Gembok Takdir

Gembok Takdir
Mimpi


__ADS_3

“Kebebasan. Keberadaanmu akan membebaskanku. Agen Shin Hyora, atau harus kupanggil dengan nama Rara Castiello? Putri tunggal Castiello?”


Hyora kembali terkejut. Ternyata kecurigaannya terbukti. Ia memang berhubungan dengan kelompok mafia. Hanya saja dia tidak menduga bahwa itu keluarga Castiello.


“Kita tidak memiliki banyak waktu. Lima menit lagi bantuanku akan tiba, sebaiknya kau pergi sekarang!”


Hyora bergerak ditengah kebingungan. Ia memutuskan untuk melepaskan kesempatan membunuh Maura karna wanita ini masih memiliki informasi yang Ia inginkan.


Berlari keluar dari kamar hotel, Hyora memberi kode bahaya ke arah kamera CCTV, Ia tahu bahwa rekannya akan memantau misi ini melalui kamera keamanan.


Ia terkejut saat bertemu Kyuhyun di ujung koridor. Menunduk menyembunyikan emosinya, Ia berlari bersama pria itu.


“Turun, agen Jung Soo akan menunggumu di area parkir.” Ucap pria itu sambil melempar alat komunikasi kepadanya.


Hyora mengangguk menangkap handphone itu dan melirik kearahnya sebelum berlari kearah berlawanan. Kyuhyun akan mengalihkan perhatian para pengejar.


Setelah itu, Hyora membuka koper itu dan menyadari bahwa chip ini palsu. Setelah memikirkan apa yang dikatakan Maura kepadanya, misi ini mungkin hanya umpan kosong.


Hyora kembali ke markas dan menyerahkan koper itu kepada atasannya sebelum kembali ke apartemen. Ia rencananya akan mengambil penerbangan pertama ke Miami keesokan harinya.


Siapa sangka gadis itu tertidur pulas. Ia merasa menerima panggilan dari Kyuhyun dan keduanya bertengkar karna misi itu. Tapi ingatannya kabur hingga Ia terbangun disamping Kyuhyun sebelum peristiwa penembakan itu terjadi.


FLASHBACK END.


Hyora kembali ke kamarnya di mansion Castiello. Bahkan dengan permintaannya untuk menyiapkan ruangan dengan dekorasi sederhana, kamarnya masih terkesan mewah.


Ayahnya sudah menyiapkan kamar untuk putrinya sejak Ia mengetahui keberadaannya. Ia bahkan memerintahkan staf khusus untuk membeli pakaian musiman dan menyimpannya didalam walking closet dikamarnya.


Dengan malas, Hyora berendam air hangat di bathup. Ia menyesap anggur merah sambil mengingat momen singkat kebersamaannya dengan Kyuhyun.


Tok tok tok


“Nona muda, tuan muda datang untuk berbicara dengan Nona.” Ucap seorang pelayan dari balik pintu.


“Aku lelah, biarkan dia datang besok. Kau juga pergilah, aku akan istirahat sebentar lagi.”


“Tapi Nona…”


“Pergi! Aku tidak suka mengulangi perkataanku!” Hyora mendesis marah. Ia tidak terbiasa memiliki pelayan 24 jam sehari yang selalu mengikutinya.

__ADS_1


“Maaf Nona, saya mengerti.”


Ruangan itu kembali sunyi setelah pelayan itu pergi. Hyora menghela nafas panjang sebelum beranjak dari kamar mandi. Ia memakai gaun tidurnya sebelum menjatuhkan diri ke kasur besarnya yang lembut.


“Aku merindukanku sayang…” Gumamnya sebelum jatuh kedalam mimpi.


-o0●0o-


Mimpi itu datang secara tak terduga. Hyora tiba-tiba melihat dirinya berada di makam Cho Kyuhyun. Ia menangis melihat pahatan nama dibatu nisan itu.


“Mengapa kau menangis? Kyuhyun sudah mati.. “


Hyora mengangkat kepalanya saat mendengar ucapannya. Didepannya, ada seorang pria yang berdiri dengan jas mahal.


“Kyuhyun oppa!” Teriak Hyora, ia berlari kedalam pelukannya.


“Maaf nona Shin, aku bukan Kyuhyun.” Ucap pria itu mendorong tubuh Hyora menjauh. Ia menolak pelukan gadis itu.


“Kau Cho Kyuhyun!” Hyora mengatakannya dengan jelas, ia mengenali wajahnya yang sangat familiar. Matanya yang jernih, wajah tampannya, bahkan tahi lalat kecil di telinganya pun sangat mirip.


“Cho Kyuhyun sudah mati. Aku bukan Cho Kyuhyun.” Pria itu bersikeras bahwa ia bukan pria yang dimaksud Hyora.


“Namaku $#%@%!”


Hyora tidak bisa mendengar namanya, saat ia mencoba bertanya untuk lebih jelas, tubuh pria itu tiba-tiba hancur dan menghilang.


“OPPA!”


Hyora terbangun dengan nafas tersengal, ia menangis saat melihat ruang kamarnya. Apakah itu hanya mimpi? Mengapa pria itu muncul sekarang? Apakah kerinduannya hanya bernilai mimpi singkat itu?


Hyora mengubur wajahnya di kakinya yang terlipat. Ia kembali menjadi gadis lemah seperti di masa lalunya yang hanya bisa menangis.


Seorang pelayan mengetuk pintunya, ia menyampaikan pesan bahwa ayah dan kakaknya akan menunggu Hyora untuk sarapan bersama.


“Aku mengerti, kau bisa pergi!”


Suara Hyora terdengar serak dan membuat pelayannya khawatir. Tapi nona mudanya sudah memperingatkan agar menjauh dari kamarnya, nona juga tidak suka mengulang ucapannya. Setelah mempertimbangkannya, pelayan itu memutuskan untuk mundur.


Dua puluh menit kemudian Hyora turun ke ruang makan dengan dress biru muda yang terlihat cantik.

__ADS_1


“Sayang, mengapa matamu memerah?” Tanya Bernard yang duduk di kursi utama.


Meja makan besar itu hanya diduduki tiga orang. Hyora duduk didepan kakaknya yang kini menatapnya tajam.


“Aku tidak bisa tidur semalam.” Kebohongan terucap dengan mulus dari bibir Hyora.


Keduanya saling berpandangan sebelum mengubah ekspresi mereka. Gadis kecil ini tidak ingin membicarakannya, jadi lupakan saja.


“Jangan tidur terlalu larut, aku akan memanggilkan dokter jika kau memiliki masalah tidur.” Bernard berkata dengan nada ringan.


“Tidak perlu, hanya beradaptasi di rumah ini.” Hyora meminum susu madu yang diberikan pelayan.


Mereka mulai menikmati makanan didepan mereka.


“Kakak bekerja lembur, setelah kehilangan tiga jari dan kuku kaki, mereka akhirnya mengatakan semuanya.”


“Uhuk! Andrew! Jangan membicarakan hal seperti itu di meja makan!” Bernard takut nafsu makan putrinya akan menghilang jika mendengarkan metode penyiksaan Andrew.


Andrew menatap Bernard dengan tatapan tidak percaya. Ia bahkan belum menjelaskan metode penyiksaannya. Terlebih putri kecilnya tidak selemah kelihatannya.


“Ayah… biarkan ia menjelaskan apa yang mereka katakan.”


“Jadi, sejak awal Maura memang ingin memanfaatkanmu. Tapi ia tidak ikut andil dalam penembakan kalian.” Andrew mengatakan secara ringkas.


Ia juga mengetahui bahwa wanita Robaine itu sangat licik. Sejak kakaknya menjadi pemimpin, ia selalu waspada pada garis keturunan utama yang mengancam kedudukannya. Tidak heran mereka terlibat dalam ratusan skema pembunuhan dibalik layar.


Wanita yang berhasil selamat dalam pertemphran semacam itu tidak akan sederhana. Ia bahkan memiliki kelemahan mereka.


“Niatnya sudah pasti buruk, mengapa kau tidak membunuhnya ditempat!” Bernard menatap Andrew dengan heran, sejak kapan tempramen putranya menjadi selembut ini.


“Hey, ayah… itu keputusan putri tersayangmu. Aku ingin membunuhnya tapi Rara menghalangiku, masih bisakah aku bergerak?”


“Dia masih berguna.” Hyora menganggukkan kepalanya.


“Wanita itu, asalkan kau bisa mengontrolnya… kau bisa memanfaatkannya.”


“Karna itulah aku menembaknya. Itu akan menjadi peringatan agar dia tidak berbuat macam-macam.”


Bernard menatap Hyora dengan penuh kesetujuan. Ia memang putri kandungnya. Sangat mirip dengan sikap kehati-hatian ibunya saat masih hidup. Andaikan Shin Hyeri masih hidup, dia pasti akan bangga kepadanya.

__ADS_1


“Jadi… kemungkinan terburuknya adalah Ian Robaine mengusulkan pernikahan dengan Rara.” Ucap Andrew dengan mata menatap cangkir kopinya. Ia tertawa tanpa rasa humor, kilatan pembunuhan terlihat dimatanya.


__ADS_2