
"Kemarin malam aku pergi ke ibu kota untuk membeli beberapa barang, tak di kira suasana nya begitu ramai. Banyak lampu-lampu menyala ber iringan, mobil mengantre agar dapat keluar dari macetnya jalanan bersama dengan bunyi klakson yang memecahkan telinga, tak dapat terlupa saat gedung-gedung berkilau membias udara malam menjadi kerut imajinasi. Mungkin kau akan suka saat mencium harumnya minyak wangi di setiap depan minimarket, banyak sekali wanita dengan pakaian terbuka menyapa."
Adikku hanya bisa mendengarkan tanpa melihat apa yang sebenarnya aku bicarakan. Ia sudah lumpuh sendari lahir, matanya buta, dan tidak memiliki tangan. Apa yang tuhan lakukan saat membuatnya? Apa la tidak kasihan pada nasibnya? Atau, tak mau memperlitkan dunia ciptaannya, yang dulu indah sekarang sudah rusak dan tak pantas lagi untuk di lihat oleh mata? Tetapi, tetap saja aku merasa begitu kasihan saat memandangi nya.
"Ingin sekali aku mendengar keramaian yang sering kakak bicarakan." ia menudukkan kepala dengan seyuman, rasa ingin yang begitu sangat terpancar dari lengkungan bibir.
Sudah cukup bagi nya mendengar suara nyanyian tembok bisu, curhatan para kutu busuk di bawah kasur, dan hinaan angin di luar jendela. Malam ini adalah waktu-waktu terakhir bagi hidup nya, sebuah penyakit misteryus sukses menambah segala penderitaan di kehidupan yang sangat tidak adil.
Harus aku akui, mustahil untuk membawa ke kota, terlalu banyak orang jahat, kata-kata kasar menghancurkan hati, dan makian keras di balik mobil mewah. Takut jikalau ia sedih, karena semua tentang kota itu tak sepenuhnya benar. tak semua yang dapat terdengar nyaman di telinga, tak sedikit tangan-tangan yang bukan membantu orang, wanita-wanita yang menyapaku bukanlah wanita yang baik untuk di lihat. Ia pasti akan sangat kecewa saat mendengar semuanya secara langsung. Namun, sebuah siasat terbisik di benak saat melihat sebuah botol bekas tergeletak di lantai kamar kusam. Aku tak harus membawa adikku ke kota yang sangat kejam, aku hanya perlu membawakan suara baik dari orang-orang di sana. ia akan suka mendengarnya sendiri, saat suatu hal yang hanya bisa di dengar sebelum tidur, namun sekarang benar-benar nyata di gedang telinganya.
"Aku mau pergi dulu!"
Bergegas botol itu ku raih dengan mantap, berlari sebiasa mungkin agar dapat apa yang di cari. Gang-gang sempit nan gelap penuh dengan kecowa, lampu jalanan berkedip-kedip saat kaki melewatinya, angin malam kejam menusuk tubuhku, tapi aku harus terus berlari agar dapat menemukan suara-suara penghias kota lalu memasukan nya ke dalam botol untuk adikku tercinta.
Beberapa cahaya di langit malam telah terlihat begitu indah, membias di langit gelap tak berbintang layaknya aurora sintetis indah namun palsu. suara klakson berkelekar memecahkan telinga dari sana, terus menerus berkumandang ter iringi suara umpatan para pengendara di dalam kemudi. Aku harus terus berhati-hati agar tidak memasukan suara umpatan yang dapat melukai jiwa lembut adikku, hanya suara orang baik dengan kelembutan bagi orang baik pula, yang harus aku masukan ke dalam sini.
Tepi jalan... Di sana ada sebuah lestoran pizza, ramai sekali, penuh dengan orang-orang kelaparan. Banyak di antaranya tersenyum sambil berbincang-bincang dengan sanak keluarga, tentu ada sekotak pizza yang telah terpotong menengahi percakapan. Cekatan, ku buka tutup botol dan mengambil semua suara baik di tempat itu, hingga yang bisa di dengar adalah suara omelan dari juru masak di bagian dapur. ia mengomel tentang para pekerja lamban saat di jam-jam sibuk seperti ini, ada juga gosip-gosip jahat para pelanggan saat sedang memakan pizza. Tak lagi nyaman memandangi tempat itu lama-lama, walaupun semua lampu indah bersinar menyinari nama "Pizza alex", tetap saja aku tak mau berlama-lama saat tak ada suara baik di sana. Terlebih telinggaku terasa di iris saat membiarkan suara-suara itu masuk ke dalam botol.
Jalanan begitu ramai akan para pedagang kaki lima, pelanggan mereka sedang menikmati segala jajanan sembari duduk di kursi kayu panjang. Suasana remang-remang teriris oleh setiap lampu mobil cepat, harum soto di arah kananku dan bau kenalpot mobil sakit di kiriku. Bau itu membuatku mula, ingin segera pergi ke tempat lain. Hanya saja, banyak orang yang terus berkata-kata sembari menyeruput secangkir kopi Hitam... Kata-kata mereka sangat ramah, seru, dan tak akan bosa bila terus di renungkan. Cerita tentang anak-anak, masa muda, tempat jauh, dan perasaan cinta terhadap segenap anggota keluarga.
Sekencang angin, seperti sebuah kelincir yang berputar di sebuah ngarai gelap. Aku mengambil suara baik dari tempat itu, semua orang di sana sangatlah baik jikalau berucap. Saat semua suara baik habis terenggut, tak ada suara lain yang dapat ku dengar. Tak ada orang dengan mulut busuk berdiam diri di sana, hanya orang baik yang sedang menghibur diri dengan secangkir kopi hitam serta semangkuk soto. Sangat sunyi, Bah di dalam telinga orang tuli.
__ADS_1
Karena sudah banyak suara baik terkumpul dalam botol ini, jadi tak perlu berhati-hati bagiku mengambil yang lainnya, prihal tak mungkin suara jahat ingin berkumpul dengan ratusan suara baik serta lembut.
Tempat selanjutnya akan sangat menyenangkan adikku, tak kira banyak sekali pembicaran baik terkumpul di sana. Itu adalah gedung penyiaran, orang-orang biasa membuat sebuah acara berita pada gedung ini. Pasti! Pasti! Akan banyak suara-suara indah tergolek antara goresan tinta hitam dengan kertas putih di sana. cepat! aku harus cepat mengambil semua itu, takut jikalau adikku sudah tak lagi berada di dunia ini.
Kiranya Masuk ke dalam gedung tinggi itu lewat pintu belakang yang tak terjaga betul, mengendap-edap sembari menjijitkan kedua kaki agar meredam suara. Menaiki anak tangga yabg berjibun tak terhitung jari, memegang pegangan besi dingin agar tak tergelincir, dan menundukan kepala saat seaeorang turun berpapasan dengan ku. Semua itu demi menyenangkan hati adikku yang sudah letih berdetak menghidupi tubuh lemah tak beraya, mungkin itu adalah jalan terbaik untuk mengakhiri segala siksaan dari dunia.
"Seorang pelajar berhasil menciptakan sebuah robot yang dapat membantu para lansia." seorang wanita bersetelan rapi tersenyum ke arah sebuah kamera, ia tak henti tersenyum sembari menata keretas berita di hadapanya.
Tutup botol itu ku buka cepat selagi mereka membawakan berita, semua kata-kata baik tersedot ke dalam sana. Semua tentang kebaikan bangsa ini tersedot, wanita pembawa berita berusaha keras mengeluarkan bait-bait berita baik tanpa suara, hanya gerakan bibir tak bermakna. Semua orang di sana kaget akan hal itu, pujian atasan, berita kegembiraan, candaan hiburan, dan semua nya, tersedot ke dalam botol yang sedang ku bawa ini.
"Siapa kau?! Kenapa kau bisa ke sini?!! pasti akan mencuri sesuatu di sinikan!!!" seorang sekuriti memukul-mukul pelan pentongan ke tangannya sendiri.
Tanpa berpikir panjang, berlari ke luar gedung,melewati anak tangga yang sama, hanya saja tanpa sebuah rem untuk menghentikan nya. Adikku harus tahu jikalau sebuah suara-suara baik tidak seringan yang orang sering bicarakan, terlebih semua tertumpuk di dalam sebuah botol bekas. Berita terdengar kembali di gedung, hanya saja berita itu bukanlah sesuatu yang nyaman di telinga. kasus korupsi, perampokan, pembegalan, pemutilasian, pemerkosaan, dan kasus yang saling hina menghina antara orang di atas, tak ada hal menyenangkan di kata-kata itu.
Tak ada hambatan saat di jalan menuju pulang, semuanya lancar jaya, seolah tuhan telah memberikan restu akan tindakan hina ini. Berlari menuju tempat ia berada, memahan rasa sakit di dada akibat nafas yang terus aku buang sia-sia. Adikku masih di sana, menengok ke arah jendela yang mengarah jauh ke kota tempat mengabil suara-suara baik.
"Kenapa kau belum tidur? Apa kau tak lelah?"
Ia tersenyum mendengar suaraku mendekat. Wahai tuhan yang maha esa... kenapa kau akan ambil senyuman itu dariku secepat ini? Apa kau juga ingin selalu melihatnya setiap hari, sama sepertiku?
"Bagaimana mungkin aku bisa tidur saat di mana aku tahu jikalau malam ini adalah malam terakhir bagi diriku, sangat di sayangkan jikalau waktuku habis untuk tidur."
__ADS_1
"Kau benar. Ngomong-ngomong aku baru saja pergi ke kota lagi, tapi kali ini aku membawa sesuatu untuk mu."
"Apa itu?"
Perlahan aku mendekat ke kasur tempatnya berbaring tak berdaya, duduk di sisinya lalu memgusap pelan rambut hitam penuh miyak itu. Aku harap adikku akan menyukai semua suara baik yang telah aku kumpulkan di dalam botol ini.
"Apa itu cerita baru?"
"Bukan. Ini lebih baik dari itu. Ini adalah suara-suara yang pernah aku ceritakan padamu."
"Benarkah?!"
"Tentu saja."
Perlahan botol penuh suara di dekatkan pada telinga kanan adikku, lalu dengan sangat rapuh tangan yang menutup botol terangkat. Seperti sebuah bisikan penyihir mimpi dari nergri jauh, menenangkan seluruh hasrat dalam hidup adikku.
Aku hanya bisa mendengar beberapa suara yang keluar dari sana, ada suara suka cita seorang pasien yang sembuh dari kangker, seorang ibu yang baru saja melahirkan, tangisan bayi yang baru lahir, pedagang yang sedang berkelekar, kisah cinta, dan segala ucapan baik yang bisa membuat hati tentram.
Sungguh sangat terkejut, jikalau ia akan pergi saat usai mendengar seluruh kata di dalam botol.
----
__ADS_1
Setahun kemudian, makam adikku sudah sangat kering serta berjibun rumput-rumput liar tubuh di atasnya. Botol bekas mengambil suara baik di ibu kota ikut terkubur dengan jasad nya yang telah dingin. Rasa bersalah memenuhi seluruh tubuh ini, ingin aku kembalikan semua yang telah terambil oleh botol itu, Tapi... Semua mustahil.
Langkah kaki mendayu menelusuri jalan menuju kota. Semua tampak tak lagi sama, karena sudah habis, tak tersisa suara-suara baik di sana. Tapi aku yakin... Suatu saat nanti, ibu kota akan di penuhi dengan suara baik lagi seperti semula, Bukan malah di bandingkan dengan kekejaman seorang ibu tiri.