GARIS

GARIS
Wanita cantik di halte


__ADS_3

jika kalian bertanya "apa yang sedang ku lihat selama itu?", maka akan lantang ku jawab "seorang wanita cantik di halte yang mungkin menjadi istriku di masa depan!".


Lihatlah. wanita itu, memakai mantel kuning cerah, selalu membawa payung kuning, dengan tatapan sedih pada langit biru. ia tak pernah beranjak selangkah-pun dari tempat-nya saat ini, di antara debu kotor, asap, orang-orang asing yang menunggu bus berhenti. selalu saja di sana, di halte bus yang bobrok itu, berdiri bedegap nan cegak memegang payung kuning yang terbuka, membuat susana tak lagi menjijikan.


beberapa hari yang lalu, aku sepat melihat-nya selama 48 jam nonstop, dan tak ada rasa bosan kala itu, setiap senyuman, setiap kedipan, setiap nafas yang menghembus dari mulut indah-nya... terasa begitu menyenangkan. walaupun kala pulang ke rumah aku terkena beberapa penyakit, serta tak bisa melihat lagi wanita di halte untuk waktu lama, tetapi tak ada rasa kapok untuk melihatnya lagi.


hari ini wanita di halte hilang, entah kemana ia pergi dengan seluruh kecantikan menawan itu. agak kecewa akan kenyataan ini, tapi ia juga manusia yang harus beraktivitas seperti biasa, wajar jikalau pulang ke rumah atau semacam-nya.


****


sudah 5 hari semenjak aku melihat wanita cantik di halte, ada apa ini? kenapa ia tak kunjung kembali ke tempat semula? apa sesuatu yang buruk menimpa-nya? ....semoga ia tak apa-apa, sehat serta bahagia. walau mata ini tak lagi bisa memandang begitu lama, namun aku akan tetap senang jikalau tahu ia sehat-sehat saja.

__ADS_1


****


lama sekali tak datang berkunjung ke halte seperti biasa, tak dapat ku hitung berapa detik terlewat tanpa kehadiran indah-nya. tangan ini tak bisa berhenti bergoyang, meminta setuhan terhadap wanita cantik di halte (yang sekarang tlah hilang). bibir ini tak lagi ingin berbicara, selain pada wanita cantik di halte (yang sekarang tlah hilang). kedua mata ini tak mau berkedip, selelum melihat wanita cantik di halte (yang sekarang tlah hilang). itulah masalah-nya ...ia tlah hilang dari sana... namun, aku terlalu pencundang untuk mencari keberadaan sang wanita cantik.


beberapa hari lalu, seorang pria tua membawa wanita cantik di halte, hanya saja dalam bentuk kertas. ia menempelkan kertas-kertas indah muarahan di seluruh sudut halte tepat dulu ia berdiri. walau kecantikan itu telah kembali, aku tak bahagia dengan keadaan seperti ini, mesti-nya ia kembali seperti semula, berdiri di sana, memakai mantel kuning, memegang payung kuning terbuka seraya menatap sedih pada langit. bukan malah berada dalam kertas murahan yang menjijikan, senyuman dalam sana, kencantikan yang terlukis dalam sana... mesti-nya bisa ku lihat secara langsung dan nyata di halte itu!! aku tak menerima, sama sekali tak menerima-nya... jikalau ia pergi ke suatu tempat, itu wajar. namun, jika seseorang mengambil kecantikan wanita di halte, maka tak akan ada ampun, sunguh tak akan ada ampun!!


****


akhirnya ia kembali, saat ambisi mulai sirnah, aku menemukan kembali. walupun tak mudah untuk membuat wanita secantik dia berdiri di halte, entah kenapa aku bisa membuat-nya kembali ke halte seperti biasa. sedikit memaksa dari sanah ke sini, tapi ambisi tetaplah ambisi, yang harus di penuhi tanpa terkecuali.


*****

__ADS_1


tiga hari kemudian. ada yang aneh dengan wanita cantik di halte, ia tak lagi bisa di sebut cantik, ia bukan lagi wanita cantik di halte, sekarang ia hanyalah wanita di halte--tidak, wanita buruk di halte. kulit biru pucat yang memancarkan aroma tak sedap, ratusan lalat mengitari tubuh yang tak lagi indah, belatung-belatung mendiami setiap senti dari pori-pori kulit-nya. tatapan sedih yang merasa iri pada lagit tak lagi ada di halte untuk waktu lama, hanya dua bola mata putih yang menjurus ke dalam, dengan kelopak mata hitam legam tak indah.


kala aku melihat foto wanita di halte pada secarih kertas menjijikan, dengan segala upaya, aku mencari-nya ke penjuru tempat, lalu menemukan keberadaan wanita idman ku di sana... di bawah papan putih dengan tulisan-tulisan tak penting, dalam tanah, di dalam peti yang sangat jelek dan memuakan, aku menemukan-nya. saat itu dia memakai sehelai kain putih halus, kain apa itu? ia tampak tenang, tanpa beban sedikitpun... tak sabar, aku membawa wanita di halte pergi dari tempat sunyi dalam gelap malam. mantel kuning ku pakaikan di tubuh indah-nya, memakasa sebuah payung kuning dalam gengaman tangan lunlai lesu. pertama-pertama ia tak mau berdiri bedegap nan cegak di halte seperti dulu, jadi aku mengikatkan sebuah kawat di tubuh dan sebuah tiang halte, jangan marah padaku, ini untuk kebaikan-nya sendiri, agar ia bisa berdiri bedegap nan cegak seperti dulu.


Mungkin dia marah padaku? karena perlakuan kasar ku? karena ke egoisanku untuk melihatnya berdiri di halte? dan sekarang dia menjadi busuk seperti bangkai menjijikan...


ah! tunggu! sekarang ia tersenyum.


ternyata... ia memang wanita cantik di halte, wanita yang akan menjadi calon istriku di masa depan...


walaupun tubuh-nya menjijikan. akan tetapi senyuman-nya tetaplah indah...

__ADS_1


tak salah aku jatuh cinta pada wanita cantik di halte ini.


__ADS_2