
Note:
Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.
Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.
Semoga yang baca engga pada bingung ya.
Happy reading🌸
***
Bima
Rin, lagi apa?
Ririn
Lagi baca novel. Kenapa?
Bima
Hari ini ada pergi?
Ririn
Engga ada, dirumah aja.
Bima
Pergi nonton mau?
Sekalian temenin beli kado buat mama.
Aku engga ngerti kalo urusan beli kado
Gimana?
Mau yaa?
Ririn
Jam berapa?
Bima
Ini aku mandi, mungkin sekitaran jam 2 aku gerak kerumah.
Ririn
Oke. Aku siap-siap kalo gitu.
Bima
Oke
Yes!
Aku langsung melempar hpku sembarangan, kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.
Setelah kupikir-pikir. Aku tidak pernah benar-benar menunjukkan kalau aku suka dengan Ririn.
Setelah ada Dimas, aku kemudian menyadari kalau dia adalah sainganku.
Dimas menyukai Ririn. Aku tau itu. Naluri sesama laki-laki.
Ririn juga masih sering berdebar ketika bertemu Dimas. Aku harus membuat Ririn menyukaiku. Bagaimanapun caranya.
Aku kemudian menuruni tangga dan mengambil kunci mobil di atas meja dekat tv.
“Mau kemana Bim?” Tanya mama padaku.
Aku menjawab sambil nyengir, “Ngedate ma.”
“Loh, tapi kamu bilang kamu ketemu sama pasangan kamu itu? Kamu jangan jahat loh. Kasian kalo dia sakit-sakit karena kamu bandel.”
Aku tertawa mendengar celotehan mama.
“Bima engga bandel kok ma. Malah ini mau jalan sama Ririn.” Ucapku.
“Wih, jalan bareng CALON ISTRI?” Ucap Denis dari arah dapur.
Denis abangku. Beda 4 tahun dariku. Denis berkuliah di luar pulau. Sehingga jarang sekali dia ada dirumah. Paling hanya ketika libur kampus, seperti saat ini.
“Calon istri apaan. Masih SMA juga.” Ucapku kebingungan.
__ADS_1
Calon istri? Ah, tidak-tidak. Masih kecil. Gaboleh ngebet banget.
“Ya kan nanti dia juga bakalan jadi calon. Kan katanya memang sudah takdirnya.”
Aku mengibaskan tangaku, “Apaan sih bang. Masih kecil juga. Udah urus aja pacarmu. Jangan urusin aku.”
Denis kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tv, duduk di sebelah mama.
“Nah itu dia, kamu enak Bim. Gaperlu nyari-nyari udah ada takdirnya, ceilah. Aku ini gimana? Perempuan aja gaada yang mau deket”
Aku dan mama tertawa.
“Ya makanya, muka itu jangan jutek banget. Perempuan juga takut mau deketin kamu bang.” Ucap mama.
Aku menyambung, “Harusnya abang yang deketin dong. Masa perempuannya yang ngedekatin.”
Denis menatap malas padaku, “Halah. Sudahlah. Pergi saja kamu. Sana, hushhush.” Ucapnya sambil mengusirku.
Aku tertawa lalu pamit kepada mama lantas berjalan ke arah mobilku.
***
“Pake seatbeltnya ya.” Ucapku kepada Ririn yang sudah duduk disampingku.
“Sudah, ini mau kemana?” Tanyanya.
“Ke Res Plaza aja kali ya? Disana semuanya ada.”
Ririn kemudian mengangguk.
Aku kemudian mengemudikan mobilku di tengah jalanan kota.
“Kamu udah makan?” Tanyaku membuka pembicaraan.
“Sarapan tadi. Makan siang belum.” Jawabnya.
“Kalau gitu, begitu sampai kita makan dulu ya. Baru nyari hadiah mama, terus nonton.”
“Emang mau nonton apa?”
“Nanti liat aja film yang enak yang mana. Kamu suka film apa? Romance? Komedi?” Tanyaku.
Aku mencoba lebih mengenal Ririn sedikit demi sedikit.
Dia suka menyelipkan rambutnya di belakang telinganya. Dia lebih suka makanan yang sudah dingin, ketimbang yang masih panas.
Ketika kutanya, katanya biar tidak capek meniup makanannya. Ketika tersenyum ada lesung pipi yang muncul. Manis sekali.
Namun itu belum cukup. Aku masih ingin lebih dan lebih mengenalnya.
“Em, horor. Aku suka film horor Bim. Walaupun takut. Tapi ada sensasinya.” Ucapnya.
“Oke, nanti kalau ada film horor, kita nonton itu.” Ucapku.
Ririn menganggukkan kepalanya, “Emang kamu engga takut? Kamu keliatannya badannya saja yang besar. Sepertinya bakalan teriak kalau nonton film hantu.”
“Enak aja. Aku ini jagoan Rin. Kalo film hantu gitu mah aku engga takut.” Ucapku sambil tertawa.
Ririn hanya tertawa mendengar ucapanku.
“Cita-cita kamu apa Rin?” Tanyaku penasaran.
“Cita-cita? Em.. Apa ya?”
Dia diam sejenak karena pertanyaanku.
“Aku ingin menjadi arsitek.” Jawabnya mantap.
“Arsitek? Aku baru tau kalau kau ingin jadi arsitek.”
Dia tertawa, “Kenapa? Karena aku tidak cukup pintar untuk jadi arsitek?”
Aku mengibaskan tangan, “Bukan begitu. Tidak ada tanda-tanda kau ingin jadi arsitek.”
“Hanya cita-cita. Mungkin setahun atau dia tahun lagi cita-citaku bisa berubah. Kalau kamu? Cita-citamu apa, Bim?”
“Aku? Dokter.” Ucapku sambil tersenyum.
Ririn menganggukkan kepalanya, “Dengan nilai-nilaimu kurasa kau bisa dan pantas jadi dokter Bim. Mudah-mudahan saja cita-citamu terwujud.” Ucapnya tersenyum.
Aku mengelus kepalanya. Lalu tanganku kembali ke setir.
Haruskah kulakukan sekarang? Haruskan kucoba? Aku ingin menggenggam tangannya.
Tangan kiriku kemudian perlahan menggenggam tangannya.
__ADS_1
Ririn menatapku heran. Aku hanya balas tersenyum padanya.
“Kenapa? Kepalamu sakit? Aku tidak ada memikirkan siapa-siapa kok.”
Astaga gadis ini.
“Tidak ada. Aku hanya ingin menggenggam tangannu.”
Kulihat wajahnya tiba-tiba bersemu merah.
Ah sepertinya bukan hanya aku saja yang merasakan debaran menyenangkan seperti ini.
***
“Bagusan yang warna hitam atau yang warna biru, Rin?” Tanyaku pada Ririn sambil mengangkat dua tas di tangan kanan dan tangan kiriku.
Dia kemudian menunjuk tas di tangan kananku, “Sepertinya lebih bagus yang hitam. Hitam warna netral menurutku. Masuk ke warna apa saja.”
Aku lantas menganggukkan kepala dan membawa tas tersebut ke kasir.
Kami berdua kemudian keluar dari toko tersebut.
“Udah makan. Udah beli hadiah. Ayo kita nonton film.” Ucapku padanya.
Ririn kemudian menarik lengan bajuku, “Bim, toilet bentar ya.”
Aku menganggukkan kepalaku.
Aku berdiri di dekat toilet wanita sambil mengedarkan pandanganku.
Sesekali aku melihat lantai paling bawah, sedang ada diskon di lantai paling bawah, sehingga ramai sekali.
Saat itulah mataku melihat seseorang yang tidak asing bagiku.
Nadin? Batinku.
Tiba-tiba saja ada debaran yang sangat kencang di dadaku.
Gadis itu, setahun yang lalu aku melihatnya. Namun tidak ada yang berubah dari wajahnya.
Hanya rambutnya yang dulu sepundak, sekarang sudah memanjang. Mataku terus mengikuti gerakannya.
Gadis itu, ketika dia meninggalkanku aku berdoa berkali-kali agar dapat bertemu dengannya. Namun kenapa ketika aku dengan Ririn, aku malah berjumpa dengannya lagi.
Kenapa harus sekarang? Kenapa tidak dulu-dulu ketika aku sangat merindukannya.
Nadin masih belum menyadariku. Dia masih berjalan sambil sambil sesekali tertawa kepada seseorang di sampingnya.
Laki-laki itu adalah Raka.
Ketika dia mengalihkan pandangan dari Raka, saat itulah matanya menatapku.
Dia menatapku terkejut. Namun bukannya berbalik arah, dia malah berjalan ke arahaku berdiri.
“Hai Bim. Apa kabar?” Ucapnya ketika sudah berdiri di depanku.
Aku masih terlalu terkejut dengan situasi ini. Namun Nadin hanya tersenyum.
Tiba-tiba saja Nadin memelukku, “Aku sangat ingin berjumpa kamu Bim. Akhirnya sekarang aku bisa berdiri lagi di depan kamu.”
Aku menatap Raka heran. Dia hanya membuang mukanya.
Aku langsung tersadar ketika tina-tiba mendengar suara Ririn, “Bima? Dia siapa?” Tanya Ririn bingung.
Aku langsung melepaskan pelukan Nadin dan menatap Ririn terkejut.
Aku langsung berjalan ke arah Ririn, “Bukan siapa-siapa. Ayo kita pergi.”
Aku menarik tangan Ririn dan berjalan meninggalkan Nadin dan Raka.
Ririn tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, membuatku ikut menghentikan langkahku.
“Aku mau pulang saja.” Ucapnya.
“Engga jadi nonton?” Tanyaku.
“Engga, kepalaku pusing sekali. Dadaku juga sakit.” Ucapnya sambil memegang kepalanya.
Ah iya. Aku lupa. Tentu Ririn akan merasakan hal ini ketika aku teralihkan oleh perempuan lain.
Aku harus melawannya, Nadin hanya masa lalu. Aku tidak boleh menyakiti Ririn.
Aku kemudian mengangguk, “Baiklah kita pulang sekarang.”
To be continued..
__ADS_1