
Pemuda itu melanjutkan berjalan pergi. Namun saat Ia berjalan tiga langkah dari Eunhyuk, Ia berbalik mengacungkan sebuah Pistol dan menembakkannya.
Sayangnya, Eunhyuk sudah mencurigai pemuda itu dan menunduk menghindari tembakannya.
Eunhyuk meraih lengan pemuda itu yang tengah menekan pelatuk dan menariknya keatas.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan itu dilepaskan kearah langit. Dengan mudah Eunhyuk menarik tubuh pemuda itu kebawah dan memutar pergelangan tangannya kebelakang dan merebut pistol yang hampir dijatuhkannya.
Ia melempar pistol itu jauh-jauh sebelum memukul wajah pemuda itu dengan kuat. Pemuda itu jatuh terjerembab diatas tanah berumput. Kepalanya sedikit pening saat Ia membentur batu nisan didepannya. Sebuah aliran darah keluar dari luka dahinya.
“Bukankah sudah kubilang aku sedang bad mood?” Tanya Eunhyuk menghampiri pemuda itu dan menarik bajunya.
Ia menyadari penyamaran pria itu sejak awal. Ada tiga baris horizontal didasinya, kemungkinan itu tanda tahun yang menunjukkan bahwa Ia kelas tiga. Baju anak SMA biasanya mulai sesak ditahun akhir. Tapi miliknya masih kebesaran.
Ia mengatakan bahwa hari ini hari peringatan 5 tahun kematian ibunya, tapi tulisan nama di batu nisan itu masih telihat bqru dibandingkan nisan disekitarnya. Mungkin baru satu atau dua tahun sejak Ia meninggal.
Saat Ia berjalan melewatinya, matanya yang menatap Eunhyuk terlihat berkilat dengan niat membunuh.
“Siapa yang membayarmu?”
“Robaine? Mereka ingin menghabisiku? Tidak! Kau pasti mengincar Shin Hyora, tapi sayangnya Ia sudah pergi lebih awal!”
Eunhyuk memukuli wajahnya setiap Ia bertanya. Pukulan brutal itu benar-benar membuatnya melepaskan emosinya. Wajah pemuda itu terlihat menyedihkan. Tapi Ia tidak memiliki emosi simpati sedikitpun.
Pemuda itu pasti anjing pembunuh bayaran yang dibesarkan Mafia Robaine. Jika Ia menurunkan kewaspadaannya sedikit saja, Ia pasti sudah tewas tertembak.
Saat Ia berdiri mengambil handphone untuk memanggil temannya yang ahli mengintrogasi, pemuda itu menelan racun dan mati ditempat.
“Sial!” Umpat Eunhyuk saat Ia gagal menghentikan aksi bunuh dirinya.
Ia berdiri mengibaskan tangannya yang berlumuran darah, mengusapnya pada pakaian pemuda itu.
Mungkin Ia telah membunuh pemilik seragam Ia rampas.
“Hey, aku butuh pembersih disini. Area makam Namsan… sekarang!” Ucapnya pada seseorang ditelepon.
-o0o-
Hyora menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tentu saja pihak NIS tidak bisa melepaskannya begitu saja. Karna itulah malam ini Hyora pergi menemui Chief Jungha di ruang belajar kediaman pribadinya.
“Aku sudah menduga kau akan datang malam ini…” Ucap Jungha, kepala bagian NIS yang menjadi atasan langsung Hyora.
__ADS_1
“Terimakasih atas sambutannya Kepala Bagian Song Jungha.” Jawab Hyora, Ia melemparkan pistol api yang diambilnya dari beberapa petugas keamanan.
Petugas keamanan kediaman Jungha sangatlah ketat, mereka dilatih secara khusus untuk menjaga keamanan pemimpin negara. Tapi beberapa orang dari mereka tidak cukup untuk menghadapi agen rahasia NIS seperti Hyora.
“Kuharap kau tidak membunuh bawahanku.”
“Oh, jangan samakan aku dengan kalian para pemegang kekuasaan. Aku tidak akan membunuh tanpa alasan.”
“Kematian Agen Cho Kyuhyun tidak bisa disalahkan padaku.”
Song Jungha melemparkan sebuah map hitam dengan tulisan TOP SECRET keatas meja.
Serangan Hyora memang disetujui oleh salah satu pemimpin NIS. Jungha tidak menghentikannya karna Ia memahami dengan kemampuan Hyora, mereka tidak akan mampu menyentuhnya. Siapa yang menyangka bahwa Kyuhyun tengah bersamanya dan membuat gadis itu pasif?
“Apa kau menyalahkan Kyuhyun karena menyelamatkanku?”
“Apa kau tidak mengetahui identitasmu?”
“Ha! Jadi aku harus mati hanya karena kalian ingin menekan grup Castiello?”
“Tanyakan itu pada dirimu sendiri.”
Hyora menatap atasannya itu dengan kesal. Pria didepannya adalah orang yang bertanggungjawab membesarkannya. Song Jungha adalah ayah angkatnya. Tentu saja semua itu rahasia.
Song Jungha melepas kacamata yang Ia gunakan dan mengusap wajahnya dengan lelah. Ia menyayangi Shin Hyora seperti putri kandungnya.
Ia telah melihatnya tumbuh dari anak kecil yang menangis karena kelaparan sampai menjadi agen rahasia NIS yang mempunyai ketrampilan tinggi.
“Menurutmu mengapa aku memintamu untuk menyembunyikan kekuatanmu? Dua atau tiga pembunuh bayaran setingkat itu tidak akan bisa melukaimu.”
“Data ini telah diubah!”
Hyora melempar kembali map yang berisi informasi penyerangannya kepada ayah angkatnya.
“Apa maksudmu?”
“Mereka mengirim beberapa ahli tambahan selain pembunuh bayaran yang tertera disini. Ada dua penembak jitu dan seorang ahli serangan jarak dekat yang menargetkan apartemen kami hari itu.”
“Tidak mungkin!”
“Sebaiknya kau berhati-hati. Banyak pengkhianat yang ditanam didalam NIS. Bahkan mungkin menjadi salah satu setingkat Komandan Pasukan.”
Jungha memandang Hyora dengan alis berkerut. Gadis ini berada dalam bahaya jika apa yang dikatakannya benar.
__ADS_1
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku akan menyebrangi laut.”
“Itu yang terbaik untuk sekarang. Robaine akan merasakan kekhawatiran. Mereka akan berusaha memburumu.”
“Heh! Aku akan membunuh mereka sebelum mereka berhasil.”
“Apa kau membutuhkan sesuatu?”
“Hapus semua bukti hubungan kita selama ini. Pastikan itu bersih, atau mereka akan menargetkanmu.”
“Aku tahu. Kau berhati-hatilah!” ucap Jungha dengan canggunh.
“Jaga kesehatanmu, ayah.”Pamit Hyora sebelum menghilang dari ruangan itu.
Jungha menatap pigura kecil yang tersembunyi di lacinya dengan sedih. Itu adalah hadiah Hyora saat Ia masih di sekolah dasar.
Foto Hyora yang memegang tangannya sambil tersenyum bahagia. Mungkin Jungha tidak akan bertemu putrinya lagi. Gadis itu akan dicap sebagai pengkhianat NIS.
Menyebrangi laut. Hyora akan pergi menemui ayah kandungnya. Ia memiliki darah garis murni keluarga Castiello, ayahnya telah menjadi pemimpin. Mereka mungkin akan mengetesnya, tapi tidak menghentikannya.
-o0o-
Dua bulan kemudian…
Hyora berdiri didepan warnet pinggir jalan. Email dari seseorang yang mengaku ayahnya berasal dari sini. Sayangnya Ia tidak bisa membalas pesan itu. Setelah menyelidikinya, warnet ini adalah tempat rahasia Castiello untuk mencari informasi.
Hyora masuk dan memilih bilik komputer, Ia memperhatikan bahwa tempat ini terlihat seperti warnet pada umumnya. Sangat biasa.
Setelah menyalakan komputer selama sepuluh menit, seorang pekerja mengetuk bilik miliknya dan menyerahkan secangkir vanillalate yang tidak Ia pesan. Itu minuman kesukaannya, namun hanya Kyuhyun dan Ayah angkatnya yang mengetahuinya.
“Katakan pada orang yang mentraktirku bahwa putrinya ingin pulang.” Ucap Hyora pada pekerja itu.
Pekerja itu melebarkan matanya, terkejut bahwa nona muda mereka akhirnya akan pulang dan mengakui leluhurnya.
“Baik, jika nona membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya.”
Hyora tersenyum samar saat mendengarnya.
-o0o-
Malam itu, seorang gadis dan pria paruhbaya mengetuk rumah sewa Hyora. Ia masih dalam persembuyian, memberikan ayah angkatnya waktu untuk menyelesaikan pembersihan data keluarga Hyora.
__ADS_1
Hyora meraih pistol dimejanya saat Ia melihat dua orang asing didepan pintunya. Ia membuka pintu itu dengan waspada.