Gembok Takdir

Gembok Takdir
Pesta


__ADS_3

Pesta perkenalan Hyora Castiello digelar dengan sangat meriah. Banyak pemimpin kelompok lain bahkan beberapa petinggi negara yang hadir. Beruntung tema pesta ini masquirade, mereka mengenakan berbagai macam topeng untuk menutupi wajah dan identitas mereka.


Meskipun beresiko, tidak ada seorangpun yang cukup bodoh untuk menyinggung Castiello di pesta kediaman mereka. Jika seseorang masih melakukannya, itu sama saja dengan mencoreng wajah Bernard Castiello, hukuman bagi mereka tidaklah semudah kematian.


“Kau sudah siap sayang?” Tanya Bernard saat Ia memasuki ruang rias putrinya.


Hyora memakai gaun merah yang mempesona dengan topeng kelinci bewarna hitam. Topeng itu hanya memperlihatkan mata dan bibirnya yang menggoda.


“Ayah, haruskah kita turun sekarang?” Tanya gadis itu sembari mengangguk.


Bernard menatap putrinya dengan penuh persetujuan. Ia terlihat persis seperti ibunya kecuali sepasang mata coklat yang mirip dengannya.


Paman Neo yang menunggu keduanya dibalik pintu menatap Nona mudanya dengan senyuman. Hyora yang terlihat tajam dipertemuan pertama mereka kini terlihat patuh dan seperti gadis polos yang belum pernah melihat darah.


“Nona terlihat sangat menawan, ini merupakan rencana yang bagus untuk menurunkan kewaspadaan mereka.” Ucap Paman Neo dengan sopan.


“Terimakasih Paman. Aku harus minta tolong kepada paman untuk mengantar tamu spesial kita dengan aman kedepannya.”


Kata tamu spesial sengaja Ia katakan dengan senyum dingin. Siapa lagi jika bukan tamu undangan grub Robaine.


Dengan tekanan dari pemilik grup Castiello, grup Robaine mengirim dua tetua mereka. Meskipun Hrora kecewa pemimpin mereka, Ian Robaine tidak datang, Ia cukup terhibur untuk kembali bertemu Maura Robaine. Gadis mafia Robaine yang mengungkapkan rahasia kepada Hyora di misi terakhirnya bersama Kyuhyun.


“Nona tidak perlu khawatir tentang itu…”


Kembali memasang wajah polos, Hyora menerima uluran tangan ayahnya dan berjalan menuju aula pesta.


“Bajingan kecil itu belum datang…” Gumam Bernard dengan nada kesal.


Hyora hanya mengabaikan gerutuan ayahnya dan tersenyum cerah.


Ting!


Suara pukulan gelas yang nyaring membuat aula itu menjadi hening seketika. Seluruh tamu undangan mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.


“Hari ini adalah pesta penyambutan Nona Muda Castiello, mohon sambutannya untuk Tuan Bernard Castiello dan putrinya, Hyora Castiello.” Ucap second in command grup Castiello.


Ia memakai topeng abu-abu, tapi seluruh tamu yang hadir mengenali suara wakil ketua grup terbesar itu, Erwin Castiello. Adik Bernard dan ayah Lara Castiello.


Bernard dan Hyora berjalan masuk melalui pintu utama dan menuruni tangga, mereka menatap tamu undangan dari atas tangga.

__ADS_1


Aula yang tadi sunyi, kini penuh dengan bisikan ucapan kekaguman dan pujian terhadap grup mereka.


“Putriku Hyora Castiello, akhirnya bergabung bersama kami hari iki. Ia tidak terlalu menyukai kebisingan, jadi dia jarang berurusan dengan grup.” Ucap Bernard dengan penjelasan singkat.


Hyora tersenyum menyapa para tamu dengan hormat. Seolah-olah Ia tidak tahu bahwa grup yang dimaksud adalah kelompok mafia dengan omset ratusan milyar dalam setahun.


“Nona Hyora memiliki senyum yang menawan. Tentu saja tuan Bernard akan menyembunyikannya selama ini.” Ucap salah satu tamu dengan topeng emas setengah wajah.


“Ya, putriku sangat berharga. Tentu saja aku harus menyembunyikannya.” Jawab Bernard dengan nada datar. Ia tidak terkesan dengan pujian yang dilontarkan para tamu didepannya.


“Terimakasih atas pujiannya…” Ucap Hyora dengan malu. Ia menunduk menutupi matanya yang menjadi dingin.


Seharusnya pria paruh baya bertopeng emas ini adalah ketua Millet jika dilihat dari cincin identitas dijari tangannya.


Ia terkenal suka mempermainkan gadis muda. Bahkan istrinya yang kelima baru berusia tujuhbelas tahun.


“Maafkan saya yang lancang bertanya, apakah nona Hyora sudah memiliki pasangan untuk menikah?” Tanya pria lain yang terlihat seumuran dengan Hyora.


Pakaian pria itu terlihat elegan dengan jas warna hitam dan dasi abu-abu. Sebuah sapu tangan abu-abu terselip di saku depannya.


Dalam hati Hyora hanya tertawa, jika Ia tahu itu lancang mengapa mengatakannya?!


Sosok pria muda dengan pakaian serba hitam berjalan masuk dengan arogan. Ia tidak repot-repot menutupi wajahnya yang tampan itu.


Hyora menatap pria itu dengan kejutan kecil dimatanya. Pria itu sangat mirip dengan ayahnya.


“Andrew! Kau melupakan sopan santunmu! Dimana topeng yang seharusnya kau pakai?” Tanya Bernard dengan suara keras.


“Ayah, semua orang sudah mengetahui wajahku. Untuk apa menyembunyikannya.” Ucap Andrew dengan santai.


Ia berjalan mendekati ayah dan adik perempuannya.


“Terlebih, kau tahu aku tidak sabar bertemu adik tersayangku. Aku terburu-buru datang dari bandara hingga lupa memakai topeng.”


Andrew meraih tangan Hyora dan mengecup punggung tangannya. Gadis itu bergidik saat merasakan sentuhan dingin itu.


“Adikku sayang, maaf terlambat menyapamu. Aku sudah melihatmu sejak kecil meskipun kau tidak tahu.”


“Kakak…” Sapa Hyora dengan senyum manja.

__ADS_1


Dalam hati Hyora mengutuk pria arogan didepannya. Bukankah itu sama saja dengan stalker? Seorang agen NIS memiliki stalker tanpa sepengetahuannya. Jika Kyuhyun masih hidup Ia akan menertawakannya.


Beberapa tamu undangan menyapa Andrew dengan hormat. Mereka tidak akan melepaskan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan pewaris Castiello yang sulit ditemui ini.


“Cukup! Kita harus segera memulai makan malamnya sebelum putriku kelaparan.” Bernard menghentikan ocehan mereka, Ia merasa tekanan darahnya akan naik jika memikirkan putranya ini.


Tidak memiliki aturan! Arogan! Pembuat masalah!


Gerutuan Bernard yang melupakan bahwa sebagian besar masalah yang ada di grup mereka diselesaikan dengan bersih oleh Andrew secara pribadi.


“Ckck, tak peduli seberapa baik kemampuanku, ayah hanya akan menatapmu.” Bisik Andrew disamping telinga Hyora.


Hyora hanya tersenyum tanpa menanggapi keluhan kakaknya itu. Mereka berjalan memasuki tempat makan yang digelar di kebun mewah Castiello.


deretan meja berjajar rapi dengan alat makan yang tertata diatasnya. Para tamu undangan duduk di kartu meja mereka masing-masing.


"Sekali lagi, terimakasih atas kedatangan kalian hari ini. Aku harap kita bisa menjalin hubungan damai sampai akhir." Ucap Bernard dengan mengangkat gelas sampagne nya.


Suaranya memiliki nada peringatan yang mendomimasi, tidak heran putra semata wayangnya tumbuh dengan tempramen seperti itu.


"Untuk kebahagiaan dan kedamaian putriku." Ucapnya sebelum para tamu undangan berdiri dengan gelas terangkat dan mengikutinya.


Hyora memutar matanya saat melakukan hal yang sama. Apa ini masih era kerajaan? Ia yakin jika para tamu yang hadir tengah merangkai rencana untuk menariknya kedalam lumpur saat ini.


Gadis polos putri kandung Bernard Castiello, aiapa yang akan melewatkannya untuk mengambil manfaat.


Status menantu Castiello yang sangat berpengaruh akan membuat mereka berjalan tanpa kekhawatiran di seluruh tanah Eropa dan Asia.


Beberapa tetua Robaine yang duduk di sudut taman saling berpandangan. Rupanya mereka memiliki minat yang sama dengan tamu lain.


"Ian belum memutuskan istrinya, lebih baik jika kita bisa mendapatkan gadis itu."


Maura tertawa mendengar ucapan sang tetua.


Apa mereka bercanda?!


Baru beberapa bulan yang lalu mereka mencoba untuk membunuhnya dan sekarang mereka ingin menikahinya?


Apa mereka berpikir bahwa gadis itu akan datang tanpa perlawanan?!

__ADS_1


__ADS_2