GARIS

GARIS
17 - Ririn


__ADS_3

Note:


Tulisan Italic (Aaaa): ucapan dalam hati.


Tulisan Italic Bold (Aaaa): Isi pikiran seseorang.


Semoga yang baca engga pada bingung ya.


Happy reading🌸


***


“Ayolah Rin. Sudah putus atau belum itu kan urusan belakangan. Kau sudah janji akan datang ke pertandingan hari ini.” Ucap Meta padaku.


Saat ini Alin, Meta, dan Rio sedang dirumahku. Saat kubilang aku tidak mau datang ke pertandingan, Meta langsung mencak-mencak dan memaksaku untuk tetap ikut. Dia bahkan mengancam akan menyeretku dari rumah.


“Haduh, hari minggu begini, aku kepinginnya nyantai dirumah.” Ucapku malas. Walaupun tentu saja bukan itu alasan utamanya.


“Ririn. Aku tau alasanmu tidak mau ikut. Tapi bukankah untuk sekadar datang dan menberi semangat tidak masalah?” tanya Alin padaku.


Aku menimbang kata-kata Alin. Apa yang dikatakan Alin ada benarnya. Dari awal, aku sudah berjanji akan datang ke pertandingan Bima hari ini.


Setelah putus dari Bima minggu lalu. Aku langsung memberitahu Alin dan Meta.


Alin dan Meta tentu terkejut. Mereka seperti tidak yakin dengan apa yang kubilang.


Alin dan Meta menanyakan alasanku putus dengan Bima. Aku pun mengatakan pada mereka alasannya.


Bahwa aku tidak tahan di bully Fany kalau terus berpacaran dengan Bima.


Alin dan Meta sepertinya tau kalau bukan hanya itu alasan yang membuatku putus dengan Bima, namun mereka beruda tidak terlalu mengorek lebih dalam.


Tentu saja aku tidak memberitahu satu alasan lagi. Alasan utamaku memutuskan Bima. Nadin.


Entah kenapa, aku merasa seperti penghalang bagi Bima dan Nadin.


Aku merasa Bima bersamaku hanya karena embel-embel ‘pasangan yang sudah digariskan’.


“Bagaimana? Kau mau ikut?” Tanya Alin padaku membuat lamunanku buyar.


Aku akhirnya menganggukkan kepala, “Baiklah. Tunggu sebentar ya. Aku ganti baju.”


Tidak ada salahnya untuk hanya menonton pertandingan. Aku bisa saja tidak usah berjumpa dengan Bima.


Aku lantas berlari ke arah kamarku dan mengganti bajuku. Aku hanya berganti dengan kaos dan celana jins.


Setelah berganti baju, aku keluar dari kamar dan berpamitan pada mama.


“Ma, Ririn pergi ke Stadion Barat ya. Mau nonton pertandingan basket.” Ucapku kepada mama yang sedang berada di dapur.


Mama menganggukkan kepalanya, “Iya. Hati-hatiya. Pulangnya jangan malam-malam sekali.”


Aku mengangguk lalu berjalan ke arah ruang tamu, “Yuk. Kita pergi sekarang.”


Meta, Alin, dan Rio lantas berdiri secara berbarengan.


Semangat sekali mereka, pikirku.


***


Pertandingan hari ini cukup bagus bagi sekolah kami. Namun, masih banyak tahapan lagi untuk mencapai kemenangan.

__ADS_1


Bima sebagai kapten bermain sangat bagus. Aku berkali-kali mengagumi Bima dalam hati.


Pantas saja Bima terkenal di penjuru sekolah. Ketika sudah bertanding, Bima keren sekali.


Aku kemudian bangkit dari kursi penonton, “Ayo. Kita pulang. Sudah jam 5, sudah sore.” Ucapku pada mereka bertiga.


Rio menahan gerakanku, “Eh, sebentar Rin. Kita jumpai Bima sama Bagas bentar ya.”


Aku menggelengkan kepalaku, “Aku tunggu di luar saja ya.”


“Ayolah, sebentar saja.” Ucap Rio membujukku.


Aku tetap menggelengkan kepala.


“Kalau kalian mau jumpain Bagas dan Bima ya sudah. Aku nunggu diluar saja. Tidak masalah kok.” Ucapku meyakinkan.


“Kalau begitu Rio saja. Aku dan Alin nemenin kamu diluar.” Ucap Meta padaku.


“Engga apa-apa. Kalau jumpain lah Bima dan Bagas, ucapkan selamat atas kemenangan mereka. Aku tunggu diluar saja. Sungguh, aku tidak apa-apa.” Ucapku meyakinkan mereka bertiga.


Meta, Alin, dan Rio hanya saling pandang kemudian mengangguk.


“Baiklah, kau tunggu di tempat yang mudah kami ketahui ya.” Ucap Rio.


Aku mengangguk, lantas berjalan ke luar stadion.


Aku berjalan keluar Stadion Barat. Mataku mengedarkan pandangan ke penjuru taman di luar Stadion.


Masih ada beberapa orang yang duduk duduk di sekitar stadion, pedagang kaki lima yang menjual beberapa makanan, dan juga beberapa orang yang berolahraga di sekitar stadion.


Perpaduan semua hal itu membuat suasana di sekitar stadion sangan menyenangkan.


Aku melihat ke arah pohon yang berada di sebelah kananku. Saat itulah mataku bertatapan dengan seorang wanita. Wanita itu adalah Nadin.


“Hai, kenalkan. Aku Nadin. Kita pernah berjumpa di Ras Plaza bukan?” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.


Aku menjabat tangannya, “Ah, Iya. Namaku Ririn.” Ucapku pelan.


Perbandingan aku dan Nadin seperti langut dan bumi. Berbeda sekali sekali aku dengannya.


Nadin yang sangat cantik dengan rambut hitam sepinggangnya, senyumnya, keramahannya.


Tentu saja banyak laki-laki yang akan mengejarnya. Sedangkan aku? Kalian tau sendiri lah. Pas-pasan.


Mungkin orang hanya akan sekedar lewat jika melihat atau berpapasang denganku.


“Kamu habis nonton pertandingan sekolah kamu?” Tanyanya memecahkan lamunanku.


Aku menganggukkan kepala, “Iya, kalau kamu?” Tanyaku padanya.


“Aku juga menonton pertandingan sekolahku. Juga untuk bertemu dengan seseorang.” Ucapnya sambil tersenyum.


Degh. Apakah Bima?


Aku langsung menepis pikiran tersebut.


“Jadi kamu sekolah di SMA Bintang?” Tanyaku.


Hari ini SMA kami bertanding dengan SMA Bintang.


Nadin mengangguk, “Iya, walaupun aku anak pindahan, tentu aku harus tetap mendukung sekolahku yang sekarang, walaupun melawan sekolahku yang dulu.”

__ADS_1


“Lalu, siapa yang ingin kau temui?” Tanyaku hati-hati.


“Kau tentu kenal dengannya. Waktu itu aku bertemu kau dengan Bima. Kau pasti temannya Bima kan? Aku ingin bertemu dengan Bima.” Ucapnya dengan semangat.


Seketika aku langsung merasa lemas. Apa benar yang dikatakan Raka? Nadin juga masih menaruh hati pada Bima?


Tiba-tiba saja aku ingin sekali membaca pikirannya. Aku ingin mengetahui apa yang dia pikirkan tentangku.


Saat mataku bertatapan dengan matanya, aku mulai mencobanya.


Bukalah.


1 detik, 2 detik, 3 detik.


Hah? Kenapa tidak bisa?


Bukalah.


Bukalah!


Bukalah.


Nadin tiba-tiba saja tersenyum.


“Sepertinya kau pemilik kekuatan juga ya?” Tanyanya.


Aku langsung terkejut mendengar pertanyaannya.


“Apa maksudmu?” Tanyaku heran.


Nadin menatap mataku, “Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku padamu. Kau tentu tau kalau kita tidak bisa menggunakan kekuatan kita pada sesama pemilik kekuatan.”


“Ak-aku.. Kau? Apa maksudnya? Kamu pemilik kekuatan seperti apa?” Tanyaku masih dengan keterkejutan.


“Inti dari kekuatanku adalah mata. Menatap mata orang bisa membuatku merasakan apa yang dirasakan orang. Aku tidak terlalu sering menggunakannya. Rasanya tidak enak tiba-tiba saja moodmu berubah karena mencoba kekuatan. Apa kekuatanmu berhubungan dengan mata juga?”


Aku mengangguk, “Iya, aku bisa membaca isi pikiran orang.” Ucapku.


Ternyata benar kata Bima. Ada pemilik kekuatan lain diluar sana. Namun aku tidak menyangka bahwa orang lain itu adalah Nadin.


“Kau keturunan ke berapa?” Tanyanya.


“Ke-20.”


“Apa kau juga pernah mendengar tentang garis takdir, Rin? Tentang pasangan yang digariskan untukmu?” Tanyanya antusias


Aku menganggukkan kepalaku. Tentu saja aku tau, pasangan takdirku adalah Bima.


“Apa kau sudah menemukan pasanganmu?” Tanya Nadin senang.


Aku menganggukkan kepala lagi. Bagaimana gadis ini bisa senang sekali menanyakan hal itu. Padahal laki-laki yang ingin di jumpainya adalah pasanganku.


Bagaimana aku harus memberitahunya?


“Wah, aku juga sudah menemukan pasanganku.” Ucapnya antusias.


Aku mengerutkan keningku, “Siapa?”


Dia menunjukkan telunjuknya ke satu arah. Telunjuknya mengarah ke satu orang yang baru saja keluar dari stadion.


“Bima.” Ucapnya sambil tersenyum padaku.

__ADS_1


To be continued..


__ADS_2