GARIS

GARIS
22 - Bima


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


10 tahun kemudian.


“Selamat malam, Bu. Silahkan duduk.” Ucapku pada salah satu pasien yang baru memasuki ruanganku.


“Jadi, ada keluhan apa?” Tanyaku pada ibu tersebut.


Ibu tersebut kemudian menjelaskan keluhannya. Aku menganggukkan kepala mendengar penjelasannya.


“Kita periksa dulu ya. Silahkan berbaring dulu.” Ucapku.


Setelah memeriksa pasian tersebut, aku mengalungkan kembali stetoskopku dan mempersilahkan ibu tersebut duduk di bangku kembali.


Aku kemudian menjelaskan beberapa hal kepada ibu tersebut.


“Obat yang ini harus diminum 1 hari sekali, pagi hari. Sedangkan yang ini diminum 3 kali sehari.”


Ibu tersebut mengangguk mendengar penjelasanku, “Baik, Dok. Terima kasih.”


Aku mengangguk dan tersenyum pada ibu tersebut. Ibu tersebut kemudian bangkit dan keluar dari ruangan.


“Masih ada pasien, Del?” Tanyaku pada suster yang baru saja memasuki ruanganku.


“Sudah tidak ada, Dok.”


Aku menghembuskan napas keras dan meregangkan badanku. Hari ini cukup melelahkan.


Aku melepaskan jas dokterku dan menggantungnya di salah satu gantungan diruanganku.


Aku merapikan beberapa barang di atas meja dan bangkit dari duduk, beranjak untuk pulang. Aku sudah sangat merindukan kasur dirumahku.


“Hati-hati, Dok.” Ucap salah satu suster yang berpapasan denganku.


Aku menganggukkan kepala.


BRUK!


Aku langsung mengalihkan pandangan kearah sumber suara.


Aku langsung berlari dan menghampiri wanita yang baru saja pingsan tadi.


“Anda tid__” ucapanku terhenti ketika melihat wanita di depanku.


“Ririn?” Ucapku menggumam.


Tanpa berpikir lagi, aku langsung menggendongnya dan membawanya keruanganku.


“Loh, Dok? Bukannya sudah pulang?” Tanya Adel padaku.


Aku tidak menggubsir pertanyaan Adel dan merebahkan Ririn ke atas meja periksa di dalam ruanganku.


Aku memeriksa kondisi Ririn. Suhu badannya sangat panas, beberapa kali Ririn juga meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


“Del, siapkan kamar untuk wanita ini ya.” Ucapku pada Adel.


“Administrasinya, Dok?” Tanya Adel.


“Nanti aku yang isi. Kamu siapkan saja kamar untuknya.” Adel kemudian menganggukkan kepala.


***

__ADS_1


Aku menggeser pintu kamar dengan tulisan 501 di dinding sebelah kanan.


Aku masuk ke dalam kamar itu dan duduk disalah satu bangku. Ririn berbaring dengan napas teratur, sama sekali tidak menyadari kehadiranku.


“Apa kabar, Rin?” Ucapku pelan. Aku sama sekali tidak ingin membangunkannya.


“Sudah lama tidak berjumpa.” Aku mencondongkan sedikit badanku ke depan. Aku ingin melihatnya lebih dekat.


Aku menggerakkan tanganku dan mengelus pelan rambut Ririn.


“Aku.. Rindu kamu, Rin.” Lagi-lagi air mata turun dari kelopak mataku.


Sudah 10 tahun. Namun 10 tahun itu jugalah rasanya seperti diremas ketika mengingat Ririn. Aku sangat merindukannya.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, aku langsung menghusap air mataku dan bangkit dari dudukku.


“Siapa?” Tanyaku pada sosok tersebut.


Aku sengaja mematikan lampu di kamar Ririn. Aku teringat dulu Ririn pernah bercerita padaku. Ia lebih senang tidur dengan lampu dimatikan.


Aku menghela napas kesal. Kenapa hal-hal kecil seperti itupun aku masih ingat.


Laki-laki tersebut kemudian masuk dan menghidupkan lampu yang berada dikirinya.


Aku menyiptkan mata, mencoba beradaptasi dengan penerangan yang tiba-tiba.


“Bima?” Ucap laki-laki tersebut.


Aku membuka mataku sepenuhnya, “Dimas?”


***


“Apa kabar?” Tanya Dimas memecahkan keheningan di antara kami.


Aku dan Dimas memutuskan untuk duduk dibangku panjang, di luar kamar Ririn.


“Kabar baik. Bagaimana denganmu?”


Dimas menganggukkan kepalanya, “Seperti yang kau lihat. Sangat baik. Aku senang melihatmu bisa mewujudkan impianmu.”


Kabar terakhir yang kutau, Dimas melanjutkan studinya ke luar negri mengambil Analisa Bisnis.


“Aku melanjutkan perusahaan ayahku.”


Aku menatap Dimas kagum, “Wah, aku tidak percaya punya teman seorang CEO.”


Dimas hanya tertawa mendengar ucapanku.


“Ah benar juga. Aku minta maaf tidak bisa hadir_”


Ucapan Dimas terpotong ketika ponselku berbunyi.


Layar ponselku menampilkan nama Aqilla di layar depan.


“Maaf, aku mengangkat telepon dulu ya, Dim.” Ucapku pada Dimas.


Dimas menganggukkan kepalanya. Aku lantas bangkit dari dudukku dan menggeser tombol hijau di layar hp.


“Halo sayang.” Ucapku menyapa.


“Halo, papa. Kok belum pulang? Qila udah nungguin dari tadi. Kata mbok Lia ayah pulang telat. Kenapa?”


Aku tersenyum mendengar nada merajuk dari seberang telepon, “Iya, Qila. Papa masih ada kerjaan nih. Kamu tidur aja duluan ya.”


“Engga mau. Qila mau nungguin papa pulang. Papa udah janji beliin kue untuk Qila.”


Aku menepuk dahiku mendengar ucapan Aqilla. Aku lupa dengan janjiku dengan Aqilla.


“Em, papa sebentar lagi pulang. Tapi Qila tidur aja duluan ya. Besok papa beliin Qila kue dan boneka yang kemarin Qila minta ke papa. Gimana?”


“Boneka? Oke papa. Janji ya. Qila tidur sekarang.”

__ADS_1


“Iya sayang. Selamat tidur ya. Daaa.”


“Daa papa.”


Aku mematikan ponselku dan memasukkannya kembali ke kantong celana.


“Maaf memotong pembicaraanmu tadi.” Ucapku sambil duduk kembali di sebelah Dimas.


“Tidak masalah. Anakmu sudah umur berapa, Bim?” Tanya Dimas.


“Sudah 3 tahun.” Ucapku sambil tersenyum.


“Aku minta maaf tidak bisa datang ke pernikahanmu dengan Nadin. Aku tidak bisa meninggalkan studiku.”


“Tidak masalah.”


“Aku juga minta maaf tidak bisa datang ke pemakaman Nadin.”


Aku menghela napas pelan mendengar ucapan Dimas, “Tidak apa-apa.”


Aku dan Nadin memutuskan menikah 4 tahun lalu. Perlahan aku mulai melupakan Ririn dan mencoba membangun keluarga dengan Nadin.


Apabila ada yang bertanya apakah aku mencintai Nadin? Jawabannya ya. Aku mencintainya.


Namun, lagi-lagi takdir mempermainkanku. Hari yang harusnya membahagiakan bagi kami berdua tiba-tiba saja menjadi hari yang sangat menyesakkan.


Hari ketika kami menyambut anak kami, Aqilla. Saat itu jugalah aku harus kehilangan Nadin.


Kata-kata Nadin disaat terakhirnya masih sangat membekas diingatanku.


Maafkan aku harus meninggalkan kamu dan anak kita. Maafkan aku harus membuatmu meninggalkan wanita yang benar-benar kamu cintai. Aku tau hatimu sesungguhnya berada dimana. Cari dia, cari cinta yang hilang dari hidupmu.


Itulah kalimat terakhir dari Nadin. Setelah kepergian Nadin, aku masih merasa menyesal bila mengingat ucapan Nadin.


Aku sudah berusaha sangat keras untuk mencintainya. Aku sudah sangat berusaha keras untuk melupakan Ririn. Namun ternyata Nadin masih mengetahui isi hatiku yang paling dalam.


Aku sangat menyesali tindakanku.


“Siapa namanya?” Ucap Dimas membuyarkan lamunanku.


“Hah? Apanya?” Tanyaku bingung.


“Anakmu. Siapa namanya?”


“Ah, namanya Aqilla. Aqilla Auristela.”


“Nama yang indah.” Ucap Dimas padaku.


Aku hanya menganggukkan kepala. Saat itulah pintu kamar Ririn terbuka.


Aku dapat melihat ekspresi terkejut dari wajah Ririn, “Bima?” Ucapnya terkejut.


Aku lantas berdiri dari dudukku dan berjalan menghampirinya.


Namun aku langsung menghentikan langkahku ketika melihat Ririn melangkah mundur.


“Dimas, tolongin.” Ucap Ririn kemudian.


Dimas lantas bangkit dari duduknya dan menepuk pundakku pelan, “Aku masuk dulu ya, Bim.” Ucap Dimas sambil masuk ke dalam kamar Ririn dan menutup pintu kamar tersebut.


Aku bahkan lupa bertanya pada Dimas. Apa hubungan mereka berdua.


Apa niatku untuk mendekati Ririn kembali, hanya akan menjadi penghalang bagi mereka berdua.


Apa Dimas dan Ririn memiliki hubungan yang spesial?


Apa aku sudah terlambat?


Berpuluh-puluh pertanyaan langsung menghampiri pikiranku.


Aku menghela napas keras dan memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Hal yang paling penting saat ini bagiku adalah Aqilla.


To be continued..


__ADS_2