GARIS

GARIS
21 - Bima


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


Aku memasuki kantin bersama Rio dan Bagas. Saat itulah mataku melihat Meta dan Alin duduk di salah satu bangku kantin.


“Bas, pesenin ya. Aku duduk duluan. Terserah beliin apa, samain aja dengan pesananmu.” Ucapku pada Bagas.


Aku lantas berjalan menghampiri Meta dan Alin.


“Hai Meta, Alin.” Sapaku pada 2 wanita yang duduk di salah satu meja kantin.


Tumben sekali mereka tidak berasama Ririn. Pikirku.


“Kalian berdua saja? Kami bertiga boleh duduk disini?” Tanyaku pada mereka berdua.


Mereka berdua menganggukkan kepala mendengar pertanyaanku barusan.


“Boleh kok kak. Duduk aja.” Ucap Alin padaku.


“Bagaimana ujian kalian? Lancar?” Tanya Bagas pada mereka berdua sambil duduk di sampingku.


“Syukurlah lancar kak.” Jawab Meta.


Aku menyendokkan makanan yang dibawa Bagas sambil menimbang di dalam kepalaku.


Aku penasaran dimana Ririn. Sudah hampir satu bulan aku tidak melihatnya.


Apa dia masih sering duduk di kelas ketika jam istirahat? Namun saat ini sudah tidak ada Fany. Apa yang ditakutkannya?


“Emm, omong-omong, Ririn apa kabar?” Tanyaku sambil meyendokkan makananku.


Aku mencoba terlihat tidak terlalu peduli. Namun sepertinya 4 orang di depanku tau apa yang kulakukan.


“Kabar baik, kak.” Jawab Meta.


“Sudah beberapa minggu ini aku tidak melihat Ririn. Dia dimana?” Tanyaku lagi.


Meta dan Alin saling pandang. Rio dan Bagas yang duduk di sampingku juga sedikit gelisah.


“Sudahlah, Bim. Kau pikirkan saja Nadin.” Ucap Rio sedikit ketus padaku.


Aku menatap Rio heran, “Aku hanya menanyakan kabarnya. Sudah lama aku tidak melihatnya, hanya itu.”


“Ririn.. sudah pindah sekolah kak.” Jawab Alin.


Sontak Meta, Rio, dan Bagas melotot pada Alin.


Aku terkejut mendengarnya, “Pindah sekolah? Kemana?”


“Keluar kota, kebetulan ayah Ririn dimutasi ke daerah lain.”


“Kapan?”


“Kurang lebih 2 minggu yang lalu.”


Aku meletakkan sendokku dan menatapnya kosong.


Aku bahkan tidak sempat berpamitan dengan Ririn. Atau aku tidak sempat meminta maaf padanya.


Aku yang mengatakan akan menunggunya, namun aku jugalah yang meninggalkannya.


Aku langsung mengeluarkan ponselku dan mengetik nama Ririn di kontak.


Namun tiba-tiba saja Bagas merampas ponselku.


“Apaan sih, Bas? Kembalikan.” Ucapku sambil mengulurkan tanganku.


“Untuk apa?” Tanya Bagas.

__ADS_1


“Aku hanya ingin berpamitan padanya.” Ucapku.


“Tidak perlu, Bim.”


Aku sedikit emosi melihat tingkah Bagas, “Apa urusannya denganmu? Terserahku ingin menghubunginya atau tidak.”


Bagas kemudian meletakkan ponselku ke depanku dengan keras, “Oke, terserahmu. Hubungilah Ririn dan buat dia semakin terluka.”


“Apa maksudmu?”


“Kau tidak sadar kau terlalu plin-plan? Sebentar-sebentar kau dengan Nadin, sebentar-sebentar kau dengan Ririn. Kau sebenarnya ingin dengan siapa?” Tanya Bagas emosi.


Aku lants mengambil ponselku dan bangkit dari dudukku. Aku memutuskan meninggalkan mereka berempat dan tidak menggubsir ucapan Bagas.


Aku juga frustasi dengan kondisi ini. Aku sama sekali tidak menginginkan kekuatan ini dan persetan dengan pasangan takdir atau apalah.


***


Bima


Kalian dimana?


Rio


Rumah.


Bima


Ngumpul yuk


Bagas


Ga. Males.


Bima


Kau masih marah denganku Bas?


Rio


Sudahlah kalian. Bahkan dichatpun kalian bertengkar?


Bima


Bagas


Iya.


Bima


Aku kerumah sekarang ya? Nginap.


Rio


Wah, aku juga.


Bagas


Engga ah Bim. Males ngumpul.


Bima


Bodo amat. Otw


Rio


Otw.


***


“Apaan sih? Kan udah dibilang lagi males ngumpul.” Ucap Bagas ketika membukakan pintu untukku.


“Rio udah sampai?” Tanyaku padanya.


“Udah.” Jawab Bagas.


Aku memasuki kamar Bagas dan melihat Rio sudah duduk di depan TV dan bermain PS.

__ADS_1


“Bas, masih kesal?” Tanyaku pada Bagas.


“Aku engga kesal padamu, Bim. Aku kesal dengan tingkahmu. Sudah berkali-kali kubilang, jangan jadi laki-laki brengsek.” Ucap Bagas kesal.


Aku menghela napas keras, “Aku.. ingin dengan Ririn.” Ucapku sambil menatap kosong TV di depanku.


“Aku sangat rindu padanya.” Ucapku lagi.


Rio menghentikan kegiatannya bermain PS, “Kalau begitu harusnya kau tinggalkan Nadin dan bersama Ririn. Apasih yang membuatmu seperti ini, Bim?”


Aku memutuskan untuk mengenggam tangan Rio dan mencoba membaca pikirannya.


Dasar labil.


“Dasar labil.” Ucapku mengulang isi pikiran Rio. Rio terkejut mendengar ucapanku.


Aku lantas beralih menggenggam tangan Bagas.


Apaan sih? Engga jelas banget ini anak.


“Apaan sih? Engga jelas banget ini anak.”


Bagas lantas menarik tangannya yang kugenggam, “Kau.. apa yang baru__”


“Iya, aku bisa membaca pikiran kalian.” Ucapku pada mereka berdua.


Rio menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin, coba lagi?” Ucap Rio.


Aku memegang tangan Rio kembali.


Engga mikir apa-apa. Engga mikir apa-apa.


Aku tertawa mendengar isi pikiran Rio. Sepertinya kawannya satu ini mencoba memanipulasi isi pikirannya.


“Engga mikir apa-apa. Gimana? Percaya sekarang?” Ucapku ketika melihat wajah terkejut Rio.


Rio dan Bagas menatapku tidak percaya.


“Ada yang ingin kuceritakan pada kalian.”


Rio dan Bagas mengangguk dan memusatkan perhatian mereka padaku.


Akupun menceritakan semuanya. Awal mula aku dan Ririn bisa pura-pura pacaran, tentang kekuatanku, Ririn, dan Fany. Juga tentang garis takdir antara aku dan Nadin.


“Jadi Nadin dan Ririn juga memiliki kekuatan sepertimu?” Tanya Rio setelah aku selesai menjelaskan.


Aku menganggukkan kepala.


“Kau kira takdirmu adalah Ririn, ternyata pasangan takdirmu adalah Nadin?” Tanya Bagas.


Aku menghela napas, “Iya. Aku sudah menjelaskan semuanya tadi. Apa penjelasanku perlu kuulangi?”


Bagas menggelengkan kepala, “Tidak perlu. Aku hanya memastikan. Aku masih terlalu terkejut dengan penjelasanmu.”


“Jadi karena itulah kau tidak bisa bersama Ririn.” Ucap Rio lebih kepada dirinya sendiri.


“Ada yang ingin kutanyakan, Bim. Apa yang terjadi kalau kau menolak pasangan takdirmu. Apabila kau tetap dengan Ririn.” Tanya Bagas.


“Entahlah. Yang kutau pasti, Nadin yang akan sangat tersiksa. Aku.. tidak tega bila harus membuatnya tersiksa.” Ucapku.


Bagas dan Rio menganggukkan kepala mereka berdua. Seketika ada rasa sedih yang mereka rasakan ketika melihatku.


“Aku tidak plin-plan, Bas. Hanya saja, aku tidak bisa meninggalkan Nadin.” Ucapku pada Bagas.


“Aku minta maaf sudah menilaimu sesuka hatiku. Aku bahkan tidak tau penderitaan yang sedang kau alami. Maafkan aku.” Ucap Bagas menyesali tindakannya.


Aku menepuk pundaknya, “Tidak masalah.”


“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Rio.


Aku merebahkan badanku di kasur Bagas, “Mungkin nanti sama halnya seperti ketika Nadin meninggalkanku. Aku akan mencoba melupakan Ririn dan bersama Nadin. Kuharap Ririn pun bisa melupakanku nanti.”


Tanpa kusadari sebutir air mata turun dari kelopak mataku. Bahkan hanya mengatakan agar Ririn melupakanku saja sudah cukup menyakitkan.


Rio dan Bagas hanya menatapku tanpa mencoba untuk bertanya lebih lanjut.


Bahkan baru beberapa minggu aku tidak berjumpa dengannya, aku sudah merindukannya.

__ADS_1


Apa aku bisa menjalani hari-hari kedepannya tanpa memikirkan Ririn?


To be continued..


__ADS_2