
Note:
Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.
Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.
Semoga yang baca engga pada bingung ya.
Happy reading🌸
***
“Bim, sedang kau berdiri sendiri seperti itu?” Tanya Rio.
Rasanya seperti campur aduk. Aku baru saja melihat Ririn menaiki sepeda motor Dimas.
Aku seperti ingin menarik Ririn untuk turun dari sepeda motor Dimas. Namun aku ini siapa?
Aku bukan siapa-siapanya.
Tiba saja aku merasa emosi. Aku seperti ingin melampiaskannya pada apapun.
“Tidak ada, ayo kita pergi.” Ucapku pada Rio.
Rio menatapku heran ketika mendengar nada suaraku yang sedikit ketus.
“Bima. Kau belum pulang? Syukurlah.” Ucap wanita yang berlari menghampiriku, Nadin.
“Ada apa?” Tanyaku dingin.
Sudah melihat Ririn dengan Dimas, sekarang aku harus bertemu dengan Nadin.
Kepalaku rasanya seperti mau pecah.
“Aku ingin mengajakmu pergi. Ada kafe yang sering kita datangi dulu.” Ucap Nadin.
“Maaf Nadin. Aku sudah janji dengan Rio dan Bagas hari ini. Lain hari saja ya.”
Namun Nadin menarik tanganku.
“Kalau begitu, aku mau meminta jawabanmu saja. Tentang pertanyaanku kemarin.”
Aku mengingat kejadian di kafe pohon kemarin.
Aku lantas menganggukkan kepalaku, “Iya.”
Nadin terkejut mendengar jawabanku, “Benarkah? Benarkah kita akan berpacaran lagi?”
Aku menganggukkan kepala.
Nadin lantas memelukku dengan senang. Aku tidak membalas pelukannya.
Kalau Ririn bisa dengan gampangnya melupakanku, aku juga tentu bisa melupakannya.
Terlebih, ini Nadin. Wanita yang kurindukan dulu dan juga wanita yang ditakdirkan untuk bersamaku.
Aku harus bisa melupakan Ririn.
***
“Apa yang membuat orang tua Fany memasukkan Fany ke rumah sakit ya?” Tanya Rio.
Kami bertiga memutuskan untuk duduk di salah satu kafe.
“Entahlah. Tiba-tiba saja satu sekolah sudah menjadikannya bahan gosipan.” Ucap Bagas.
“Raka.”
Rio dan Bagas heran mendengar ucapanku barusan.
“Ada apa dengan Raka?” Tanya Rio.
__ADS_1
“Raka mengirimkan beberapa rekaman saat Fany membully di sekolah, kalian juga tau Fany suka memakai kekerasan fisik. Raka menggertak orang tua Fany. Kalau tidak ingin video tersebut tersebar, orang tuanya harus mengeluarkan Fany dari sekolah, dan memasukkanya ke rumah sakit.”
“Dari mana kau tau?” Tanya Bagas heran.
Aku hanya mengangkat bahuku.
Tentu saja aku tau. Tadi pagi, ketika baru sampai di sekolah. Aku langsung mencari Raka.
Aku menyuruhnya menjelaskan apa maksud perkataan Nadin tentang ‘Raka akan mengurus masalah Fany’ ketika di kafe pohon.
Hanya dengan membawa nama Nadin, Raka langsung menjelaskan semuanya padaku.
Tiba-tiba saja aku merasakan getaran di celana sekolahku.
Aku mengambil ponselku. Aku membuka aplikasi chat dan membalas salah satu pesan yang masuk.
Setelah membalasnya, aku memasukkan ponselku ke kantong celana sekolah.
Aku lantas mengangkat kepalaku dan melihat tatapan penuh tanda tanya dari 2 temanku.
“Apa?” Tanyaku sambil meminum kopi yang ada di depanku.
“Apa benar kau berpacaran lagi dengan Nadin?” Tanya Rio penasaran.
Aku mengangguk.
“Kau serius?” Tanya Bagas.
Aku mengangguk lagi.
“Lalu bagaimana dengan Ririn?”
Pertanyaan Bagas lantas membuatku membeku. Namun aku mencoba untuk menjawabnya dengan tenang.
“Aku tidak ada hubungan lagi dengan Ririn.”
Rio menggelengkan kepala, “Tidak mungkin secepat itu kau lupa dengan Ririn. Kami yang tau betapa frustasinya kau ketika putus dengan Ririn.”
“Jadi kau sudah mengambil keputusan? Antara Nadin dan Ririn kau memilih Nadin?” Tanya Bagas padaku.
Aku mengangguk, “Iya. Aku memilih Nadin.” Ucapku berbohong.
Tentu saja hatiku lebih memilih Ririn. Namun logikaku lebih memilih Nadin.
Entahlah, kehadiran Ririn yang hanya sebentar di hidupku seperti merubah semuanya.
Bukannya aku menjadikan Nadin sebagai pelampiasan. Namun memang sudah seperti itulah takdirnya.
Mau berusaha dan meronta seperti apapun, takdirku adalah Nadin.
Walaupun wanita yang kucinta saat ini adalah Ririn.
Mungkin kehadiran Nadin kembali dapat memulihkan semuanya. Sama seperti ketika Ririn memulihkan lukaku tentang Nadin.
“Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Kami selalu mendukung apapun keputusanmu.” Ucap Bagas sambil menepuk pundakku.
Ya, semoga saja diriku sendiri pun bisa menerima keputusan yang kubuat.
***
Hari ini pertandingan semi final.
Aku sudah berusaha sebisa mungkin, sama halnya dengan anggota tim yang lain.
Namun lawan kami hari ini sangatlah tangguh. Kami harus menelan kekalahan hari ini.
“Tidak apa-apa. Tetap semangat. Kita sudah sejauh ini adalah hal yang patut kita banggakan.” Ucap pelatih menyemangati kami.
“Kalian bermain dengan baik hari ini. Tetap semangat. Kejuaraan selanjutnya, kita harus mengalahkan mereka.” Ucapku menyemangati anggota yang lain.
Mereka lantas mengangguk.
__ADS_1
“Bim, sayang sekali ya.” Rio ketika menghampiriku.
“Padahal skor kita hanya tertinggal sedikit dari mereka.” Sambung Bagas.
“Tidak masalah. Tidak perlu disesali.” Ucapku sambil menepuk pundak mereka berdua.
Saat itu mataku menangkap Nadin yang berjalan menghampiriku, “Bima, hari ini kamu keren sekali.” Ucap Nadin.
“Terima kasih.” Balasku sambil tersenyum.
Tepatnya sudah 3 bulan aku dan Nadin berpacaran lagi.
Lambat laun, aku dan Ririn mulai semakin menajuh.
Ririn dengan dunianya, dan aku dengan duniaku.
Namun sesekali, diam-diam, aku masih bertanya pada Rio, bagaimana kabar Ririn.
Rio tentu bisa mengetahui hal itu, karena Rio berpacaran dengan Meta, teman Ririn.
Iya, jahat memang. Saat ini di depanki ada Nadin, namun aku masih penasaran dan bertanya-tanya tentang wanita lain.
“Kita jadi pergi hari ini?” Tanya Nadin padaku.
“Jadi, tapi bisakah aku duduk dan istirahat disini sebentar. Aku lelah.” Ucapku padanya.
Nadin menganggukkan kepalanya dan duduk disebelahku, sambil mengulurkan botol air mineral padaku.
“Kalian belum pulang?” Tanyaku pada Rio dan Bagas.
Stadion sudah cukup sunyi. Hanya tinggal beberapa orang yang masih tinggal di dalam stadion.
“Kami menunggu Meta dan Alin. Kami rencananya akan pergi nonton bersama. Kalian mau ikut?” Tanya Rio basa-basi pada kami.
“Bagaimana? Kamu mau ikut?” Tanyaku pada Nadin.
Nadin menggelengkan kepalanya, “Kamu sudah berjanji untuk jalan berdua denganku.” Ucapnya merajuk.
Aku mengusap kepalanya, “Iya, aku tau. Aku hanya bertanya.”
Aku lalu mengalihkan pandanganku ke Rio dan Bagas, “Kalian saja ya, aku tidak ikut.”
Mereka berdua mengangguk.
Aku, Rio, dan Bagas memutuskan mandi di Stadion.
Stadion Barat memiliki fasilitas untuk mandi. Karena stadion ini sering digunakan untuk latihn dan pertandingan.
“Ayo, kita pergi sekarang.” Ucapku pada Nadin.
Aku lantas berpamitan dengan Rio dan Bagas. Mereka masih menunggu Meta dan Alin sepertinya.
Aku dan Nadin berjalan melewati taman menuju parkiran mobil.
Saat sudah di dalam mobil dan hendak menjalankan mobil, Nadin tiba-tiba memegang tanganku, menyuruhku menghentikan gerakanku.
“Kenapa?” Tanyaku heran.
Nadin kemudian menoleh dan menatapku.
Tiba-tiba saja Nadin mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan bibirku.
Aku terkejut, tidak lama kemudian aku langsung memundurkan badanku.
“Makasih.” Ucapnya sambil tersenyum.
Nadin kemudian memakai sabuk pengamannya, “Ayo.” Ucapnya padaku.
“A-ah iya, Ayo.” Ucapku.
Bukankah aku harusnya menjerit kesenangan? Namun kenapa aku malah tidak bahagia? Semua perlakuan Nadin tidak bisa membuatku bahagia.
__ADS_1
To be continued...