
“Bim! Kau dimana?! Yang benar saja. Aku sudah mau ijab kabul kau belum sampai.”
Aku tertawa kecil mendengar ucapan kesal Rio.
Hari ini Rio dan Meta akhirnya melangsungkan pernikahan. Setelah putus sambung yang mereka lalui, akhirnya beberapa bulan yang lalu Rio melamar Meta.
“Sabar, aku sedang menunggu Fany. Aku tidak tega harus membawa Aqilla sekarang. Dia akan terlalu bosan bila terlalu lama disana.”
“Kau bilang acara pernikahanku membosankan? Jantungku serasa mau lepas, kau bilang acaraku membosankan?” Tanya Rio kesal.
Aku tertawa keras mendengar ucapan Rio. Sepertinya Rio sangat tegang sekarang.
“Santailah kawan, ah ini dia, Fany sudah datang. Aku berangkat sekarang.”
Aku lantas mematikan sambungan teleponku dengan Rio.
“Maaf, Bim. Mobilku di tabrak oleh pengendara motor tadi.” Ucap Fany.
“Tidak masalah Fany. Aku titip Aqilla ya. Kalian datang siang saja, kasihan Aqilla bila terlalu lama di tempat ramai.” Ucapku pada Fany.
Fany tersenyum padaku.
“Tanteeee, Om Bayu mana?” Tanya Aqilla yang berlari kepelukan Fany.
Saat itulah seorang pria memasuki rumah dan berjalan ke arah Fany dan Aqilla yang sedang berpelukan.
“Halo, cantik.” Ucap Bayu pada Aqilla.
Aqilla hanya tersenyum sipu mendengar pujian Bayu. Aqilla sangat suka dipuji.
Bayu adalah suami Fany. Beberapa tahun yang lalu Fany menghampiriku dan Nadin.
Ia meminta maaf padaku dan Nadin atas sikapnya ketika masih di SMA.
Ia lantas menjelaskan tentang penyakit mental yang dideritanya. Orang tuanya tidak perduli dengan kondisinya.
Namun ketika Fany direhabilitasi, orang tuanya menghabiskan banyak waktu dengannya.
Orang tua Fany terlalu sibuk dengan kerjaan mereka. Mereka melakukan hal itu untuk kebahagian Fany. Namun sepertinya akhirnya mereka sadar bahwa mereka salah.
Perlahan, Fany mulai pulih dari kondisinya dan bertemu Bayu. Mereka menikah 1 tahun setelah aku dan Nadin menikah.
Saat itulah aku tersadar, “Fany, aku kemarin berjumpa dengan Ririn. Dari dulu kau bertanya tentang keberadaan Ririn. Kau bilang kau ingin meminta maaf juga padanya.”
“Kau berjumpa dengannya dimana? Apa kau tau sekarang dia dimana?” Tanya Fany terkejut.
“Di rumah sakit. Aku tidak tau dia dimana. Coba kau tanya pada Dimas. Aku bertemu Fany dan Dimas. Sepertinya..mereka masih saling berhubungan.”
Setelah Fany meminta maaf padaku dan Nadin, entah bagaimana ceritanya kami menjadi dekat.
Setelah kematian Nadin, Fany juga menjadi teman ceritaku, dan menjadi penolongku ketika aku membutuhkan bantuannya, seperti menjaga Aqilla seperti sekarang.
“Kau...masih punya perasaan padanya?” Tanya Fany sambil menepuk pundakku pelan.
“Aku tidak tau. Entah karena sudah lama tidak berjumpa, atau karena rindu, atau karena aku masih menaruh rasa padanya. Tiap berpikiran bahwa aku rindu atau masih mencintainya, aku merasa sangat bersalah pada Nadin. Dan juga Aqilla.”
Fany mengangguk mendengar ucapanku. Fany kemudian menyuruh Bayu untuk mengajak Aqilla bermain di tempat lain. Bayu menganggukkan kepalanya.
Fany menarik tanganku untuk duduk disebelahnya.
“Aku mungkin tidak tau apa yang sedang kau rasakan sekarang. Namun yang bisa kukatakan padamu adalah, Nadin mungkin akan sedih melihat kondisimu sekarang. Bukankah Nadin mengatakan untuk mencari wanita yang memang kau cintai?”
Aku menganggukkan kepala mendengar ucapan Fany.
__ADS_1
“Nadin mungkin tau itu akan menjadi pesan terakhirnya. Nadin tentu ingin kau bahagia, Bim. Nadin tentu ingin ada wanita yang bisa menggantikan perannya disisimu. Wanita yang menjadi istri dan ibu bagi anak kalian. Dan wanita itu adalah Ririn.”
Aku menghela napas keras, “Ririn sepertinya memiliki hubungan dengan Dimas.” Ucapku.
“Apa kau sudah menanyakannya?”
Aku menggelengkan kepala, “Belum.”
“Berarti kau tidak bisa membuat spekulasi sendiri. Bila Ririn masih sendiri, kejar. Kalau ia sudah memiliki pasangan, ikhlaskan. Kau mengerti?” Ucap Fany tegas.
“Aku mengerti, tenang saja. Aku tidak akan merebut wanita yang sudah menjadi milik orang lain.”
Fany menempuk punggung Bima, “Bagus. Aku akan menanyakan pada Dimas tentang keberadaan Fany dan hubungan mereka. Sekarang kau harus pergi. Rio tentu akan mencecarmu bila kau tidak berangkat sekarang.”
Aku tertawa mendengar ucapan Fany.
“Baiklah, aku pergi. Titip Aqilla ya.”
Fany mengangguk dan melambaikan tangannya.
***
“Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulillah.”
Alhamdulillah, penghulu akhirnya membacakan doa setelah ijab kabul.
Aku melihat Rio dan Meta yang sedang duduk di salah satu bangku, menandatangani buku nikah mereka.
Aku lantas mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.
“Kau mencari siapa, Bim?” Tanya Bagas yang duduk di sampingku.
“Hah? Ah tidak, aku tidak mencari siapa-siapa.” Ucapku gelagapan.
Mataku lalu beralih ke Alin yang duduk di samping Bagas.
Alin adalah sahabat Ririn, apa Alin tau keberadaan Ririn ya? Apa Ririn tidak datang ke Acara pernikahan Meta? Batinku.
Namun baru aku akan membuka mulutku, sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari arah kananku.
“Ah sayang sekali. Kami sepertinya terlambat ya?”
Aku menolehkan kepalaku ke sumber suara. Benar saja, itu adalah Ririn.
Namun sepertinya Ririn tidak menyadari bahwa aku duduk di samping Bagas, karena aku memunggungi arah datangnya Ririn.
Setelah beberapa lama, akhirnya Ririn sadar dengan keberadaanku. Ririn terkejut melihatku. Namun ia langsung menetralkan wajahnya.
“Hai, kak. Apa kabar?” Tanya Ririn padaku.
Aku sudah merasa senang ketika mengira Ririn akan duduk di sampingku.
Namun Dimas datang menyusul Ririn dan malah duduk di sampingku dan Ririn duduk di sebelah Dimas.
Setelah menandatangani buku nikah. Mc mempersilahkan keluarga dan teman-teman Rio dan Meta untuk berfoto dengan mereka.
Lambat laun aula pernikahan mulai dipadati oleh tamu. Aku, Bagas, Alin, Ririn, dan Dimas duduk di salah satu meja bundar yang memang disediakan oleh Rio dan Meta. Untuk teman terdekat kata mereka.
Aku mengedarkan pandanganku lagi untuk mencari Ririn. Barusan Ririn bilang ia ingin ke toilet, namun sudah cukup lama Ririn tidak juga kembali.
__ADS_1
“Mana Aqilla, Bim?” Tanya Dimas padaku.
“Aqilla akan datang bersama Fany nanti.”
Dimas menganggukkan kepala mendengar jawabanku.
Saat itulah aku merasakan getaran di saku celanaku. Aku membaca pesan tersebut dan bangkit dari dudukku.
“Sebentar ya, Fany bilang mereka sudah sampai, tapi Aqilla merengek tidak mau turun.” Ucapku pada keempat temanku.
Mereka menganggukkan kepala.
Namun baru saja aku keluar aula, aku melihat Ririn yang baru saja akan masuk kembali ke dalam aula.
Gedung pernikahan ini sebenarnya cukup besar. Untuk satu gedung, terdapat 4 aula yang cukup besar.
Ririn yang melihatku hanya tersenyum sekilas dan hendak melewatiku. Namun aku dengan cepat menggenggam tangannya.
Ririn yang merasakan tangannya digenggam langsung menatap risih padaku.
“Ah, maafkan aku.” Ucapku sambil melepas genggamanku.
“Ada apa kak?” Tanya Ririn.
“Aku hanya ingin menanyakan kabarmu.” Ucapku gugup.
“Kabarku baik. Bagaimana dengan kakak?”
“Kabarku juga baik.”
Setelah itu terdapat keheningan di antara kami.
Astaga, sejak kapan kau menjadi kaku begini Bima. Batinku.
“Kalau begitu aku kembali ke dalam ya kak.” Ucap Ririn.
“Tunggu!” Ucapku menahan langkahnya, “Aku tidak pernah mendengar kabarmu. Apa kegiatanmu sekarang, Rin? Jangan salah mengira, aku hanya ingin menanyakan kabar.” Ucapku gelagapan.
Mungkin aku tidak perlu menambahkan kata-kata terakhir tadi. Namun karena terlalu gugup, aku malah mengeluarkan semua kata-kata yang ada dipikiranku.
“Aku bekerja di salah satu maskapai penerbangan, kak. Aku pramugari.” Ucap Ririn.
Aku menatapnya tidak percaya, “Pramugari? Bukankah kamu ingin menjadi arsitektur?”
Ririn tersenyum kecut mendengar ucapanku, “Itu hanya cita-cita lama kak. Bagaimana dengan kakak?” Tanya Ririn.
Namun sesaat dia teringat dengan kejadian baru-baru ini, “Ah iya, kakak sudah menjadi dokter. Aku lupa. Terima kasih untuk waktu itu kak.”
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ririn.
“Papaa!”
Suara tersebut membuatku menoleh ke arah suara.
Aqilla langsung berlari dan memelukku. Aqilla kemudian menatap Ririn dengan wajah bingung.
“Tante siapa?” Tanya Aqilla bingung.
Aku menolehkan wajahku dan menatap Ririn. Ririn menatap Aqilla dan menatapku secara bergantian kemudian berjalan keluar gedung.
Ada apa dengannya? Batinku bingung.
To be continued..
__ADS_1