GARIS

GARIS
11 - Ririn


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


Aku berjalan lemah melewati gerbang sekolah sambil menghela napas keras.


Tadi pagi ketika sedang sarapan, terdengar suara ketukan di pintu rumah.


Mama membuka pintu dan tersenyum melihat sosok yang berdiri di depan pintu tersebut.


“Eh Bima. Ayo masuk. Kamu udah sarapan?”


“Bima udah sarapan tante. Bima cuma mau jemput Ririn.”


Aku yang mendengar namaku dipanggil melongokkan kepalaku ke arah pintu rumah.


Mama kemudian menoleh kebelakang, “Rin, ada Bima ini. Mau jemput kamu. Kamu udah siap sarapan kan? Cepat pakai sepatu. Nanti Bima kelamaan menunggu. Ayo masuk dulu Bima.”


Aku mengernyitkan keningku bingung sambil memakai sepatu.


“Ma, pa, Ririn berangkat ya.” Pamitku.


Aku langsung berjalan ke arah mobil Bima.


“Kamu ngapain jemput aku?” Tanyaku ketika sudah duduk di sebelah Bima.


“Aku menjemput pacarku. Apa salahnya?” Ucap Bima santai.


Aku mendengus mendengar jawabannya.


“Kalau seperti ini yang ada aku makin dicecar sama fans-fansmu, Bim.”


“Tidak akan, justru karena itulah aku menjemputmu. Biar mereka yakin kamu pacarku dan tidak macam-macam denganmu.”


Aku tidak membalas lagi ucapan Bima. Kalau dibahas pun, Bima selalu punya sejuta jawaban untuk pertanyaanku.


Tiba-tiba Bima bersuara kembali, “Nanti aku juga bakalan nganterin kamu pulang ya.”


“Engga mau.” Jawabku cepat.


“Kenapa?” Tanyanya heran.


“Pokoknya engga mau. Ayolah Bim. Aku ingin menghabiskan masa SMA dengan biasa-biasa saja. Aku bahkan baru masuk, tapi sudah dikenal banyak orang karena berpacaran denganmu. Ah, maksudnya pura-pura pacaran denganmu.”


“Aku tidak pura-pura pacaran denganmu.”


Aku mengernyitkan dahi, “Tentu saja pura-pura. Kita tidak saling suka satu sama lain.”


“Suka itu belakangan. Kau tidak tau kalau lama-lama dekat akan tumbuh benih-benih?”


Aku tertawa mendengar ucapannya, “Ugh, lebay.”


Tiba-tiba nada suara Bima berubah menjadi serius, “Tapi aku serius, Rin. Emm, kau pasangan takdirku, tentu kedepannya kita akan lebih dari pacaran, menikah, berkeluarga. Karena ada kamu, tentu aku tidak bisa memilih pasangan lain.” Ucapnya sambil menatapku.


Tiba-tiba saja pipiku terasa panas. Aku mengalihkan pandanganku.


Masih terlalu cepat untuk membicarakan hal itu. Kami bahkan masih duduk di bangku sekolah. Masih remaja labil.


“Disini aja, Bim. Dari sini aku akan jalan sampai ke gerbang.” Ucapku terbata-bata.


“Hah? Engga-engga. Aku akan antar sampai ke parkiran.”


Aku menekan perutnya dengan telunjukku, “Berhenti! Disini saja, Bim.”


Namun reaksi Bima sungguh lucu. Dia memiringkan badannya ke kanan.


“Jangan di colek gitu, Rin. Geli. Sudah kamu tinggal duduk saja, kita sudah hampir sampai.”


Mendengar itu aku langsung mendapatkan ide. Aku mengulurkan tanganku ke perutnya dan menggelitiknya.


“Berhenti engga? Kalo engga berhenti aku gelitik terus.” Ucapku sambil tertawa karena melihat tingkahnya.


“Rin, ampun Rin. Jangan dikelitik. Ini kita nabrak orang di depan nanti.”


Namun aku tidak menggubsirnya.


“Oke! Oke! Stop! Aku turunin kamu disini sekarang.”


Aku tersenyum puas mendengarnya. Namun lain halnya dengan Bima, dia malah menatap tajam padaku.

__ADS_1


“Kamu jalan duluan aja.” Ucapku ketika sudah turun dari mobil.


“Engga, kamu saja duluan. Aku ekorin dari belakang.”


Ugh, anak ini, keras kepala sekali. Mana mungkin dia mengekoriku yang jalan kaki menggunakan mobil.


Aku lantas mengulurkan tanganku ke arah perutnya.


Belum sampai tanganku, Bima sudah berteriak histeris, “Oke! Oke, aku jalan duluan. Kamu hati-hati ya.”


Aku tertawa lalu menganggukkan kepala.


Tidak terlalu jauh untuk berjalan kesekolah dari titik Bima menurunkanku.


“Eh itu, katanya itu pacar si Bima.”


“Masa sih? Bukannya Bima tidak suka didekati.”


“Wah, dia harus hati-hati dengan Fany.”


Kepalaku serasa mau pecah mendengar bisikan dari beberapa orang yang berpapasan denganku.


Saat di tengah lapangan jalanku di tahan oleh Fany dan ke-4 temannya, Sisil, Rani, Manda, dan Seli.


Ugh, padahal tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di depan kelasku.


“Kau pacar Bima?” Tanya Fany tajam kepadaku.


“I-iya kak.” Jawabku gugup.


Dia kemudian melihatku dari atas ke bawah, “Bima tidak akan berpacaran denganmu. Kau bukan levelnya.”


Aku tidak menjawab, hanya bisa terdiam.


Saat itu aku telah menjadi tontonan siswa yang sudah datang ke sekolah.


“Bima milikku. Jangan seenaknya kau rebut dia dariku.” Ucap Fany dengan suara tajam.


Aku ingin sekali cepat-cepat masuk ke kelas. Rasanya malu sekali menjadi tontonan banyak orang seperti ini.


“Iya kak. Saya permisi dulu ya kak. Saya mau ke kelas.” Ucapku cepat.


Namun ketika sudah melewati Fany, rambutku malah dijambak dengan kasar.


“Kau tidak tau namanya sopan santun? Kakak seniormu sedang berbicara, tapi kau malah melengos saja?”


Tiba-tiba lantai dua terdengar teriakan, “Fany! Lepaskan tanganmu!”


Aku menganggkat kepalaku, ternyata Bima sedang berdiri di balkon kelasnya.


“Apa yang akan kau lakukan jika tidak kulepaskan?” Ucap Fany menantang.


Bima kemudian berlari, hendak ke arah tangga. Namun baru beberapa langkah, larinya terhenti.


Fany sudah melepaskan tangganya dari rambutku.


Kemudian Fany mendongakkan kepalanya dan menatap Bima, “Hari ini sampai disini saja. Jaga pacarmu baik-baik. Kau tentu tidak ingin kejadian seperti dulu terulang.”


Setelah mengatakan itu, Fany dan teman-temannya berjalan menjauhiku.


Aku kemudian berlari ke arah kelasku.


Bahkan belum bel sekolah, tapi sudah ada saja masalah yang menghampiriku.


***


*+***628556787xxxx**


Kamu engga kenapa-kenapa?


Ririn


Ini siapa?


*+**628556787xxxx


Bima.*


Aku melempar hpku ke atas meja. Bel sudah berbunyi dari tadi, tanda jam istirahat. Namun aku terlalu takut untuk ke kantin, mengingat kejadian tadi pagi.


“Kenapa Rin?” Tanya Alin bingung melihat tingkahku.


Meta kemudian mengambil hpku dan membaca pesan yang masih terpampang di layar hpku.


“Kalian pacaran tapi tidak tau nomor telepon satu sama lain?” Tanya Meta heran.


Aku menghembuskan napas pelan, “Ceritanya panjang.”

__ADS_1


Aku kemudian mengambil hpku lagi. Ternyata Bima mengirimiku pesan lagi.


+628556787xxxx


Rin? Kamu gapapa?


Ririn


Gapapa.


Aku kemudian men-save nomor Bima dan meletakkannya lagi ke atas meja.


“Kalian beneran engga ke kantin? Aku engga apa-apa di kelas sendirian.” Ucapku pada Meta dan Alin.


“Engga ah. Melihat kejadian tadi pagi kami malah takut meninggalkanmu.” Ucap Meta.


Aku mengambil kembali hpku yang bergetar.


Bima


Engga ke kantin?


Ririn


Engga. Takut jumpa Fany. Omong-omong, dapet nomorku dari mana?


Bima


Dari Rio. Rio dapet dari Meta. Kamu mau aku anterin jajan ke kelas?


Aku menganggkat pandanganku dari hp. Aku menatap bergantian Meta dan Alin. Kasihan sekali mereka tidak makan hanya karna ingin menemaniku.


Ririn


Mau. Meta dan Alin menemaniku di kelas. Mereka tidak ada makan dari tadi.


Bima


Kamu mau apa?


Ririn


Apa saja yang penting makanan.


Aku lalu meletakkan hpku di saku rok sekolah.


“Kalian engga lapar?” Tanyaku pada Meta dan Alin.


“Sebenarnya sih laper Rin. Tapi jam pulang sekolah aja nanti aku makan.” Ucap Alin.


Meta yang disebelahnya hanya mengangguk mengiyakan.


“Tahan ya. Bima katanya mau bawa makanan ke sini.” Ucapku.


Tiba-tiba saja Alin dan Meta tersenyum menggoda kepadaku.


“Eseh. Mas pacar mau bawain makanan untuk Ririn ya.” Ucap Meta sambil mencolek lenganku.


“Duh, iri banget. Kepingin punya pacar juga deh.” Sambung Alin.


Aku hanya mengibaskan tangan mereka yang sibuk mencolekku.


“Apaan sih. Stop! Meta! Alin!” Ucapku setengah berteriak.


“Uwaaa, kamu malu ya, Rin?” Ucap Meta.


“Engga!”


“Tapi muka kamu merah.”


“Ya karena kamu gangguin terus. Aku engga malu.” Ucapku meyakinkan.


“Yasudah, tuh lihat kak Bima udah dateng.” Ucap Alin. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke pintu kelas.


Tiba-tiba saja Meta berteriak, “Kak Bima. Ririn malu-malu tuh.”


Aku menatap tajam pada Meta.


“Malu kenapa?” Ucap Bima ketika sudah duduk di sebelahku.


“Karena senang pacaran sama kakak mungkin.” Ucap Meta asal.


Aku langsung melotot kepadanya, “META!!!”


Bima hanya tertawa mendengar itu, lalu mengusap kepalaku lembut.


Astaga, laki-laki ini. Apa dia tidak tau kalau sikapnya itu bisa buat wanita berdebar.

__ADS_1


__ADS_2