mana? Jumpa Dimas?” Tanyanya tajam.


“Lepasin dulu, Anak-anak yang lain pada ngeliatin.” Ucapku sambil mencoba melepaskan tangannya.


Namun Bima masih menggenggam lenganku.


Sejenak aku lupa. Bima tentu akan merasa sakit kalau aku dekat dengan Dimas. Mungkin karena debaran saat pengakuan Dimas tadi.


“Tadi aku engga sengaja jumpa Dimas.” Ucapku.


“Kamu tau, aku yang tersiksa kalau kamu jumpa Dimas.” Ucap Bima lembut.


Aku menganggukkan kepala, “Maaf.” Ucapku pelan.


Bima mengusap kepalaku pelan, “Tidak apa-apa.”


Saat itulah aku melihat Dimas yang berlari kearahku dan Bima. Sepertinya dia mengejarku.


Bima memunggungi arah datangnya Dimas, sehingga dia tidak tau kalau Dimas menuju tempat kami berdiri.


“Rin, maafin aku.” Ucap Dimas.


Bima langsung menoleh ke arah suara tersebut.


“Apa yang kau lakukan? Jangan pernah dekati Ririn.” Ucap Bima tajam.


“Aku tidak berbicara denganmu. Aku punya urusan dengan Ririn.”


“Urusan Ririn adalah urusanku. Kau bisa bilang kepadaku.”


Dimas menghela napas keras, “Tidak semuanya bisa kau urus tentang Ririn. Ririn juga punya hak sendiri. Tidak perlu kau kekang begitu.”


Aku menatap dua laki-laki di depanku. Tentu saja hal ini menjadi tontonan yang menyenangkan untuk yang lain.


Untung saja Fany tidak ada disekolah. Kalau dia melihat ini habislah aku.


Aku langsung memotong pembicaraan mereka, “Kak Dimas, engga apa-apa kok. Engga perlu dipermasalahin. Lalu kamu Bim, lepasin tangan aku. Kamu balik saja ke kelas. Aku tidak suka jadi tontonan seperti ini.” Ucapku pada mereka.


Bima lantas melepaskan tangannya. Aku langsung berjalan memasuki kelas, tanpa melihat dua laki-laki tadi yang masih berdiri di depan kelas.


Belum setahun aku sekolah, masalahku semakin bertambah saja.


Uwaaa aku pingin pindah sekolah saja kalau begini terus.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2