Gembok Takdir

Gembok Takdir
Merahasiakannya


__ADS_3

Didalam mobil, Hansen menatap Kyungsoo seperti seorang korban terhadap pahlawannya. Sekarang Ia mengakuinya sebagai kakak tertua. Perasaannya menjadi ringan saat beban itu dia serahkan kepada kakaknya. Ia akhirnya bisa mengatakan rahasia itu kepada keluarganya setelah bertahun-tahun.


“Kakak tertua… apakah kau mau mengajariku seni beladiri?”


Wajah Kyuhyun berkedut saat mendengar Hansen memanggilnya kakak tertua dengah penuh hormat, ia merasa bahwa adiknya ini kecanduan film genster setelah berhubungan dengan preman-preman itu.


“Untuk apa kau mempelajarinya? Untuk memukuli anak orang?”


“Tentu saja tidak! Ini untuk membela diri dan melindungi ibu. Kalian bekerja di pusat kota dan jarang kembali ke rumah. Hanya ada aku dan ibu dirumah. Bagaimana jika preman-preman itu kembali?”


“Mereka tidak akan datang kembali… tapi aku juga khawatir dengan ibu.” Hanwu berpikir untuk mengajak ibunya pindah ke pusat kota bersamanya.


"Sebaiknya kita tidak mengatakannya kepada ibu."


"Kakak benar, ibu hanya akan khawatir jika mengetahuinya setelah apa yang terjadi pada ayah."


"Tapi itu tidak akan menjamin ia aman saat dirumah. Para gengster itu pasti akan mencari masalah."


Kyuhyun berniat mengancam kelompok itu dengan bukti yang dimiliki Hansen. Mereka tidak akan mendatangi Hansen dan ibunya jika ia sendiri yang maju sebagai target mereka. Ia tidak keberatan mengotori tangannya jika mereka bersikeras mengganggunya. Terlebih ini bukan pertama kali ia menghadapi kelompok amatir seperti ini.


“Ibu tidak akan mau pindah ke apartemenmu. Jika kalian khawatir, kalian sekeluarga bisa tinggal di apartemanku. Bukankah kalian sudah menganggapku keluarga? Aku tidak keberatan mengubah margaku. Tapi ibu tidak akan setuju.”


Hanwu setuju dengan ucapan Kyungsoo. Ibunya tidak akan mau pindah bersama mereka.


“Kalau aku bilang ingin pindah sekolah?” Hansen berpikir keras.


“Mungkin ibu akan mempertimbangkannya jika kau mengatakan bahwa kau dibully dan dipukuli oleh teman sekolahmu. Lalu aku mengatakan jika aku sakit dan tidak ada yang merawatku. Terlebih apartemenku masih cukup luas untuk kalian tinggali.” Kyuhyun mengatakan idenya.


Hanwu dan Hansen hanya terdiam dan setuju. Cara licik ini mungkin bisa membuat ibu mereka menganggukkan kepala bahkan meminta untuk datang ke pusat kota.


“Lalu Hansen bisa belar di dojo. Kau bisa memilih apa yang kau suka, apakah itu taekwondo, aikido, judo, taichi, taijutsu, jejutsu, atau pencak silat.”

__ADS_1


Mereka sampai di rumah pukul sebelas lebih, lampu di dalam masih menyala dengan terang. Hanwu melihat ibunya yang berdiri menyambut mereka dengan wajah khawatir.


“Hansen! Apa yanag terjadi dengan wajahmu!” Teriak ibu dengan histeris. Wajah tampan putranya kini penuh dengan luka dan bahkan berdarah di beberapa tempat.


Hansen meringis kesakitan saat ibunya memeluknya. Dibandingkan dengan luka diwajahnya, sakit di perutnya puluhan kali lebih terasa. Ia tahu bahkan Kyungsoo tidak menggunakan semua kekuatannya, tapi tetap saja itu sangat menyakitkan.


“Ada beberapa anak jalanan yang mengeroyokku.” Jawab Hansen yang dipapah ibunya untuk duduk diatas sofa ruang tamu.


“Anak-anak nakal itu! Ibu akan memukuli mereka dan memarahi orang tua yang membesarkannya. Beraninya mereka melukai putraku!” Ibu Hanwu memukul meja dengan marah.


Kyuhyun menatap Hansen dengan tajam. Ia tidak menyukai jawabannya. Mungkin Hansen telah terbiasa berbohong dan memasang wajah tak berdosa didepan ibu dan kakaknya. Tapi wajah itu tidak ampuh untuknya. Dengan kepribadian ibu, beliau pasti akan mencaritahu dan menemui mereka secara pribadi.


“Tidak ibu! Aku yang pertama kali memukul mereka karna mengangguku. Karna itulah kami masuk kantor polisi. Key bahkan masuk ke rumah sakit karna membantuku!” Hansen segera mengoreksi jawabannya saat melihat raut tidak suka Kyungsoo.


“Kau sekarang belajar menjadi preman hah?! Apa otak dan mulutmu sudah tidak berguna hingga memakai kekerasan seperti ini?!” Ibu memukuli pundaknya dan membuat Hansen berteriak minta ampun.


“Sakit? Kau pantas mendapatkannya!” Bahkan Hanwu yang biasa membelanya kini ikut memarahinya.


“Sebenarnya mengapa ia sampai babak belur seperti itu?”


“Dia memukul seseorang dari geng mereka, jadi anggota lainnya tidak terima dan balas memukulinya. Bahkan temannya ikut terlibat saat berusaha menyelamatkannya. Anak bernama Key itu sekarang terbaring di UGD karna luka tusuk, sementara anggota geng lainnya patah tulang karna didorong Hansen.”


“Ya Tuhan! Apa Key baik-baik saja?”


“Aku dengar ia sudah ditangani dengan baik dan harus menginap selama beberapa hari di rumah sakit.”


“Kalau begitu aku harus menjenguknya dan berterimakasih padanya. Aku juga harus meminta maaf pada orangtuanya.”


Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum dan membiarkan ibu beristirahat. Ia juga memberitahu ibunya tentang keinginan Hansen untuk belajar beladiri. Ia berjanji akan mengarahkan adik yang baru didapatkannya itu dengan baik.


Kyuhyun memasuki kamar Hanwu setelah mengantar ibunya beristirahat. Ia duduk di kasur Hanwu dan menatap kamar itu. Kamarnya memiliki ranjang susun, ibu mengatakan bahwa dulu ini kamar Hanwu dan Hansen saat masih kecil. Setelah SMP Hansen menyukai lokasi kamar yang berada di ujung belakang, jadi Hanwu mengalah dan menempati kamar ini.

__ADS_1


“Kau bisa memilih diatas atau dibawah…” Hanwu masuk membawa selimut dan bantal untuk Kyungsoo.


“Aku memilih di atas, rasanya tidak aman untuk tidur dibawahmu.” Kyuhyun segera naik ke atas dan meletakkan selimut serta bantalnya.


“Terimakasih…” Ucap Hanwu dengan tulus.


“Untuk apa? Aku yang seharusnya berterimakasih karna mendapat rumah dan keluarga baru. Meskipun si bungsu agak merepotkan”


“Kau sudah banyak membantu kami. Hansen pasti akan kehilangan arah jika kau tidak memukulnya hari ini.”


“Kau memiliki masalah dengan metodeku?”


“Tidak, kau benar bahwa aku terlalu memanjakannya dan justru merusaknya.”


“Dia tidak buruk, niatnya cukup baik untuk membantu keluarganya. Ia hanya belum cukup dewasa sehingga kurang pengalaman.”


“Ya, terimakasih karna kau mau mendidiknya dengan sabar.”


“Cukup! Aku tidak ingin mendengar ucapan terimakasihmu lagi. Sebaliknya, kau harus bekerja keras membantuku di masa depan. Tapi besok pagi kau antat Hansen dan ibu menjenguk temannya. Aku akan kembali ke perusahaan sendiri, kau bisa datang setelah jam makan siang.”


“Aku akan kembali bersamamu!”


“Tidak kah kau sadar? Aku khawatir anak itu akan berbicara omong kosong didepan ibu yang akan membuatnya khawatir.”


“Aku mengerti.”


“Kalau begitu tidur! Selamat malam!”


“Selamat malam.”


Hanwu mematikan lampu utama dan meredupkan lampu samping sebelum berbaring di kasur bawah. Ia menatap papan kayu diatasnya dengan senyuman. Bertemu dengan Kyungsoo adalah sebuah berkah bagi keluarga mereka. Bahkan jika ia harus membalasnya dengan hidup, ia tidak akan keberatan.

__ADS_1


__ADS_2