GARIS

GARIS
Gurun dunia dan segelas air putih


__ADS_3

Jikalau datang sebuah jin biru dari sang angkasa, memberikan satu permohonan secara cuma-cuma, maka aku memohon untuk di carikan segelas air di dunia. Apa jin biru mampu mengabulkan permohonan itu? Atau malah tertawa-tawa seraya mengapung ke angkasa, kabur dari permintaan yang sangat sukar ini?


Hanya segelas air putih di gurun dunia... hanya itu yang ingin aku temui seumur hidupku, benar-benar hanya itu...


Menurut dongeng kuno, dulu dunia di penuhi oleh air, tak hanya segelas, tak kira lebih banyak air di banding daratan. mahluk-mahluk lain bernama "ikan" hidup di dalamnya. akan tetapi, karena keserakahan nenek moyang yang terus menggali lebih dalam ke dasar tanah, mengambil air hitam pekat serta bau, yaitu; darah dari dunia. menumpahkan-nya ke air lain, melalaikan begitu saja, seolah tak mengetahui akibat dari perbuatan hina itu. Dewa murka... Begitu murka pada para nenek moyang serakah kita. Pada akhirnya, sang dewa agung melontarkan seluruh air di dunia, menempelkan ke langit, menjadikan-nya sebuah cermin yang menitari seluruh arah. Tak ada lagi malam, hanya sinar yang terus-menerus memantul dari waktu ke waktu, membunuh seluruh kehidupan, menghancurkan bebatuan, namun menghidupkan para nenek moyang. Dan menurut dongeng kuno, para nenek moyang memiliki kulit, rambut, kaki, tangan, lalu sesuatu yang di sebut hidung. Bagaimana bentuknya? aku tak tahu... Bahkan membayangkan saja tak bisa.


Sudah ratusan ribu padang pasir dunia ku putari, tak terlihat tanda-tanda dari segelas air, ataupun setes. Kala menengok ke angkasa, aku bisa melihat refleksi bayangan sendiri dari cermin raksasa. begitu menyedihkan, hanya seonggok ketuat merah lonjong, dengan sepasang mata, telinga-telinga kecil runcing. Para nenek moyang akan menganggapku sebagai mahluk lain, kalau tak salah nama mahluk itu ulat? atau mungkin cacing? Entahlah, aku belum melihat sesuatu yang lain di dunia, selain dari butiran ***** pasir panas di antara perut panjang.


Hanya segelas air putih di gurun dunia... hanya itu yang ingin aku temui seumur hidupku, benar-benar hanya itu...


"Apa benar saat air melintasi tenggorokan, rasanya sangatlah nikmat? Apa benar saat kita menaruh air ke dalam wadah berbeda, air akan meniru bentuk wadah itu? Apa benar, saat kita menyinari air maka sinar akan menembusnya? Apa benar... Di dunia gurun ini ada segelas air? Siapapun tolong jawab aku! rasa penasaran ini tak mau terus terpikul sampai nanti mati!! Kumohon, tolong jawab pertanyaan-pertanyaan ku ini... Ku mohon..."


"Semua itu benar adanya..."


"Siapa yang ada di sana?!"


Suara dari balik cermin memeranjatkan ku. Apa ada kehidupan di balik cermin raksasa itu? Apa kehidupan di sana lebih baik dari gurun dunia? Rasa panas akibat gesekan butiran pasir tak lagi terasa, siksaan abadi dari sang gurun dunia mulai sirnah, terganti oleh rasa penasaran yang teramat karena suara di balik cermin.

__ADS_1


"Siapa kau? Apa kau ada di balik cermin?" tanyaku penasaran.


"Aku tak punya nama, yah... Aku ada di balik cermin, sebuah cermin besar yang menghalangi ku untuk turun ke bawah sana."


"Seberapa besar cermin di sana?"


"Tak berujung."


"Kita bernasib sama."


Untuk pertama kalinya ada mahluk lain yang bisa di ajak berbicara. Ini adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan informasi tentang dunia balik cermin, apa di sana ada segelas air untuk ku lihat? Atau sama seperti gurun dunia gersang yang selalu ku tempati?


"Hahahaha....!!" mahluk di balik cermin tertawa begitu keras saat mendengar pertanyaan dari ku.


"Apa yang salah?"


"Kau bercanda?! Aku tinggal di dalam air! Tak hanya segelas, bahkan sedunia pun boleh kau minum, jika kau kuat..."

__ADS_1


"Beruntung sekali kau hidup di balik cermin! Di sini tak ada setetespun air, hanya ada pasir ***** yang panas..."


"Benarkah?! Aku sangat ingin merasakan hangatnya pasir di dunia mu."


"Kau pasti tidak akan suka... Di sini sangatlah panas."


Kami terus berbincang-bincang dalam waktu lama, memberikan informasi dari dunia kita masing-masing. Walau dunia tempat tinggal sangat berbeda, tapi Kami mempunyai banyak persamaan dalam hidup. Contohnya kami berdua mengaku-ngaku sebagai "manusia", kami tak memilki tangan, tak memiliki kulit, tak memiliki hidung, tak memiliki rambut, tak bernama, tersiksa akan dunia masing-masing... Dan ada beberapa persamaan lain yang membuat senang kala mengetahuinya.


Rasa panas gurun dunia, terasa sama seperti dingin laut di balik cermin. Kenapa semua rasa dalam tubuh buruk rumpa ini, menjadi tak menentu? Sebuah perasaan yang membuatku terus tersenyum-senyum tiada henti. Belum pernah seperti ini sebelumnya, terasa sangat menyenangkan, terasa seperti menemukan keinginan baru dalam kehidupan busuk ini. Akan ku ralat perkataanku sebelum-sebelumnya, tak hanya segelas air putih di gurun dunia... Tak hanya itu yang ingin aku temui seumur hidupku, benar-benar tak hanya itu... Sekarang bertemu dengan manusia di laut menjadi sebuah permintaan lain untuk sang jin biru dari sang langit, itupun jika benar-benar ada sesuatu yang di bilang langit.


Bagaimanakah wajahnya di sana? Apa sama seperti diriku? Atau lebih elok? Cantik? Aku tak dapat menerka-nerka rupa teman beda dunia ini, takut ia marah dan enggan bicara lagi.


Tolong carikan segelas air di dunia gurun, dan undanglah temanku di atas sana untuk meminumnya bersama-sama di sini.


Aku tak boleh tidur sebelum membuat dua permintaan tadi menjadi nyata.


Benar-benar jadi nyata....

__ADS_1


Dan selalu nyata...


__ADS_2