GARIS

GARIS
8 - Bima


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


Aku membuka pintu UKS. Disanalah gadis itu sedang berbaring.


Aku hendak menanyakan kondisinya, namun kuurungkan niatku. Aku tidak ingin tampak terlalu mengkhawatirkannya


Entahlah, aku tidak terlalu ingat percakapanku dengan Ririn, juga apa saja yang keluar dari mulutku. Kepalaku rasanya sakit sekali.


Saat itulah kulihat Ririn hendak bangkit dan memakai sepatunya.


Tanpa basa-basi aku langsung menggenggam tangannya. Rasa sakit yang kurasakan berangsur menghilang.


Benar, tidak salah lagi. Dialah orang yang ditakdirkan untuk bersamaku. Sumber dan penyembuh penyakitku. Terlebih aku tidak bisa membaca pikirannya.


Tiba-tiba, tirai di sebelah kiriku terbuka. Disana duduk Raka yang tersenyum jahil padaku dan Ririn.


Aku langsung melepaskan tanganku.


“Kau kembali saja ke kelas. Biar aku yang mengurusnya.” Ucapku kepada Ririn.


Saat Ririn sudah hilang dari pandanganku aku membalikkan badanku dan menatap tajam Raka.


“Tutup mulutmu. Anggap kau tidak melihat apa apa.”


Raka lantas menyilangkan tangannya, “Tentu tidak bisa. Seluruh penjuru sekolah akan heboh sekali dengan berita ini.”


“Apa maumu?”


“Mauku? Aku tidak ingin apa apa. Tenanglah, Bim. Apa salahnya kalau kalian pacaran?”


“Aku sudah tau siapa kau. Apa rencanamu.” Ucapku tajam.


“Rencanaku? Oke baiklah, aku akan sedikit membocorkan rencanku. Aku akan menyebarkan ke penjuru sekolah bahwa kalian pacaran.”


Raka kemudian menghentikan ucapannya lalu tersenyum.


Aku mengerutkan kening heran, “Lalu? Aku tau tabiat mu. Apa maumu sebenarnya?!” Tanyaku setengah berteriak.


Raka mengangkat bahunya kecil, “Ya hanya itu peranku. Selanjutnya Fanylah yang akan melanjutkan apa yang kumau.”


Aku terdiam ditempatku. Aku tentu tau Fany, dan apa yang bisa diperbuatnya. Fany terlalu berbahaya.


Terlalu banyak orang yang bisa menjadi pelindungnya, sehingga apa pun perbuatan mengerikan yang dilakukan Fany bisa tertutupi dengan mudah.


“Apa kau mau kejadian seperti tahun lalu terjadi pada Ririn?”

__ADS_1


“Tutup mulutmu. Kau punya masalah denganku. Jangan libatkan Ririn.”


“Ah, melihat kau melindungnya seperti ini aku semakin ingin melibatkan gadis itu.”


Tanpa pikir panjang aku langsung melayangkan tinjuku. Raka hanya menerima pukulan itu sambil tertawa.


Aku menghentikan tinjuku ketika melihatnya tertawa. Lantas bangkit. Aku hendak kembali ke kelas, namun ucapan Raka mengehentikan langkahku.


“Aku tidak akan menyebarkannya apabila kau mengikuti apa omonganku.”


“Aku bukan pesuruhmu.”


Raka tertawa mengejek mendengar jawabanku.


“Baiklah, sepertinya harga dirimu masih tinggi sekali. 3, kabulkan 3 keinginanku. Maka aku tidak akan menyebarkan omongan bahwa kalian berpacaran. Bagaimana?”


Aku menimbang-nimbang, haruskan ku terima tawarannya. Dimata satu penjuru sekolah, Raka termasuk anak teladan. Tidak pernah membuat masalah dengan guru. Hanya aku dan beberapa orang terdekatnya lah yang mungkin tau sifat asli Raka.


Apabila dibanding aku, tentu orang-orang akan langsung percaya dengan ucapannya.


“Lama sekali? Kau tidak mau? Tidak ada ruginya untukku kalau kau tidak mau menerimanya.”


Aku akhirnya menghela napas keras.


“Baiklah, tiga. Aku akan mengambulkan tiga keinginanmu. Tidak lebih.”


Aku lantas berbalik dan berjalan keluar UKS. Mudah-mudahan saja keinginnya masih bisa diterima akan sehat.


***


Aku menghentakkan badanku ke sisi lapangan basket sambil menghela napas keras.


2 keinginannya sudah kupenuhi, mengerjakan tugasnya dan menggantikannya membersihkan kamar mandi karena dihukum pak Bian.


Aku baru saja menyelesaikan hal yang nomor 2. Tinggal satu lagi, pikirku.


“Bim, ada apa sih sebenarnya? Kau bukannya tidak suka dengan Raka? Kenapa akhir-akhir ini kau malah beberapa kali menolongnya?” Ucap Bagas sambil memberikan mineral botol kepadaku.


“Tidak kenapa-kenapa. Anak-anak yang lain udah pada ngumpul? Ada yang mau disampaikan oleh pelatih.”


“Sudah, kami tinggal menunggu kau dan pelatih. Ganti baju sana, itu Pak Alan sudah datang.” Ucap Bagas.


Aku mengangguk lalu bergegas mengganti baju sekolahku dengan baju latihan.


“Baik anak-anak. Untuk formasi inti yang akan bertanding untuk turnamen bulan depan adalah Bima, Roy, Bagas, Lukman, dan Dimas. Untuk babak 2 yang akan bermain Bima, Reza, Dodit, Mark, dan Lukman.” Ucap pak Alan.


“Untuk babak selanjutnya kita melihat perkembangan ketika kita bertanding. Untuk sekarang nama-nama yang saya panggil adalah tim inti. Untuk yang namanya tidak saya panggil akan menjadi tim cadangan.” Lanjut pak Alan.


Kami mengangguk mendengar penjelasan Pak Alan.


“Baik, itu saja pengumuman dari saya. Sekarang kalian pemanasan dan keliling lapangan 10 kali. Bim, kamu yang memimpin ya.”


“Baik, pak.” Jawabku.


Aku pun memimpin anggota yang lain untuk pemanasan. Setelah pemanasan, Pak Alan mengambil alih sambil mengajari kami beberapa trik dan pola untuk menghadapi turnamen nanti.

__ADS_1


Matahari sudah mulai tenggelam. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


“Bim, aku duluan ya.” Ucap Bagas kepadaku.


“Oke.” Jawabku.


Hari ini tugasku untuk membersihkan sekret. Dibantu beberapa anggota yang lain, salah satunya Raka.


Saat aku meletakkan bola basket di keranjang yang sudah disediakan, Raka perlahan menghampiriku.


“Bim, aku punya keinginan terakhir.”


Aku menghela napas keras, “Cepat sekali? Barusan saja kau memintaku menggantikanmu dihukum.”


Raka tidak menggubsir omonganku.


Aku lantas melipat tanganku, “Apa? Cepat katakan? Aku tidak ingin melihatmu terus-terusan. Kau harus menepati ucapanmu tentang Ririn.”


“Oke. Aku akan menepati janjiku. Permintaan terakhir. Masukkan aku ke tim inti.”


Aku langsung menatapnya tidak suka, “Bukan keputusanku memilih siapa di tim inti.”


“Tapi kau kapten basket. Tentu Pak Alan akan mendengarkan pendapatmu.”


Aku langsung menjawabnya dengan cepat, “Tidak! Pak Alan tentu punya alasan sendiri memilih tim inti. Aku tidak akan mengorbankan tim untuk memenuhi keinginanmu.”


“Jadi kau tidak bisa?”


“Tidak. Harusnya kau menunjukkan kalau kau bisa menjadi tim inti, lihat yang lain, mereka juga berlatih mati-matian. Sedangkan kau tanpa usaha ingin menjadi tim inti?” Tanyaku tajam.


“Tanpa usaha?” Ucap Raka tajam.


Beberapa anggota basket yang lain menatap kami dengan penasaran.


“Kalian semua boleh pulang, aku saja nanti yang membersihkan sisanya.” Ucapku pada anggota yang lain.


Mereka akhirnya meninggalkan aku dan Raka sendiri.


“Asal kau tau. Aku masih memegang rahasia yang ingin kau jaga.”


“Itu bukan rahasiaku.”


“Baiklah, kalau begitu aku akan menyebarkannya ke penjuru sekolah. Lagian kau juga tidak menepati janjimu tentang 3 permintaanku.”


Aku menghela napas, “Apa tidak ada hal lain? Kalau berhubungan dengan tim aku tidak bisa. Aku yang paling tau usaha mereka seperti apa.”


“Tidak ada. Hanya satu permintaan terakhirku. Masukkan aku ke dalam tim inti atau kau yang akan melihat sendiri nasib perempuan yang ingin kau lindungi. Kau pilih yang mana?”


Aku mengusap kepalaku keras, aku tidak bisa mengorbankan tim. Namun aku juga terlalu takut dengan apa yang akan menimpa Ririn.


Aku berdecak keras dan menatapnya tajam, “Terserah kau saja. Aku tidak akan membiarkan kerja keras tim sia-sia.”


Raka kemudian menganggukkan kepalanya, “Baiklah. Kau tunggu saja apa yang akan menimpa gadismu itu.”


Setelah mengucapkan itu Raka lantas berjalan keluar sekret.

__ADS_1


Hah, apakah keputusanku ini benar? Tiba-tiba saja aku merasa sangat khawatir.


To be continued..


__ADS_2