GARIS

GARIS
Dira sang gadis penyedih


__ADS_3

Suatu masa, di tempat yang sangat jauh, hiduplah seorang gadis kecil yang sangat jengeng, Dira namanya. Ia sangat mudah untuk mengeluarkan air mata. Bagi Dira menangis sudah sama seperti bernafas, sangat mustahil bagi kedua mata biru itu untuk tak mengeluarkan air kesedihan selama satu hari. Jika di telaah lebih jauh, gadis penyedih tidaklah cengeng. Ia hanya terlalu muda tersentu pada hal-hal kecil, bahkan pada hal yang sama sekali bukan kepentingan-nya. saat anak lain terjatuh, ia menangis. Saat sebuah balon terbang, ia menangis. Saat ada kucing yang berkelahi, ia menagis. Saat ada seorang pengemis kurus melitas, ia menangis. Saat anak lain menangis, iapun ikut menangis. Dira terlalu baik pada dunia, hingga mau menangung kesedihan semua orang yang bisa ia lihat.


Lama kelamaan, Dira merasakan rasa pedih di dua kelopak mata, ia menagis akibat itu. Dua kelopak gadis penyedih sangat bengkak, terlalu banyak mengeluarkan kesedihan dunia, menjadi hitam legam, tak indah di lihat, dan tak bisa melihat. Orang tuanya sangat panik akibat kondisi ini, mereka membawa-nya ke rumah sakit, merawat kedua mata yang tak henti-henti menangis, agar bisa kembali normal.


Kedua mata biru di perban, di bungkus dengan sangat hati-hati, agar tak menghasilkan rasa sakit. Saat sang gadis penyedih tak dapat melihat, ia tak lagi sedih, tak ada lagi air kesedihan yang keluar dari kelopak mata, tak ada lagi ke sakitan dunia ia rasakan, tentram damai tanpa kepedihan terasa.


****


Cuma perlu dua minggu untuk mendapatkan kesembuhan, Dira bisa kembali melihat dunia. Kedua orang tua-nya menghibur dengan berbagai macam cara, agar sang gadis penyedih tak lagi menangis.

__ADS_1


Dira di bawa ke taman hiburan. mencoba berbagai macam wahana riang gembira, ia sangat senang, terlebih mencoba kincir ria, ia sampai tak henti tersenyum usai turun dari sana. Hanya saja, taman hiburan tak selamanya menyenangkan, tak penuh akan kegembiraan semata, pasti ada sejumput kesedihan serta kesengsaran tertebar di sana, itu membuat sang gadis kecil kembali menangis. Tak bersuara, namun penuh air mata kesedihan.


Dira di bawa ke kebun binatang, melihat hewan indah secara lebih dekat. Di sana ia melihat banyak hal, pingwin dengan esnya, beruang dengan madunya, dan singa dengan pawangnya. Walau ada sejumput kesedihan, tapi tak ada air mata keluar dari dua kelopak yang baru sembuh. Hanya ada kesenangan, keantusiasan, rasa penasaran, dan rasa takjub akan keindahan hewan-hewan dalam kandang.


Dira di ajak melihat sirkus, harap bisa tertawa nyaring melihat para badut lucu. Ternyata benar, sang gadis penyedih tertawa-tawa tiada henti, seolah dirinya yang dulu telah hilang bersama air mata di taman hiburan. Semua tampak berubah kala seekor singa di pecut, secara paksa melompati lingkaran api besar panas yang mengerikan. "Ah... Anakku akan menangis jika melihat ini..." pikir kedua orang tua Dira memandang sendu sang gadis penyedih. Tapi, itu salah besar, benar-benar salah besar. Tak ada tangisan ataupun rasa sedih di matanya, hanya takjub akan aktrasi. Sangat bagus, benar-benar sangat bagus, karena aktrasi ini memiliki tumpukan kesedihan dari sang singa yang takut pada api, ataupun sang pawang yang terpaksa melukai kawannya.


"Sayang ibu dan ayah akan pergi ke mobil untuk mengambil pelampung. nanti, ayo kita berenang." kata ibu dengan nada lembut.


Dira menangguk dan kembali berlarian.

__ADS_1


Sang gadis penyedih memang mudah menangis, tapi ia tidak bodoh. Saat sang ibu dan ayah telah cukup jauh dari pandangan, di balik batu besar ia jonngkok, menutupi wajah merah penuh kepedihan. Semenjak pulang dari taman hiburan, ia sudah tahu, jikalau kedua orang tunya sangat repot akibat tangisan dirinya. Kala wajah ibu letih, pucat tak bertenaga, penuh akan cucuran keringat dingin, Dira merasa sangat sedih. Tapi, ia tidak menangis. Kala wajah ayah capek menghentikan tangisan-nya, penuh haru, penuh rasa kesal, dan penuh akan keputusasaan. Liliy takut dan sedih. Tapi, ia juga tak menagis. Saat melihat hewan-hewan di kurung dalam kandang kecil serta kotor, ia tak menagis. Saat melihat seekor singa di pecut, ia tak menangis. Dan saat ia melihat ibu dan ayahnya tertabrak sebuah truk di pinggir jalan, ia tak menangis.


Sekarang sudah tak ada orang lain, tak ada ayah ataupun ibu yang akan mengentikan air kesedihan di kedua kelopak mata. "Ini semua salahku... Jika aku tak cengeng... Maka ayah dan ibu tidak akan kecapean seperti itu..." pikir sang gadis penyedih menangis kencang. Air mata deras keluar dari sana, tak henti-henti membuat kelopak mata kembali bengkak. Air mata itu berwarna bening, lalu menjadi merah, pada akhirnya menjadi hijau tua. Menimbulkam rasa sakit yang tak ada duanya di dunia, bahkan sebuah rasa sakit akibat kematian tak sebanding dengan rasa sakit akibat setetes air hijau tua dari salah satu kelopak mata. Ini begitu menyikasa-nya. Sebuah cangkak kerang tajam, mengkilat, terbawa ombak. Menghampiri kaki sang gadis penyedih.


"Jika mata ini hilang, maka aku tak akan menangis lagi. Ayah dan ibu tak akan capek-capekan lagi." seru Dira mengambil cangkang kerang.


Di sodorkan secara paksa hingga menusuk kelopak mata, di goyang-goyangkan, di masukan ke dalam, membuat air hijau tumpah ruah ke mana-mana. Saat sudah cukup dalam, ia mencongkel mata nya sendiri dengan cangkang kerang, mengeluarkan keduanya secara cepat nan cekatan. Saat dua bola keluar, saraf menjuntai, hanya ada kegelapan di kepala.


Sisi baiknya hanyalah 'ia tak akan pernah bisa menagisi kesedihan dunia lagi.'

__ADS_1


__ADS_2