GARIS

GARIS
10 - Bima


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


Aku menatap Ririn yang membawa 2 gelas minuman di tangannya.


“Oke, akan aku jelaskan.” Ucapku ketika Ririn sudah duduk di sampingku.


Saat ini kami sedang duduk di ayunan yang ada di belakang rumah Ririn.


“Aku sama seperti kamu. Pemilik kekuatan.”


“Hah? Bukannya pemilik kekuatan sepertiku hanya satu tiap generasi?” Tanya Ririn heran.


“Ya, aku juga baru-baru saja tau kemampuanmu. Kamu bisa mendengar isi pikiran orang dengan menatap mata bukan? Sedangkan aku dengan sentuhan tangan. Kita berbeda.”


“Namun dari mana kamu tau aku pemilik kekuatan?”


“Karena aku tidak bisa membaca pikiran kamu. Bukankah keluargamu menjelaskan tentang hal ini?”


“Mungkin. Aku sebenarnya terlalu terkejut mendengar hal itu. Jadi tidak terlalu mendengarkan.” Jawab Ririn.


Aku hanya menggangguk mendengar jawaban tersebut. Hal itu bisa dimaklumi.


“Sesama pemilik kekuatan, kita tidak bisa mendengarkan isi pikiran satu sama lain.” Ucapku menjelaskan.


“Tapi aku bisa mendengar isi pikiran om ku.” Ucapnya lagi.


Aku mengangguk, “Tentu saja. Karna kau keturunan langsung dibawah Om mu. Kau tentu tidak bisa membaca isi pikiran keturunan di atas Om mu. Juga om mu tidak bisa membaca isi pikiranku. Hanya satu keturunan langsung lah yang bisa saling membaca isi pikiran.”


Ririn mengernyitkan dahinya bingung.


“Dan juga, kau adalah pasangan yang sudah di takdirkan untukku.” Lanjutku pelan.


“Hah?! Aku tidak pernah mendengar tentang itu. Om ku yang pemilik kekuatan tidak mempunyai istri pemilik kekuatan juga. Kau mengarangnya?” Tanya Ririn kepadaku.


Aku menggeleng, “Aku tidak mengarangnya. Sepertinya kau memang tidak mendengarkan apapun ya?”


Ririn tidak menjawab. Aku kemudian menghela napas, kemudian mulai menjelaskan pelan-pelan kepadanya.


“Tentu Om mu tidak mempunyai istri pemilik kekuatan juga. Kalau begitu ceritanya, tentu kita menjadi saudara. Keturunan ke-10, ke-20, dan seterusnya, akan mempunyai pasangan pemilik kekuatan juga. Apa kau pernah mendengarnya?”


Ririn hanya menggelengkan kepalanya.


Aku lalu melanjutkan, “Aku keturunan ke 20. Kau? Sepertinya kau juga keturunan ke-20.”


Ririn kemudian memotong penjelasanku, “Kalau begitu, kita sebenarnya bersaudara dong. Keturunan ke-10 mu dan keturunan ke-10 ku menjadi pasangan.”

__ADS_1


“Dari zaman Adam dan Hawa pun kita sudah bersaudara. Namun apa kamu tau generasi ke-10 diatasmu siapa? Itu sudah lama sekali. Silsilah keluarga kita sudah bertambah. Dan juga, mungkin ada pemilik kekuatan lain diluar sana. Kau dengan mata, aku dengan sentuhan, mungkin diluar sana ada yang lain.” Jawabku.


“Lalu, tau dari mana kau aku pasanganmu? Kau bilang mungkin diluar sana ada pemilik kekuatan seperti kita. Mungkin aku bukan keturunan ke-20. Mungkin saja pasanganmu ada diluar sana. Bukan aku.”


“Kau suka Dimas bukan?” Tanyaku cepat.


Kulihat wajah Ririn kebingungan dengan pertanyaanku.


“Tidak!” Jawabnya keras.


“Kamu tidak bisa berbohong. Aku memang tidak


bisa membaca pikiranmu. Namun aku bisa merasakannya.” Jawabku tenang.


“Aku tidak suka dengan kak Dimas.” Tegasnya lagi.


“Kau tanya dari mana aku tau kau pasanganku? Karna aku merasakannya. Kalau kau berdebar karna laki-laki lain aku bisa merasakannya. Kepalaku pusing, dadaku seperti terbakar, tersiksa sekali. Karena sejatinya kau hanya boleh denganku. Hal itu terjadi ketika di kantin dan di UKS”


Ririn kemudian mengingat-ingat kembali, “Kantin? Karena aku menanyakan tentang Dimas pada Meta? UKS? Sepertinya aku tidak memikirkan tentang Kak Dimas di UKS.”


“Kau membela Dimas didepanku. Kau ingat?” Ucapku malas.


Ririn kemudian menepukkan tangannya ke pahanya, “Ah iya, aku ingat. Itu salahmu Bim, kau menjelek-jelekkannya.”


“Kau memanggil Dimas dengan Kak. Namun denganku hanya Bima? Kau tidak sopan sekali. Bagaimanapun aku juga kakak kelasmu.”


“Kau tidak kuanggap kakak kelas. Tingkahmu seperti anak kecil saja. Karna embel-embel ‘Kak’ langsung merajuk. Aku tetap akan memanggilmu Bima.”


Aku mengibaskan sebelah tanganku, “Terserah kau saja. Pokoknya yang kutau kepalaku sakit, dadaku seperti terbakar. Menggenggam tanganmu satu-satunya hal yang bisa menghilangkan sakitnya.”


Aku menganggukkan kepalaku. Ririn kemudian menghela napas berat, “Hah, ini rumit sekali. Aku tidak menginginkan kemampuan ini. Aku seperti dikekang.”


Terdapat keheningan cukup lama di antara kami. Aku kemudian mencoba memecahkan keheningan.


“Rin, tahun lalu. Apa kau tidak sering merasa pusing atau dadamu panas sepertiku?” Tanyaku dengan suara pelan.


Ririn langsung mengalihkan pandangan dan menatapku, “Kenapa? Kau selingkuh dariku?”


Aku langsung terkejut dan menjawab dengan terbata-bata, “Selingkuh apanya! Tahun lalu bahkan aku tidak kenal denganmu. Kau masih SMP.”


Ririn terkekeh mendengar jawabanku, “Kau tidak perlu panik seperti itu.”


Ririn kemudian menggelengkan kepalanya, “Aku tidak pernah merasakan hal-hal seperti yang kau bilang tadi.”


Aku kemudian mencoba memberanikan diri untuk menjelaskan, “Dulu, ketika baru masuk SMA, aku pernah menyukai seseorang. Kalau memang begitu, harusnya kau memiliki gejala-gejala seperti yang kubilang tadi.”


“Ah, berarti benar kau selingkuh.” Ucapnya pura-pura sedih.


Aku hanya menatapnya tajam.


“Kalau seperti itu, ketika SMP juga aku suka dengan orang lain. Apa kau sakit kepala seperti yang kau bilang tadi?” Ucapnya lagi.


Aku menggelengkan kepalaku. Hal ini sangat aneh. Aku yakin dia pasanganku, namun kenapa masih ada kepingan yang tidak pas.


“Apa karna aku baru tau kemampuanku ketika SMA ya?” Tanya Ririn kepadaku.

__ADS_1


“Oh? Bukannya kemampuanmu ada sejak kecil?” Tanyaku heran.


“Ya seperti itulah, kata om ku aku menutup diri, sehingga kemampuanku baru terlihat ketika aku baru-baru saja masuk SMA.”


Aku mengangguk, “Mungkin seperti itu. Kau juga tidak merasakan apa apa ketika aku suka dengan orang lain.”


“Tapi, asal kau tau. Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang kau bilang.” Ucap Ririn kepadaku.


“Terserah kau saja, asal kau jangan terlalu dekat dengan Dimas, aku tidak akan tersiksa.” Jawabku.


Aku kemudian mengambil gelas minuman yang dibawakan Ririn. Menjelaskan kepada Ririn membuat tenggorokanku kering.


Tiba-tiba Ririn menepuk punggungku dengan keras. Lantas air yang kuminum langsung meluncur keluar.


“Apasih, Rin? Engga bisa nyantai nepuknya?” Ucapku marah.


Kulihat Ririn menatapku tajam. Aku kemudian melatakkan gelas ke lantai.


“Kenapa?” Tanyaku heran.


“Bukan itu alasan kau duduk di rumahku sekarang. Kenapa kau bilang kalau kau pacarku?” Ucapnya marah.


Aku menggaruh kepalaku yang tidak gatal, “Ah, iya, ituu.. Harus dari mana aku menjelaskannya ya?” Tanyaku pada diri sendiri.


“Dari awal. Raka bilang tentang mengabulkan tiga permintaan? Apa maksudnya? Memangnya kau jin aladdin.” Ucap Ririn mengejekku.


Aku tidak menggubsir ucapanya. Aku kemudian mulai menjelaskkan. Tentang kejadian di UKS, permintaan Raka, dan juga Fany.


“Stop!” Ucap Ririn mengibaskan tangannya ke depan mukaku, menyuruhku berhenti menjelaskan.


“Kalau seperti yang kau jelaskan tadi? Kenapa malah kau yang gembar-gembor kalau kita pacaran?” Tanya Ririn.


Ririn langsung mengenai titik yang menjadi kebodohanku.


“Karena bagaimanapun Raka akan menyebarkannya. Mending aku saja yang bilang, sehingga aku bisa melindungimu dengan leluasa.” Ucapku mengeles.


“Bim, kamu suka padaku?” Ucapnya pelan.


Aku mendecak keras, “Jangan ngimpi. Aku tidak ada perasaan denganmu.”


“Lalu kenapa kau harus melindungiku?”


“Karena kalau kau dalam bahaya, aku tentu dalam bahaya juga. Aku pasanganmu. Ingat itu. Terlebih, dengan kubilang aku pacarmu, Dimas tidak akan mendekatimu. Aku tidak perlu merasa pusing atau sakit lagi.” Ucapku menjelaskan.


Ririn kemudian tidak bersuara lagi. Cukup lama terdapat keheningan diantara kami. Namun tiba-tiba Ririn mengeluarkan suaranya.


Sepertinya dari semua penjelasanku, hal ini lah yang paling dikhawatirkan oleh Ririn.


“Jadi, bagaimana aku harus ke sekolah besok? Tentu satu sekolah akan membicarakannya. Kau sangat populer, kau tau itu.” Ucapnya sambil menatap khawatir padaku.


Aku langsung mengangkat bahuku dan menjawab, “Entah. Kita jalani saja. Harusnya kau bangga punya pacar populer sepertiku.”


Ririn tiba-tiba berteriak padaku, “OGAH!!”


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2