GARIS

GARIS
Mamak dan sang monster


__ADS_3

"Ia telah pergi. sayang kau bisa keluar..."


"Terima kasih mamak..."


Jika mamak sudah berkata seperti itu, maka monster mengerikan di depan pintu telah hilang, dan aku bisa keluar dari tempat persembunyian ini. Saat tak ada lagi monster di pintu, aku bisa melihat tv seperti biasa, memakan kue-kue di dalam lemari pendingin, meminum susu di rak, dan berlarian di setiap ubin rumah yang sepi akan suara.


"Adelle... kamu harus mandi sayang, badan mu itu sudah sangat kotor."


"Baik mamak."


Semua perintah mamak adalah mutlak, tak dapat di gangu gugat oleh siapapun. Namun, aku sadar jika semua perintah dari mamak adalah untuk kebaikan ku sendiri, seperti saat ini, mamak menyuruhku untuk mandi, karena kalau tidak, aku bisa lekap-lekap dan juga bau. Atau seperti saat menyuruh untuk makan, karena kalau tidak aku bisa mati kelaparan. Dan saat ia menyuruhku bersembunyi kala ada monster di pintu depan rumah, karena kalau tidak... Monster itu akan membawaku pergi dari sisi mamak.


Aku tidak mau di bawa pergi dari mamak...


Tidak mau...


Kala akan bobok, mamak selalu menceritakan belang papa. walau papa telah pergi ke neraka, namun penderitaan bekas ia bernafaspun masih tetap terasa sampai saat ini. Gelas bekas papa minum selalu beracun, jangan sampai ada orang yang memakainya karena akan sangat berbahaya. Air bekas mandi papa sangat merusak, para tumbuhan atau hewan yang bersentuhan akan cacat seketika. Suara papa sangat bising, sampai seonggok batu terbelak kala teriak. Hanya saja, semua belang papa tak dapat di bandingkan dengan sang monster. semuanya sangat mengerikan, tak ada yang baik dari sang monster, suara, nafas, keringat, rambut, kuku, langkah kaki, bahkan tatapan sang monster dapat membekukan mamak. Pokonya ia sangat mengerikan, mahluk dari perhujudan kata "terkutuk".


****


Tok! Tok! Tok!


Pintu depan di ketuk beberapa kali. Aku tahu betul siapa yang sedang mengetuk pintu depan rumah, dan mamak juga tahu siapa yang mengetuk pintu depan rumah, ini sudah menjadi kebiasaan, terus terulang-ulang setiap saat.


"Sayang, tolong kamu bersembunyi dulu..."


"Baik mamak."


Monster mengerikan sedang menunggu di depan pintu, mencoba memisahkan ku dengan mamak. Saat sedang bersembunyi di antara arang bekas pembakaran kayu jati, mamak yang sangat pemberani bicara pada sang monster, Membahayakan nyawanya untuk anak seperti diriku.

__ADS_1


"Kakak! Kakak! Tolong biarkan aku merawat adelle!! Ini adalah wasiat dari almarhum papa adelle!! Tolong jangan buat keponakan ku itu terus menderita dalam kebodohan mu!!" teriak sang monster dari balik pintu. Suaranya sangatlah bising, sampai-sampai bergaung di penjuru tempat persembunyian.


"Jangan harap kau bisa mengambil adelle dari ku!!! Kau pikir aku akan menyerahkan darah dagingku untuk wasiat dari pria busuk seperti daniel?!! Jangan berharap kau monster!!!"


"Berhenti bersikap seperti orang gila! Pikirkan tentang nasib adelle, dia mesti sekolah, bergaul dengan anak-anak sebayanya, berlajar, dan mendapatkan teman. Janganlah kau renggut kebahagian nya hanya karena kebodohan mu itu!!!"


"Kau pikir aku bodoh?!! Selama ini aku terus merawat anakku tanpa kesalahan sedikitpun!! Dan sekarang kau pikir aku bodoh!"


"Kau pikir mengurung seorang anak perempuan di dalam rumah selama 23 tahun adalah tindakan pintar?!! Dia bukanlah tembikar yang bisa berdiam diri pada suatu tempat selama bertahun-tahun!! Dia manusia!! Dia itu hidup!!"


"Pergilah dasar monster...!!!"


Keheningan mengerikan berlangsung begitu lama, membuat tubuhku merinding tanpa sebab, itu artinya sang monster telah pergi dari depan pintu, meninggalkan ku dan mamak berdua dalam rumah. Kala pertarungan bahasa antaran mulut mamak yang indah dan mulut sang monster yang buruk rupa berakhir, mamak selalu merana dalam tangis bisu di pojok rumah, menitihkan air mata tanpa suara sedikitpun.


"Mamak... Berhentilah menangis..."


"Siapa yang menyuruhmu keluar dari sana?!! Cepat kembali ke tempat itu!!!"


"Jangan membatah!!"


PLAK!


Seperti yang pernah ku katakan, perintah mamak mutlak, tak dapat di gangu gugat oleh siapapun, termasuk oleh ku.


***


Tak biasanya, mamak terbobok seperti itu, di dalam kamar mandi pula. melayang tak menyentuh ubin lantai putih, menjulurkan lidahnya seperti meledekku, mata mengarah ke atas seperti ada ratusan burung yang indah di sana. Ia pasti sangat lelah, anggak menjijikan...tapi mamak megiler begitu banyak, itu pasti salah sang monster, karena ia terus mengajak bertarung bahasa mamakku ini, sampai-sampai menghabiskan seluruh tenaga di tubuh tuanya.


Tok! Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Sang monster datang lagi. Aku harus segera bersembunyi di tempat itu, hanya saja... Mamak belum memberikan perintah ku untuk bersembunyi, tanpa perintah dari mamak... aku tak dapat melakukan apapun, bahkan bersembunyi.


****


Tok! Tok! Tok!


Dua hari, mamak tak kunjung bangun. Apa ia sangat lelah? Atau malas bertarung bahasa dengan sang monster? Hanya saja mamak... Aku ingin makan, aku ingin mandi, aku ingin bersembunyi, aku ingin berlari, aku ingin bobok... Mamak tolong berikan perintah untuk itu semua.


Aku takut...


Jika mamak tak bangun...


Monster di balik pintu akan membawaku pergi...


***


Tok! Tok! Tok! Tok!


Tiga minggu, mamak tak mau bangun, Dan aku juga tak dapat bangun seperti dulu.


Air....makanan...kasur...tv...lari...


Mamak, ku mohon dengan sangat, berikanlah anakmu ini perintah untuk hidup, karena aku tak tahan lagi terus berdiam diri seperti ini...


Mamak...


Sebenarnya...


Siapa sang moster itu...?

__ADS_1


Di balik pintu...?


Atau kau mamak....?


__ADS_2