GARIS

GARIS
19 - Ririn


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


Apa benar apa yang dikatakan Nadin? Bahwa Bima adalah pasangannya?


Ketika melihat mereka berdua di luar stadion tadi, hatiku sangat sakit.


Mereka berdua sangat cocok.


Aku memutuskan tidak pulang kerumah, melainkan kerumah Om Adi.


Hanya Om Adilah yang saat ini bisa menjelaskan semuanya.


Aku mengetok pintu rumah Om Adi.


“Hai Ririn. Masuk. Tumben kamu datang sendirian ke sini?” Tanya Tante Astrid ketika melihatku di ambang pintu.


“Iya tante. Mau ketemu Om Adi. Om Adi ada?”


“Ada sayang. Ayo masuk. Duduk saja dulu di dalam. Tante panggilkan om ya.” Ucap Tante Astrid.


Aku menganggukkan kepala.


Tidak lama kemudian Tante Astrid datang membawakanku segelas minuman.


“Sebentar ya, Rin. Om kamu masih mandi tadi pas tante panggil.”


Aku mengangguk. Aku dan Tante Astrid berbincang-bincang mengenai beberapa hal.


Saat itu kulihat Om Adi menghampiriku.


“Hai Ririn. Apa kabar kamu? Ada keperluan apa?” Tanya Om Adi, ramah padaku.


Aku menatap mata Om Adi.


Ada yang ingin kutanyakan pada Om. Namun hanya berdua saja. Apa Om bisa meminta Tante Astrid untuk ke belakang sebentar?


Om Adi menganggkat sebelah alisnya, bingung.


“Ma, masak makanan dong untuk Ririn. Kamu makan malam disini saja ya Rin?” Ucap Om Adi kepadaku.


Aku menganggukkan kepala.


“Oke, kalau gitu tante tinggal dulu ya, Rin.” Ucap Tante Astrid.


“Iya tante.”


Tante Astrid lalu bangkit dari duduknya.


“Nah, apa yang mau kamu tanyakan sama om?” Tanya Om Adi ketika Tante Astrid sudah masuk ke dapur.


Aku kemudian menceritakan semuanya kepada Om Adi. Tentang awal pertemuanku dengan Bima, cerita tentang pasangan yang sudah ditakdirkan, tentang Bima, dan tentang Nadin.


Setelah aku selesai menjelaskan, Om Adi menganggukkan kepalanya.


“Apa hal itu bisa terjadi om? Satu orang memiliki 2 pasangan takdirnya?” Tanyaku.


Om Adi menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak. Memang benar kamu turunan ke-20 Rin. Laki-laki bernama Bima itu cukup cerdas bisa mengambil semua kesimpulan tadi.”


Aku menatap Om Adi dengan serius.


“Namun, pasangan kamu sudah tidak ada di dunia ini. Sejak 5 tahun yang lalu.”


Aku menatap Om Adi heran.


“Lalu, mengapa aku malah seperti terikat dengan Bima?”


“Hal itu bisa saja terjadi. Karena kamu sudah tidak memiliki pasangan yang sudah ditakdirkan untukmu. Istilahnya kamu bebas, bebas memiliki hubungan dengan siapa saja. Namun karena kamu dekat dengan pemilik kekuatan lain, kamu malah merasa kalau dialah pasanganmu. Padahal, laki-laki tersebut bukanlah pasanganmu.”

__ADS_1


“Lalu mengapa Bima juga merasa pusing dan sakit di dadanya kalau Ririn dekat dengan laki-laki lain?” Tanyaku heran.


Om Adi menghela napas sedih, “Hal itu bisa saja terjadi. Pasangan Bima mungkin tidak berada di dekatnya. Sehingga alam bawah sadar Bima mengira bahwa kaulah pasangannya. Karena pasanganmu sudah tidak ada.”


Aku sedikit bingung dengan penjelasan Om Adi.


“Kekuatan kita memiliki banyak sekali rahasia yang belum kita ketahui Rin. Maafkan Om, kamu mengalami hal-hal yang berat ketika masih sangat muda.” Ucap Om Adi sedih.


“Apa Ririn masih merasakan sakit kalau Bima dekat dengan Nadin? Bukankah Nadin pasangan Bima? Harusnya Ririn engga merasa sakit lagi kan Om?” Tanyaku pada Om Adi.


“Sepertinya karena kamu membuat suatu ikatan dengan Bima, kamu secara tidak sadar jadi terikat dengannya. Makanya kamu masih merasa sakit kalau Bima dekat dengan Nadin.”


“Apa yang harus Ririn lakukan Om?” Tanyaku sedih.


Om Adi hanya menggeleng kepalanya.


Kalau aku, Bima, dan Nadin dikumpulkan dalam satu tempat, tentu yang akan tersiksa adalah aku.


Aku hanya penghalang bagi mereka berdua.


“Kalau Ririn pindah sekolah, Apa ikatan antara Ririn dan Bima bisa putus Om?”


Om Adi menganggukkan kepalanya, “Bisa jadi Rin. Ikatan itu ada karena kamu dan Bima berada dalam satu tempat. Tapi kamu tidak mungkin pindah sekolah. Kamu bahkan belum setahun sekolah disitu.”


Aku mengela napas keras. Benar kata Om Adi. Tidak mungkin hanya karena laki-laki aku harus pindah dan merepotkan semua orang.


Tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan lamunanku.


“Serius sekali? Tante udah siap masak itu. Ayo kita makan malam dulu.” Ucap Tante Astrid ceria.


Kontras sekali dengan apa yang sedang kurasakan saat ini.


Aku dan Om Adi memutuskan menyudahi pembicaraan kami.


Kenapa? Kenapa harus ketika aku sudah jatuh hati, baru aku tau kalau aku dan Bima tidak bisa bersama.


***


“Rin kamu udah denger gosipnya belum?” Ucap Meta antusias.


“Gaboleh gosip-gosip. Dosa.” Ucapku cuek.


“Duh, kalau yang ini mah semua penjuru sekolah senang mendengarnya.” Ucap Meta.


“Gosip apa emangnya?” Tanyaku penasaran.


Meta kemudian menyuruhku duduk di bangku. Masih 15 menit lagi hingga bel sekolah berbunyi.


“Tentang si Fany, Rin. Dia akhirnya keluar dari sekolah.”


“Hah?! Kok bisa?” Ucapku terkejut.


“Jadi, orang tua Fany ternyata sudah lama ingin memasukkan Fany ke rumah sakit untuk di rehabilitas. Namun Fany selalu menolak.”


“Tapi Fany sepertinya hanya butuh kehadiran orangtuanya.” Gumamku pelan.


“Kamu bilang apa?” Tanya Meta padaku. Sepertinya dia tidak mendengar ucapanku tadi.


“Lupakan saja. Lalu kenapa Fany akhirnya mau?” Tanyaku.


“Kalau itu aku kurang tau. Yang pasti Fany sudah keluar dari sekolah. Kamu tentu tidak akan diganggu lagi olehnya. Kamu juga bisa bebas pacaran lagi dengan Bima.” Ucap Meta senang.


Aku menghela napas keras, lantas bangkit dari dudukku.


Aku masih belum ingin menceritakan hal ini pada siapa-siapa.


“Kamu mau kemana Rin?” Ucap Meta setengah teriak padaku.


“Baris! Tuh denger, bel udah berbunyi.” Ucapku kesal.


Gawat, aku malah melampiaskan emosiku pada Meta. Namun Meta sepertinya menganggap hal itu biasa saja.


Anak ini memang santai sekali, pikirku.


Sepanjang pelajaran aku tidak terlalu fokus. Jahat memang, orangtuaku sudah membiayaiku, namun aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri.


Aku memutuskan pulang menggunakan angkutan umum. Aku ingin berlama-lama dijalan.

__ADS_1


Aku masih menunggu angkutan umum di depan pagar sekolah.


Tiba-tiba saja sebuah sepeda motor berhenti di sampingku.


Pemilik sepeda motor tersebut membuka helmnya. Ternyata Dimas.


“Mau pulang Rin?” Tanya Dimas padaku.


“Iya kak.”


“Mau aku anter pulang?”


Aku mengibaskan tanganku dengan panik, “Tidak usah kak. Aku naik angkutan umum saja.” Ucapku.


“Ayolah, hitung-hitung ini adalah tebusan atas kesalahanku waktu itu. Aku belum sempat meminta maaf secara benar padamu.”


Ucapan Bima membuatku mengingat tentang kejadian di bangku UTS waktu itu. Saat Bima menyatakan suka padaku.


Aku menimbang-nimbang. Namun aku merasa tidak enak jika menolak niat baik Dimas.


Aku menganggukkan kepala lantas menaiki sepeda motornya.


“Kamu lagi renggang dengan Bima ya?” Ucap Dimas padaku.


Suara Dimas bercampur dengan hiruk piruk jalanan. Aku harus memajukan sedikit badanku agar mendengar suara Dimas.


“Biasa saja kak.” Ucapku berbohong.


“Oh ya? Maaf aku sudah menilai sesukanya. Kukira kalian sudah putus. Karena aku melihat Bima dan perempuan lain di Kafe Pohon.”


“Perempuan lain? Nadin?” Tebakku.


“Kau kenal dengan Nadin?” Tanya Dimas terkejut.


“Seperti itulah. Secara tidak sengaja aku kenal. Lalu kakak bertemu Bima dan Nadin?”


“Ah tidak-tidak, aku salah lihat sepertinya.”


Aku mengerti maksud Dimas. Sepertinya dia tidak sengaja mengatakan kalau dia bertemu dengan Bima dan Nadin.


Namun aku sudah kepalang penasaran.


“Tidak apa-apa kak. Katakan saja.”


“Baiklah. Hari minggu kemarin. Ketika selesai turnamen, aku melihat Bima dengan Nadin.” Ucap Dimas dengan nada merasa tidak enak padaku.


Ah, sepertinya Bima dan Nadin sudah mulai kembali dekat.


“Kakak tidak perlu merasa tidak enak, aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Bima. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.” Ucapku.


Namun Dimas tidak meneruskan percakapannya. Dimas memilih bungkam.


“Makasih ya kak.” Ucapku ketika sudah sampi di depan rumah.


Dimas hanya mengangguk.


Aku lantas membalikkan badanku, hendak masuk ke dalam rumah. Namun Dimas menahan tanganku.


“Rin. Maafkan aku untuk kejadian waktu itu.”


Aku tersenyum, “Tidak masalah kak. Aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi.”


“Jadi kau sudah putus dengan Bima?” Gumamnya.


“Hah? Maksudnya kak?” Tanyaku, karena tidak terlalu mendengar ucapannya.


Dimas masih menggenggam tanganku, “Apa kamu bisa ngasih kesempatan buat aku Rin?” Tanya Dimas.


Aku terkejut mendengar ucapannya. Belum sempat aku menjawabnya Dimas sudah melanjutkan ucapannya.


“Aku tidak akan menyakitimu.”


Aku menteskan air mataku. Kata-kata tersebut. Aku ingin mendengarnya dari Bima saat ini. Namun saat ini Dimaslah yang mengatakan hal itu.


Semua hal yang kulakukan, semua kata-kata yang kudengar, selalu mengingatkanku pada satu nama. Bima.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2