
Note:
Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.
Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.
Semoga yang baca engga pada bingung ya.
Happy reading🌸
***
Aku menatap kosong langit-langit kamarku.
Masih terngiang kejadian tadi sore. Siapa perempuan tadi? Bima juga berdebar karena wanita tersebut.
Apa seperti ini yang dirasakan Bima ketika aku dekat dengan Dimas. Tersiksa.
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku ketika hpku bergetar.
Ternyata grup chat antara aku, Meta, dan Alin.
Meta
Guys, hot news! Hot news!
Alin
Apaan Ta?
Meta
Ririn mana nih? Aku seneng banget.
Ririn
Apaan? Heboh bener?
Meta
Jadi gini. Hehehe. Aku udah jadian sama kak Rio
Ririn
HAH?! Gercep bener
Alin
Wah ntaps.
Terus yang jomblo cuma aku dong?
Meta
Kamu gebet kak Bagas dong Lin
Alin
Apaann? Kok malah gebet si kuda itu?
Ririn
Kuda? Maksudnya?
Alin
Hadeh, mumpung kalian teman dekat aku. Aku kasi tau aja deh. Bagas itu kakak aku. Kakak kandung.
Meta
WANJAIII! Kok ga pernah bilang?
Alin
Ya gitu deh. Ribet kalo banyak yang tau aku adiknya si Bagas. Pasti banyak perempuan yang heboh minta deketin.
Ririn
Hahaha iya juga. Trio itu kan lumayan terkenal.
Alin
Iya Rin. Kalian jaga rahasia ya. Cuma kalian aja yang kukasi tau.
Ririn
Siap
Meta
Oke
__ADS_1
Ririn
Ohiya Ta. Selamat lah ya. Yang dikejar akhirnya tertangkap juga.
Alin
Memangnya ayam Rin, haha.
Meta
Uwaa, ga pedulii. Yang penting aku udah jadian sama kak Rio.
Aku tertawa membaca chat kami.
Hah, Meta sepertinya lancar dengan Kak Rio.
Aku?
Seperti masih ada yang mengganjal tentang hubungan kami.
Aku lantas mengisi daya handphoneku, lalu beranjak tidur.
Aku harus mencoba tidur dan melupakan masalah tadi sore.
Kalau memungkinkan, aku akan bertanya dengan Raka besok.
***
Sepertinya aku datang terlalu pagi hari ini.
Hanya beberapa siswa saja yang sudah datang ke sekolah.
Aku meletakkan tasku, kemudian berjalan ke arah UKS.
Aku ingin duduk di bangku di dekat UKS, suasana di sana sangat asik dan tenang.
Ketika sudah sampai terdengar suara perempuan yang sedang menelpon. Suaranya cukup keras sampai membuatku berhenti berjalan.
Aku langsung membalikkan badan, mengurungkan niat untuk duduk disana. Aku juga tidak ingin menguping pembicaraan tersebut.
“Aku engga gila! Aku engga gila! Mama sama papa apa udah engga sayang aku?”
Suara itu? Aku mengenalnya. Fany?
“Pak Del, bilang sama orang tua saya kalau mereka tidak pulang, aku akan bunuh diri.”
Aku yang hendak berjalan lantas menghentikan langkahku.
“Pak Del itu sekretaris papa dan mama saya. Apa tidak bisa sampaikan pesan saya tadi?”
“Bapak dan ibu sedang sibuk Fany.”
“Sibuk apasih? Lebih penting kerjaan atau anaknya?”
“Baiklah, nanti akan saya sampaikan.”
“Sampikan semua kata-kata saya. Tidak kurang dan tidak lebih.”
Fany lalu menutup telponnya. Aku masih berdiri cukup dekat dengan bangku yang diduduki Fany.
Karena tertutup tembok, aku tidak tau kalau Fany ternyata sudah bangkit dan hendak berjalan kembali ke kelasnya.
Fany langsung terkejut ketika melihatku. Aku? Tak kalah terkejutnya.
Aku merutuk dalam hati. Harusnya aku kembali saja ke kelas dari tadi.
Dia langsung mengubah ekspresinya, “Sedang apa kau?”
Aku menjawab dengan gelagapan, “Maaf kak. Tadi saya mau duduk di bangku tempat kakak duduk tadi. Tapi ternyata sudah ada kakak yang duduk disitu.”
“Kau mendengar percakapanku?”
“Tidak kak.” Ucapku berbohong.
Dia lantas menarik kerah bajuku, “Kau tau kalau kau berbohong, aku akan lebih parah menyiksamu.”
“Ma-maaf kak. Saya engga sengaja.”
Tiba-tiba saja Fany menamparku dengan keras, “Sudah tukang rebut, sekarang kau menguping pembicaraan orang?”
Aku terduduk di lantai sambil memegang pipiku yang terasa panas. Air mataku rasanya sudah mau jatuh dari kelopak mata.
Tiba-tiba Fany menarik rambutku kebelakang.
“Kalau tiba-tiba tersebar omonganku di telepon tadi. Kau yang habis. Hanya kau yang mendengarnya.”
Aku menganggukkan kepalaku ngeri.
Fany lantas melepaskan jambakannya dan meninggalkanku.
Aku masih terduduk di lantai. Masih syok dengan tamparan Fany tadi.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa?”
Aku menoleh ke arah suara. Ternyata Raka.
“Tidak apa-apa.” Ucapku sambil mencoba berdiri.
Raka yang melihatku kesulitan berdiri langsung menarik lenganku, membantuku untuk bangkit.
Namun aku menepis tangannya.
“Kau kesulitan berdiri begitu. Biar kubantu kau berdiri.” Ucapnya.
Aku menggelengkan kepalaku.
Raka tidak menggubsir omonganku, lantas tetap membantuku.
“Jangan ke kelas dulu. Pipimu masih merah. Kau tidak mungkin ke kelas seperti itu.” Ucapnya.
Aku mengambil handphoneku dan membuka aplikasi kamera.
Hah, sepertinya benar apa yang dibilang Raka.
“Duduk saja dulu di bangku itu.” Ucapnya sambil menunjuk bangku yang diduduki Fany tadi.
Aku mengangguk lantas berjalan ke arah bangku tersebut.
“Aku kembali ke kelas dulu ya.” Ucapnya kepadaku.
“Tunggu kak. Ada yang mau kutanyakan.” Ucapku membuatnya berhenti melangkah.
“Aku tau apa yang mau kau tanyakan. Tapi jawabannya harusnya bukan dariku. Tanya saja Bima.” Ucapnya.
“Engga bisa. Aku engga bisa nanya Bima. Cuma kakak yang bisa kutanya sekarang ini.”
Aku menatap matanya. Akupun mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang dipikirkannya.
Tentu akan mengurangi kerjaanku kalau ku ceritakan pada Ririn sekarang. Tentu Bima tidak akan mau cerita tentang Nadin.
“Baiklah akan kujelaskan.” Ucapnya sambil duduk di sebelahku.
“Jadi, dari mana harus kujelaskan?” Tanyanya.
“Siapa perempuan yang bersama kakak kemarin?” Tanyaku.
“Nadin.” Jawab Raka cepat
Aku terdiam mendengar jawabannya. Ternyata wanita itu Nadin.
“Kau tidak tanya siapa itu Nadin?” Tanya Raka lagi.
“Aku tau, dia mantan pacar Bima.” Jawabku pelan.
Raka menganggukkan kepalanya, “Lalu kau tau alasan mereka putus?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Dari awal masuk sekolah, Nadin sudah menaruh hati pada Bima, sama halnya dengan Bima. Aku sebagai abang Nadin dan juga Dimas, awalnya tidak setuju. Nadi..”
“Sebentar.” Ucapku memotong penjelasan Raka.
“Abang? Kakak abangnya Nadin? Bukannya kalian satu angkatan? Ahh, apa kalian kembar? Kak Dimas? Kalian sudah kenal sejak dulu?” Tanyaku terkejut.
Raka menganggukkan kepalanya, “Iya, aku dan Nadin kembar. Kami berdua kenal Dimas sejak SMP. Sejak itulah kami sering bertiga.”
Aku menatapnya tidak percaya, “Baiklah, lanjutkan. Maaf aku memotong pembicaraan kakak tadi.” Ucapku.
“Tidak apa-apa. Singkat cerita, Nadin dan Bima berpacaran. Aku dan Dimas awalnya ragu, tapi kami berdua bisa apa. Yang menjalani hubungan toh si Nadin dan Bima.”
“Nadin tidak tau bahaya yang mengintainya. Fany. Fany sudah kenal Bima sejak SD. Namun sepertinya Fany terobsesi dengan Bima. Merasa Bima hanya miliknya. Fany kemudian membully Nadin, sama seperti yang kau alami sekarang.”
Raka kemudian menatapku, “Setiap melihatmu disakiti, aku selalu teringat Nadin. Akhirnya Nadin tidak sanggup. Nadin mengalami penyakit mental, mengharuskannya untuk masuk rehabilitasi. Saat itulah aku dan Dimas sangat benci pada Bima.”
“Lalu, kenapa malah kakak yang ingin menyebarkan aku dan Bima berpacaran? Kakak bilang aku mengingatkan kakak dengan Nadin?” Tanyaku heran.
Dia tersenyum, “Sebelumnya, aku ingin minta maaf padamu. Aku tau kalian tidak berpacaran. Aku hanya memancing Bima. Aku ingin menjebaknya, memasukkanku ke grup inti, lalu aku mengacaukannya, aku tentu akan di salahkan, namun Bimapun tidak akan lepas dari tanggung jawab itu.”
“Kenapa kakak jahat sekali?” Ucapku spontan. Aku langsung menutup mulutku.
Raka hanya tertawa, “Iya, aku jahat. Saat itulah aku sadar kalau itu tidak benar. Namun emosiku tersulut kembali ketika di kantin. Dia malah mencoba mati-matian melindungimu, entah apa alasannya. Disatu sisi, Nadin sedang berjuang dengan penyakit mentalnya agar dia bisa berdiri lagi di depan Bima dengan normal. Namun Bima malah sudah berpindah hati padamu.”
Aku masih belum mendengar cerita lengkapnya, namun bel tanda masuk sudah berbunyi. Aku mendesah kecewa.
Kapan lagi aku bisa menanyakan banyak info seperti ini.
Aku lantas bangkit dari dudukku, “Kak, saya kembali ke kelas duluan ya.”
“Nadin sudah kembali. Putuslah dengan Bima. Sebelum kau yang semakin terluka. Nadin dan Bima masih saling menyukai.” Ucap Raka membuatku menghentikan langkahku.
Aku mengerutkan kening dan tidak menggubsir omongannya. Aku lalu berjalan meninggalkan Raka yang masih terus menatapku.
Benarkah? Benarkah apa yang dikatakan Raka? Nadin dan Bima masih saling menyukai?
__ADS_1
To be continued..