
“Aku tidak mau tau. Pokoknya kau harus cuti dihari pernikahanku. Kau harus datang. Titik. Tidak ada bantahan.”
Aku menghela napas keras mendengar suara Meta diseberang telepon.
Sudah dari beberapa bulan yang lalu, Meta mewanti-wantiku untuk datang ke acara pernikahannya minggu depan.
Namun aku seperti belum terlalu siap. Entah belum siap atau aku hanya lari dari masa laluku.
“Baiklah, aku akan datang.” Ucapku pada Meta.
Aku mematikan sambungan telepon dengan meta. Aku menghela napas sambil menatap kosong ponselku.
Setelah pindah dari SMA Pelita, aku memutuskan untuk tidak penasaran atau tidak ingin mencari tau tentang Bima.
Bahkan aku juga menghindari Meta dan Alin.
Namun setelah lulus SMA, secara tidak sengaja aku berjumpa dengan Dimas. Aku mengatakan pada Dimas untuk merahasiakan keberadaanku dari Meta dan Alin.
Dimas menyanggupinya.
Setelah lulus SMA aku memutuskan untuk mengambil sekolah pramugari. Entah angin apa yang membuatku memutuskan untuk menjadi pramugari.
Aku berjumpa dengan Meta beberapa tahun yang lalu, disalah satu penerbangan dimana aku menjadi salah satu pramugarinya.
Kalian tau sendiri mulut Meta, Meta langsung heboh mengabari Alin.
Aku sadar, Meta dan Alin adalah sahabat terbaikku di SMA, walaupun tidak terlalu lama kami satu sekolah, kami tetaplah sahabat.
Setiap perjumpaan tidak sengaja dengan Dimas, Meta, dan Alin, satu hal yang selalu ketekankan pada mereka.
Aku tidak mau mendengar hal tentang Bima, apapun itu.
Tidak kusangka sudah hampir 10 tahun aku belum juga move on dari Bima.
Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa diperutku.
Apa ini? Apa maagku kambuh? Batinku.
Aku lantas mengambil telepon dan mencari satu nama dikontak ponselku.
“Halo, Dimas. Kamu dimana?” tanyaku pada Dimas.
“Aku masih di kantor. Kenapa, Rin?” tanya Dimas diseberang telepon.
“Maagku kambuh lagi sepertinya, mobilku sedang di bengkel. Kukira kau sudah kembali ke apartemen. Yasudah, aku naik taxi aja.” Ucapku pada Dimas.
Aku dan Dimas memang berada di satu gedung apartemen, hanya berbeda beberapa lantai.
“Rini sedang diluar kota pula. Kalau ada dia aku bisa meminta tolong padanya.” Ucap Dimas.
Jangan terlalu berharap ada romansa diantara aku dan Dimas. Kami murni hanya berteman sekarang.
Bahkan Dimas sudah memiliki wanita pilihannya sendiri, namanya Rini, teman SMA ku setelah pindah dari SMA Pelita.
“Kalau ada Rini, tentu saja aku akan menelponnya duluan.”
Dimas tertawa mendengar ucapanku, “Benar juga. Kau naik taxi saja. Nanti pulangnya aku akan menjemputmu.”
“Oke, makasih, Dim. Tidak salah aku mengenalkanmu pada temanku. Kau memang paling the best.”
Aku kemudian mematikan sambungan teleponku dan mengambil jaket di salah satu gantungan di dinding.
Aku kemudian turun ke lantai paling bawah dan memanggil taxi untuk kerumah sakit.
Namun ketika baru saja menginjakkan kaki ke dalam rumah sakit, sakit di perutku seperti tidak tertahankan lagi.
Namun aku tetap mencoba melangkahkan kakiku. Tapi sepertinya tubuhku mencapai limitnya.
Aku merasa pandanganku kabur dan seketika pandanganku gelap.
__ADS_1
***
Aku membuka mata perlahan, aku menoleh ke penjuru ruangan, ini bukan kamarku.
Aku mencoba duduk, mataku kemudian menangkap infus yang berada di tangan kananku.
Aku langsung menyadari situasi tersebut, sepertinya aku pingsan tadi.
Sayup-sayup aku mendengar suara Dimas dari luar kamar.
Sepertinya sedang menelpon Rini. Batinku.
Aku langsung membuka pintu kamar dan seketika darahku mendesir kencang.
Tentu saja, seberapa keras pun aku menghindar, saat-saat seperti ini tentu akan datang.
Saat dimana aku bertemu dengan Bima.
Bima berdiri mematung di depanku. Aku dapat merasakan keterkejutan Bima.
Aku menatap Bima dengan tatapan sedih, Bima sudah sangat dewasa, dan sudah menggapai impian yang diinginkannya.
Namun aku mati kutu, saat Bima akan berjalan mendekat, aku malah memanggil Dimas.
Dimas sepertinya mengetahui apa yang ada di dalam pikiranku.
Ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamar inap dan menutup pintu kamar tersebut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Dimas padaku.
Aku masih berdiri sambil memegang dadaku yang berdebar sangat kencang, tanpa kusadari air mataku jatuh.
Ya, aku bahkan belum bisa melupakan Bima sedikitpun. Ketika aku dihadapkan pada Bima seperti tadi, tembok yang sudah kubangun selama bertahun-tahun runtuh tak bersisa.
Dimas menghela napas dan menepuk pundakku, “Menangislah sepuasnya, Rin. Akhirnya setelah sekian lama, tameng palsu yang kamu buat runtuh.”
Tidak kusangka, pertemuan sesaatku dengan Bima ketika masih SMA akan membuatku sehancur ini.
Hubungan yang banyak orang katakan masih cinta monyet, namun aku sudah menganggap Bima terlalu lebih.
Aku terlalu mencintai Bima. Aku merindukannya.
***
Aku menatap Dimas yang sedang menelpon seseorang. Dimas sedang berada di apartemenku.
Rencananya, aku dan Dimas akan menjemput Rini untuk menghadiri akad nikah Meta dan Rio.
Namun, tiba-tiba saja, Dimas bilang Rini sepertinya tidak bisa ikut dengan kami.
Tidak lama kemudian, Dimas menutup teleponnya dan berjalan menghampiriku.
“Dim, gimana? Rini dimana?” tanyaku pada Dimas.
“Rini katanya bakalan telat, Rin. Katanya engga perlu jemput dia. Dia bakalan nyusul nanti.” Ucap Dimas.
Aku menganggukkan kepala, “Yasudah, kita gerak sekarang yuk. Nanti kita malah engga sempat melihat akad nikah Meta dan Rio.”
Dimas menganggukkan kepala. Kamu berdua kemudian berjalan ke arah parkiran apartemen dan menaiki mobil Dimas.
Dimas kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
Namun sepertinya kami berdua tidak beruntung. Akad nikah Meta dan Rio baru saja selesai.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Saat itulah mataku melihat keberadaan Alin.
Aku langsung berjalan menghampirinya.
“Yah, akadnya sudah selesai?” Ucapku sambil menghampiri Alin dan Bagas.
__ADS_1
Namun aku terkejut melihat laki-laki yang duduk di sebelah Alin.
Bima? Batinku.
Aku merutuki nasibku, Dimas tadi sedang menganggkat telepon, sehingga aku masuk ke dalam gedung duluan.
Aku menimbang dalam hati, haruskan aku duduk di samping Bima? Namun itu tidak akan baik untuk kesehatan jantungku.
Apa aku harus duduk satu kursi darinya? Namun itu tentu tidak akan sopan.
Saat itulah penyelamatku datang. Dimas berjalan dari arah belakangku dan duduk di samping Bima.
Aku menghela napas lega. Aku bisa sedikit menghindari Bima.
Sama halnya seperti acara pernikahan lainnya.
Setelah akad, ada resepsi pernikahan. Tamu undangan lambat laun memenuhi aula.
Aku bangkit dari dudukku.
“Mau kemana, Rin?” tanya Dimas.
“Ke toilet bentar.” Ucapku.
Dimas hanya menganggukkan kepala, mataku mencuri pandang kepada Bima.
Laki-laki tersebut menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
Aku berjalan ke arah toilet dan menatap diriku di cermin.
Bodoh sekali kamu, Rin. Sudah setua ini, tapi kamu belum juga bisa move one dari Bima. Batinku.
Aku menghabiskan beberapa waktu di dalam toilet. Aku masih belum siap untuk berjumpa dengan Bima lagi.
Namun ketika aku keluar dari toilet, aku malah berjumpa dengan orang yang ingin kuhindari.
Aku menahan debaran didadaku sekuat tenaga, saat itulah aku memutuskan untuk berjalan dan meninggalkan Bima.
Tiba-tiba saja, salah satu tangaku digenggam oleh Bima.
“Ah, maafkan aku.” Ucapnya sambil melepas genggaman di tanganku.
“Apa kegiatanmu sekarang Rin?” tanya Bima.
“Aku bekerja di salah satu maskapai penerbangan, kak. Aku pramugari.” Ucapku menjawab pertanyaan Bima.
Setelah itu, aku bahkan tidak terlalu fokus dengan apa yang kuucapkan, atau apa yang kudengar.
Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara anak perempuan, “Papaa!”
Aku menoleh ke arah suara tersebut.
Aku langsung tersentak ketika melihat anak kecil tersebut memeluk Bima.
Aku merasa bodoh dengan perasaanku sendiri.
Tentu saja Bima sudah menikah dengan Nadin, wanita yang di gariskan untuk Bima.
Aku merasa sangat bodoh. Aku masih mencintai laki-laki yang sudah menjadi suami orang.
Lihatlah gadis kecil yang sedang tersenyum padaku saat ini. Gadis ini sangat mirip Nadin.
Seketika hatiku remuk.
Aku langsung berjalan meninggalkan Bima dan gadis kecil tersebut. Aku bahkan tidak menghiraukan pertanyaan gadis kecil tadi.
Aku hanya merasa sangat hancur.
To be continued...
__ADS_1