GARIS

GARIS
16 - Bima


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


“Bim, kau kenapa sih?” tanya Bagas padaku.


Aku menolehkan kepala, “Engga kenapa-kenapa? Ada apa memangnya?”


Bagas memegang lututku, “Bisa tidak kau berhenti menggoyangkan kakimu? Aku risih melihatnya?”


“Ah, maaf.”


“Ada apa?” Tanyanya lagi.


Tiba-tiba terdengar suara Rio dari arah depan kelas, “Good morning eveybody! Cepat bener kalian datang hari ini? Masih 10 menit lagi bel.”


Aku dan Bagas tidak menggubsirnya.


Rio mengerutkan keningnya sambil meletakkan tasnya di atas meja, “Ada apa sih? Serius sekali?” tanyanya.


Aku menghela napas, “Kemarin aku ketemu Nadin.”


“Nadin?!” Ucap Rio dan Bagas berbarengan.


Sontak beberapa mata, terutama Dimas, melihat ke arah kami.


Aku menempelkan telunjukku di depan mulutku, “Sst, jangan berisik.”


Rio dan Bagas hanya menganggukkan kepala mereka.


“Jadi, kau ketemu Nadin dimana?” Tanya Rio.


“Di Res Plaza.”


“Bukannya kata Raka, Nadin sedang di luar negeri?” Tanya Bagas menimpali.


Aku menggelengkan kepalaku tidak tahu.


“Lalu? Kenapa kau panik begini pagi-pagi? Karena kau pacaran dengan Ririn?” tanya Rio.


Aku menganggukkan kepala.


“Bukannya kau pura-pura? Kau tinggal putuskan hubungan dengan Ririn.”


Bagas lantas memukul kepala Rio.


“Apasih?!” Ucap Rio marah.


“Kau itu bolot atau apa sih? Jelas-jelas Bima benar-benar suka Ririn.” Ucap Bagas.


“Aku tau itu. Tapi kan ini Nadin. Perempuan yang bikin kau kacau saat dia tiba-tiba saja menghilang.” Ucap Rio.


Aku menghela napasku keras, “Aku bingung sekali. Satu sisi aku sayang dengan Ririn. Namun ketika melihat Nadin, tiba-tiba saja aku sadar, kalau aku belum sepenuhnya lupa dengannya.”


Bagas meneput pundakku, “Kau tidak boleh plin-plan begitu Bim. Saat ini kau sedang bersama Ririn. Maka kau jangan memikirkan perempuan lain. Berhentilah bertingjah seperti lelaki ********.”


Aku menghela napas keras. Benar apa yang dibilang Bagas. Aku tidak boleh menyakiti Ririn.


Terlebih, Ririn adalah pasanganku.


“Yang penting, Ririn dan Nadin belum berjumpa langsung. Kau tenangkan diri dulu, baru kau jelaskan pelan-pelan pada Ririn.”


Aku mengangkat wajahku yang dari tadi tertunduk.


“Nah itu dia, masalah diatas masalah. Aku jumpa Nadin malah disaat aku sedang dengan Ririn.” Ucapku lemas.


Rio dan Bagas hanya menatapku dengan iba.


Apa yang harus kulakukan.


***


Aku menyendokkan nasi goreng ke mulutku sambil sesekali mencuri pandang kepada Ririn.


Sedang jam istirahat sekarang. Aku, Rio, dan Bagas memutuskan untuk makan satu meja dengan Ririn, Alin, dan Meta. Kata Rio sih ini pajak jadian.


“Kalian harus datang ke pertandingan kami minggu depan.” Ucap Bagas membuka pembicaraan.


“Tentu saja kami akan datang. Iya kan, Rin?” ucap Alin pada Ririn.


Ririn mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


“Kalian pergi saja dengan Rio nanti. Rio juga kesana.” Ucap Bagas.


“Tandingnya memangnya dimana?” Tanya Ririn.


“Karena turnamen ini cukup besar, sehingga dilakukan di Stadion Barat.” Jawabku.


“Hah, aku mulai tegang kalau mengingat pertandingan minggu depan.” Ucap Bagas.


“Tegang apanya. Kau kan kayu. Datar.” Celetuk Alin.


Kami tertawa mendengar celetukan Alin.


“Hah, inilah alasannya aku malas mengakui kau adikku. Derajatku langsung turun.” Ucap Bagas.


Alin hanya menangkat bahunya kecil.


Aku dan Rio memang sudah tau kalau Alin adalah adik Bagas. Sepertinya Ririn dan Meta juga sudah tau, melihat begitu santainya Alin mengejek Bagas.


“Hai, boleh gabung.”


Kami berenam langsung menoleh ke arah suara tersebut. Raka dan Dimas berdiri di dekat meja kami, sambil menenteng piring di tangan kanan mereka.


“Ah, tentu saja kak.” Ucap Ririn.


Raka lalu duduk di paling kanan-sebelahku- dan Raka di sebelah Ririn.


“Aku tidak tau kalau kalian dekat.” Ucap Raka.


Aku memutuskan tidak terlalu menghiraukannya.


Saat itulah mataku melihat Fany memasuki kantin.


“Itu Fany, katanya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.”


“Kudengar orang tuanya lebih memilih kerjaan dari pada dia.”


“Bahkan dia mengancam akan bunuh diri, mengerikan sekali.”


Aku mengerutkan keningku mendengar bisik-bisik yang kudengar.


Gosip apa lagi ini? Pikirku.


Fany langsung menendang salah satu bangku kantin, “Apa?! Kalau ngomong itu di depan sini. Jangan bisik bisik. Kau! Sini!” Ucapnya menujuk satu siswa yang membicarakannya tadi.


“Sa-saya kak?” Tanya perempuan itu.


Siswa tersebut langsung berjalan cepat kearah Fany.


Fany lalu meletakkan tangannya di telinga, “Coba, kau bilang lagi. Apa yang kau katakan pada temanmu tadi?”


Siswa tersebut langsung gelagapan, “Eng-engga ada kak. Saya engga ada bilang apa-apa.”


Fany langsung menatapnya tajam, “Katakan sekarang!”


Siswa tersebut menjawab dengan terbata-bata, “S-Saya mendengar ka-kalau kakak ada keinginan untuk bunuh diri.”


“Dari mana kau dengar?”


“Siswa-siswa sudah banyak yang membicarakannya.”


Fany langsung mengalihkan pandangannya, lalu melirik meja kami.


Dia langsung berjalan ke arah meja yang kami duduki.


“Kau pelakunya?” Tanyanya kepada Ririn ketika sudah berdiri di depan meja kami.


Aku mengerutkan kening. Apa maksudnya?


“Bukan kak. Sumpah, saya engga ada bilang apa-apa.” Ucap Ririn yang duduk di depanku.


Tiba-tiba saja Fany mengangkat mangkok yang masih berisi kuah bakso dari meja sebelahku. Dia Kemudian menuangkan isi mangkok tersebut ke atas kepala Ririn.


Aku langsung menangkis tangan Fany.


“Kau apa-apaan sih, Fan?” Tanyaku kesal.


“Dulu Nadin. Sekarang Ririn. Apa tidak ada kesempatan untuk kau suka padaku?” Tanya Fany dengan nada sedih.


“Kalau kau seperti ini bagaimana aku bisa suka denganmu. Kerjamu hanya menindas orang. Kau terlalu berubah Fany.” Ucapku padanya.


Aku lantas mengalihkan pandanganku kepada Ririn, “Kamu tidak apa-apa?” ucapku sambil membersihkan sisa sisa kuah bakso yang ada di kepalanya.


Namun Ririn malah menepis tanganku, lantas bangkit meninggalkan meja.


Alin dan Meta yang melihat itu langsung mengejarnya.


***


Aku mengamati jalanan sambil sesekali melihat Ririn yang duduk di bangku penumpang, di sebelahku.

__ADS_1


Sepanjang jalan tidak ada percakapan di antara kami.


“Rin, kamu marah padaku?” Tanyaku hati-hati mencoba mencairkan suasana.


“Engga.” Jawabnya singkat.


Waduh, susah nih kalau perempuan udah jawab begini.


“Aku minta maaf ya? Kamu jangan diem aja dong. Aku yang salah, harusnya aku menghalangi Fany tadi.”


“Itu bukan salah kamu. Kamu engga perlu minta maaf.” Jawabnya jutek.


“Kalau begitu jangan merengut dong. Maafin aku kalau aku salah.”


“Aku engga kenapa-kenapa. Kalau kamu begitu aku malah bawaannya suntuk!” Jawabnya setengah teriak.


Aku langsung terdiam.


Ririn sepertinya mengetahui keterkejutanku. Dia langsung meminta maaf.


“Ah, maaf. Tidak seharusnya aku membentak kamu.”


“Engga apa-apa.” Jawabku sambil tersenyum meyakinkan.


Hah, seperti ada yang disembunyikan oleh Ririn, tapi aku tidak tau apa itu.


Kalau saja bisa kugunakan kemampuanku.


“Makasih ya.” Ucapnya ketika sudah sampai di depan rumahnya.


Aku mengangguk.


Namun gerakan Ririn terhenti ketika hendak membuka pintu.


“Bim, ada yang mau kubilang.”


Aku mengangguk, “Katakanlah.”


“Aku mau kita putus aja.” Ucap Ririn.


Serasa ada petir yang menyambar. Aku langsung menggenggam tangannya.


“Kenapa? Kenapa harus putus? Engga bisa. Kamu juga tau kalau kita pasangan yang sudah di takdirkan.” Jawabku tidak terima.


Dia mengangguk, “Ya, aku tau. Tapi kalaupun kita sudah di gariskan, mau sejauh apapun pasti kita akan bersama lagi. Untuk sekarang aku belum bisa. Aku capek sama semua ini.”


Kulihat air mata jatuh dari matanya. Melihat itu aku merasa seperti laki-laki paling bejat. Apakah karena aku? Karena aku Ririn menangis dan terluka seperti ini?


Aku mengusap pelan air matanya, namun Ririn malah meringis kesakitan ketika tanganku penyentuh pipinya.


“Kenapa?” Tanyaku heran.


“Gapapa. Sudah, hanya itu yang mau aku sampaikan. Aku harap kamu mau memikirkannya.” Ucapnya mencoba untuk cepat-cepat keluar dari mobil.


Namun Ririn kalah cepat. Aku sudah menarik tangannya.


“Bilang sama aku, pipi kamu kenapa?” Tanyaku tajam.


Dia hanya membuang mukanya.


“Fany? Apa Fany yang melakukannya?”


Ririn menganggukkan kepalanya.


“Kapan?” Tanyaku tidak sabar.


“Tadi pagi.”


Aku menghela napas, “Tapi kamu malah mau kita putus? Siapa yang akan melindungi kamu kalau kejadian seperti ini terulang?”


“Tapi kamulah yang membuat aku mengalami hal ini.” Ucapnya cepat.


Aku terdiam mendengar jawaban Ririn.


Iya, akulah yang membuatnya tersiksa dan harus merasakan semua ini.


Aku tidak bisa putus, tidak bisa. Tidak akan. Aku sayang pada Ririn.


Namun dengan terus menggenggamnya, Ririnlah yang semakin terluka.


Aku harus bisa mengambil keputusan ini.


“Baiklah. Kita putus. Aku tidak akan dekat denganmu lagi. Aku juga akan memperingatkan Fany. Tapi satu yang harus kamu tau, Rin. Rasa suka dan sayangku sama kamu engga akan hilang. Aku akan menunggu kamu sampai kamu siap dan berani kembali untuk memulai hubungan ini lagi.” Ucapku padanya.


Ririn hanya mengangguk sambil mengusap air matanya, lantas keluar dari mobil.


Melihatnya pergi hatiku semakin kosong. Bahkan ini lebih sakit daripada kehilangan Nadin dulu.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2